Adab-Adab Shalat Witir
April 3rd 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email
18 Rabiul Akhir
Adab-Adab Shalat Witir
Dari Thalq bin Ali radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud no. 1439, At-Tirmizi no. 470, dan Ibnu Majah no. 1661)
Al Hasan bin Ali radliallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku ucapkan ketika melakukan witir, yaitu:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“ALLAAHUMMAH DINII FIIMAN HADAIT, WA ‘AAFINII FIIMAN TAWALLAIT, WA BAARIK LII FIIMAA A’THAIT, WA QINII SYARRA MAA QADHAIT, INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHAA ‘ALAIK, WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAIT, TABAARAKTA RABBANAA WA TA’AALAIT (Ya Allah, berilah aku petunjuk diantara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan diantara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku diantara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau putuskan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).” (HR. Abu Daud no. 1425, At-Tirmizi no. 464, An-Nasai no. 1746, Ibnu Majah no. 1178, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/398)
Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat witir tiga rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: “Sabbihisma rabbikal a’laa (surah Al A’la).” Pada rakaat kedua membaca: “Qul ya ayyuhal kafirun (surah Al Kaafiruun), ” dan pada rakaat ketiga beliau membaca “Qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” Lalu beliau qunut sebelum ruku’. Setelah selesai, beliau membaca: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS” sebanyak tiga kali. Beliau memanjangkan pada yang terakhir kalinya.” (HR. An-Nasai: 3/235 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai: 1/371-372)
Penjelasan ringkas:
Ada beberapa adab yang harus diperhatikan sehubungan dengan shalat witir:
a. Tidak boleh mengerjakan 2 shalat witir dalam satu malam.
Karenanya, barangsiapa yang telah shalat witir di awal malam lalu dia ingin lagi shalat lail atau tahajjud di akhir malam, maka hendaknya dia melakukan shalat lail/tahajjud sesuai dengan keinginannya akan tetapi dia tidak boleh lagi mengerjakan shalat witir, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam artikel ‘Shalat Witir’ sebelumnya.
b. Jika shalat witir yang dikerjakan 3 rakaat, maka bacaan yang disunnahkan setelah Al-Fatihah adalah apa yang tersebut dalam hadits Ubay bin Ka’ab di atas.
c. Disunnahkan qunut dalam shalat witir, baik dia sebagai imam maupun shalat sendirian, sementara makmum mengaminkan qunut imam. Ini berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Adapun bacaannya, maka yang diamalkan oleh para ulama adalah apa yang tersebut dalam hadits Al-Hasan bin Ali radhiallahu anhuma di atas.
d. Tempat qunut adalah pada rakaat terakhir dan dibaca sebelum ruku’, sebagaimana dalam hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Hanya saja, dibolehkan terkadang qunut setelah ruku’ berdasarkan atsar Umar bin Al-Khaththab riwayat Ibnu Khuzaimah (2/155-156) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shalat At-Tarawih hal. 41-42
e. Disunnahkan membaca: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS” sebanyak tiga kali dan memanjangkan bacaannya pada pengucapan yang ketiga. Bacaan ini dibaca setelah selesai dari shalat witir.
Incoming search terms:
- subhanal malikil quddus
- subhana malikil quddus
- panduan gambar dan bacaan cara melakukan sholat witir
Related posts:
This entry was posted on Saturday, April 3rd, 2010 at 3:57 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








June 2nd, 2010 at 2:01 am
Afwan ustadz, barangkali perlu diperjelas keterangan mengenai tempat membaca ‘subhanal malikil quddus’ apakah setelah bacaan qunut atau di mana? Barakallahu fik
August 17th, 2010 at 8:23 am
Bismillah, ustadz hafizhakallah, masjid kampung kami mengerjakan tarawih 11 rakaat dgn cara 2-2-2-2 rakaat kemudian witir 3 rakaat 1 salam, apakah benar cara tsb? JAZAKALLAHU KHAIRAN
August 17th, 2010 at 10:28 am
Afwan ada lg pertanyaan ana, bolehkah kita sholat tarawih kurang dr 11 rakaat?
October 5th, 2010 at 1:15 am
Afwan Ustadz, Ana Mau nanya hukum mengangkat tangan saat qunut witir? JAZAKALLAHU KHAIRAN
August 3rd, 2011 at 9:47 pm
ustadz, do’a setelah witir apakah ada penambahan (rabbul malaaikati warruh) atau tidak? ada teman yg memberi tahu hadits
Bacaan Setelah Salam Sesudah Shalat Witir :
– سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3× يجهر بها ويمد بها صوته يقول) [رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ]
“Subhaanal malikil qudduusi (rabbul malaaikati warruh) tiga kali, sedang yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang”. (HR. An-Nasai 3/244, Ad-Daruquthni dan beberapa imam hadis yang lain. Sedang kalimat antara dua tanda kurung adalah tambahan menurut riwayatnya 2/31. Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337).
sedangkan yg ana tahu selama ini adalah
Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat witir tiga rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: “Sabbihisma rabbikal a’laa (surah Al A’la).” Pada rakaat kedua membaca: “Qul ya ayyuhal kafirun (surah Al Kaafiruun), ” dan pada rakaat ketiga beliau membaca “Qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” Lalu beliau qunut sebelum ruku’. Setelah selesai, beliau membaca: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS” sebanyak tiga kali. Beliau memanjangkan pada yang terakhir kalinya.” (HR. An-Nasai: 3/235 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai: 1/371-372)
mohon jawabannya. Jazakallahu khaira
September 21st, 2011 at 11:56 am
ustadz, bacaan: ALLAAHUMMAH DINII FIIMAN HADAIT, WA ‘AAFINII FIIMAN TAWALLAIT, WA BAARIK LII FIIMAA A’THAIT…dst
bolehkah dipake sbg doa setelah 3 bacaan tasyahud akhir dan sebelum salam?
Jazakallahu khaira
March 7th, 2012 at 11:39 pm
ustadz bolehkah menjahr kan bacaan saat shalat witr(sendirian)& bolehkah mengangkat tangan saat membaca doa qunut
March 12th, 2012 at 6:18 am
Assalamu’alaikum.
Ustadz, saya melakukan shalat tahajud 8 raka’at (dua raka’at salam) dan witir 3 raka’at sakali salam. Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah diharuskan adzan & iqomat sebelum shalat?
2. Apakah diharuskan iqomat antara 2 rokaat tahajud dan sebelum witir?
3. apakah ada zikir yg dibaca setelah salam diantara 2 roka’at tahajud maupun sebelum witir?
4. Bolehkah setelah 2 raka’at salam langsung menyambung ke raka’at berikutnya tanpa zikir terlebih dahulu (bila ada)?
5. Apakah setelah shalat tahajud (setelah 8 raka’at) baca zikir atau langsung shalat witir?
Terimakasih.