Ada Apa Dengan ODOJ?

February 24th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Bagaimana pandangan syar’i masalah ODOJ?

Jawab:
Berikut sebagian dari jawaban ust. Sufyan Chalid hafizhahullah berkenaan dengan metode ODOJ ini:

Berikut ini mekanisme ODOJ yang kami kutip dari salah satu website:
MEKANISME ONE DAY ONE JUZ WHATSAPP / BBM
1. Calon member mendaftarkan nomer whatsappnya ke contact person ODOJ.
2. ODOJ akan mengalokasikan calon member ke admin grup whatsapp yang tersedia.
3. Setelah grup whatsapp terbentuk admin akan mengundang calon ke grup.
4. Setelah masuk maka resmi menjadi member ODOJ dengan nomer grup yang ditentukan.
5. Member akan diminta untuk perkenalan dengan member yang lain sesama grup agar saling mengenal seperti nama, daerah asal dan biodata lainnya.
6. Di malam sebelum hari pertama setiap member akan kebagian juz yang harus dibaca
7. Member dipersilahkan mulai membaca, untuk yang selesai silahkan posting di grup.
8. Admin / Penanggung Jawab akan merekap hasil posting member setiap pkl 8, 11, 14, 17 dan 20.00, diharapkan pukul 20.00 selesai / khalas 30 juz.
9. Jika belum selesai 30 juz, maka sisa juz yang tidak bisa terselesaikan akan dilelang atau dibagikan ke member yang berminat.
10. Waktu lelangan mulai pukul 20.00 – 21.00 tilawah juz lelangan mulai pukul 20.00 – 22.00
11. Pukul 22.00 selesai 30 juz, besoknya dipersilahkan melanjutkan dari juz yang dibaca hari ini.

Tanggapan:
Pertama: Perhatikan poin ke 6 bahwa Admin membagi tiap juz bagi 30 orang, dan perhatikan pula poin ke 8, diharapkan selesai 30 juz, dan pada poin ke 9, jika ada member yang tidak mampu menyelesaikan maka akan dibantu member yang lain dengan harapan dapat khatam 30 juz setiap harinya.
Cara membaca Al-Qur’an seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka tidaklah sepatutnya bagi seorang muslim untuk mengadakan atau mengikuti program seperti ini karena tidak memenuhi syarat ibadah yang kedua, yaitu meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Dan perlu senantiasa dicamkan oleh seorang muslim, bahwa ibadah yang diinginkan Allah ta’ala bukanlah sekedar banyak, tetapi harus benar dalam pelaksanaannya, dan sungguh, sedikit sesuai sunnah itu lebih baik, dari pada banyak tapi bid’ah, yang sesat dan tertolak.

Kedua: Jika ada yang berkata: Di mana letak bid’ahnya? Bukankah membaca Al-Qur’an adalah Ibadah?
Maka untuk memahami masalah ini, ulama membagi bid’ah itu menjadi dua bentuk:
1) Bid’ah ashilyyah atau haqiqiyyah, yaitu bid’ah yang tidak berdasar dalil sama sekali, tidak dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan istidlal yang diakui (mu’tabar) oleh ahli ilmu, tidak secara global maupun terperinci, oleh karenanya dinamakan bid’ah, karena merupakan sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya [Lihat Al-I’tishom, Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullah, 1/367]
Contoh bid’ah ashliyyah atau haqiqiyyah adalah lafaz-lafaz dzikir dan shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil, seperti shalawat naariyyah, shalawat badar, dan lain-lain.
2) Bid’ah idhafiyyah (yang disandarkan), adalah sesuatu yang memiliki dua sisi, di satu sisi sesuai sunnah karena berdasarkan dalil, di sisi yang lain merupakan bid’ah karena tidak berdasarkan dalil [LihatAl-I’tishom, Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullah, 1/367, 445]
Contohnya adalah, lafaz-lafaz dzikir atau shalawat yang berdasarkan dalil, namun dalam pelaksanaannya terdapat kebid’ahan, seperti ucapan tahlil: Laa Ilaaha Illallah, tidak diragukan lagi ini adalah lafaz dzikir yang disyari’atkan, namun jika seseorang menentukan jumlah tertentu yang tidak ditentukan oleh syari’ah, seperti 1000 kali dalam sehari maka penentuan jumlah ini adalah bid’ah karena tidak berdasarkan dalil. Untuk mengetahui bid’ah idhafiyyah dapat dilihat dari enam sisi, yaitu:
Satu: Sebab melakukan ibadah
Dua: Jenis (seperti jenis hewan yang disyari’atkan untuk kurban)
Tiga: Bilangan (ketentuan jumlah)
Empat: Tata cara (kaifiyyah) beribadah
Lima: Waktu beribadah
Enam: Tempat ibadah.
Jadi, tidak cukup lafaz dzikir yang sesuai dalil, keenam sisi ini pun harus sesuai dalil, jika tidak maka menjadi bid’ah [Lihat Al-Ibda’ fi Kamaal As-Syar’i wa Khatharil Ibdtida’, Asy-Syaikh Al-‘Utsaiminrahimahullah, hal. 21-23]
Maka termasuk kesalahan para pelaku bid’ah, ketika seorang Salafi (pengikut generasi Salaf) melarang mereka melakukan dzikir atau shalawat dengan kaifiyah tertentu atau menentukan bilangan tertentu tanpa adanya dalil, mereka mengatakan, “Salafi melarang dzikir atau melarang shalawat”, padahal yang dilarang adalah kaifiyyah yang salah ataupun penentuan bilangan yang tidak berdasarkan dalil. Dan jawaban yang paling tepat atas tuduhan “melarang dzikir dan shalawat” atau “menggembosi amal shalih” adalah ucapan seorang pembesar tabi’in yang mulia, Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah.
Al-Imam Al-Baihaqi Asy-Syafi’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai kepadaSa’id bin Al-Musayyib rahimahullah,
أنه رأى رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه فقال : يا أبا محمد ! أيعذبني الله على الصلاة ؟ ! قال : لا ولكن يعذبك على خلاف السنة
“Bahwasannya beliau melihat seseorang sedang sholat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, dia memperbanyak rukuk dan sujud, beliau pun melarangnya, maka orang itu berkata: wahai Abu Muhammad, apakah Allah ta’ala akan mengazabku karena melakukan sholat? Beliau menjawab: Tidak, tetapi Allah ta’ala akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah.”
Ucapan di atas dikomentari oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah:
وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب رحمه الله تعالى وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم انها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة ! ! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك
“Ini diantara bentuk cerdasnya jawaban-jawaban Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, dan jawaban ini merupakan senjata yang kuat untuk menghadapi para pelaku bid’ah yang menganggap baik (hasanah) terhadap banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan dalih (bukan dalil, pen) amalan itu merupakan dzikir dan sholat. Lalu mereka mengingkari Ahlus Sunnah yang melarang bid’ah mereka, dan mereka menuduh Ahlus Sunnah melarang dzikir dan sholat, padahal hakikatnya yang diingkari adalah penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan doa tersebut, dan amalan-amalan yang semisalnya.” [Irwaul Ghalil fi Tkhriji Ahaadits Manaris Sabil, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, 2/236, di bawah pembahasan hadits no. 478]
Demikian di antara kaidah mengenal bid’ah, lalu apa hubungannya dengan metode ODOJ? Hubungannya sangat jelas, bahwa membaca Al-Qur’an di satu sisi disyari’atkan, namun di sisi yang lain, metode ODOJ tidak ada asalnya dalam syari’at, maka sangat dikhawatirkan ia termasuk dalam kategori bid’ah idhafiyyah. Pada kesempatan yang lain insya Allah ta’ala kami akan menerangkan beberapa kaidah lain untuk mengenal bid’ah.

Ketiga: Dengan metode ODOJ ini, tidak bisa dikatakan bahwa anggotanya telah menyelesaikan atau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari itu. Berikut fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah,
توزيع أجزاء من القرآن على من حضروا الاجتماع ليقرأ كل منهم لنفسه حزبا أو أحزابا من القرآن لا يعتبر ذلك ختما للقرآن من كل واحد منهم بالضرورة وقصدهم القراءة للتبرك فقط فيه قصور فإن القراءة يقصد بها القربة وتحفظ القرآن وتدبره وفهم أحكامه والاعتبار به ونيل الأجر والثواب وتدريب اللسان على تلاوته… إلى غير ذلك من الفوائد.
“Membagi juz-juz Al-Qur’an terhadap orang-orang yang menghadiri perkumpulan, agar setiap orang membaca bagi dirinya satu bagian atau beberapa bagian Al-Qur’an, maka itu tidak dianggap sebagai khatam Al-Qur’an dari setiap mereka secara pasti. Dan maksud mereka dalam membaca untuk mencari berkah saja maka padanya ada kekurangan, karena sejatinya membaca Al-Qur’an adalah untuk ibadah, menghapal Al-Qur’an, tadabbur, memahami hukum-hukumnya, mengambil pelajaran darinya, meraih pahala, melatih lisan dalam membacanya, dan berbagai macam manfaat yang lain.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/480]

Keempat: Metode ODOJ ini sama sekali tidak termasuk dalam hadits, “Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik…” sehingga perlu mendapat apresiasi, sebab metode ini bukan kebiasaan dalam Islam. Adapun yang dimaksud kebiasaan dalam Islam adalah yang berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf.

Kelima: Sebagai nasihat akhir, hendaklah kaum muslimin lebih bersemangat dalam menuntut ilmu agama agar tidak terjerumus dalam penyimpangan, dan secara khusus kepada saudara-saudara kita yang mengadakan dan mengikuti program ODOJ untuk kembali menuntut ilmu berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai pemahaman Salaf, bukan pemahaman kita masing-masing. Dan hendaklah mereka meninggalkan metode yang tidak sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tersebut.
WabiLlaahit taufiq.

(Dikutip dari: http://www.abuayaz.blogspot.com/2014/01/one-day-one-juz-odoj.html?m=1)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, February 24th, 2014 at 8:55 am and is filed under Ilmu al-Qur`an, Syubhat & Jawabannya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.