Archive for March, 2014

Tidak Boleh Safar Ibadah Kecuali ke Ketiga Masjid

March 28th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamualaikum wr. Wb. Mohon penjelasan mengenai makna hadis yg artinya kurang lebih “Tdk boleh mengadakan safar kecuali 3 masjid”. Apkh perjalanan khusus dalam rngka ibadah? Dan apakah klo kita mengadakan perjalanan k jakarta misalnya krn ingin melihat/tau jakarta jadi salah? جَزَاك اللّهُ خَيْرًا

Jawab:
Waalaikumussalam.
Hadits yg dimaksud adl hadits Abu Hurairah riwayat al Bukhari dan Muslim:
لا تُشَدُّ الرِّحالُ إلا إلى ثلاثةِ مساجدَ : المسجدِ الحَرامِ، ومسجدِ الرسولِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، ومسجدِ الأقصى .
“Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali menuju ke ketiga masjid: Masjid al Haram, masjid ar Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan masjid al Aqsha.”

Para ulama yg mensyarah hadits tersebut menjelaskan bahwa yg dimaksud di situ adl perjalanan dlm rangka ibadah. Sehingga maksudnya: Tidak boleh mengadakan perjalanan dgn niat untuk beribadah kpd Allah di daerah tujuannya, kecuali jika tujuannya adl salah satu dr 3 masjid yg mulai di atas.
Karenanya, apa yg anda sebutkan sbg contoh di atas berupa perjalanan ke Jakarta tanpa niat ibadah, mk itu tdk termasuk dlm larangan hadits tersebut. Wallahu a’lam

Category: Dari Grup WA, Hadits | Comments Off on Tidak Boleh Safar Ibadah Kecuali ke Ketiga Masjid

Shalat Sunnah di Tengah Hari Pada Hari Jumat

March 24th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسـم الله
Ustadz, salah satu sunnah menghadiri sholat jum’at yaitu sholat sunnah (mutlak) semampunya sampai khotib naik mimbar. Bagaimana dengan waktu terlarang (matahari tepat di atas) sementara khotib belum naik mimbar apakah harus berhenti sholat (mutlak)?
شكرا ustadz, بارك الله فيـك

Jawab:
Dari Salman al Farisi radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا يغتسِلُ رجلٌ يومَ الجمُعةِ، ويتطَهَّرُ ما استطاع من طُهرٍ، ويدَّهِنُ من دُهنِه، أو يَمَسُّ من طِيبِ بيتِه، ثم يَخرُجُ فلا يُفَرِّقُ بين اثنين، ثم يصلِّي ما كُتِبَ له، ثم يُنصِتُ إذا تكلَّمَ الإمامُ، إلا غُفِرَ له ما بينه وبين الجمُعة الأخرَى .
“Tidak ada seseorg yg mandi pd hr jumat, bersuci semampunya, memakai minyak (rambut), atau memakai wewangian, kemudian dia keluar (menuju masjid). Di masjid, dia tdk memisahkan di antara 2 org (yg duduk). Kemudian dia mengerjakan shalat (sunnah) semampunya. Kemudian dia diam tatkala imam berkhutbah. Tidak ada org yg melakukan semua itu kecuali akan diampuni dosanya antara jumat itu dgn jumat depannya.” (HR. Al Bukhari no. 883)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya shalat sunnah mutlak di saat matahari tepat di tengah langit pd hari jumat. Hal itu krn akhir pembolehan shalat sunnah ini adl dgn datangnya imam, yaitu pd saat matahari tergelincir ke barat. Demikian penjelasan dr al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dlm at Talkhish. Wallahu a’lam

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Shalat Sunnah di Tengah Hari Pada Hari Jumat

Kesalahan: Meninggalkan Shalat Karena Belum Mandi Suci

March 20th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Sholat wajib itu tidak ada qodho ya? Sore hari ana baru mandi suci dari haidh dan ternyata sudah bersih semenjak pagi tadi (pagi sebelum berangkat sekolah masih ada kecoklatan) jadi belum mandi suci, sedang pagi sampai sore ana mengajar di sekolah. Jadi gimana ya sholat zuhur dan asar nya?

Jawab:
Pertama, jelas anda telah melakukan kesalahan karena tidak segera bersuci ketika sudah suci dari haid, sehingga anda tidak bisa mengerjakan shalat.

Kedua, jika memang tidak bisa mandi menjadi alasan yang dibenarkan saat itu, maka sebenarnya anda bisa cukup bertayammum kemudian shalat. Apalagi jika anda suci pada saat waktu zuhur hampir habis. Karena seseorang diperbolehkan bertayammum -walaupun ada air- untuk mengejar pelaksanaan suatu kewajiban yang akan habis waktunya, dimana jika dia menunggu mandi/wudhu, waktunya akan habis. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Kesalahan: Meninggalkan Shalat Karena Belum Mandi Suci

Bocoran Kunci Jawaban Ujian Dalam Kubur

March 16th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Pak ustad pertanyaan di dalam kubur itu seperti apa ya?

Jawab:
Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أن رسول صلى الله عليه وسلم قال : إن العبد إذا وضع في قبره ، وتولى عنه أصحابه ، وإنه ليسمع قرع نعالهم ، أتاه ملكان ، فيقعدانه فيقولان : ما كنت تقول في هذا الرجل ، لمحمد صلى الله عليه وسلم ، فأما المؤمن فيقول : أشهد أنه عبد الله ورسوله ، فيقال له : انظر إلى مقعدك من النار ، قد أبدلك الله به مقعدا من الجنة ، فيراهما جميعا . قال قتادة وذكر لنا : أنه يفسح في قبره ، ثم رجع إلى حديث أنس ، قال : وأما المنافق والكافر فيقال له : ما كنت تقول في هذا الرجل ؟ فيقول : لا أدري ، كنت أقول ما يقول الناس ، فيقال : لا دريت ولا تليت ، ويضرب بمطارق من حديد ضربة ، فيصيح صيحة ، يسمعها من يليه غير الثقلين .
“Sesungguhnya apabila seseorang telah dimasukkan ke dalam kubur, dan teman-temannya telah pergi meninggalkannya, dia benar-benar mendengar suara gesekan sandal mereka. Maka datanglah dua malaikat. Keduanya menyuruhnya duduk seraya berkata kepadanya, “Apa yang kamu katakan tentang orang ini, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Adapun orang mukmin, dia menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Lihatlah tempatmu di neraka, Allah telah menggantinya untukmu dengan suatu tempat di surga.” Maka dia melihat kedua tempat itu semuanya.”
Qatadah berkata, “Telah disebutkan kepada kami, bahwa mayit itu dilapangkan kuburnya.
Kemudian Qatadah kembali kepada hadits Anas di atas, dia berkata,
“Adapun orang munafik dan kafir ditanya, “Apa yang kamu katakan tentang orang ini?” Maka dia jawab, “Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan seperti kata orang-orang.” Maka dikatakanlah kepadanya, “Kamu tidak tahu,dan kamu tidak membaca.” Lalu dia dipukul dengan palu-palu dari besi sekali pukul antara kedua telinganya. Maka menjeritlah dia dengan jeritan yang terdengar oleh makhluk-makhluk di sekelilingnya, kecuali jin dan manusia.” Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | Comments Off on Bocoran Kunci Jawaban Ujian Dalam Kubur

Menyumbang Untuk Narapidana Adalah Sedekah

March 12th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Ingin tanya mengenai kasus sutinah TKI yang akan dihukum mati. Dengan kondisi benar2 bersalah apakah boleh kita membela/memberi sumbangan?

Jawab:
Bantuan termasuk bentuk sedekah, dan sedekah tidak terlalu berhubungan dengan kondisi orang yang akan disedekahi. Hal itu karena siapa saja boleh menerima sedekah, dan semua sedekah itu bernilai pahala di sisi Allah -jika pahalanya diterima-, sampai walaupun yang menerima sedekah adalah orang kaya atau orang yang tidak membutuhkan.

Karenanya, berkenaan dengan kasus Sutinah, terlepas dia akan dijatuhi hukuman mati atau tidak, maka pada asalnya tidak ada salahnya bersedekah kepadanya:
Jika dia dimaafkan oleh wali korban dan dia harus membayar diyat -seperti kondisi sekarang-, maka bantuan itu akan sangat membantu. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA | Comments Off on Menyumbang Untuk Narapidana Adalah Sedekah

Bolehkah Meruqyah Dengan Rekaman?

March 8th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bisakah kita meruqyah rumah dengan murotal dari radio atau cd? Jazaakallohu khoiran

Jawab:
Meruqyah adalah membaca alquran atau doa-doa perlindungan yg shahih dengan tujuan penyembuhan dari penyakit. Dan sudah dimaklumi bersama bahwa di antara sebab besar berhasilnya ruqyah adalah pemahaman dan pendalaman orang yang meruqyah terhadap apa yang dia baca. Karenanya orang yang meruqyah hendaknya orang yang memahami apa yg dia baca.
Karena itulah, termasuk kekeliruan dalam meruqyah adalah meruqyah dengan memutar rekaman alquran atau doa. Hal itu karena rekaman adalah benda mati yang tidak mempunyai hati untuk mengetahui dan memahami apa yang diputar tersebut. Wallahu a’lam.

Category: Dari Grup WA | Comments Off on Bolehkah Meruqyah Dengan Rekaman?

Biografi Muhammad bin ‘Abdil Wahhab

March 4th, 2014 by Abu Muawiah

Nasab, Kelahiran, dan Perkembangan Beliau rahimahullah

Beliau adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115H -bertepatan dengan 1703M- di negeri ‘Uyainah, daerah yang terletak di utara kota Riyadh, di mana keluarganya tinggal.

Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau, ‘Abdul Wahhab, yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan ‘Abdullah bin Muhammad bin Hamd bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy-Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.

Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al-Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Di samping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama di sekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cukup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | Comments Off on Biografi Muhammad bin ‘Abdil Wahhab