<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Website Al-Atsariyyah.Com &#187; Akhlak dan Adab</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&#038;cat=18" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf Ash-Shaleh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Aug 2010 08:03:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Adab-Adab di Hari Jumat</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=2113</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=2113#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fadha`il Al-A'mal]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=2113</guid>
		<description><![CDATA[28 Rabiul Akhir
Adab-Adab di Hari Jumat
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الجُمْعَتَيْنِ
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam jumat maka dia akan diterangi oleh cahaya antara jumat itu hingga jumat depannya.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">28 Rabiul Akhir</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Adab-Adab di Hari Jumat</strong></p>
<p>Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:<br />
<strong>مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الجُمْعَتَيْنِ</strong><br />
<em>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam jumat maka dia akan diterangi oleh cahaya antara jumat itu hingga jumat depannya.”</em> (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman, serta dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6470)<br />
Dari Abdullah bin Busr radhiallahu anhu dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ</strong><br />
<em>“Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari jumat. Maka beliau bersabda kepadanya, &#8220;Duduklah. Sungguh, kamu telah mengganggu dan membuat orang lain terlambat.&#8221; </em>(HR. Ahmad no. 17014 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 155)<br />
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ</strong><br />
<em>&#8220;Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari jumat, “Diamlah,” sementara imam sedang memberikan khutbah, maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 414 dan Muslim no. 851)<br />
Dari Aus bin Aus radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ</strong><br />
<em>&#8220;Sesungguhnya hari jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik, karenanya perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku.&#8221; Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu, sementara engkau telah meninggal?” Beliau bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala telah mengharamkan atas bumi untuk menghancurkan jasad para nabi shallallahu &#8216;alaihim.&#8221;</em> (HR. Abu Daud no. 1047 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2212)<span id="more-2113"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara adab-adab pada hari jumat yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk dilakukan -karena besarnya pahala yang ada di dalamnya- adalah disunnahkan untuk membaca surah Al-Kahfi di malam jumat serta memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam dan siang hari jumat. Dan beliau juga melarang untuk melakukan semua amalan yang bisa mengganggu manusia mendengarkan khutbah, semisal datang terlambat lalu melangkahi leher-leher mereka dan juga berbicara, walaupun tujuan pembicaraannya adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar.</p>
<p>Dan di antara dalil yang menunjukkan keutamaan bershalat kepada beliau pada hari jumat adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu secara marfu’:<br />
<strong>أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَليلَةَ الْجُمُعَةِ, فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشَرًا.</strong><br />
<em>“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali.” </em>(HR. Al-Baihaqi (3/249) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1407)<br />
Penjelasan lebih lanjut mengenai kesalahan-kesalahan pada hari jumat, silakan baca artikel: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1397">Kesalahan-Kesalahan Pada Hari Jumat</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=2113</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjalan Dengan Tenang ke Masjid</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1920</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1920#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 08:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1920</guid>
		<description><![CDATA[12 Rabiul Awal
Berjalan Dengan Tenang ke Masjid
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam beliau bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
&#8220;Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat, dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">12 Rabiul Awal</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Berjalan Dengan Tenang ke Masjid</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam beliau bersabda:<br />
<strong>إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا</strong><br />
<em>&#8220;Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat, dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 117 dan Muslim no. 602)<br />
Dari Abu Qatadah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ. فَلَمَّا صَلَّى, قَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قَالَ: فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا</strong><br />
<em>&#8220;Ketika kami sedang shalat bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh beberapa orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya, &#8220;Ada apa dengan kalian?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami tergesa-gesa mendatangi shalat.&#8221; Beliau pun bersabda, &#8220;Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 599 dan Muslim no. 603)<span id="more-1920"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Ketika seorang muslim keluar dari rumahnya menuju masjid untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya dia tengah keluar untuk mendatangi sebuah ibadah yang agung, dimana dia akan berdiri di hadapan Rabbnya. Karenanya sifat berjalannya dia menuju shalat hendaknya dalam keadaan khusyu’ dan tenang, hendaknya dia menghadirkan di dalam hatinya akan keagungan ibadah yang akan dia kerjakan tersebut. Yang mana hal ini bisa membantunya untuk bisa khusyu’ atau menambah khusyu’ di dalam shalatnya.<br />
Maka kedua hadits di atas tegas memerintahkan untuk berjalan dengan tenang (bukan lambat) ke masjid atau ke tempat shalat. Sebagaimana kedua dalil di atas juga melarang dengan tegas sikap tergesa-gesa dalam menuju ke tempat shalat, walaupun dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan rakaat atau jangan sampai menjadi masbuk. Bahkan beliau memberikan menyatakan, <em>“Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.&#8221; </em>Maka ini termasuk dari dalil yang menunjukkan kemudahan syariat Islam.<br />
Hal itu karena inti dari mengerjakan shalat adalah khusyu’ dan tenang, bukan semata-mata ditinjau dari harus mengikut imam dari awal. Sementara orang yang terburu-buru ke masjid kebanyakannya mereka nafas mereka terengah2 di awal shalatnya dan itu pasti akan berpengaruh pada kekhusyuan dan konsentrasi dia dalam shalat.<br />
Kedua dalil di atas juga menunjukkan kelirunya amalan sebagian kaum muslimin tatkala mereka masbuk bersama-sama. Setelah imam salam, maka mereka semua berdiri untuk menambah rakaat yang tertinggal, lalu salah seorang di antara mereka ini maju ke depan menjadi imam yang baru. Ini adalah kekeliruan yang nyata, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan bagi orang-orang yang masbuk, <em>“Dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah,&#8221; </em>yakni: Sempurnakanlah rakaat yang tertinggal oleh kalian sendiri-sendiri. Beliau tidak menyatakan, “Dan apa yang kalian tertinggal maka buatlah jamaah yang baru.&#8221; Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1920</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1908</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1908#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 01:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1908</guid>
		<description><![CDATA[08 Rabiul Awal
Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">08 Rabiul Awal</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا</strong><br />
<em>“Sesungguhnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah melihat ada dahak di dinding kiblat, maka beliau merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda, &#8220;Jika seseorang dari kalian berdiri shalat maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat. Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi hendaknya dia membuang dahaknya ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya.&#8221; Kemudian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau mengosokkannya kepada bagian kainnya yang lain, lalu beliau bersabda, “Atau hendaknya dia melakukan seperti ini.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 507 dan Muslim no. 550)<br />
Anas bin Malik  berkata: Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا</strong><br />
<em>&#8220;Meludah di dalam masjid adalah suatu kesalahan, dan kaffarahnya (penghapus dosanya) adalah menimbunnya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 511 dan Muslim no. 552)<br />
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ</strong><br />
<em>&#8220;Jika kalian melihat orang membeli atau menjual di dalam masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu.” Jika kalian melihat orang yang mencari sesuatu yang hilang di dalamnya maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.&#8221;</em> (HR. At-Tirmizi no. 1321 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 573)<span id="more-1908"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Tujuan masjid dibangun hanyalah untuk  shalat, zikir, dan beribadah kepada Allah. Dan dia merupakan bagian bumi yang paling Allah cintai. Karenanya ketika seorang berada di dalam masjid maka dia diharuskan untuk beradab dengan adab-adab islami yang telah dituntunkan oleh Rasulullah . Dan di antara adab tersebut adalah Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan agar menyucikan masjid dari semua perkara yang tidak berhubungan dengan tujuan dia dibangun, misalnya membuang kotoran dan berjual beli di dalamnya.</p>
<p>Berikut beberapa masalah yang dipetik dari hadits-hadits di atas secara berurut:<br />
1.    Tingginya kecemburuan Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada agama Allah, dimana beliau tidak merasa nyaman ketika ada kotoran yang terdapat dalam masjid.</p>
<p>2.    Wajib bagi seorang imam masjid untuk mengingkari kemungkaran yang terjadi di dalam masjid yang dia imami, karena itu termasuk dalam lingkup tanggung jawabnya.</p>
<p>3.    Dalam hadits ini, Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah mengumpulkan ketiga jenis nahi mungkar: Dengan hati beliau tatkala beliau jengkel dan tidak senang dengannya, dengan lisan tatkala beliau menasehati dan melarang para sahabat, dan dengan tangan tatkala beliau membersihkan sendiri dahak yang ada di masjid. Dan beliau juga mengumpulkan dua jenis pengajaran: Dengan teori dan dengan praktek.</p>
<p>4.    Hukum meludah ke arah kiblat di dalam shalat adalah haram berdasarkan larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam-, <em>“Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat.” </em>Karena hukum asal larangan adalah haram kecuali ada dalil yang memalingkan hukumnya.</p>
<p>5.    Sudah menjadi kaidah tetap dalam syariat Islam, bahwa tatkala Islam melarang dari suatu amalan -padahal amalan itu dibutuhkan oleh kaum muslimin-, maka dia akan mensyariatkan amalan lain yang mirip dengannya tanpa melanggar syariat yang lainnya. Dalam hal ini, tatkala seorang yang shalat terkadang butuh meludah atau membuang dahak sementara Islam melarang untuk membuangnya ke arah kiblat, maka Islam menuntunkan amalan lain yang syar’i tanpa melarang mereka melakukan hal yang terkadang mereka butuhkan tersebut, yaitu membuang ludah atau dahak ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya atau membuangnya ke pakaiannya lalu menggosoknya.</p>
<p>6.    Kiblat termasuk syariat Allah yang terbesar, karenanya dia harus dimuliakan dengan tidak membuang kotoran -apalagi najis- ke arahnya. Karenanya dimakruhkan untuk buang air besar dan kecil menghadap ke kiblat.</p>
<p>7.    Membuang ludah dan dahak ke arah kiri atau di bawah pakaiannya hanya berlaku jika seseorang itu shalat di luar masjid dan tidak ada orang yang sedang shalat di sebelah kirinya. Adapun jika dia shalat di dalam masjid maka tidak boleh dia meludah ke arah kiri -berdasarkan hadits Anas yang kedua di atas-  dan tidak boleh juga di bawah kakinya karena dia tidak akan bisa menimbunnya, mengingat hampir seluruh masjid kaum muslimin di zaman ini sudah memakai tegel atau yang semacamnya sehingga tidak mungkin bagi dia untuk menimbunnya. Demikian pula jika dia membuangnya ke arah kirinya sementara ada orang di sebelah kirinya maka itu berarti membuang kotoran ke arah saudaranya, dan ini juga tidak diperbolehkan.</p>
<p>8.    Karenanya, larangan membuang dahak dan ludah ke arah kiblat di luar masjid dan tidak sedang shalat adalah mubah dan tidak makruh. Wallahu a’lam.</p>
<p>9.    Larangan berjual beli di dalam masjid. Adapun batasan masjid yang seseorang tidak boleh jual beli di situ, maka silakan baca pembahasannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1387">http://al-atsariyyah.com/?p=1387<br />
</a></p>
<p>10.    Disyariatkan bagi orang yang melihatnya untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.</p>
<p>11.    Jual beli yang dimaksud di sini adalah akad jual beli. Karenanya:<br />
a.    Jika ada dua orang yang melakukan akad di dalam masjid walaupun barangnya belum ada dan pembayaran juga belum dilakukan, maka ini termasuk dalam larangan karena keduanyta telah melakukan jual beli di dalam masjid.<br />
b.    Menitipkan atau menerima titipan uang atau barang dagangan di dalam masjid adalah boleh, karena itu bukanlah jual beli.<br />
c.    Membayar utang di dalam masjid tidak mengapa karena utang piutang bukanlah jual beli. Misalnya ada dua orang yang melakukan akad di luar masjid, barangnya sudah diambil akan tetapi bayarnya besok dan dilakukan di dalam masjid. Maka ini insya Allah tidak mengapa karena pembayaran ini adalah pelunasan utang dan bukan jual beli. Demikian pula sebaliknya jika pembayarannya dilakukan di luar masjid lalu penyerahan barangnya besok di dalam masjid. Contoh lain adalah seseorang memfoto kopi materi taklim dengan uangnya sendiri lalu dia membagi-bagikannya di dalam masjid lalu menerima pembayaran dari yang mengambil materi tersebut. Maka ini juga adalah transaksi pembayaran hutang dan bukan jual beli, selama orang tersebut tidak mengambil keuntungan dari ongkos foto kopinya. Jika dia mengambil keuntungan maka itu termasuk transaksi jual beli dalam masjid yang terlarang. Wallahu a’lam</p>
<p>12.    Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid, dan batasan masjid juga bisa dilihat pada link di atas.</p>
<p>13.    Juga dilarang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid walaupun dia tidak mencarinya di dalam masjid.</p>
<p>14.    Disyariatkan bagi yang melihat atau mendengar orang yang mencari atau mengumumkan barang hilang di dalam masjid untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.</p>
<p>Hanya ini yang bisa kami petik -sebatas keilmuan kami-, dan bagi siapa saja yang bisa memetik faidah lain dari dalil-dalil di atas, maka silakan dia menuliskan pada kolom komentar di bawah. Wal ilmu indallah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1908</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Antara Sunnah Wudhu</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1817</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1817#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[Zikir & Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[19 Shafar
Di Antara Sunnah Wudhu
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Dari Abu Hurairah  dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">19 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Di Antara Sunnah Wudhu</strong></p>
<p>Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ</strong><br />
<em>&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)<br />
Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ ْوُضُوءٍ</strong><br />
<em>&#8220;Sekiranya aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.&#8221;</em> (HR. Ahmad dalam beberapa tempat dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 70)<br />
Dari Umar  dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau bersabda:<br />
<strong>مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ</strong><br />
<em>&#8220;Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, lalu bersungguh-sungguh atau menyempurnakan wudhunya kemudian dia membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAHI WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya) melainkan kedelapan pintu surga akan dibukakan untuknya. Dia masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 234)<br />
Dalam riwayat lain dengan lafazh:<br />
<strong>مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ</strong><br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang berwudhu lalu membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.&#8221;<span id="more-1817"></span><br />
</em><br />
<strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara kesempurnaan wudhu adalah disunnahkan untuk memulai dengan mencuci anggota wudhu yang sebelah kanan sebelum yang kiri, yakni pada kedua telapak tangan, tangan sampai siku, dan kedua kaki. Hanya saja berhubung hukumnya sunnah, maka barangsiapa yang memulai dengan yang kiri maka sungguh dia telah menyelisihi sunnah walaupun dia tidak berdosa dan wudhunya tidak makruh apalagi batal. Dan syariat memulai dengan yang kanan ini berlaku pada semua jenis amalan dan tindakan, berdasarkan hadits Aisyah di atas.</p>
<p>Kemudian, sebelum wudhu, seseorang juga disunnahkan untuk bersiwak. Siwak secara bahasa mempunyai dua makna:<br />
1.    Akar kayu yang sudah ma’ruf (diketahui bersama) yang digunakan untuk membersihkan gigi.<br />
2.    Pekerjaan membersihkan gigi.<br />
Karenanya semua pekerjaan membersihkan gigi itu dinamakan bersiwak walaupun tidak menggunakan kayu siwak, menurut pendapat yang paling kuat. Maka jika seseorang tidak mempunyai kayu siwak, dia tetap bisa mengerjakan sunnah yang mulia ini dengan cara membersihkan giginya dengan pasta gigi, atau sekedar dengan sikat gigi atau dengan menggosok giginya dengan kain atau jari, dan seterusnya dari bentuk pekerjaan membersihkan gigi.</p>
<p>Walaupun demikian, tentu saja lebih utama seseorang itu bersiwak dengan kayu siwak, karena inilah yang datang dalam nukila perbuatan Nabi , bahwa beliau bersiwak dengan menggunakan kayu siwak.</p>
<p>Hadits Abu Hurairah tentang siwak di atas juga sebagai sanggahan kepada sebagian ulama yang memakruhkan atau melarang seseorang yang berpuasa untuk bersiwak/menggosok gigi setelah zuhur. Hal itu karena hadits di atas datang dalam bentuk umum ‘setiap kali wudhu’, tanpa ada pembedaan dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- antara sedang puasa dengan tidak puasa. Karenanya tetap disunnahkan seseorang yang berpuasa untuk bersiwak, dan bagi yang menggunakan pasta gigi harus tetap menjaga jangan sampai ada pasta yang tertelan olehnya.</p>
<p>Kemudian, sunnah terakhir yang tersebut dalam dalil-dalil di atas adalah sunnahnya berdoa setelah wudhu dengan doa yang ma`tsur di atas, dan Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menjanjikan pahala masuk surga bagi siapa saja yang mengucapkannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1817</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istijmar (Berbersih Dari Buang Air Dengan Selain Air)</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1797</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1797#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 07:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1797</guid>
		<description><![CDATA[16 Shafar
Istijmar (Berbersih Dari Buang Air Dengan Selain Air)
Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman -radhiallahu anhu- bahwa:
قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">16 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Istijmar (Berbersih Dari Buang Air Dengan Selain Air)</strong></p>
<p>Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman -radhiallahu anhu- bahwa:<br />
<strong>قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ</strong><br />
<em>&#8220;Ditanyakan kepadanya, “(Apakah) Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu hingga adab beristinja?” Abdurrahman berkata, &#8220;Salman menjawab, “Ya. Sungguh beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat saat buang air besar dan saat buang air kecil, serta beliau melarang kami untuk beristinja&#8217; dengan tangan kanan, beristinja&#8217; dengan batu kurang dari tiga buah, atau beristinja&#8217; dengan kotoran hewan atau tulang.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 262)<br />
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ</strong><br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang berwudhu maka hendaknya beristintsar (mengeluarkan air dari hidungnya), dan barangsiapa yang beristijmar (bersuci dengan batu) maka hendaklah dia mengganjilkan jumlah (batu)nya.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 239)<br />
Dari Abu Qatadah  dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau bersabda:<br />
إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَأْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَلَا يَسْتَنْجِي بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ<br />
&#8220;Jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah dia memegang kemaluannya dengan tangan kanannya, jangan beristinja&#8217; dengan tangan kanan, dan jangan bernafas dalam bejana saat minum.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 153 dan Muslim no. 267)<br />
Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud  dia berkata: Rasulullah -shallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ</strong><br />
<em>&#8220;Janganlah kalian beristinja` dengan menggunakan kotoran hewan dan tulang, karena sesungguhnya dia adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin.&#8221; </em>(HR. Abu Daud no. 39, At-Tirmizi no. 18, dan An-Nasai no. 39)<span id="more-1797"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara kemudahan yang diberikan oleh syariat adalah bolehnya istijmar yaitu berbersih dari buang air dengan menggunakan batu atau yang semisalnya, dengan syarat benda-benda itu kering lagi bisa menyerap air serta bukan benda yang dilarang oleh syariat, misalnya: Tisu kering, daun kering, kertas, dan seterusnya. Perlu diketahui bahwa istijmar bukanlah pengganti dari berbersih dengan air, akan tetapi dia merupakan alternatif yang juga bisa dilakukan walaupun ada air, walaupun tentu saja yang lebih utama adalah berbersih dengan menggunakan air karena dia merupakan asal alat bersuci dan lebih membersihkan najis.</p>
<p>Dari dalil-dali di atas, ada beberapa perkara yang butuh diketahui berkenaan dengan istijmar -selain dari apa yang baru saja kami sebutkan-:<br />
1.    Wajib menggunakan minimal tiga batu atau tiga lembar tisu, dan seterusnya. Karenanya jika dengan dua batu saja najis sudah hilang maka wajib untuk menambah batu ketiga, karena tidak boleh istijmar kurang dari tiga batu berdasarkan hadits Salman di atas. Ini adalah pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan Ishaq bin Rahawaih.</p>
<p>2.    Karenanya tidak boleh istijmar dengan menggunakan satu batu besar lalu mengusap najis pada ketiga sisi batu tersebut.</p>
<p>3.    Wajibnya untuk mengganjilkan jumlah batu yang dipakai istijmar berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas. Karenanya jika najisnya sudah hilang hanya dengan 4 batu maka dia wajib untuk menambah batu kelima, dan demikian seterusnya.</p>
<p>4.    Tidak boleh istijmar dengan benda-benda berikut:<br />
a.    Kotoran hewan.<br />
b.    Benda-benda yang najis.<br />
c.    Tulang karena dia adalah makanan bangsa jin.<br />
d.    Dikiaskan kepadanya makanan manusia.<br />
e.    Benda yang bisa membahayakan tubuh.<br />
f.    Benda yang tidak bisa menyerap air.<br />
g.    Benda yang mempunyai kehormatan, semisal kertas-kertas yang berisi ajaran agama.</p>
<p>5.    Di antara adab dalam buang air lainnya adalah:<br />
a.    Makruhnya buang air menghadap kiblat berdasarkan hadits Salman di atas, sebagaimana yang telah kami terangkan sebelumnya.<br />
b.    Tidak boleh berbersih dari buang air besar dan kecil dengan menggunakan tangan kanan.<br />
c.    Tidak boleh menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air.</p>
<p>6.    Dan termasuk adab yang disebutkan dalam hadits Abu Qatadah di atas adalah larangan bernafas dan meniup makanan atau minuman baik di piring/gelas maupun pada bejana lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1797</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehnya Kencing Berdiri</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1790</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1790#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 06:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1790</guid>
		<description><![CDATA[15 Shafar
Bolehnya Kencing Berdiri
Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:
اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ
&#8220;Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat.&#8221; Mereka (para sahabat) bertanya, &#8220;Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Yaitu orang yang buang air di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">15 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Bolehnya Kencing Berdiri</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ</strong><br />
<em>&#8220;Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat.&#8221; Mereka (para sahabat) bertanya, &#8220;Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Yaitu orang yang buang air di jalanan manusia atau tempat berteduhnya mereka.&#8221;</em> (HR. Abu Daud no. 25)<br />
Dari Jabir  dari Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam-:<br />
<strong>أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ</strong><br />
<em>“Bahwa beliau melarang kencing pada air yang diam (tidak mengalir).&#8221; </em>(HR. Muslim no. 281)<br />
Dari Huzaifah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ</strong><br />
<em>&#8220;Aku pernah berjalan bersama Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam-, saat kami sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau kencing sambil berdiri, maka aku pun menjauh dari tempat tersebut. Akan tetapi beliau bersabda, “Mendekatlah,” aku pun menghampiri beliau hingga aku berdiri di belakang kedua tumitnya. Kemudian beliau berwudlu dengan mengusap di atas kedua khuf (sepatu) beliau.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)<br />
Dari Al-Mughirah bin Syu&#8217;bah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَالَ يَا مُغِيرَةُ خُذْ الْإِدَاوَةَ فَأَخَذْتُهَا فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ</strong><br />
<em>&#8220;Aku pernah bersama Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- dalam suatu perjalanan, lalu beliau bersabda, &#8220;Wahai Mughirah, ambilkan segayung air.&#8221; Aku lalu mengambil air untuk beliau, kemudian Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- pergi menjauh hingga tidak terlihat olehku, lalu beliau buang hajat.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 203 dan Muslim no. 274)<span id="more-1790"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara pokok mendasar dalam syariat Islam adalah haramnya mengganggu dan menimpakan kemudharatan kepada kaum muslimin. Karenanya dalam adab buang air, Islam juga menuntunkan agar dalam pelaksanaannya jangan sampai mengganggu kaum muslimin, karena mengganggu kaum muslimin merupakan dosa yang besar. Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” </em>(QS. Al-Ahzab: 58)</p>
<p>Di antara bentuk menyakiti kaum muslimin adalah membuang najis dan kotoran di tempat mereka biasa berjalan atau di tempat berteduh mereka atau di tempat air dimana mereka biasa mengambil air dari situ. Karenanya Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah mengharamkan buang air pada ketiga tempat tadi dan diikutkan kepadanya semua tempat yang bisa mengganggu kaum muslimin kalau seseorang buang air di situ.</p>
<p>Di antara adab dalam buang air adalah bahwa dalam buang air besar, seseorang diharuskan untuk bersembunyi dari orang lain, baik itu dengan cara menjauh ke tempat yang sunyi sampai tidak ada orang yang melihat -sebagaimana dalam hadits Al-Mughirah di atas, maupun dengan buang air di dalam wc atau di dalam rumah -sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang telah berlalu kami bawakan kemarin-.</p>
<p>Adapun dalam buang air kecil, maka tidak diharuskan seseorang itu untuk bersembunyi dan menjauh dari orang-orang akan tetapi dia boleh buang air di tempat terbuka. Yang dia lakukan cukup menjaga jangan sampai auratnya (kemaluan) tidak terlihat oleh orang lain walaupun tubuhnya terlihat oleh orang lain. Inilah yang disebutkan dalam hadits Huzaifah di atas, dimana beliau hanya menyuruh agar Huzaifah menjadi penghalang beliau dari belakang beliau. Dan tidak diragukan bahwa tubuh beliau tetap terlihat akan tetapi aurat beliau terjaga, dan ini bukanlah hal yang makruh.</p>
<p>Juga dibolehkan seseorang itu kencing berdiri -sebagaimana hadits Huzaifah di atas- dengan dua syarat:<br />
1.    Auratnya tidak terlihat orang lain.<br />
2.    Kencingnya tidak terpercik kembali mengenai tubuh dan pakaiannya.<br />
Jika ini tidak terpenuhi maka dia wajib untuk kencing dalam keadaan duduk, dan memang inilah yang kebanyakannya beliau lakukan, yakni kencing dalam keadaan duduk. Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا قَاعِدًا</strong><br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi -shallahu &#8216;alaihi wasallam- buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.&#8221; </em>(HR. At-Tirmizi no. 12 dan An-Nasai no. 29)<br />
Maka hadits ini menunjukkan bahwa di rumah Aisyah, Nabi  tidak pernah kencing berdiri. Maka penafian Aisyah di sini hanya sebatas pengetahuan beliau, sementara Huzaifah telah menetapkan bahwa beliau kencing dalam keadaan berdiri. Pendapat bolehnya kencing berdiri merupakan pendapat sekelompok sahabat di antaranya: Umar, Huzaifah, Zaid bin Tsabit, Ali, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Urwah.</p>
<p>Di antara perkara yang tersebut dalam hadits di atas adalah: Bolehnya minta diambilkan dan dibawakan air untuk buang air dan bolehnya mengusap sepatu dalam berwudhu dan tidak perlu mencuci kedua kaki. Wallahu a’lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1790</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makruhnya Buang Air Menghadap Kiblat</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1786</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1786#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 15:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>
		<category><![CDATA[Zikir & Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1786</guid>
		<description><![CDATA[14 Shafar
Makruhnya Buang Air Menghadap Kiblat
Anas bin Malik -radhiallahu anhu- berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
&#8220;Jika Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- hendak masuk ke dalam WC, maka beliau berdo&#8217;a: [ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">14 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Makruhnya Buang Air Menghadap Kiblat</strong></p>
<p>Anas bin Malik -radhiallahu anhu- berkata:<br />
<strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ</strong><br />
<em>&#8220;Jika Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- hendak masuk ke dalam WC, maka beliau berdo&#8217;a: [ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)].”</em> (HR. Al-Bukhari no. 242 dan Muslim no. 375)<br />
Dari Abu Ayyub Al-Anshari  dia berkata: Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى</strong><br />
<em>&#8220;Jika kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya.&#8221; Abu Ayyub berkata, &#8220;Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami beralih darinya (kiblat) dan kami memohon ampun kepada Allah Ta&#8217;ala.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 245 dan Muslim no. 264)<br />
Sabda beliau, “Akan tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya,&#8221; berlaku bagi negeri-negeri yang kiblatnya di utara atau di selatan. Adapun bagi yang kiblatnya di timur atau di barat (seperti Indonesia) maka dia dianjurkan menghadap ke utara atau ke selatan.<br />
Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>ارْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِي فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّأْمِ</strong><br />
<em>&#8220;Aku pernah naik di rumah Hafshah untuk mengerjakan sesuatu. Maka (tanpa sengaja) aku melihat Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 246 dan Muslim no. 266)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman dia berkata:<br />
<strong>قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ فَقَالَ أَجَلْ</strong><br />
<em>&#8220;Ditanyakan kepadanya, &#8216;(Apakah) Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu hingga tata cara buang air besar? “ &#8216;Abdurrahman berkata: Salman menjawab, “Ya.”</em> (HR. Muslim no. 262)<br />
Di antara kesempurnaan Islam adalah dia mengajarkan kepada pemeluknya segala sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi mereka dan semua perkara yang bisa menambah pahala bagi mereka, walaupun itu sampai tata cara buang air. Di antara tuntunan tersebut ada yang wajib hukumnya dan sebagian lagi ada yang sunnah, dan di antara tuntunan-tuntunan tersebut adalah:<span id="more-1786"></span><br />
a.    Disunnahkan untuk berlindung kepada Allah dengan dari gangguan setan sebelum memasuki tempat buang air, sebagaimana dalam hadits Anas di atas.<br />
Mayoritas ulama menyatakan bahwa doa perlindungan ini dibaca sebelum masuk wc atau ketika akan menyingkap auratnya ketika dia buang air di tempat terbuka (di luar bangunan)</p>
<p>b.    Tidak ada yang shahih dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hal zikir keluar wc. Silakan baca pembahasannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=374 ">http://al-atsariyyah.com/?p=374 </a></p>
<p>c.    Adapun dalam masalah hukum menghadap dan membelakangi kiblat dalam buang air besar dan kecil, maka ada tujuh pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Pendapat yang paling tepat dalam masalah ini -wallahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan: Makruhnya menghadap dan membelakangi kiblat dalam buang air besar dan kecil. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Abu Tsaur.<br />
Dalil dari pendapat ini adalah mengompromikan dalil-dalil pihak yang membolehkan secara mutlak dan dalil-dalil pihak yang melarang secara mutlak. Di antara dalil yang melarang secara mutlak adalah hadits Abu Ayyub di atas, sementara di antara dalil yang membolehkan secara mutlak adalah hadits Ibnu Umar di atas dan juga hadits Jabir bin Abdillah dimana beliau berkata:<br />
<strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَهَانَا عَنْ أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ قَالَ ثُمَّ رَأَيْتُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِعَامٍ يَبُولُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ</strong><br />
<em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam melarang membelakangi kiblat atau menghadapnya dengan kemaluan kami, ketika kami mengucurkan air (kencing). Namun di kemudian hari saya melihat beliau -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- setahun sebelum wafatnya kencing menghadap kiblat.”</em> (HR. Ahmad: 3/360)<br />
Mereka menyatakan: Dalil yang menyatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- menghadap dan membelakangi kiblat menunjukkan bolehnya hal tersebut, sementara dalil yang melarangnya menunjukkan perbuatan itu makruh.</p>
<p>Adapun ucapan Ibnu Umar dalam riwayat Abu Daud no. 114, <em>“Sesungguhnya hal itu (menghadap dan membelakangi kiblat) hanya dilarang jika buang airnya di ruangan terbuka. Akan tetapi jika ada sesuatu yang menghalangimu dengan kiblat maka hal tersebut tidak mengapa.”</em><br />
Maka sanad ucapan beliau ini lemah, sebagaimana bisa dilihat penjelasannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1784 ">http://al-atsariyyah.com/?p=1784 </a><br />
Kalaupun dianggap shahih, maka ini hanyalah pemahaman dari beliau -radhiallahu anhu-. Dan pemahaman beliau ini telah diselisihi oleh Abu Ayyub yang memahami larangan itu berlaku mutlak baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal itu karena Abu Ayyub tetap berpaling dari arah ka’bah ketika buang air bahkan beliau beristighfar, padahal ketika itu beliau buang air di dalam bangunan, sebagaimana hadits di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1786</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Adab Terhadap Air</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1769</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1769#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 11:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[12 Shafar
Beberapa Adab Terhadap Air
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
&#8220;Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah dia mencuci kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam air wudhunya, sebab salah seorang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">12 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Beberapa Adab Terhadap Air</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ</strong><br />
<em>&#8220;Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah dia mencuci kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam air wudhunya, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu dimana tangannya bermalam.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 263 dan Muslim no. 278)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ</strong><br />
<em>&#8220;Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing pada air yang tidak mengalir, lalu mandi di dalamnya.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 346 dan Muslim no. 282)<br />
Dalam sebuah riwayat:<br />
<strong>لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ</strong><br />
<em>&#8220;Janganlah salah seorang di antara kalian mandi dalam air yang menggenang (diam), sedang dia dalam keadaan junub.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 283)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً</strong><br />
<em>&#8220;Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian, hendaknya dia mencelupkan lalat tersebut ke dalam minumannya, kemudian membuangnya. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 3320)<span id="more-1769"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Dalil-dalil di atas menyebutkan beberapa adab dimana seorang muslim disyariatkan untuk mengamalkannya dalam rangka menjaga air agar tetap suci dan bersih. Di antara adab-adab tersebut adalah:<br />
1.    Bagi orang yang bangun tidur -baik tidur siang maupun tidur malam-, lalu dia ingin bersuci atau berbersih dimana dia harus memasukkan tangannya ke dalam bejana, maka disunnahkan baginya untuk mencuci terlebih dahulu kedua tangannya di luar bejana sebanyak tiga kali, baru setelah itu dia boleh mencelupkan kedua tangannya.<br />
Nabi -alaihishshalatu wassalam- menjelaskan hikmahnya bahwa jangan sampai kedua tangannya menyentuh najis ketika dia tidur dalam keadaan dia tidak sadar, sehingga hal itu akan menajisi air yang akan dia gunakan kalau kedua tangannya tidak dia cuci terlebih dahulu.<br />
Hukum sunnah di sini berlaku umum baik yang bisa memastikan bahwa kedua tangannya tidak menyentuh najis maupun tidak, wallahu a’lam.</p>
<p>2.    Dilarang kencing atau memercikkan kencing dan juga dilarang BAB ke dalam air yang diam atau yang tergenang -baik itu di kolam atau di baskom dan semacamnya- walaupun bukan untuk dipakai mandi, apalagi jika akan dipakai mandi.</p>
<p>3.    Dilarang mandi -baik mandi junub maupun mandi biasa- di dalam air diam yang telah terkena kencing atau terkena percikan kencing atau yang kemasukan tinja.</p>
<p>4.    Bagi orang yang mandi di kolam atau di dalam air yang tidak mengalir, maka dia dilarang untuk buang air di dalamnya, baik buang air kecil apalagi buang air besar.</p>
<p>5.    Dilarang mandi junub di dalam air yang diam walaupun tidak ada kencing dan najis yang masuk ke dalamnya.<br />
<span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span><br />
Illah (sebab) dari keempat larangan di atas adalah sadd adz-dzariah (pencegahan) jangan sampai airnya menjadi najis gara-gara dia buang air dan mandi junub di dalam air yang diam. Jadi sebab larangannya bukan karena hal tersebut akan menyebabkan airnya ternajisi. Karena telah berlalu kami sebutkan adanya ijma’ di kalangan para ulama bahwa air nanti menjadi najis jika salah satu dari ketiga sifatnya berubah akibat najis yang masuk ke dalamnya.<br />
Adapun hukum ketiga larangan di atas, maka Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (1/75) merajihkan bahwa hukumnya adalah haram, bukan makruh. Jadi barangsiapa yang melanggar keempat larangan di atas maka dia telah berdosa, adapun airnya maka dilihat ketiga sifatnya: Jika ada yang berubah maka hukumnya najis dan jika tidak ada yang berubah maka air itu tetap suci lagi menyucikan. Wallahu a’lam.</p>
<p>6.    Sebaliknya, dibolehkan seseorang buang air besar dan kecil dan boleh juga seseorang mandi junub di dalam air yang mengalik (seperti sungai) dan boleh juga di dalam air yang sebagiannya diam dan sebagian lainnya mengalir. Hal itu karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- hanya membatasi hukum larangan ini pada air yang diam lagi tidak mengalir. Wallahu a’lam.</p>
<p>7.    Tatkala lalat -baik dia masih hidup maupun telah menjadi bangkai- bukanlah najis maka Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang untuk membuang air yang kejatuhan lalat. Hal itu karena lalat yang jatuh ke dalam air tidaklah menajisi air tersebut sehingga dia masih bisa diminun dan dimanfaatkan, sehingga membuang air tersebut merupakan perbuatan boros dan mubazzir.<br />
Berdasarkan ini pula para ulama menyatakan bahwa semua hewan yang darahnya tidak mengalir maka bangkainya bukanlah najis sebagaimana halnya lalat. Misalnya: Cicak dan serangga lainnya<br />
Dan di antara tanda kenabian beliau -alaihishshalatu wassalam- adalah beliau mengabarkan bahwa salah satu dari kedua sayap lalat itu ada berisi penyakit dan pada sayap yang lainnya berisi obatnya. Maka tatkala tidak diketahui pada sayap mana obat dan penyakit itu berada, Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan agar sekalian mencelupkan semua tubuh lalat tersebut ke dalam air lalu setelah itu baru lalat itu dibuang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1769</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa-Doa Yang Tertolak</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1738</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1738#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 10:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[07 Shafar
Doa-Doa Yang Tertolak
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- beliau bersabda:
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي. فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
&#8220;Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">07 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Doa-Doa Yang Tertolak</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- beliau bersabda:<br />
<strong>لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي. فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ</strong><br />
<em>&#8220;Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim, serta selama dia tidak tergesa-gesa.&#8221; Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” beliau menjawab: “Yakni dia mengatakan, “Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan.” Setelah itu, dia merasa putus asa dan berhenti berdoa.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 6340 dan Muslim no. 2735)<br />
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ</strong><br />
<em>&#8220;Tidaklah seseorang berdoa dengan sebuah doa melainkan Allah memberikan kepadanya apa yang dia minta atau menolak keburukan darinya yang semisalnya, selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.&#8221; </em>(HR. At-Tirmizi no. 3573 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5637)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا, وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ. فَقَالَ: { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ, وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ</strong><br />
<em>&#8220;Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Dia berfirman, “Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Dan Allah juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepadamu.&#8221; Kemudian beliau -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdo&#8217;a, &#8220;Wahai Rabbku, wahai Rabbku.&#8221; Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?&#8221;</em> (HR. Muslim no. 1015)<br />
Dari Huzaifah bin Al-Yaman dari Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- beliau bersabda:<br />
<strong>وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ</strong><br />
<em>&#8220;Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma&#8217;ruf dan nahi munkar. Jika tidak maka niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian seluruhnya, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do&#8217;a kalian tidak lagi dikabulkan.&#8221;</em> (HR. At-Tirmizi no. 2169 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7070)<span id="more-1738"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Sebagaimana doa mempunyai adab-adab yang bisa mempercepat atau memperbesar peluang terkabulnya, maka doa juga mempunyai sebab-sebab yang bisa menghalangi atau memperlambat diterimanya doa. Hanya saja yang perlu ditekankan di sini bahwa ketika kehendaknya tidak terwujud, bukanlah berarti doanya tidak dikabulkan, karena bisa saja Allah Ta’ala mengabulkannya dalam bentuk yang lain -dan Dia Maha Tahu apa yang pantas buat hamba-Nya-, misalnya dihilangkan kejelekan darinya atau balasannya Dia simpan dan akan Dia berikan pada hari kiamat. Karenanya seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam berdoa walaupun apa yang dia doakan itu tidak terwujud.<br />
Di antara sebab-sebab tertolaknya doa dari dalil-dalil di atas adalah:<br />
1.    Kandungan atau kelaziman doanya adalah kemaksiatan.<br />
2.    Kandungan atau kelaziman doanya adalah pemutusan silaturahmi.<br />
3.    Tidak tergesa-gesa dalam berdoa, dan makna tergesa-gesa telah ditafsirkan langsung oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam-.<br />
4.    Doa setiap muslim pasti dikabulkan, hanya saja Allah Ta’ala mengabulkan untuk masing-masing orang sesuai dengan yang pantas untuknya. Ada yang dikabulkan permintaannya, ada yang tidak dikabulkan keinginannya tapi digantikan  dengan ditolaknya kejelekan dari dirinya, dan ada yang tidak mendapatkan keduanya namun Allah menyiapkan untuknya di hari kiamat.<br />
5.    Memakan makanan atau minuman yang haram, baik haram zatnya seperti bangkai, babi, khamar, dan semisalnya, maupun yang haram dari sisi cara mendapatkannya, seperti hasil pencurian, penipuan, dan seterusnya.<br />
6.    Memakai pakaian yang haram, baik yang haram zatnya semisal sutera bagi lelaki maupun haram dari sisi mendapatkannya.<br />
7.    Tidak memerintahkan kepada kebaikan.<br />
8.    Membiarkan kemungkaran di depan matanya tanpa adanya pengingkaran.<br />
Baca juga artikel berikut: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1400">http://al-atsariyyah.com/?p=1400</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1738</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu-Waktu Mustajabah</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1734</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1734#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 08:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1734</guid>
		<description><![CDATA[06 Shafar
Waktu-Waktu Mustajabah
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan dimana seorang hamba menjadi paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, karenanya perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim: 1/350)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">06 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Waktu-Waktu Mustajabah</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ</strong><br />
<em>“Keadaan dimana seorang hamba menjadi paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, karenanya perbanyaklah doa (ketika sujud).” </em>(HR. Muslim: 1/350)<br />
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ</strong><br />
<em>&#8220;Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.&#8221;</em> (HR. At-Tirmizi: 1/415 dan 5/577, Abu Daud: 1/144. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil: 1/261 no. 244, dan Shahih Al-Jami’: 3/150)<br />
Dari Sahl bin Sa&#8217;ad -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا</strong><br />
<em>“Dua doa yang tidak akan ditolak atau jarang sekali ditolak: Doa ketika azan dan doa ketika terjadi peperangan tatkala mereka sudah saling menyerang.” </em>(HR. Abu Daud: 3/21 dan Ad-Darimi: 1/217. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud: 2/483)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ</strong><br />
<em>“Rabb kita -Tabaraka wa Ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika sudah tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)<br />
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ</strong><br />
<em>“Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu, dimana tidak ada seorang muslimpun yang meminta kebaikan kepada Allah ada waktu itu -baik kebaikan dunia maupun akhirat-, kecuali Allah akan memenuhi permintaannya, dan satu waktu itu ada pada setiap malam.”</em> (HR. Muslim: 1/521)<span id="more-1734"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Pada dasarnya, kapanpun seorang berdoa kepada Allah -dengan memenuhi semua adab dan syaratnya serta tidak ada sesuatu yang menghalanginya-, maka pasti doanya akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Hanya saja ada beberapa waktu yang ditunjukkan oleh nash-nash syara’ bahwa berdoa pada waktu-waktu tersebut lebih berpotensi untuk dikabulkan dibandingkan selainnya.<br />
Di antara waktu-waktu itu -sebagaimana yang tersebut dalam dalil-dalil di atas- adalah:<br />
1.    Saat sujud, baik di dalam maupun di luar shalat, baik sujud tilawah, sujud sahwi, dan sujud apa saja yang dilakukan untuk Allah Ta’ala.<br />
2.    Di antara azan dan iqamah pada semua shalat yang disyariatkan padanya azan dan iqamah. Baik dia azan pada waktunya maupun azannya terundur dari waktu masuknya shalat.<br />
3.    Ketika pasukan kaum muslimin sudah berhadapan dengan pasukan musuh dalam jihad fii sabilillah.<br />
4.    Setiap malam pada 1/3 malam terakhir.</p>
<p><strong>Beberapa waktu lain yang belum tersebut di atas:</strong><br />
1.    Satu waktu di hari jum’at.<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah menyebutkan tentang hari jum’at lalu beliau bersabda, <em>“Padanya ada satu waktu dimana tidak ada seorang muslimpun yang sedang berdiri mengerjakan shalat pada waktu itu lalu dia meminta apapun kepada Allah Ta’ala kecuali Allah akan memenuhi permintaannya,” dan beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sangat sebentarnya waktu itu.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari: 1/253 no. 935 dan Muslim: 2/583 no. 852)<br />
Adapun waktu tepatnya maka dia adalah setelah ashar sampai maghrib. Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda,<em> “Sesungguhnya pada hari jum’at betul-betul terdapat satu waktu dimana tidaklah seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah pada waktu itu kecuali Dia akan memenuhi permintaannya, dan waktu itu setelah ashar.” </em>(HR. Ahmad: 2/272 dan dia didukung oleh hadits setelahnya)<br />
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- beliau bersabda, <em>“Hari jum’at itu ada 12 waktu, di antaranya ada waktu dimana tidaklah ada seorang muslim yang meminta kebaikan kepada Allah pada waktu itu kecuali Allah akan memenuhi permintaannya, maka carilah waktu itu di waktu terakhir setelah ashar.” </em>(HR. Abu Daud: 1/275 no. 1048 dan An-Nasai: 3/99-100, dan sanadnya hasan)<br />
Ibnu Al-Qayyim -rahimahullahu Ta’ala- dan ulama lainnya menguatkan bahwa waktu yang dimaksudkan pada hari jum’at adalah setelah ashar. (Lihat Zaad Al-Ma’ad: 2/388-397)</p>
<p>2.    Ketika meminum air zam-zam jika disertai dengan niat yang baik.<br />
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- beliau bersabda, <em>“Air zam-zam itu untuk apa dia diminum.” </em>(HR. Ibnu Majah: 2/1018 dan Ahmad: 3/357,372. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil: 4/320 no. 1123, dalam Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 83, dan selainnya)</p>
<p>3.    Setelah membaca shalawat untuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada tasyahud terakhir.<br />
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata, <em>“Aku sedang shalat sementara Nabi -shallallahu alaihi wasallam- sedang bersama Abu Bakar dan Umar. Tatkala aku sedang duduk (di dalam shalat), aku mulai memuji Allah kemudian bershalawatt kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian aku berdoa untuk diriku. Maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Mintalah maka permintaanmu akan dipenuhi, mintalah maka permintaanmu akan dipenuhi.”</em> (HR. At-Tirmizi: 2/488, An-Nasai, dan Ahmad: 1/26,38. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi no. 2765 dan dalam Shahih An-Nasai no. 1217)<br />
Dari Fudhalah -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- mendengar seorang lelaki shalat lalu dia mengangungkan Allah dan memuji-Nya serta bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, <em>“Berdoalah kamu maka doamu akan dikabulkan, dan mintalah kamu maka permintaanmu akan dipenuhi.”</em> (HR. An-Nasai: 33/44,45 dan At-Tirmizi: 5/516. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai: 1/275)</p>
<p>4.    Ketika berdoa pada hari Arafah di padang Arafah bagi jamaah haji.<br />
Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, <em>“Doa terbaik adalah yang diucapkan pada hari Arafah, dan ucapan terbaik yang saya dan para nabi sebelumku pernah ucapkan adalah, “Tidak ada sembahan yang hak selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya semua pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.” </em>(HR. At-Tirmizi dan Malik dalam Al-Muwaththa`: 1/422. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/184)</p>
<p>5.    Ketika ayam berkokok.<br />
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, <em>“Jika kalian mendengar ayam berkokok maka mintalah keutamaan dari Allah karena sesungguhnya dia (ayam itu) melihat malaikat, dan jika kalian mendengar suara keledai maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena sesungguhnya dia melihat setan.” </em>(HR. Al-Bukhari: 4/89. Diriwayatkan juga oleh Muslim: 4/2092 dari hadits Abu Hurairah )</p>
<p><strong>Pelajaran tambahan dari hadits-hadits di atas:</strong><br />
1. Disunnahkannya memperbanyak sujud, dan memperbanyak doa di dalamnya.<br />
2. Penetapan sifat an-nuzul (turun ke langit dunia) bagi Allah Ta&#8217;ala, dengan sifat an-nuzul yang sesuai dengan keagungan-Nya, tidak serupa dengan sifat &#8216;turun&#8217; makhluk dan tidak boleh membagaimanakannya.<br />
Dan sifat turun di sini tidak bertentangan dengan sifat istiwa` (tinggi) di atas arsy, karena pendapat yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah- bahwa ketika Allah turun ke langit dunia maka arsy-Nya tidaklah kosong.<br />
Jadi, sifat an-nuzul di sini adalah haqiqi, yakin Allah Ta&#8217;ala turun dengan Zat-Nya. Berbeda halnya dengan mazhab Al-Mu&#8217;tazilah, Asy&#8217;ariyah, dan semacamnya yang menyatakan bahwa yang turun bukanlah Allah, akan tetapi yang turun adalah perintah atau rahmat-Nya. Ini jelas merupakan mazhab yang batil karena tahrif (memalingkan makna) kalam Allah dari maknanya yang haqiqi kepada makna yang tidak ditunjukkan oleh lafazh hadits.<br />
Kami katakan: Bantahan kepada tahrif ini dari dua sisi:<br />
1. Lanjutan haditsnya, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” Dan yang bisa mengucapkan ucapan seperti ini hanyalah Allah Ta&#8217;ala.<br />
2. Kalau memang yang turun adalah rahmat/perintah Allah, lantas apa manfaatnya buat manusia kalau rahmat dan perintah Allah hanya turun sampai di langit pertama, dan tidak turun ke bumi?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1734</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
