Archive for May, 2014

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

May 31st, 2014 by Abu Muawiah

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

 

Penjelasan Makna Hadits:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111] Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits | Comments Off on Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Jimak Saat Puasa Sunnah

May 27th, 2014 by Abu Muawiah

Jimak Saat Puasa Sunnah

 

Tanya:

Saya mau tanya ustadz.

Jimak ketika sedang berpuasa sunnah, apakah itu berdosa? Jika berdosa, apakah ada kaffaratnya?

Jazakallahu khairan

 

Jawab:

Sudah dimaklumi bersama bahwa jimak merupakan pembatal puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Dan juga sudah dimaklumi bahwa siapa saja yang melakukan jimak ketika dia sedang berpuasa di dalam bulan ramadhan, maka dia telah melakukan dosa yang sangat besar, dan dia wajib membayar kaffarat berupa:

1. Membebaskan budak.

2. Jika tidak mampu maka berpuasa 2 bulan berturut-turut.

3. Dan jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.

Demikian yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu riwayat al Bukhari dan Muslim.

 

Kita kembali ke pertanyaan. Apakah semua hukum di atas juga berlaku bagi orang yang melakukan jimak pada saat dia berpuasa sunnah?

Sebelumnya butuh diketahui bahwa -secara umum- seseorang dianggap berdosa jika dia meninggalkan kewajiban tanpa uzur yang dibenarkan. Sementara kaffarat diwajibkan untuk menggugurkan dosa karena meninggalkan kewajiban tersebut.

 

Dari sini, jawaban pertanyaan di atas sudah diketahui yaitu: Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Jawaban Pertanyaan | Comments Off on Jimak Saat Puasa Sunnah

Hukum Berzikir Dalam WC

May 23rd, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukumnya menjawab salam dan berzikir di dalam wc?

Jawab:
Ada dua pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum berzikir di dalam wc:
1. Makruh.
Ini adalah mazhab al Hanafiah, asy Syafiiah, dan al Hanabilah. Dan pendapat ini dinisbatkan kpd Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.
2. Boleh.
Ini adl pendapat Malik, an Nakhai, Ibnu Sirin, dan asy Sya’bi. Pendapat ini dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Amr.

Maka dari sini kita bisa melihat, bahwa tidak ada seorang pun ulama yang menyatakan haramnya berzikir di dalam wc. Pendapat yg melarang di sini hanya berpendapat makruhnya. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Hukum Berzikir Dalam WC

Kekalnya Surga dan Neraka

May 19th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah. Ustadz hafizhakallah. Mau tanya: Apakah dalam surah Hud 107-108 Allah berfirman:
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيد- وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Apakah dalam kedua ayat diatas bisa dipahami bahwa akhirat itu tidak kekal?
Mohon penjelasannya tentang ayat ini. Baarokallahu fiykum.

Jawab:
Sama sekali tidak. Para ulama telah bersepakat bahwa akhirat beserta semua di dalamnya seperti surga dan neraka adalah kekal, tidak akan binasa selama-lamanya. Dan dalil-dalil akan hal ini sangat lah banyak dan masyhur.

Adapun ayat di atas dan yang semakna dengannya, maka hanya orang-orang Jahmiah atau yang mengikuti mazhab mereka yg menjadikannya sebagai dalil akan tidak kekalnya surga dan neraka. Hal itu karena mazhab mereka dalam hal ini memang seperti itu, yakni surga dan neraka tidak kekal.

Adapun penafsiran ayat di atas, maka para ulama ahlussunnah telah menjelaskannya dalam buku-buku tafsir mereka. Mereka menjelaskan bahwa ayat di atas tidaklah seperti yang disangka oleh Jahmiah. Di antara ulama yg menjelaskan maknanya adalah Imam Ibnu Jarir ath Thabari dan al Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsir keduanya, dan juga Imam Ibnu al Jauzi dlm Zàd al Masìr.

Berikut kesimpulan tafsir ayat di atas yang kami ringkas dari Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • apakah surga dan neraka kekal

Category: Aqidah, Dari Grup WA, Ilmu al-Qur`an, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Kekalnya Surga dan Neraka

Hukum Muslim Memasuki Gereja

May 15th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah, mau tanya, apakah seorang muslim boleh memasuki gereja?

Jawab:
Di antara konsekuensi dari penafian sembahan selain Allah pd kalimat tauhid ‘là ilàha illallàh’, adalah setiap muslim wajib berlepas diri, mengingkari, dan tidak punya hubungan dengan apa saja yang berbau kesyirikan dan kekafiran.
Karena itu, pada dasarnya seorang muslim tidak boleh memasuki gereja atau tempat ibadah non muslim lainnya, karena secara tidak langsung itu bertentangan dengan prinsip tauhid di atas.

Kalau masjid dhiràr saja, Nabi shallallahu alaihi wasallam dilarang masuk dan mengerjakan shalat di dalamnya, karena itu adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik sebagai tempat berkumpul mereka guna merencanakan makar terhadap kaum muslimin, maka tentunya memasuki gereja jauh lebih terlarang karena ada penyembahan kepada selain Allah di dalamnya.

Kemudian, memasuki gereja juga bertentangan dengan kewajiban nahi mungkar bagi setiap muslim muslim terhadap kekafiran. Belum lagi jika masuknya seorang muslim ke dalam gereja bertujuan untuk merayakan hari raya mereka, maka ini jauh lebih diharamkan lagi, bahkan bisa menjurus kepada kekafiran. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA | Comments Off on Hukum Muslim Memasuki Gereja

Warisan Untuk Ibu dan Saudara

May 11th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah. Ustadz ada pertanyaan: Bagaimana pembagian warisan dari seorang wanita yang meninggal dan dia memiliki ibu,3 saudara perempuan, 4 saudara laki?
Jazakumullah khairan.

Jawab:
Dalam kondisi seperti ini maka:
Ibu mendapat bagian 1/6 dari harta warisan. Krn wanita yang wafat ini tidak mempunyai ahli waris lain kecuali saudara dan saudarinya.
Sementara 5/6 sisa hartanya diberikan kepada seluruh saudaranya; yang lelaki maupun yg wanita, dimana semua saudaranya dalam kasus ini bertindak sebagai ashabah. Tentunya dengan ketentuan, saudara lelaki mendapatkan bagian 2 kali lipat dari saudara perempuan.
Sehingga ketiga orang saudarinya masing-masing mendapatkan 5/66 bagian, sementara keempat orang saudaranya masing-masing mendapatkan 10/66 bagian. Wallahu a’lam.

Category: Dari Grup WA, Warisan | Comments Off on Warisan Untuk Ibu dan Saudara

Boikot Ini Bukan Manhaj Salaf

May 7th, 2014 by Abu Muawiah

Fatwa Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhahullah-

Penanya:
Syaikh kami –semoga Allah selalu menjaga Anda-, termasuk taufiq yang Allah berikan kepada kebanyakan para penuntut ilmu, yaitu menghadiri (kajian) Muqaddimah Shahih Muslim melalui penjelasan Anda. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaedah-kaedah yang disebutkan oleh Imam Muslim menjadi rancu atas sebagian (mereka). Diantara mereka, ada yang mengaplikasikannya terhadap sebagian saudaranya dari kalangan ahli sunnah.

Apabila ada seorang ulama berijtihad membid’ahkan seseorang, namun (ulama) yang lain menyelisihinya, maka mereka mengharuskan yang selain mereka untuk membid’ahkannya. Kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka, lantas mereka pun memboikotnya dan memperingatkan manusia agar menjauh darinya, dengan keyakinan bahwa inilah manhaj Salaf.

Padahal akidah kedua belah pihak adalah satu dan manhaj keduanya juga satu. Sementara di sebagian besar negeri mereka ini sudah tersebar kesyirikan, perbuatan sihir, dan tasawwuf. Apa nasehat (Syaikh) yang dapat menjelaskan kebenaran dan mempersatukan barisan? Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Boikot Ini Bukan Manhaj Salaf

Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram

May 3rd, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu ‘alaikum. Afwan ana mau tanya ustadz, apa keterangan yg shahih kalau kita berbuat zalim di bulan haram dosanya dilipat gandakan? Jazakallah khoir

Jawab:
Waalaikumussalam.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • berbuat dosa di bulan haram

Category: Dari Grup WA, Tahukah Anda? | Comments Off on Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram