<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Website Al-Atsariyyah.Com</title>
	<atom:link href="http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-atsariyyah.com</link>
	<description>Meniti Jejak As-Salaf Ash-Shaleh</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Feb 2010 00:25:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sifat Mandi Junub Nabi -shallallahu alaihi wasallam-</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1847</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1847#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 00:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1847</guid>
		<description><![CDATA[24 Shafar
Sifat Mandi Junub Nabi -shallallahu alaihi wasallam-
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ
“Dan jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (QS. Al-Maidah: 6)
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">24 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Sifat Mandi Junub Nabi -shallallahu alaihi wasallam-</strong></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ</strong><br />
<em>“Dan jika kalian junub maka bersucilah (mandilah).”</em> (QS. Al-Maidah: 6)<br />
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ</strong><br />
<em>&#8220;Kebiasaan Rasulullah -shallallahu&#8217;alaihiwasallam- jika beliau mandi junub adalah: Beliau memulainya dengan mencuci kedua tangan beliau, kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri lalu mencuci kemaluanya, kemudian beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian beliau mengambil air lalu memasukkan jari-jemarinya ke semua pangkal rambut. Sampai setelah beliau memandang bahwa airnya sudah merata mengenai semua rambut beliau, beliau lalu menyiram kepalanya sebanyak tiga kali tuangan, kemudian beliau mencuci seluruh tubuh beliau, kemudian akhirnya mencuci kedua kaki beliau.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)<br />
Dari Maimunah bintu Al-Harits -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلَهُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ ثُمَّ أَفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الْأَرْضَ فَدَلَكَهَا دَلْكًا شَدِيدًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ</strong><br />
<em>“Aku pernah membawa air mandi untuk junub kepada Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam-. Lalu beliau memulai dengan membasuh dua telapak tangannya sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah berisi air, lalu menuangkan air tersebut pada kemaluan beliau, dan beliau mencucinya (kemaluan) dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan gosokan yang kuat. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan, lalu beliau mencuci seluruh tubuhnya. Kemudian beliau bergerak mundur dari tempat beliau berdiri, lalu beliau mencuci kedua kakinya. Kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari pada banyak tempat, di antaranya no. 259 dan Muslim no. 723)<br />
Kalimat [berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat], diterangkan dalam riwayat lain,<em> “Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung, kemudian beliau mencuci wajahnya dan kedua lengannya (tangannya sampai siku).”</em><span id="more-1847"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Para ulama menyebutkan bahwa kaifiat mandi junub ada 2 cara, dan bisa dipilih salah satunya:<br />
1. Cara yang sempurna, yaitu mengerjakan semua rukun, wajib dan sunnah dalam mandi junub.<br />
Ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Aisyah dan Maimunah di atas.<br />
2. Cara yang mujzi’ (yang mencukupi), yaitu hanya melakukan yang merupakan rukun dalam mandi junub.<br />
Seperti yang diisyaratkan dalam ayat di atas. Imam Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla (2/28) menjelaskan ayat di atas, “Bagaimanapun caranya dia bersuci (mandi) maka dia telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan padanya.”<br />
Penjelasan lebih detail masalah ini silakan baca di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=649">http://al-atsariyyah.com/?p=649</a></p>
<p>Masalah lain yang bisa dipetik dari dalil-dalil di atas adalah:<br />
1.    Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin menyatakan tidaknya wajib berwudhu setelah mandi junub berdasarkan ayat di atas. Karena Allah Ta’ala telah menyatakan mandi itu sebagai thaharah dan wudhu termasuk thaharah.<br />
2.    Hukum gerakan wudhu yang ada di  pertengahan mandi junub adalah sunnah, karena pada mandi junub yang cukup tidak disinggung masalah wudhu.<br />
3.    Bolehnya ada jarak antara mencuci anggota wudhu yang satu dengan yang lainnya dalam wudhu, selama anggota wudhu sebelumnya belum kering. Pada hadits Maimunah beliau mengundurkan mencuci kaki dari semua gerakan wudhu sebelumnya.<br />
4.    Sebaiknya tidak menggunakan handuk atau yang semacamnya untuk membasuh tubuh setelah mandi junub, akan tetapi hendaknya menggunakan tangan sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat lain hadits Maimunah.<br />
5.    Menggunakan tangan kiri ketika akan menyentuh sesuatu yang najis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1847</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepada Pengingkar Kebangkitan &amp; Barzakh</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1843</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1843#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1843</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Pengingkar Kebangkitan &#38; Barzakh
Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari Akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara&#8217;, indera, dan akal.
A. Bukti Syara&#8217;
Allah Ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Sekali-kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kepada Pengingkar Kebangkitan &amp; Barzakh</strong></p>
<p>Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari Akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara&#8217;, indera, dan akal.<br />
<strong>A. Bukti Syara&#8217;</strong><br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman, <em>&#8220;Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Sekali-kali tidak, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian amalkan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah&#8221;.</em> (QS. Ath-Taghabun: 7)<br />
Semua kitab-kitab suci samawi telah sepakat tentang adanya hari kebangkitan.</p>
<p><strong>B. Bukti Inderawi</strong><br />
Allah Ta&#8217;ala telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini. Dalam surat Al-Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini:<span id="more-1843"></span><br />
1. Allah Ta’ala berfirman tentang Israil, <em>&#8220;Dan (ingatlah), ketika kalian berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami bisa melihat Allah dengan terang,” karena itu kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, agar kalian bersyukur&#8221;.</em> (QS. Al-Baqarah: 55-56)</p>
<p>2. Allah Ta’ala berfirman, <em>&#8220;Dan (ingatlah) ketika kalian membunuh seorang manusia, lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkap apa yang kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian mengerti&#8221;.</em> (QS. Al-Baqarah: 72-73)</p>
<p>3. Allah Ta’ala juga menyatakan dalam firman-Nya, <em>&#8220;Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang keluar dari negeri mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut akan mati. Maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kalian semua,” kemudian  Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur&#8221;.</em> (QS. Al-Baqarah: 243)</p>
<p>4. Juga di dalam firman-Nya, <em>&#8220;Atau apakah (kamu melihat) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (hancur). Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancurnya?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidukannya kembali.&#8221; </em>(QS. Al-Baqarah: 259)</p>
<p>5. Dan juga dalam kisah Ibrahim -alaihissalam- dalam firman-Nya, <em>&#8220;Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati,” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.” Allah berfirman, “(Kalau demikian), ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera.”</em> (QS. Al-Baqarah: 260)</p>
<p><strong>C. Bukti Akal (Logika)</strong><br />
Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian.<br />
1. Allah Ta&#8217;ala sebagai pencipta langit dan bumi serta semua isinya telah menciptakannya pertama kali. Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk mengembalikannya. Allah Ta’ala berfirman, <em>&#8220;Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya&#8221;.</em> (QS. Ar-Rum: 27)<br />
Allah Ta’ala juga berfirman,<em> &#8220;Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya&#8221;.</em> (QS. Al-Anbiya‘: 104)</p>
<p>2. Bumi yang mati dan tandus akan hidup kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun hujan. Yang mampu untuk menghidupkannya setelah mati, dan yang mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati itu sudah pasti Allah Ta&#8217;ala Yang Maha Perkasa lagi Maha Berkehendak. Allah Ta’ala berfirman, <em>&#8220;Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya dia akan bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu&#8221;.</em> (QS. Fushshilat: 39)</p>
<p>Orang yang ingkar kepada siksa kubur dan kenikmatannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur itu dibongkar akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara&#8217;, indera, dan akal.<br />
<strong>A. Dalil Syara&#8217;</strong><br />
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas -radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa dia berkata, <em>&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah keluar dari salah satu kebun kota Madinah. Lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” </em>Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu karena tidak memelihara buang air kecil (kencing sembarangan), dan yang satunya lagi karena mengadu domba.</p>
<p><strong>B. Dalil Inderawi</strong><br />
Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenang-senang di situ. Atau terkadang dia juga mimpi berada di tempat yang sempit, menyedihkan, dan menyakitkan. Terkadang seseorang bisa terbangun karena mimpinya itu, padahal dia berada di atas tempat tidurnya. Tidur adalah saudara kematian. Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan &#8216;wafat&#8217;, seperti dalam firman-Nya, <em>&#8220;Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan (jiwa) orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu ditentukan&#8221;.</em> (QS. Az-Zumar: 42)</p>
<p><strong>C. Dalil Akal</strong><br />
Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi dia mimpi melihat Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- sesuai dengan sifat beliau. Dan barangsiapa yang bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka berarti dia telah melihatnya dengan sebenar-benarnya. Padahal pada waktu itu dia ada di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, jauh dari yang dia mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat?</p>
<p>Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur itu digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit, maka jawabannya:<br />
1. Apa yang dibawa syara&#8217; tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang mempertentangkan itu mau berpikir tentang apa yang dibawa oleh syara&#8217;, dia pasti akan mengetahui kebatilan kesalahan pahamannya itu.</p>
<p>2. Keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera. Karena jika hal itu dapat dijangkau oleh indera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan akan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari, dalam mempercayainya.</p>
<p>3. Siksa kubur, nikmat kubur, luasnya kubur, dan sempitnya kubur hanya dapat dirasakan oleh si mayit itu sendiri, bukan orang lain. Ini seperti yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit yang menakutkan, atau di tempat yang luas dan menyenangkan, padahal orang lain melihatnya tidur, tidurnya tidak berubah, masih di dalam kamar, dan di atas tempat tidurnya.<br />
Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengarkan wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Kadang wahyu itu diturunkan dengan cara malaikat menjelma menjadi seorang lelaki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.</p>
<p>4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah dengan tasbih yang sebenarnya, yang terkadang Allah perdengarkan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Meskipun demikian hal itu terhalang dari kita. Allah Ta’ala berfirman, <em>&#8220;Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”</em> (QS. Al-Isra’: 44)<br />
Demikian halnya dengan setan dan jin yang mondar-mandir di bumi. Meski demikian, mereka tidak terlihat oleh kita. Allah Ta&#8217;ala berfirman,<em> &#8220;Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Dia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sungguh, dia dan pengikutnya melihat kalian dari arah yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman&#8221;. </em>(QS. Al-A&#8217;raf: 27)</p>
<p>Maka apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara&#8217; sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.</p>
<p>[Diterjemah ulang dan diringkas dari Syarh Ushul Al-Iman karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahullah-]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1843</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Catatan Bagi Yang Junub</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1840</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1840#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1840</guid>
		<description><![CDATA[23 Shafar
Beberapa Catatan Bagi Yang Junub
Dari Abu Said Al-Khudri  dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا
&#8220;Apabila salah seorang dari kalian menyenggamai istrinya, kemudian berkehendak untuk mengulanginya lagi maka hendaklah dia berwudhu di antara keduanya.&#8221; (HR. Muslim no. 308)
Dari Ibnu Umar -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">23 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Beberapa Catatan Bagi Yang Junub</strong></p>
<p>Dari Abu Said Al-Khudri  dia berkata: Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا</strong><br />
<em>&#8220;Apabila salah seorang dari kalian menyenggamai istrinya, kemudian berkehendak untuk mengulanginya lagi maka hendaklah dia berwudhu di antara keduanya.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 308)<br />
Dari Ibnu Umar -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ</strong><br />
<em>“Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, &#8220;Apakah boleh seorang dari kami tidur dalam keadaan dia junub?&#8221; Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- menjawab, &#8220;Ya. Jika salah seorang dari kalian berwudlu, maka hendaklah dia tidur meskipun dalam keadaan junub.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 287 dan Muslim no. 306)<span id="more-1840"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Mengetahui adab dan hukum yang berlaku bagi orang yang junub adalah hal yang sangat penting, mengingat tidak ada seorangpun di antara kita kecuali dia telah atau akan mengalami yang namanya junub. Karenanya berikut beberapa perkara yang penting untuk kita ketahui:<br />
1.    Disyariatkan bagi yang telah melakukan jima’ lalu mau mengulangi jima’ untuk berwudhu di antara kedua jima’ tersebut, berdasarkan hadits Abu Said di atas. Walaupun ada perbedaan pendapat dalam hukumnya, apakah wajib atau sunnah.</p>
<p>2.    Maka ini juga menunjukkan bolehnya mengundurkan mandi junub selama kesucian itu belum dibutuhkan. Misalnya seseorang junub jam 10 pagi maka dia bisa mengundur mandinya sampai mendekati zuhur karena pada saat itu (jam 10) tidak ada perkara yang mengharuskan dia untuk mandi. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim dimana beliau berjalan-jalan di pasar dalam keadaan junub lalu berjumpa dengan Nabi -alaihishshalatu wassalam-. Setelah Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengetahui hal tersebut maka beliau tidak menegur Abu Hurairah karena mengundurkan mandi junub.</p>
<p>3.    Karenanya orang yang junub boleh mengerjakan pekerjaan apa saja selama dia junub, kecuali pekerjaan yang dituntut padanya thaharah.</p>
<p>4.    Disyariatkan bagi orang yang junub untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur, berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Dan juga ada silang pendapat mengenai hukumnya, Azh-Zhahiriah berpendapat wajibnya sementara mayoritas ulama berpendapat sunnahnya, wallahu a’lam.</p>
<p>5.    Adapun hukum berzikir, membaca Al-Qur`an, menyentuh mushaf, dan masuk masjid bagi orang yang junub serta wanita yang haid dan nifas, maka kesimpulannya bisa anda baca di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1008">http://al-atsariyyah.com/?p=1008</a> dan di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1116</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1840</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Belajar Bahasa Arab</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1837</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1837#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 01:50:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fadha`il Al-A'mal]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaban Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1837</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Belajar Bahasa Arab
Tanya:
Bismillah,
Kepada asatidzah yang semoga dijaga oleh Allah Subhanahu wata&#8217;ala. Mohon jawabannya: bagaimana hukum belajar bahasa arob (mis: durusul lughah, nahwu, dll) ? Dimaklumi utk mempelajarinya butuh waktu &#38; harus intensif. Mengingat saya adalah pekerja, sehingga terkadang banyak kendala. Mohon jawaban ustadz, juga jika ada fatwa ulama tentang hal ini.
Jazakumullah wa barokallahu fiikum.
&#8220;Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hukum Belajar Bahasa Arab</strong></p>
<p>Tanya:<br />
Bismillah,<br />
Kepada asatidzah yang semoga dijaga oleh Allah Subhanahu wata&#8217;ala. Mohon jawabannya: bagaimana hukum belajar bahasa arob (mis: durusul lughah, nahwu, dll) ? Dimaklumi utk mempelajarinya butuh waktu &amp; harus intensif. Mengingat saya adalah pekerja, sehingga terkadang banyak kendala. Mohon jawaban ustadz, juga jika ada fatwa ulama tentang hal ini.<br />
Jazakumullah wa barokallahu fiikum.<br />
&#8220;Abu Aisyah Amin&#8221; &lt;setiawan.amin@yahoo.com&gt;</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Ilmu bahasa arab mempunyai dua tujuan:<br />
1.    Memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.<br />
2.    Menjaga lidah agar tidak salah dalam mengucapkan kedua wahyu tersebut.<br />
Berhubung kedua perkara di atas adalah wajib, maka hukum mempelajari bahasa arab juga wajib, tapi wajib kifayah, bukan wajib ain.<br />
Jadi, hukum mempelajari bahasa arab sama seperti hukum mempelajari ilmu-ilmu alat lainnya, yaitu fardhu kifayah. Karenanya jika di suatu daerah ilmu-ilmu alat seperti ini dibutuhkan maka wajib atas penduduk daerah tersebut -secara umum- untuk mempelajari ilmu tersebut. Tapi jika sudah ada sebagian dari penduduk daerah tersebut yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Sudah dimaklumi bersama bahwa hukum mempelajari dan mengajarkan bahasa Arab adalah fardhu kifayah.” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/252)<br />
Dan di tempat yang lain beliau berkata, “Ditambah lagi, bahasa Arab itu sendiri merupakan bagian dari agama sehingga mengetahui bahasa Arab adalah wajib. Karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib, sementara keduanya tidak mungkin bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Dan sesuatu yang kewajiban tidak sempurna terlaksana kecuali dengannya maka sesuatu itu juga wajib.” Mirip dengannya diutarakan oleh Ar-Razi dalam Al-Mahshul (1/275).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1837</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1834</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1834#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 01:46:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1834</guid>
		<description><![CDATA[22 Shafar
Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ
“Dan jika kalian junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, &#8220;Haid itu adalah suatu kotoran (najis)&#8221;. Oleh sebab itu hendaklah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">22 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi</strong></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْ</strong><br />
<em>“Dan jika kalian junub maka mandilah.”</em> (QS. Al-Maidah: 6)<br />
Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ</strong><br />
<em>“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, &#8220;Haid itu adalah suatu kotoran (najis)&#8221;. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Dan janganlah kalian mendekati (melakukan jima’ dengan) mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci (mandi), maka datangilah (jima’) mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” </em>(QS. Al-Baqarah: 222)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau bersabda:<br />
<strong>إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ</strong><br />
<em>&#8220;Jika seseorang (lelaki) duduk di antara empat anggota badannya (wanita), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib banginya mandi.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)<br />
Ibnu Daqiq Al-Id menyatakan bahwa makna ‘empat anggota badan wanita’ adalah: Kedua tangan dan kedua kakinya atau kedua kaki dan kedua pahanya.<br />
Sementara makna bersungguh-sungguh di sini, Ibnu Rajab menyatakan, “Dia adalah ungkapan akan kesungguhnan lelaki memasukkan kemaluannya ke dalam farj wanita.”<br />
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:<br />
<strong>وَإِنْ لَمْ يَنْزِلْ </strong><br />
<em>“Walaupun dia (mani) tidak keluar.”</em><span id="more-1834"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Ada beberapa perkara yang jika hal itu menimpa seseorang maka wajib atasnya untuk mandi:<br />
1.    Ketika keluar mani dalam keadaan terpencar, baik dalam keadaan terjaga maupun sedang tidur (mimpi basah), baik melalu jalan yang halal (jima’) maupun jalan yang haram (onani, masturbasi, dan perzinahan).<br />
2.    Ketika melakukan jima’, baik ada mani yang keluar maupun tidak ada, baik jima’ yang halal maupun yang haram.<br />
3.    Ketika suci dari haid.<br />
4.    Ketika suci dari nifas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1834</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembatal Wudhu</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1830</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1830#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1830</guid>
		<description><![CDATA[21 Shafar
Pembatal  Wudhu
Dari Shafwan bin &#8216;Assal -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ
&#8220;Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membuka sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam kecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">21 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pembatal  Wudhu</strong></p>
<p>Dari Shafwan bin &#8216;Assal -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ</strong><br />
<em>&#8220;Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membuka sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam kecuali ketika kami junub. Dan tetap boleh untuk mengusap sepatu karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur.&#8221;</em> (HR. At-Tirmizi no. 96, An-nasai no. 127, Ibnu majah no. 471 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 104)<br />
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>شُكِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا</strong><br />
<em>&#8220;Seorang lelaki mengadukan kepada Nabi -shallallahu&#8217;alaihiwasallam, bahwa dia seolah-olah mendapati sesuatu (kentut) ketika shalatnya. Beliau bersabda, “Dia tidak perlu membatalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)<br />
Dari Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ</strong><br />
<em>“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- karena puteri beliau adalah istriku. Maka aku menyuruh Al-Miqdad bin Al-Aswad supaya bertanya beliau, maka beliau menjawab, “Hendaklah dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)<br />
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا<br />
</strong><em>“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihiwasallam, &#8220;Apakah aku harus berwudhu karena makan daging kambing?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jika kamu mau maka berwudhulah, dan jika kamu mau maka janganlah kamu berwudhu.&#8221; Dia bertanya lagi, &#8220;Apakah aku harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.&#8221; Dia bertanya, &#8220;Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ya boleh.&#8221; Dia bertanya, &#8220;Apakah aku boleh shalat di kandang unta?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 360)<br />
Busrah binti Shafwan  berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ</strong><br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudhu.&#8221; </em>(HR. Abu Daud no. 181, At-Tirmizi no. 82, dan selain keduanya)<br />
Dari Thalq bin Ali -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَتَوَضَّأُ أَحَدُنَا إِذَا مَسَّ ذَكَرَهُ قَالَ إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ أَوْ جَسَدِكَ</strong><br />
<em>“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu&#8217;alaihiwasallam, “Apabila salah seorang di antara kami memegang kemaluannya haruskah dia berwudhu?” Beliau menjawab, &#8220;Sesungguhnya itu (kemaluan) hanyalah bagian darimu atau tubuhmu.&#8221; </em>(HR. An-Nasai no. 165 dan selainnya)<span id="more-1830"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Wudhu mempunyai beberapa perkara yang bisa membatalkannya, yakni jika pembatal atau yang dikenal dengan hadats ini ada pada seseorang maka dia harus berwudhu kembali jika dia ingin melakukan amalan yang mengharuskan adanya thaharah dalam pengamalannya. Pembatal-pembatal wudhu yang tersebut di atas adalah:<br />
1.    Tidur berdasarkan hadits Shafwan di atas.<br />
Hanya saja yang dimaksud dengan tidur di sini adalah tidur nyenyak, dimana orang yang tidur sudah tidak bisa merasakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Karena dalam hadits Ibnu Umar serta hadits Ibnu Abbas yang keduanya riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dan hadits selainnya menunjukkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- para sahabat pernah tertidur, dan setelah mereka terbangun, mereka langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu kembali. Ini merupakan pendapat Malik, Az-Zuhri, Rabiah, dan Al-Auzai, dan inilah yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Ibnu Abdil Barr, dan dari kalangan belakangan: Al-Lajnah Ad-Daimah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan selainnya.</p>
<p>2.    Diikutkan kepada hukum tidur,  pingsan dan hilangnya akal berdasarkan kesepakatan para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: 1/113</p>
<p>3.    Semua yang keluar dari qubul dan dubur berupa: Tinja, kencing, mani, madzi, wadi, dan kentut.<br />
Ini berdasarkan hadits Shafwan, Abdullah bin Zaid, dan Ali di atas, dan hadits lainnya, dan ini merupakan kesepakatan para ulama.</p>
<p>4.    Makan daging onta secara mutlak.<br />
Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih, dan sahabat Jabir bin Samurah. Mereka berdalilkan dengan hadits Samurah di atas dan juga hadits Al-Barra` secara marfu’, “Berwudhulah kalian karena makan daging onta dan janganlah kalian berwudhu karena makan daging kambing.” (HR. Imam Empat kecuali An-Nasai)</p>
<p>5.    Adapun menyentuh kemaluan, maka pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa dia tidaklah membatalkan wudhu, akan tetapi disunnahkan bagi yang menyentuh kemaluannya secara langsung (tanpa pembatas) untuk berwudhu. Ini merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Utsaimin sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/234. Pendalilan mereka adalah memadukan antara hadits Busrah dan hadits Thalq di atas.</p>
<p>6.    Dan tentunya semua perkara yang mewajibkan mandi (hadats akbar) juga merupakan pembatal wudhu, seperti keluar darah haid dan nifas dan seterusnya.</p>
<p>Ada beberapa perkara lain yang dibahas oleh para ulama dalam masalah ini seperti: Keluar darah istihadhah, menyentuh wanita, mimisan dan muntah, serta mengangkat dan memandikan jenazah. Apakah keempat perkara ini membatalkan wudhu atau tidak? Silakan baca ulasannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=609">http://al-atsariyyah.com/?p=609</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1830</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Orang Islam Tidak Perlu Syahadat?</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1828</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1828#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 02:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaban Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Orang Islam Tidak Perlu Syahadat?
Tanya:
assalamua&#8217;alaikum&#8230;.
asatidzah yang saya hormati..
ada sedikit kebingungan yang saya temui.. apakah jika orang keluar dari islam atau bisa juga yang non muslim kemudian ingin masuk islam kembali.. apakah harus mengucapkan 2 kalimat syahadat khusus?? bukankah didalam sholat sudah ada 2 kalimat syahadat?? dan untuk yang muslim bukankah tidak pernah mengucapkan 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kenapa Orang Islam Tidak Perlu Syahadat?</strong></p>
<p>Tanya:<br />
assalamua&#8217;alaikum&#8230;.<br />
asatidzah yang saya hormati..<br />
ada sedikit kebingungan yang saya temui.. apakah jika orang keluar dari islam atau bisa juga yang non muslim kemudian ingin masuk islam kembali.. apakah harus mengucapkan 2 kalimat syahadat khusus?? bukankah didalam sholat sudah ada 2 kalimat syahadat?? dan untuk yang muslim bukankah tidak pernah mengucapkan 2 kalimat syahadat secara khusus.. bagaimana ketentuan ini.. klo ada dalil mohon disertakan dalilnya..<br />
syukron katsiron.. jajakallahu khoeron katsiro.<br />
kangmas&#8221; mazhari@kemenanganjaya.com</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Ia, setiap orang kafir -baik kafir asli maupun kafir murtad- yang ingin masuk Islam maka dia wajib untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Berdasarkan keumuman hadits Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah bersabda:<br />
<strong>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ</strong><br />
<em>&#8220;Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<span id="more-1828"></span><br />
Dan sudah dimaklumi bahwa sebelum dia mengerjakan shalat maka dia harus masuk Islam dulu, karena jika tidak maka walaupun dia shalat maka shalatnya tidak syah.<br />
Adapun anak yang asalnya memang sudah muslim -karena sudah keturunan (orang tuanya muslim) misalnya-, maka ketika dia balig tidak perlu bagi dia untuk mengucapkan syahadatain. Hal itu karena fitrahnya adalah Islam dan fitrahnya itu tidak mengalami perubahan karena kedua orang tuanya muslim.<br />
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, &#8220;Setiap anak yang wafat wajib dishalatkan sekalipun anak hasil zina karena dia dilahirkan dalam keadaan fithrah Islam, jika kedua orangnya mengaku beragama Islam atau hanya bapaknya yang mengaku beragama Islam meskipun ibunya tidak beragama Islam selama anak itu ketika dilahirkan mengeluarkan suara (menangis) dan tidak dishalatkan bila ketika dilahirkan anak itu tidak sempat mengeluarkan suara (menangis) karena dianggap keguguran sebelum sempurna, berdasarkan perkataan Abu Hurairah radliallahu &#8216;anhu yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu&#8217;alaihiwasallam bersabda:<br />
<strong>مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ</strong><br />
<em>&#8220;Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 1270)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1828</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tayammum</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1826</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1826#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 02:53:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1826</guid>
		<description><![CDATA[20 Shafar
Tayammum
Allah Ta’ala berfirman:
فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ
“Lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci).” (QS. Al-Maidah:  6)
Dari Jabir bin Abdullah  bahwa Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">20 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tayammum</strong></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ</strong><br />
<em>“Lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci).” </em>(QS. Al-Maidah:  6)<br />
Dari Jabir bin Abdullah  bahwa Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً</strong><br />
<em>&#8220;Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku: Aku ditolong melawan musuhku dengan (ditanamkannya) ketakutan (di dalam hati) mereka (kepadaku) sejauh satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai tempat shalat dan penyuci, karenyanya dimana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu shalat maka hendaklah dia shalat, dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku, aku diberikan (hak) syafa&#8217;at (al-uzhma), dan para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 335 dan Muslim no. 521)<br />
Ammar bin Yasir -radhiallahu anhu berkata- kepada Umar:<br />
<strong>بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِد الْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ</strong><br />
<em>“Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- mengutusku untuk suatu urusan, lalu aku junub dan tidak mendapatkan air. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah seperti berguling-gulingnya hewan. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam-, lalu beliau bersabda, &#8220;Sebenarnya cukup bagimu bila kamu melakukan begini.&#8221; Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wasallam- kemudian memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sebanyak sekali pukulan dan mengibas-ngibaskannya, kemudian mengusapkannya ke punggung tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya, atau punggung telapak kirinya dengan telapak tangan kanannya, kemudian beliau mengusap wajahnya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368)<span id="more-1826"></span></p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara sifat ajaran Islam adalah selalu adanya kemudahan dari syariat setiap kali pemeluknya mendapatkan kesulitan, dan ini merupakan salah satu kaidah asasi dalam syariat Islam. Di antara contohnya adalah Allah Ta’ala menurunkan syariat tayammum bagi mereka yang tidak bisa mempunyai air untuk bersuci atau ada air akan tetapi dia akan tertimpa mudharat jika menggunakannya. Dan cukuplah menunjukkan keutamaan tayammum ini tatkala dia merupakan syariat khusus bagi umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya berdasarkan hadits Jabir di atas.<br />
Kemudian, ayat dan hadits Ammar di atas menunjukkan tidak ada tartib dalam tayammum -dan inilah pendapat yang rajih-. Karena ayat menunjukkan yang diusap terlebih dahulu adalah wajah lalu kedua telapak tangan, tapi dalam hadits Ammar menunjukkan sebaliknya, maka ini menunjukkan keduanya boleh dilakukan. Cara tayammum selengkapnya bisa  dibaca di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=633">http://al-atsariyyah.com/?p=633</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1826</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Sekolah Formal (Berijazah)</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1820</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1820#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawaban Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1820</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Sekolah Formal (Berijazah)
Tanya:
Bismillah,ana ingin bertanya bagaimana hukum menyekolahkan anak-anak seperti (SD-SMU,Perguruan tinggi) jazakumullah khairan katsiro!
&#8220;Jumroni&#8221; &#60;auni_zumronh@yahoo.com&#62;
Jawab:
Selama sekolah tersebut mengajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat dan juga tidak ada maksiat dalam proses belajar mengajarnya, maka tidak ada dalil yang melarang untuk bersekolah di sekolah formal. Karenanya para ulama besar di zaman ini, seperti Asy-Syaikh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hukum Sekolah Formal (Berijazah)</strong></p>
<p>Tanya:<br />
Bismillah,ana ingin bertanya bagaimana hukum menyekolahkan anak-anak seperti (SD-SMU,Perguruan tinggi) jazakumullah khairan katsiro!<br />
&#8220;Jumroni&#8221; &lt;auni_zumronh@yahoo.com&gt;</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Selama sekolah tersebut mengajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat dan juga tidak ada maksiat dalam proses belajar mengajarnya, maka tidak ada dalil yang melarang untuk bersekolah di sekolah formal. Karenanya para ulama besar di zaman ini, seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Abdul Muhsin, dan selainnya, mereka semua adalah para ulama yang mengenyam pendidikan formal.</p>
<p>Masalah pengharaman sesuatu adalah masalah yang berat maka hendaknya seorang muslim berhati-hati dalam mengharamkan sesuatu. Karena mengharamkan sesuatu yang halal tidaklah lebih kecil dosanya dibandingkan menghalalkan sesuatu yang haram. Karenanya Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari -hafizhahullah- telah memfatwakan -pada daurah JOGJA tahun 2009 kemarin- bolehnya sekolah formal (berijazah) dengan persyaratan yang tersebut di atas, ini sebagaimana yang sebagian asatidz -yang mendengar langsung ucapan beliau- kabarkan kepada kami.<span id="more-1820"></span></p>
<p>Adapun kritikan sebagian orang terhadap sekolah formal berbasis islam dengan alasan adanya ijazah, maka berikut jawaban Al-Ustadz Zulqarnain -hafizhahullah- dari milis An-Nasihah (5 april 2009):<br />
Bismillah,<br />
Saya tidak mengerti dari mana sumber pegangan orang-orang yang mensyaratkan bahwa sekolahan tidak boleh memakai ijazah, apalagi menjatuhkan vonis hizbiyah terhadapnya. Kalau hal tersebut benar, maka betapa banyak dari ulama kita yang menyandang gelar ilmiyah; doktor, master, dan selainnya yang terkena vonis hizbiyah. Dan betapa banyak ulama yang pernah mengajar di universitas islam yang terkemuka, seperti syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Albany, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Rabi&#8217; dan selainnya yang akan dianggap mengajar di tempat hizbiyah lantaran universitas tersebut memberi ijazah dan mensyaratkan ijazah untuk masuk.</p>
<p>Masalah foto untuk masuk sekolah, itu adalah kebijaksanaan dan kemashlahatan yang dipandang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan, baik dari sisi keamanan, pewajiban dari pemerintah atau selainnya. Hal ini adalah hal yang dimaklumi dan masih difatwakan sejumlah ulama kita.</p>
<p>Maka Ana sangat heran melihat sebagian ikhwah yang terlalu cepat menjatuhkan vonis hizbiyah terhadap saudara-saudaranya sendiri yang berjalan di atas manhaj salaf, apalagi ustadz-ustadz mereka sendiri.</p>
<p>Hendaknya setiap orang menjaga lisannya dan mengetahui bahwa ucapan seperti itu bisa memberi dampak negatif terhadap dakwah sehingga dia harus menanggung dosa dari perbuatan yang dia lakukan.<br />
Siapa yang ada nasehat untuk saudara hendaknya dia sampaikan dengan hujjah yang benar dan berbaik sangka kepada mereka.<br />
Semoga Allah memberi taufiq-Nya kepada kita semua.<br />
Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>Download audio : <a href="http://www.4shared.com/file/146939758/4f4081f3/ijazah.html">HUKUM IJAZAH</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1820</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Antara Sunnah Wudhu</title>
		<link>http://al-atsariyyah.com/?p=1817</link>
		<comments>http://al-atsariyyah.com/?p=1817#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Muawiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Quote of the Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-atsariyyah.com/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[19 Shafar
Di Antara Sunnah Wudhu
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Dari Abu Hurairah  dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">19 Shafar</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Di Antara Sunnah Wudhu</strong></p>
<p>Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ</strong><br />
<em>&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)<br />
Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ ْوُضُوءٍ</strong><br />
<em>&#8220;Sekiranya aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.&#8221;</em> (HR. Ahmad dalam beberapa tempat dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 70)<br />
Dari Umar  dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau bersabda:<br />
<strong>مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ</strong><br />
<em>&#8220;Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, lalu bersungguh-sungguh atau menyempurnakan wudhunya kemudian dia membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAHI WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya) melainkan kedelapan pintu surga akan dibukakan untuknya. Dia masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 234)<br />
Dalam riwayat lain dengan lafazh:<br />
<strong>مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ</strong><br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang berwudhu lalu membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.&#8221;<span id="more-1817"></span><br />
</em><br />
<strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara kesempurnaan wudhu adalah disunnahkan untuk memulai dengan mencuci anggota wudhu yang sebelah kanan sebelum yang kiri, yakni pada kedua telapak tangan, tangan sampai siku, dan kedua kaki. Hanya saja berhubung hukumnya sunnah, maka barangsiapa yang memulai dengan yang kiri maka sungguh dia telah menyelisihi sunnah walaupun dia tidak berdosa dan wudhunya tidak makruh apalagi batal. Dan syariat memulai dengan yang kanan ini berlaku pada semua jenis amalan dan tindakan, berdasarkan hadits Aisyah di atas.</p>
<p>Kemudian, sebelum wudhu, seseorang juga disunnahkan untuk bersiwak. Siwak secara bahasa mempunyai dua makna:<br />
1.    Akar kayu yang sudah ma’ruf (diketahui bersama) yang digunakan untuk membersihkan gigi.<br />
2.    Pekerjaan membersihkan gigi.<br />
Karenanya semua pekerjaan membersihkan gigi itu dinamakan bersiwak walaupun tidak menggunakan kayu siwak, menurut pendapat yang paling kuat. Maka jika seseorang tidak mempunyai kayu siwak, dia tetap bisa mengerjakan sunnah yang mulia ini dengan cara membersihkan giginya dengan pasta gigi, atau sekedar dengan sikat gigi atau dengan menggosok giginya dengan kain atau jari, dan seterusnya dari bentuk pekerjaan membersihkan gigi.</p>
<p>Walaupun demikian, tentu saja lebih utama seseorang itu bersiwak dengan kayu siwak, karena inilah yang datang dalam nukila perbuatan Nabi , bahwa beliau bersiwak dengan menggunakan kayu siwak.</p>
<p>Hadits Abu Hurairah tentang siwak di atas juga sebagai sanggahan kepada sebagian ulama yang memakruhkan atau melarang seseorang yang berpuasa untuk bersiwak/menggosok gigi setelah zuhur. Hal itu karena hadits di atas datang dalam bentuk umum ‘setiap kali wudhu’, tanpa ada pembedaan dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- antara sedang puasa dengan tidak puasa. Karenanya tetap disunnahkan seseorang yang berpuasa untuk bersiwak, dan bagi yang menggunakan pasta gigi harus tetap menjaga jangan sampai ada pasta yang tertelan olehnya.</p>
<p>Kemudian, sunnah terakhir yang tersebut dalam dalil-dalil di atas adalah sunnahnya berdoa setelah wudhu dengan doa yang ma`tsur di atas, dan Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menjanjikan pahala masuk surga bagi siapa saja yang mengucapkannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-atsariyyah.com/?feed=rss2&amp;p=1817</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
