Sifat Mandi Junub Nabi -shallallahu alaihi wasallam-
February 8th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email
24 Shafar
Sifat Mandi Junub Nabi -shallallahu alaihi wasallam-
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ
“Dan jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (QS. Al-Maidah: 6)
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
“Kebiasaan Rasulullah -shallallahu’alaihiwasallam- jika beliau mandi junub adalah: Beliau memulainya dengan mencuci kedua tangan beliau, kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri lalu mencuci kemaluanya, kemudian beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian beliau mengambil air lalu memasukkan jari-jemarinya ke semua pangkal rambut. Sampai setelah beliau memandang bahwa airnya sudah merata mengenai semua rambut beliau, beliau lalu menyiram kepalanya sebanyak tiga kali tuangan, kemudian beliau mencuci seluruh tubuh beliau, kemudian akhirnya mencuci kedua kaki beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)
Dari Maimunah bintu Al-Harits -radhiallahu anha- dia berkata:
أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلَهُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ ثُمَّ أَفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الْأَرْضَ فَدَلَكَهَا دَلْكًا شَدِيدًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ
“Aku pernah membawa air mandi untuk junub kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Lalu beliau memulai dengan membasuh dua telapak tangannya sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah berisi air, lalu menuangkan air tersebut pada kemaluan beliau, dan beliau mencucinya (kemaluan) dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan gosokan yang kuat. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan, lalu beliau mencuci seluruh tubuhnya. Kemudian beliau bergerak mundur dari tempat beliau berdiri, lalu beliau mencuci kedua kakinya. Kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya.” (HR. Al-Bukhari pada banyak tempat, di antaranya no. 259 dan Muslim no. 723)
Kalimat [berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat], diterangkan dalam riwayat lain, “Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian beliau mencuci wajahnya dan kedua lengannya (tangannya sampai siku).”
Penjelasan ringkas:
Para ulama menyebutkan bahwa kaifiat mandi junub ada 2 cara, dan bisa dipilih salah satunya:
1. Cara yang sempurna, yaitu mengerjakan semua rukun, wajib dan sunnah dalam mandi junub.
Ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Aisyah dan Maimunah di atas.
2. Cara yang mujzi’ (yang mencukupi), yaitu hanya melakukan yang merupakan rukun dalam mandi junub.
Seperti yang diisyaratkan dalam ayat di atas. Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla (2/28) menjelaskan ayat di atas, “Bagaimanapun caranya dia bersuci (mandi) maka dia telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan padanya.”
Penjelasan lebih detail masalah ini silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=649
Masalah lain yang bisa dipetik dari dalil-dalil di atas adalah:
1. Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin menyatakan tidaknya wajib berwudhu setelah mandi junub berdasarkan ayat di atas. Karena Allah Ta’ala telah menyatakan mandi itu sebagai thaharah dan wudhu termasuk thaharah.
2. Hukum gerakan wudhu yang ada di pertengahan mandi junub adalah sunnah, karena pada mandi junub yang cukup tidak disinggung masalah wudhu.
3. Bolehnya ada jarak antara mencuci anggota wudhu yang satu dengan yang lainnya dalam wudhu, selama anggota wudhu sebelumnya belum kering. Pada hadits Maimunah beliau mengundurkan mencuci kaki dari semua gerakan wudhu sebelumnya.
4. Sebaiknya tidak menggunakan handuk atau yang semacamnya untuk membasuh tubuh setelah mandi junub, akan tetapi hendaknya menggunakan tangan sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat lain hadits Maimunah.
5. Menggunakan tangan kiri ketika akan menyentuh sesuatu yang najis.
This entry was posted on Monday, February 8th, 2010 at 12:23 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
February 9th, 2010 at 3:04 am
Ustadz yang terhormat, jika kita meyakini pendapat bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudlu, maka bagaimana sebaiknya ketika menyiramkan air ke seluruh tubuh dalam mandi junub, apakah kita perlu menyentuh kemaluan kita ataukah tidak, mengingat sebelumnya kita telah melakukan gerakan2 wudlu? Jazakumullah khairan
February 9th, 2010 at 9:35 am
Assallaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh…
Ana mau bertanya ustadz …
Bagaimana bila setelah berwudu kemudian ia berhadats besar/kecil lagi, apakah harus mengulang wudhunya baru kemudian mandi junub atau langsung mandi junub saja ?
Jazaakallohu khoir wa baarokallohu fiik
March 4th, 2010 at 7:06 am
Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh
Ustadz, ada yang bertanya seperti ini di blog ana:
Assalamu’alaikum ya ustadz….
saya ada membaca artikel di beberapa website mengenai tentang tatacara mandi junub ini, khususnya mengenai tidak boleh memotong kuku sebelum mandi wajib. hal senada ini termaktub dalam kitab Al-ihya. jadinya saya bingung yang mana yang benar..wahai ustadz..mohon pencerahannya… Jazakumullah khairan…….
http://hanifatunnisaa.blogsome.com/2010/02/09/tanya-jawab-seputar-mandi-junub-bersama-ustadz-abu-muawiyah/
MOhon penjelasannya.
Jazakallahu khoir
August 8th, 2010 at 5:04 am
Assalaamu’alaikum,
bagaimana jika seseorang setelah bangun tidur ragu apakah dia mimpi basah atau tidak kemudian memutuskan untuk mandi junub (karena adanya sesuatu yang keluar). Tetapi sebelum mandi,dia merasa yakin bahwa yang keluar bukan sperma tapi madzi, apakah dia harus tetap mandi junub? meskipun awalnya berkeyakinan.
Jazakallahu khoir
August 25th, 2010 at 7:13 am
Assalamualaikum
Pa ustadz, biasanya setelah melakukan hub suami-istri di bulan ramadhan, saya mandi junubnya setelah sahur.tapi kemarin malam, saya kesiangan sahur, baru bangun jam 07.05 saya langsung mandi junub. apakah sah puasa saya?atau harus di ganti di luar bulan ramadhan?
batas maksimum mandi junub pada saat puasa jam berapa?
sebelumnya terimakasih atas jawabannya