November 22nd, 2008 by Abu Muawiah
3 Jenis Orang yang Meminta
Orang yang meminta mempunyai tiga keadaan:
1. Diketahaui kalau dia adalah orang fakir atau membutuhkan apa yang dia minta. Maka orang ini diberikan apa yang bisa menutupi kebutuhannya.
2. DIketahui kalau dia adalah orang kaya dan tidak membutuhkan apa yang dia minta. Maka orang seperti ini diperingatkan, dinasehati, dan tidak dipenuhi permintaannya.
3. Tidak diketahui keadaannya dan tidak diketahui apakah dia fakir atau kaya. Maka orang ini bisa diberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita, diberikan sesuatu akan tetapi jumlahnya di bawah dari orang yang pertama di atas.
Semua ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh-Dhuhah: 10)
Juga berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan orang-orang yang pada harta mereka ada hak yang sudah dimaklumi, untuk orang yang meminta dan yang tidak punya apa-apa.”
Dan dalam sebuah hadits yang lemah riwayat Abu Daud, “Untuk orang yang meminta walaupun dia datang dengan menunggangi kuda.”
Jika orang tersebut meminta di dalam masjid maka tidak mengapa, karena terkadang dia sangat membutuhkan dan dia tidak mempunyai waktu dan kesempatan untuk menjelaskan keadaannya kepada saudaranya kaum muslimin kecuali di dalam masjid.
[Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi, diterjemah dari www.sh-rajhe.com dalam kategori Fawaid ‘Ammah ]
Category: Tahukah Anda? |
3 Comments »
November 12th, 2008 by Abu Muawiah
Siapakah Mertua Nabi Musa?
Siapakah orang yang menikahkan Musa dengan salah satu dari kedua putrinya?
Sebagian ahli tafsir berpendapat dia adalah Nabi Syuaib, dan sebagian lainnya berpendapat bahwa dia bukan Nabi Syuaib.
Pendapat yang benar adalah pendapat yang kedua, bahwa dia bukan Nabi Syuaib. Ini yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan beliau menyatakan bahwa zaman Nabi Syuaib lebih dahulu daripada zaman Nabi Musa, dan bahwa zaman Nabi Syuaib dekat dengan zaman Luth -alaihissalam-, sementara Luth -alaihissalam- adalah orang yang beriman kepada Ibrahim -alaihissalam- dan itu berarti Luth hidup pada zamannya Ibrahim. Ibnu Katsir berdalil dengan firman Allah Ta’ala:
وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ
“Kaum Luth tidaklah jauh dari kalian.”
Beliau berkata dalam tafsir ayat di atas, “Zaman dan tempat tinggal kaum Luth tidaklah jauh dari kalian.”
[Asy-Syaikh Ar-Rajihi, diterjemah dari www.sh-rajhe.com dalam kategori Fawaid fi At-Tafsir 1]
Category: Tahukah Anda? |
No Comments »
November 9th, 2008 by Abu Muawiah
Siapakah Abdul Qadir Al-Jailani?
Tahukah anda siapa itu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani?
Ya, semua orang tahu siapa itu Abdul Qadir Jailani. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang-orang tua pun tahu tentang Abdul Qadir Jailani, sampai para tukang becak pun tahu akan siapa tokoh ini. Sampai-sampai jika ada orang yang bernama Abdul Qadir, maka orang akan mudah menghafal namanya disebabkan namanya ada kesamaan dengan nama Abdul Qadir Jailani. Yang jelas, selama orangnya muslim, pasti tahu siapa itu Abdul Qadir Jailany. Ya minimal namanya.
Jika nama Abdul Qadir disebut atau didengarkan oleh sebagian orang, niscaya akan terbayang suatu hal berupa kesholehan, dan segala karomah, serta keajaiban yang dimiliki oleh beliau menurut mereka.Orang-orang tersebut akan membayangkan Abdul Qadir Jailani itu bisa terbang di atas udara, berjalan di atas laut tanpa menggunakan seseuatu apapun, mengatur cuaca, mengembalikan ruh ke jasad orang, mengeluarkan uang di balik jubahnya, menolong perahu yang akan tenggelam, menghidupkan orang mati dan lain sebagainya.
Apakah semua itu betul, ataukah semua itu hanyalah karangan dan kedustaan dari para qashshash (pendongeng) yang bodoh?
Berikut sedikit keterangan mengenai siapakah Abdul Qadir Al-Jailani. Read the rest of this entry »
Category: Siapakah Dia?, Tahukah Anda? |
4 Comments »
October 31st, 2008 by Abu Muawiah
Berapa Jumlah Nama Allah?
Tahukah anda berapa jumlah nama-nama Allah? Apakah ismullahil a’zham (nama Allah yang terbesar) yang kalau seseorang berdoa dengannya pasti akan dikabulkan?
Berikut jawabannya dari Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan, yang kami nukil dari fatawa beliau Al-Muntaqa jilid I:
Allah Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu”. (QS. Al-A’raf : 180)
Dan (Allah) Ta’ala berfirman :
لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thoha: 8 )
Asma`ullah al-husna tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Tidak ada dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah pembatasannya. Read the rest of this entry »
Category: Aqidah, Fatawa, Tahukah Anda? |
2 Comments »
October 25th, 2008 by Abu Muawiah
Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?
Muazzin memiliki keutamaan (tersendiri) dan imam juga memiliki keutamaan (tersendiri). Termasuk dalil yang menerangkan tentang keutamaan muazzin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al-Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al-Maziny :
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ. فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ, فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”. Read the rest of this entry »
Category: Fadha`il Al-A'mal, Fatawa, Tahukah Anda? |
No Comments »
October 20th, 2008 by Abu Muawiah
Seputar Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh
Kalau ada seseorang yang masuk masjid sementara iqamat shalat subuh telah dikumandangkan dan dia belum shalat sunnah dua rakaat fajar, maka dia boleh melakukan salah satu dari dua perkara:
Pertama: Dia mengerjakan dua rakaat tersebut setelah tingginya matahari, dan ini yang afdhal.
Kedua: Dia mengerjakannya langsung setelah mengerjakan shalat subuh. Ada sebuah hadits dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- yang menerangkan hal ini -dalam Shahih Ibnu Hibban dengan sanad yang jayyid-. Bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melihat seorang lelaki mengerjakan shalat setelah shalat subuh, maka beliau menanyakan hal itu kepadanya, dan orang itu menjawab, “Saya tadi belum mengerjakan dua rakaat fajar, maka saya mengerjakannya sekarang,” maka Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- diam.
[Diterjemah dari www.sh-rajhe.com kategori Fawaid fil Fiqhi 1]
Category: Fiqh, Tahukah Anda? |
1 Comment »
October 11th, 2008 by Abu Muawiah
Benarkah Istiwa` di Atas Arsy Diterjemahkan Bersemayam?
Disebutkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):
se•ma•yam, ber•se•ma•yam v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal: Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yg – dl hati;
me•nye•ma•yam•kan v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;
per•se•ma•yam•an n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.
[sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php]
Dari sini kita bisa melihat bahwa arti semayam dalam bahasa Indonesia meliputi: Duduk, berdiam, berbaring. Sementara istiwa maknanya tinggi dan berada diatas, dan ini ini adalah ijma’ para ulama bahasa sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Taimiah rahimahullah dan selainnya.
Telah dimaklumi dalam kaidah-kaidah tauhid asma` wa ash-shifat bahwa semua sifat yang tidak ditetapkan dan tidak juga ditolak oleh Allah Ta’ala dari dirinya dan tidak pula Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- dari Allah, maka kita juga tidak boleh menetapkan dan tidak boleh juga menolaknya. Kecuali jika sifat itu mengandung kekurangan bagi Allah maka wajib untuk ditolak dari-Nya.
Maka sifat duduk dan berdiam merupakan sifat yang tidak pernah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan tidak pula menolaknya dari diri-Nya, baik dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah, karenanya kita tidak boleh menetapkan kedua sifat ini untuk-Nya dan tidak pula menolaknya dari-Nya. Sementara sifat baring -wallahu a’lam- zhahirnya mengharuskan sifat kurang bagi Allah karenanya harus ditolak dari Allah.
Kesimpulannya: Menerjemahkan istiwa bermakna bersemayam adalah kurang tepat bahkan salah, karena mengharuskan kita menetapkan sifat yang Allah tidak tetapkan bagi dirinya dan itu bentuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu, wallahu a’lam bishshawab.
Category: Aqidah, Tahukah Anda? |
3 Comments »
October 3rd, 2008 by Abu Muawiah
Beberapa faidah dari kitab At-Taratib Al-Idariah
karya Asy-Syaikh Abdul Hay Al-Kattani -rahimahullah-
1. Sebagian ulama ushul fiqhi mengatakan: Seandainya Rasulullah tidak mempunyai mukjizat selain dari para sahabat beliau, niscaya mereka sudah cukup sebagai bukti kenabian beliau. (hal. 12)
2. Sebagian ulama mengatakan: Di dalam Al-Qur`an ada lebih dari 750 ayat mengenai ilmu-ilmu kauniah, dan lebih dari 150 ayat mengenai ilmu-ilmu fiqhi. (hal. 16)
3. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur`an, yang pertama menamakannya sebagai ‘mushaf’, dan orang pertama yang digelari ‘Syaikhul Islam’. (hal. 44) Read the rest of this entry »
Category: Tahukah Anda? |
No Comments »