<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Makna Ikhlas Dalam Ibadah</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&#038;p=823" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com/?p=823</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf Ash-Shaleh</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 03:33:50 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Asep Bobby Sulaeman</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=823&#038;cpage=1#comment-2915</link>
		<dc:creator>Asep Bobby Sulaeman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:14:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=823#comment-2915</guid>
		<description>Assalamualaikum, Terima kasih Ustadz mudah2an artikelnya dapat bermanfaat setelah ana baca begitu menggugah hati ana.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Terima kasih Ustadz mudah2an artikelnya dapat bermanfaat setelah ana baca begitu menggugah hati ana.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ghea</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=823&#038;cpage=1#comment-1913</link>
		<dc:creator>ghea</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 21:36:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=823#comment-1913</guid>
		<description>assalamualaikum wr.wb
Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati.
setelah saya membaca jawaban dari pertanyaan di atas :
 &quot; Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka &quot;

pertanyaan saya apa penjelasan untuk masuk neraka ( walaupun tidak kekal ) ???

apakah ada mahluk Allah yang masuk neraka lalu kemuadian ia masuk surga ??

lalu adakah ayat atau hadis yang menjelaskan tentang itu.

semoga jawaban dari ustad dapat menambah keimanan saya serta memberi bekal keimanan di jalan Allah amin..

wassallamualaikum wr.wb

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Banyak sekali dalil yang menyatakan adanya kaum muslimin yang masuk neraka tapi pada akhirnya dia keluar darinya dan masuk ke dalam surga. Sebut saja salah satu jenisnya adalah semua hadits-hadits tentang syafaat para anbiya` dan awaliya`, yang di antara bentuk syafaat mereka adalah mengeluarkan kaum muslimin yang berada di dalam neraka.&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum wr.wb<br />
Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati.<br />
setelah saya membaca jawaban dari pertanyaan di atas :<br />
 &#8221; Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka &#8221;</p>
<p>pertanyaan saya apa penjelasan untuk masuk neraka ( walaupun tidak kekal ) ???</p>
<p>apakah ada mahluk Allah yang masuk neraka lalu kemuadian ia masuk surga ??</p>
<p>lalu adakah ayat atau hadis yang menjelaskan tentang itu.</p>
<p>semoga jawaban dari ustad dapat menambah keimanan saya serta memberi bekal keimanan di jalan Allah amin..</p>
<p>wassallamualaikum wr.wb</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.<br />
Banyak sekali dalil yang menyatakan adanya kaum muslimin yang masuk neraka tapi pada akhirnya dia keluar darinya dan masuk ke dalam surga. Sebut saja salah satu jenisnya adalah semua hadits-hadits tentang syafaat para anbiya` dan awaliya`, yang di antara bentuk syafaat mereka adalah mengeluarkan kaum muslimin yang berada di dalam neraka.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Roni</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=823&#038;cpage=1#comment-476</link>
		<dc:creator>Roni</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:29:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=823#comment-476</guid>
		<description>Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati, 
setelah membaca artikel yang berjudul &quot;Makna Ikhlas Dalam Ibadah&quot;, saya mengajukan 3 pertanyaan :
1. Saya masih bingung, ibadah itu mengharapkan wajah Allah saja atau ridhaNya atau surgaNya atau pahalaNya atau rahmatNya atau kesemuanya.
2. apakah benar riya (syirik kecil)lebih besar dosanya bila dibandingkan dengan mencuri, ghibah, makan riba, berzina dan semisalnya. jelaskan lebih detail agar saya tidak salah paham. 
3. Apakah benar kalau seseorang berbuat dosa terus menerus (bukan syirik) maka ia telah terjatuh dalam kesyirikan. Alasannya karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya. mohon pencerahannya.
Atas jawaban dari ustadz, saya ucapkan terima kasih.

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
1. Dalam ibadah seseorang boleh mengharapkan mana saja yang antum sebut di atas karena nash-nash yang ada membolehkan seluruhnya. Hanya saja yang butuh diperhatikan bahwa kesemua niat yang antum sebutkan itu saling melazimkan, artinya barangsiapa yang mengharapkan wajah Allah maka secara otomatis dia mengharapkan keridhaan-Nya, pahala-Nya, dan rahmat-Nya.
2. Ia, riya -yang merupakan syirik kecil- lebih besar dosanya dibandingkan semua dosa besar selain kekafiran dan kesyirikan. Hal itu karena syirik -walaupun dia kecil- sama sekali tidak akan ada peluang untuk diampuni oleh Allah jika dia tidak bertaubat sebelum meninggal, sementara dosa-dosa besar -walaupun dia tidak bertaubat sebelum meninggal- maka masih ada peluang dia diampuni oleh Allah. Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka.
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menerangkan bahwa maksiat termasuk ke dalam bentuk kesyirikan &lt;strong&gt;dalam artian umum&lt;/strong&gt;, karena semua maksiat itu menjadikan hawa nafsu sebagai sembahan.
Akan tetapi maksiat tidak termasuk ke dalam kesyirikan &lt;strong&gt;dalam artian khusus&lt;/strong&gt; karena tidak ada bentuk penyembahan kepada selain Allah.
Kesyirikan dalam artian umum ada yang tidak diampuni, yaitu kesyirikan dalam ibadah dan ada yang bisa diampuni, yaitu semua dosa selain kekafiran dan kesyirikan. Adapun kesyirikan dalam artian khusus maka semuanya tidak akan terampuni.
Demikian, semoga antum bisa memahaminya. Wallahu a&#039;lam.&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh<br />
Ustadz Abu Muawiah yang saya hormati,<br />
setelah membaca artikel yang berjudul &#8220;Makna Ikhlas Dalam Ibadah&#8221;, saya mengajukan 3 pertanyaan :<br />
1. Saya masih bingung, ibadah itu mengharapkan wajah Allah saja atau ridhaNya atau surgaNya atau pahalaNya atau rahmatNya atau kesemuanya.<br />
2. apakah benar riya (syirik kecil)lebih besar dosanya bila dibandingkan dengan mencuri, ghibah, makan riba, berzina dan semisalnya. jelaskan lebih detail agar saya tidak salah paham.<br />
3. Apakah benar kalau seseorang berbuat dosa terus menerus (bukan syirik) maka ia telah terjatuh dalam kesyirikan. Alasannya karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya. mohon pencerahannya.<br />
Atas jawaban dari ustadz, saya ucapkan terima kasih.</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.<br />
1. Dalam ibadah seseorang boleh mengharapkan mana saja yang antum sebut di atas karena nash-nash yang ada membolehkan seluruhnya. Hanya saja yang butuh diperhatikan bahwa kesemua niat yang antum sebutkan itu saling melazimkan, artinya barangsiapa yang mengharapkan wajah Allah maka secara otomatis dia mengharapkan keridhaan-Nya, pahala-Nya, dan rahmat-Nya.<br />
2. Ia, riya -yang merupakan syirik kecil- lebih besar dosanya dibandingkan semua dosa besar selain kekafiran dan kesyirikan. Hal itu karena syirik -walaupun dia kecil- sama sekali tidak akan ada peluang untuk diampuni oleh Allah jika dia tidak bertaubat sebelum meninggal, sementara dosa-dosa besar -walaupun dia tidak bertaubat sebelum meninggal- maka masih ada peluang dia diampuni oleh Allah. Karenanya pelaku syirik kecil -jika dia tidak bertaubat- diwajibkan masuk neraka (walaupun tidak kekal), sementara dosa besar -jika dia tidak bertaubat- belum tentu dia masuk ke dalam neraka.<br />
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menerangkan bahwa maksiat termasuk ke dalam bentuk kesyirikan <strong>dalam artian umum</strong>, karena semua maksiat itu menjadikan hawa nafsu sebagai sembahan.<br />
Akan tetapi maksiat tidak termasuk ke dalam kesyirikan <strong>dalam artian khusus</strong> karena tidak ada bentuk penyembahan kepada selain Allah.<br />
Kesyirikan dalam artian umum ada yang tidak diampuni, yaitu kesyirikan dalam ibadah dan ada yang bisa diampuni, yaitu semua dosa selain kekafiran dan kesyirikan. Adapun kesyirikan dalam artian khusus maka semuanya tidak akan terampuni.<br />
Demikian, semoga antum bisa memahaminya. Wallahu a&#8217;lam.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abuwildan aljakarty</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=823&#038;cpage=1#comment-310</link>
		<dc:creator>abuwildan aljakarty</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 04:12:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=823#comment-310</guid>
		<description>Bismillah
Jazakallohu khoiron katsiero yaa ustadz atas artikel ilmiyah nya semoga bermanfaat bagi orang-orang yg mau membuka hatinya kepada AL HAQ ini dan mau bersegera menyadari kekeliruannya dan meninggalkan(hijrah)amalan dan pemahaman yang menyimpang dari jalan para pendahulu ummat ini yang solihin (As salaf ash sholih)
Barokallohufiekum

Akhukum fillah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah<br />
Jazakallohu khoiron katsiero yaa ustadz atas artikel ilmiyah nya semoga bermanfaat bagi orang-orang yg mau membuka hatinya kepada AL HAQ ini dan mau bersegera menyadari kekeliruannya dan meninggalkan(hijrah)amalan dan pemahaman yang menyimpang dari jalan para pendahulu ummat ini yang solihin (As salaf ash sholih)<br />
Barokallohufiekum</p>
<p>Akhukum fillah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
