Archive for June, 2015

Ibadah dan Kesyirikan

June 24th, 2015 by Abu Muawiah

Ibadah dan Kesyirikan

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطاعَتِهِ: أَنَّ الْحَنِيْفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْراهِيْمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصـًا لَهُ الدِّيْنَ كَما قالَ تَعالىَ ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ[الذاريات:56].

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبادَتِهِ فَاعْلَمْ: أَنَّ الْعِبادَةَ لاَ تُسَمَّى عِبادَةً إِلاَّ مَعَ التَّوْحِيْدِ، كَما أَنَّ الصَّلاَةَ لاَ تُسَمَّى صَلاَةً إِلاَّ مَعَ الطَّهارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبادَةِ فَسَدَتْ كالْحَدَثِ إِذا دَخَلَ فِي الطَّهارَةِ.

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذا خالَطَ الْعِبادَةَ أَفْسَدَها وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ وَصارَ صاحِبُهُ مِنَ الْخالِدِيْنَ فِي النَّارِ, عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ ما عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ. لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ الَّذِي قالَ اللهُ فِيْهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ[النساء:116].

وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَواعِدَ ذَكَرَها اللهُ تَعالَى فِي كِتابِهِ.

[Terjemah]

“Ketahuilah -semoga Allah memberikan hidayah kepada anda untuk taat kepada-Nya-: Bahwa al-hanifiah yang merupakan agama Ibrahim adalah anda beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jika anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali dengan adanya tauhid. Sebagaimana shalat tidak dinamakan shalat kecuali dengan adanya thaharah[1]. Karenanya, kapan kesyirikan masuk ke dalam ibadah maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats (pembatal wudhu) membatalkan shalat jika dia muncul setelah thaharah.

Jika anda telah mengetahui bahwa jika kesyirikan bercampur dengan ibadah maka kesyirikan itu akan merusak ibadah tersebut, menghapuskan amalan (pelakunya), dan pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam neraka. Jika anda telah mengetahui hal tersebut maka berarti anda telah mengetahui bahwa perkara yang terpenting bagi anda adalah mengetahui kesyirikan tersebut. Semoga Allah berkenan untuk membebaskan anda dari kejelekan ini yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah telah berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni dosa di bawah dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 116).

Cara mengetahui kesyirikan adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya.” Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Ibadah dan Kesyirikan

Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

June 17th, 2015 by Abu Muawiah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. amma ba’du:

 

Pengantar:

Berikut ini adalah syarah Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah. Sebuah risalah yang ditulis oleh Imam dakwah ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Kami mulai dengan risalah ini karena selain dia ringkas, dia juga termasuk risalah dasar dalam tauhid uluhiah dan sanggahan kepada pelaku kesyirikan. Dan kami memilih syarah dari Asy-Syaikh Saleh karena menurut pengamatan kami -wallahu A’lam- syarah beliau adalah syarah yang terbaik dari semua syarah yang pernah kami baca.

Perlu diketahui bahwa syarah Asy-Syaikh hafizhahullah asalnya adalah transkrip dari kaset rekaman sehingga bahasanya adalah bahasa kaset (bukan bahasa buku). Terkadang beliau mengulangi kalimat yang sudah diucapkan sebelumnya. Karenanya untuk mempersingkat, kalimat-kalimat yang diulangi itu tidak lagi kami terjemahkan. Dan juga perlu diketahui bahwa semua catatan kaki dalam syarah ini adalah dari kami, bukan dari transkrip aslinya.

Saya rasa hanya ini yang butuh kami sampaikan sebagai pengantar, selamat membaca:

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

أَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ ربَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَتَوَلاّكَ في الدُّنْيا وَالآخِرَةِ، وَأنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكـًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعلك مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإذا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإذا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعادَةِ

[Terjemahan]

“Saya meminta kepada Allah yang Maha Pemurah Rabbnya arsy yang besar, agar Dia berkenan menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat, menjadikanmu berberkah dimanapun kamu berada[1], serta menjadikanmu termasuk orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.”

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

Rukun Jual Beli

June 10th, 2015 by Abu Muawiah

Rukun Jual Beli

D.    Rukun Jual Beli
Jual beli mempunyai 3 rukun:
1.    Pelaku transaksi, yaitu penjual dan pembeli.
2.    Obyek transaksi, yaitu uang dan barang.
3.    Akad transaksi, yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, yang menunjukkan mereka sedang melakukan transaksi, baik tindakan tersebut berbentuk ucapan maupun perbuatan.

Akad transaksi ada dua bentuk:
1.    Akad dengan ucapan, yang dinamakan juga ijab-kabul.
Ijab artinya ucapan yang diucapkan terlebih dahulu.
Contoh:
Penjual berkata: “Baju ini saya jual dengan harga Rp. 10.000,-“.
Kabul artinya ucapan yang diucapkan kemudian.
Contoh:
Pembeli mengatakan: “Barang saya terima”.

2.     Akad dengan perbuatan, yang dinamakan juga dengan mu’athah.
Contoh:
Pembeli memberikan uang Rp. 10.000,- kepada penjual, kemudian dia mengambil barang yang senilai dengan itu tanpa adanya ucapan ijab kabul dari kedua belah pihak.

Incoming search terms:

  • jika seseorang membeli emas dari kami namun masih ada sebagian yang belum di bayar lantas kami menahan sebagian emas tersebut sebagai gadai atas kekurangab belum terbayar apakah hal ini diperbolehkan

Category: Ekonomi Islam | Comments Off on Rukun Jual Beli

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

June 3rd, 2015 by Abu Muawiah

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Seorang muslim haruslah berfikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah Shallalluhu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alahissalam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu ‘unhu atau Ali radhiyallahu ’anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan Cara membaca sepintas?
Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu