Khilaf Adalah Tanda Ahlul Bid’ah
October 18th 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email
Khilaf (Perselisihan) Adalah Tanda Ahlul Bid’ah
Allah ta’ala berfirman ;
{ إِنَّ الذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَ كَانُوْا شِيَعَا }
” Dan sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi berkelompok-kelompok ” – Al An’am : 159 –
Berkata Al Baghawi : ” Mereka adalah ahlul bid’ah wal ahwa’ (1)”
Berkata Ibnul Mubarak : ” Ahlus Sunnah tidaklah terdapat pada mereka perselisihan (2)”
Dan berkata Asy Syathibi : ” Al furqah – perpecahan – adalah sifat yang paling dominan dari ahlul bid’ah (3)”
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : ” Dan bid’ah selalu diiringi dengan perpecahan seperti halnya As Sunnah diiringi dengan jama’ha –persatuan-, dikatakanlah : Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dikatakan : Ahlul Bid’ah wal furqah (4)”
Berkata Abu Mudhzaffar As Sam’aniy : ” Dan yang menunjukkan bahwa Ahlul hadits berada diatas Al Haq, bahwa jikalau engkau menelaah semua karya tulis yang mereka susun, dari yang awal hingga akhir dan dari pendahulunya hingga yang belakangan, denagn perbedaan Negara dan zaman mereka dan jauhnya mereka dipisahkan dengan wilayah yang berjauhan, dan masing-masingnya bermukim pada satu kutub dari kutub-kutub bumi, engkau akan dapati mereka dalam memaparkan aqidah berada pada satu lajur dan satu garis yang mana mereka menii diatas satu jalan dan mereka sama sekali tidak menyimpang dan tidak condong keluardarinya. Pendapat mereka dalam hal itu satu dan penukilan mereka juga satu, tidaklah dijumpai pada mereka perselisihan dan tidak juga perpecahan sedikitpun juga. Bahkan jika engkau mengumpulkan keseluruhan yang telah diucapkan oleh lisan-lisan mereka dan yang mereka nukilkan dari para pendahulu mereka engkau akan mendapatinya seolah-olah berasal dari satu hati dan keluar melalui satu lisan, dan adakah yang menunjukkan akan Al Haq yang lebih jelas dari hal ini ? !!
Adapun jika engkau melirik kepada Ahlul ahwa’ dan bid’ah, engkau akan melihat mereka berpecah belah dan saling berselisih ataukah menjadi berkelompok-kelompok dan beragam partai, sampai-sampai sulit untuk didapati dua orang dari mereka berada pada satu jalan dalam masalah I’tiqad, masing-masingnya saling mebid’ahkan yang lain, bahkan mereka sampai berlanjut pada peng-kafiran, dimana seorang anak akan mengkafirkan bapaknya, seseorang mengkafirkan saudaranya dan yang bertetangga mengkafirkan tetangganya. Engkau akan lihat mereka selamanya berada dalam perbedaan pendapat, permusuhan dan perselisihan, umur –umur mereka akan sirna sedangkan kalimat mereka tidak akan bertemu ;
{ تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَ قُلُوْبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْقِلُوْنَ }
” Engkau menyangka mereka bersatu sedangkan hati-hati mereka bercerai berai, ini dikarenakan mereka adalah kaum yang tidak berakal “ – Al Hasyr : 14 – (5)”
______
(1) Syarhus Sunnah 1 / 210
(2) Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam jami’ul Bayan 12 / 85 dari jalan Suwaid bin Nashr ia berkata : Dikabarkan kepada kami Ibnul Mubarak … lalu ia menyebutkannya .
(3) Al I’tisham 1 / 113
(4) Al Istiqamah 1 /42
(5) Al Hujjah fii Bayanil Mahajjah 2 / 224 – 225
[Terjemahan kitab Zajr Al-Mutahawin fasal ke-3, karya Hamd bin Ibrahim Al-Utsman]
This entry was posted on Sunday, October 18th, 2009 at 2:45 am and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
October 20th, 2009 at 2:25 am
Assalamu’alaikum
Sebagaimana yang ana ketahui, manhaj salaf mulai berkembang tahun 1990. sebelumnya kaum muslimin dijejali dengan berbagai syubhat yang merusak aqidah. diantaranya membaca sholawat (syirik) nariyah, ngalap berkah di kuburan, sholat wajib yang jarang dilakukan dan kerusakan-2 lainnya. pertanyaan ana :
Apakah kita boleh mendoakan orang yang mati dalam keadaan seperti itu (termasuk keluarga kita) sementara mereka belum mengetahui dakwah salaf. mohon penjelasannya.
October 21st, 2009 at 2:04 am
Assalamualaikum
Ustadz, bagaimana dengan orang-orang yang rajin sholat, puasa, bayar zakat, haji dan amal shalih lainnya akan tetapi masih suka ngalap berkah ke kuburan wali-wali sementara dakwah salaf yang disebut juga sebagai dakwah tauhid sudah berkembang pesat di tanah air. Apakah mereka masih dikatakan kaum muslimin atau ahlul bid’ah atau apa?