<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hadits Al-&#8217;Ajn</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&#038;p=735" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf Ash-Shaleh</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 03:33:50 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Ibnu Abi Irfan</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735&#038;cpage=1#comment-1542</link>
		<dc:creator>Ibnu Abi Irfan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 13:18:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=735#comment-1542</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum

afwan seribu kali afwan. ana termasuk orang yang bimbang dalam masalah ini karena ana pernah membaca artikel di blog ahlus sunnah Abul Jauza bahwa disebutkan Syaikh Al Albani menghasankan hadits &#039;ajn ini.

mohon kedua ustadz pengelola situs Al-Atsariyah.com dan blog Abul-jauza.blogspot.com untuk saling mengklarifikasi agar dapat diketahui mana yang rojih antara kedua pendapat ini.
syukron katsiiron

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullah.
Tidak usah bingung akh, antum tinggal ngikuti mana pendapat yang antum lebih tenang mengamalkannya. Kamipun mencantumkan artikel ini hanya sebagai penjelasan mengenai pendapat kami, bukan dalam rangka memaksa orang lain untuk berpendapat dengannya.&lt;/blockquote&gt;



</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>afwan seribu kali afwan. ana termasuk orang yang bimbang dalam masalah ini karena ana pernah membaca artikel di blog ahlus sunnah Abul Jauza bahwa disebutkan Syaikh Al Albani menghasankan hadits &#8216;ajn ini.</p>
<p>mohon kedua ustadz pengelola situs Al-Atsariyah.com dan blog Abul-jauza.blogspot.com untuk saling mengklarifikasi agar dapat diketahui mana yang rojih antara kedua pendapat ini.<br />
syukron katsiiron</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullah.<br />
Tidak usah bingung akh, antum tinggal ngikuti mana pendapat yang antum lebih tenang mengamalkannya. Kamipun mencantumkan artikel ini hanya sebagai penjelasan mengenai pendapat kami, bukan dalam rangka memaksa orang lain untuk berpendapat dengannya.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnu ahmad albanjary</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735&#038;cpage=1#comment-482</link>
		<dc:creator>ibnu ahmad albanjary</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 12:28:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=735#comment-482</guid>
		<description>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ana membaca di Kitab Tamamul Minnah karya Syaikh Albani, disana sebutkan nama rowi pada hadist ini yang beliau tsiqotkan adalah Al-Haitsami bin Imran Al-Abasi, sedangkan pada tulisan disini bernama Al-Haitsam bin ‘Imran Ad-Dimasyqy, apakah kedua nama tersebut sama rowi yang dimaksud? Jazakumullahu Khairon.

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ia orangnya saja, hanya saja yang benarnya Al-Absi bukan Al-Abasi, sebagaimana yang Ibnu Hibban katakan dalam Ats-Tsiqat (7/577), &quot;Al-Haitsam bin Imran Al-Absi, dari penduduk Damaskus,&quot; jadi Al-Haitsam ini Al-Absi Ad-Dimasyqi. Waiyakum&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh<br />
Ana membaca di Kitab Tamamul Minnah karya Syaikh Albani, disana sebutkan nama rowi pada hadist ini yang beliau tsiqotkan adalah Al-Haitsami bin Imran Al-Abasi, sedangkan pada tulisan disini bernama Al-Haitsam bin ‘Imran Ad-Dimasyqy, apakah kedua nama tersebut sama rowi yang dimaksud? Jazakumullahu Khairon.</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.<br />
Ia orangnya saja, hanya saja yang benarnya Al-Absi bukan Al-Abasi, sebagaimana yang Ibnu Hibban katakan dalam Ats-Tsiqat (7/577), &#8220;Al-Haitsam bin Imran Al-Absi, dari penduduk Damaskus,&#8221; jadi Al-Haitsam ini Al-Absi Ad-Dimasyqi. Waiyakum</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: [Yang Melemahkan] Hadits Al-&#8217;Ajn (Mengepalkan Kedua Tangan Saat Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri) &#171; TUNTUNAN SHOLAT</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735&#038;cpage=1#comment-457</link>
		<dc:creator>[Yang Melemahkan] Hadits Al-&#8217;Ajn (Mengepalkan Kedua Tangan Saat Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri) &#171; TUNTUNAN SHOLAT</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 17:24:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=735#comment-457</guid>
		<description>[...] Sumber: al-atsariyyah.com [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Sumber: al-atsariyyah.com [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ardianroe</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735&#038;cpage=1#comment-435</link>
		<dc:creator>ardianroe</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 01:31:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=735#comment-435</guid>
		<description>Assalamualaikum,
ana mau nanya masalah ajn, kalau tidak salah (mohon dikoreksi)syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam bukunya sifat shalat Nabi mencantumkan masalah ajn,dimana beliau merajihkan (menshahihkan) mengepal jari-jemari tangan (menggenggam) dan menyatakan bahwa hadist yang berbunyi &quot;Nabi bangkit untuk berdiri seperti anak panah tanpa bertumpu pada tangannya&quot; adalah hadist palsu, apakah pendapat Syaikh Albany pada masalah ini salah? karena sepengetahuan ana beliau adalah ulama yang ahli dalam masalah hadist sholat nabi dan beliau juga dikenal sebagai muhaddist zaman ini. jika belaiu salah apakah beliau pernah ruju&#039; atas pernyataan beliau di bukunya tsb?

Baarokalloohu fiikum

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullah. Pertama butuh diketahui bahwa bertumpu dengan kedua tangan saat akan berdiri adalah sunnah, sehingga kalaupun seseorang tidak bertumpu dengan tangannya dan langsung berdiri maka itu juga tidak mengapa. Yang diperselisihkan hanyalah bagaimana sifat kedua tangan ketika dijadikan tumpuan, apakah dikepalkan ataukan dihamparkan.
Kedua, khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal ini adalah khilaf dalam masalah fiqhi yang diperbolehkan untuk berbeda pendapat, dan hendaknya setiap pihak yang berselisih menghargai pendapat lain dan tidak memakasakan pendapatnya selama pendapat yang menyelisihinya juga berlandaskan pada dalil.
Ketiga, sebagaimana halnya khilaf dalam fiqhi, khilaf dalam penshahihan dan pelemahan hadits juga adalah hal yang biasa, bahkan salah satu sebab terjadinya khilaf dalam fiqhi adalah karena adanya khilaf dalam masalah hadits, sebagaimana dalam masalah al-ajn ini.
Keempat, setinggi apapun kedudukan dan keilmuan seorang ulama maka tidak ada yang ma&#039;shum (terjaga dari kesalahan). Jangankan syaikah Al-Albani yang kita akui sebagai ahli hadits di zaman ini, Imam Al-Bukhari yang disifati sebagai &#039;amirul mukminin fil hadits&#039; (pimpinan kaum mukminin dalam masalah hadits) pun tak luput dari kekeliruan dengan adanya segelintir hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang dikritik dan dilemahkan oleh ulama lain.
Setelah ini dipahami maka kami katakan, pendapat beliau yang menshahihkan/menghasankan hadits Ibnu Umar adalah keliru dan termasuk ketergelinciran beliau dalam masalah ini -rahimahullah-. Tapi tentunya kami tetap menghargai siapa saja -terutama beliau- yang menshahihkan haditsnya lalu mengamalkannya karena dia juga beramal dengan dalil. Hanya saja kebenaran tidak berbilang karenanya kami menegaskan pendapat yang kami pilih adalah yang tepat dan selainnya adalah keliru, dan kami menghargai siapapun yang menyelisihi kami dalam masalah ini selama dia juga beramal dengan dalil.
Wallahu a&#039;lam, kami tidak mengetahui apakah beliau rujuk darinya atau tidak.&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum,<br />
ana mau nanya masalah ajn, kalau tidak salah (mohon dikoreksi)syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam bukunya sifat shalat Nabi mencantumkan masalah ajn,dimana beliau merajihkan (menshahihkan) mengepal jari-jemari tangan (menggenggam) dan menyatakan bahwa hadist yang berbunyi &#8220;Nabi bangkit untuk berdiri seperti anak panah tanpa bertumpu pada tangannya&#8221; adalah hadist palsu, apakah pendapat Syaikh Albany pada masalah ini salah? karena sepengetahuan ana beliau adalah ulama yang ahli dalam masalah hadist sholat nabi dan beliau juga dikenal sebagai muhaddist zaman ini. jika belaiu salah apakah beliau pernah ruju&#8217; atas pernyataan beliau di bukunya tsb?</p>
<p>Baarokalloohu fiikum</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullah. Pertama butuh diketahui bahwa bertumpu dengan kedua tangan saat akan berdiri adalah sunnah, sehingga kalaupun seseorang tidak bertumpu dengan tangannya dan langsung berdiri maka itu juga tidak mengapa. Yang diperselisihkan hanyalah bagaimana sifat kedua tangan ketika dijadikan tumpuan, apakah dikepalkan ataukan dihamparkan.<br />
Kedua, khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal ini adalah khilaf dalam masalah fiqhi yang diperbolehkan untuk berbeda pendapat, dan hendaknya setiap pihak yang berselisih menghargai pendapat lain dan tidak memakasakan pendapatnya selama pendapat yang menyelisihinya juga berlandaskan pada dalil.<br />
Ketiga, sebagaimana halnya khilaf dalam fiqhi, khilaf dalam penshahihan dan pelemahan hadits juga adalah hal yang biasa, bahkan salah satu sebab terjadinya khilaf dalam fiqhi adalah karena adanya khilaf dalam masalah hadits, sebagaimana dalam masalah al-ajn ini.<br />
Keempat, setinggi apapun kedudukan dan keilmuan seorang ulama maka tidak ada yang ma&#8217;shum (terjaga dari kesalahan). Jangankan syaikah Al-Albani yang kita akui sebagai ahli hadits di zaman ini, Imam Al-Bukhari yang disifati sebagai &#8216;amirul mukminin fil hadits&#8217; (pimpinan kaum mukminin dalam masalah hadits) pun tak luput dari kekeliruan dengan adanya segelintir hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang dikritik dan dilemahkan oleh ulama lain.<br />
Setelah ini dipahami maka kami katakan, pendapat beliau yang menshahihkan/menghasankan hadits Ibnu Umar adalah keliru dan termasuk ketergelinciran beliau dalam masalah ini -rahimahullah-. Tapi tentunya kami tetap menghargai siapa saja -terutama beliau- yang menshahihkan haditsnya lalu mengamalkannya karena dia juga beramal dengan dalil. Hanya saja kebenaran tidak berbilang karenanya kami menegaskan pendapat yang kami pilih adalah yang tepat dan selainnya adalah keliru, dan kami menghargai siapapun yang menyelisihi kami dalam masalah ini selama dia juga beramal dengan dalil.<br />
Wallahu a&#8217;lam, kami tidak mengetahui apakah beliau rujuk darinya atau tidak.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: M.Aziz</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=735&#038;cpage=1#comment-369</link>
		<dc:creator>M.Aziz</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 07:31:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=735#comment-369</guid>
		<description>Jazakumullahu khoiron, skr ana tidak lagi melakukan &#039;ajn sjk membaca artikel tsb, sekedar ingin tahu apakah ada ulama&#039; abad ini yg mendho&#039;ifkan hadits tsb? Baarokalloohu fiikum

&lt;blockquote&gt;Waiyyakum. Di antaranya Syaikh Bakr Abu Zaid dan beliau punya pembahasan khusus dalam menjelaskan lemahnya hadits ini. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam risalah beliau yang sangat bermanfaat &#039;Laa Jadiida fii Ahkam Ash-Shalah&#039; hal. 47-48&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakumullahu khoiron, skr ana tidak lagi melakukan &#8216;ajn sjk membaca artikel tsb, sekedar ingin tahu apakah ada ulama&#8217; abad ini yg mendho&#8217;ifkan hadits tsb? Baarokalloohu fiikum</p>
<blockquote><p>Waiyyakum. Di antaranya Syaikh Bakr Abu Zaid dan beliau punya pembahasan khusus dalam menjelaskan lemahnya hadits ini. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam risalah beliau yang sangat bermanfaat &#8216;Laa Jadiida fii Ahkam Ash-Shalah&#8217; hal. 47-48</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
