<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Ahkam Al-Muhdits (2)</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&#038;p=1116" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1116</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf Ash-Shaleh</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 03:33:50 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: abu adam</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1116&#038;cpage=1#comment-1002</link>
		<dc:creator>abu adam</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 09:16:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1116#comment-1002</guid>
		<description>bismillah, salamun &#039;alaika ya ustadz. dari pembahasan tentang menyentuh al quran tanpa pelapis, terdapat larangan untuk orang yg berhadats besar dan kecil berdasarkan tambahan lafadz dari riwayat abdurrozaq. maka dari hal ini, apakah hal ini berkonsekuensi larangan juga bagi orang yg junub dan bagi orang yg batal wudhunya baik karena kencing atau yg selainnya ? dan apakah larangan bagi kedua keadaan di atas bermakna harom atau makruh ?. jazakallahu khoir

&lt;blockquote&gt;Waalaikumussalam warahmatullah
Na&#039;am larangannya berlaku bagi yang mengalami hadats akbar dan hadats asghar. Dan hukum asal larangan adalah haram kecuali jika ada dalil yang memalingkannya ke hukum makruh, sementara di sini tidak ada dalil yang memalingkannya, wallahu a&#039;lam.&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bismillah, salamun &#8216;alaika ya ustadz. dari pembahasan tentang menyentuh al quran tanpa pelapis, terdapat larangan untuk orang yg berhadats besar dan kecil berdasarkan tambahan lafadz dari riwayat abdurrozaq. maka dari hal ini, apakah hal ini berkonsekuensi larangan juga bagi orang yg junub dan bagi orang yg batal wudhunya baik karena kencing atau yg selainnya ? dan apakah larangan bagi kedua keadaan di atas bermakna harom atau makruh ?. jazakallahu khoir</p>
<blockquote><p>Waalaikumussalam warahmatullah<br />
Na&#8217;am larangannya berlaku bagi yang mengalami hadats akbar dan hadats asghar. Dan hukum asal larangan adalah haram kecuali jika ada dalil yang memalingkannya ke hukum makruh, sementara di sini tidak ada dalil yang memalingkannya, wallahu a&#8217;lam.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aulia Abu Jibrin</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1116&#038;cpage=1#comment-461</link>
		<dc:creator>Aulia Abu Jibrin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:30:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1116#comment-461</guid>
		<description>Ustadz, ana ingin bertanya ttg menyentuh mushaf al-Qur&#039;an dg pelapis. Maksud pelapis di sini seperti apa? 
Kemudian, apakah al-Qur&#039;an terjemahan Indonesia boleh disentuh jika berhadats? (dg meninjau faedah Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin di atas).
Mohon penjelasannya.

Jazakallohu khoir..
Barakallohu fik..

&lt;blockquote&gt;Pelapis yang dimaksud di sini baik pelapis yang menyatu dengan Al-Qur`an maupun yang terpisah darinya. Contoh pelapis yang menyatu dengannya adalah sampulnya dan contoh yang terpisah darinya misalnya Al-Qur`an di masukkan ke dalam saku atau kantong.
Wallahu a&#039;lam, kalau memang jumlah huruf Al-Qur`an sama dengan jumlah huruf terjemahan, maka apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh itu bisa diamalkan yaitu tidak boleh menyentuhnya. Jika jumlah huruf arabnya sedikit lebih banyak daripada terjemahan, maka sebaiknya tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci, walaupun dalam keadaan seperti ini kami tidak memastikan keharamannya, hanya saja itu yang lebih berhati-hati.
Waiyyakum, wabarakallahu fikum&lt;/blockquote&gt;

.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz, ana ingin bertanya ttg menyentuh mushaf al-Qur&#8217;an dg pelapis. Maksud pelapis di sini seperti apa?<br />
Kemudian, apakah al-Qur&#8217;an terjemahan Indonesia boleh disentuh jika berhadats? (dg meninjau faedah Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin di atas).<br />
Mohon penjelasannya.</p>
<p>Jazakallohu khoir..<br />
Barakallohu fik..</p>
<blockquote><p>Pelapis yang dimaksud di sini baik pelapis yang menyatu dengan Al-Qur`an maupun yang terpisah darinya. Contoh pelapis yang menyatu dengannya adalah sampulnya dan contoh yang terpisah darinya misalnya Al-Qur`an di masukkan ke dalam saku atau kantong.<br />
Wallahu a&#8217;lam, kalau memang jumlah huruf Al-Qur`an sama dengan jumlah huruf terjemahan, maka apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh itu bisa diamalkan yaitu tidak boleh menyentuhnya. Jika jumlah huruf arabnya sedikit lebih banyak daripada terjemahan, maka sebaiknya tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci, walaupun dalam keadaan seperti ini kami tidak memastikan keharamannya, hanya saja itu yang lebih berhati-hati.<br />
Waiyyakum, wabarakallahu fikum</p></blockquote>
<p>.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
