Archive for November, 2013

Syahkah Azan Anak Kecil?

November 27th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu alaikum. Ustsdz adakah ketentuan atau Dalil jika seorang Muadzin  harus yg sdh Balig? wassalam

Jawab:
Waalaikumussalam.
Azan anak kecil syah, selama dia sdh mumayyiz. Ini adl pendapat yg paling kuat di kalangan ulama, dan ini merupakan pendapat dr Atha’, Asy Sya’bi, Ibnu Abi Laila, Asy Syafii, dan salah satu riwayat dr Ahmad.
Dalilnya adl hadits Abdullah bin Abi Bakr bin Anas dia berkata:
ﻛﺎﻥ ﻋﻤﻮﻣﺘﻲ ﻳﺄﻣﺮﻭﻧﻨﻲ ﺃﻥ ﺃﺅﺫﻥ ﻟﻬﻢ ﻭﺃﻧﺎ ﻏﻼﻡ، ﻭﻟﻢ ﺃﺣﺘﻠﻢ ﻭﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺷﺎﻫﺪ ﻟﻢ ﻳﻨﻜﺮ ﺫﻟﻚ.
Para pamanku pernah menyuruhku untuk mengumandangkan azan, pdhl ketika itu aku masih kecil dan belum balig. Ketika itu Anas bin Malik juga ada di situ, namun beliau tdk mengingkarinya.”
Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughni (1/300), “Kejadian ini terlihat jelas dan tdk samar, namun tdk ada yg mengingkarinya, sehingga ini adl ijma’.”

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Seputar Anak | Comments Off on Syahkah Azan Anak Kecil?

Hukum Makan Daging Kelelawar

November 23rd, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu’alaikum ustadz bagaimana hukum daging kelelawar apakah halal dimakan?

Jawab:
Waalaikumussalam.
Kelelawar tidak boleh dikonsumsi karena kelelawar adl hewan yg tdk bisa disembelih, yg tdk mempunyai darah yg mengalir. Dan semua hewan yg tdk bisa disembelih, matinya adl bamgkai. Sementara Allah tlh mengharamkan bangkai bagi kita kecuali bangkai belalang dan ikan. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Hukum Makan Daging Kelelawar

Kencing yg Tidak Najis

November 19th, 2013 by Abu Muawiah

Bagaimana pendapat anda jika ada seseorg yg shalat sementara di pakaiannya terdapat kencing. Dia mengetahuinya tp sengaja membiarkannya. Namun shalatnya tetap syah dan dia tdk berdosa.

Jawaban:
Karena kencing yg mengenai pakaiannya adl kencing hewan yg halal dimakan. Krn semua kencing dr hewan yg halal dimakan adl suci menurut pendapat yg lbh kuat.
Ini adalah mazhab Al-Malikiah dan Al-Hanabilah, bahkan merupakan pendapat para sahabat seluruhnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam Al-Fatawa Al-Kubra (5/313), “Kencing dan tinja hewan yang boleh dimakan dagingnya adalah suci, tidak ada seorangpun dari para sahabat yang berpendapat najisnya. Bahkan pendapat yang menyatakan najisnya adalah pendapat yang muhdats (baru muncul), tidak ada salafnya dari kalangan para sahabat.” Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Teka Teki Diniah | Comments Off on Kencing yg Tidak Najis

Status Hadits ‘Bunuhlah Rafidhah’

November 15th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Gimana derajat hadist berikut ust. benarkah hadistnya hasan?

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
Wahai Ali, akan muncul sebuah kelompok dari umatku yang berlebihan mencintai kami Ahlul bait, gelar panggilan mereka adalah Rafidhoh. Perangilah mereka karena mereka kaum musyrikin.” (Terjemahannya sdh kami -admin- perbaiki)

(Majma’ Az Zawa’id 10/22, hadist hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al Haithami)

Jawab:
Pertama: Al Haithami tidaklah meriwayatkan hadits itu, namun yg membawakan hadits ini adl Al Haitsami. Itu pun Al Haitsami hanya mentakhrijnya, bkn meriwayatkannya. Karena kitab Majma’ Az Zawaid bukanlah kitab hadits seperti kutub as sittah dan semacamnya, melainkan kitab takhrij. Wallahu a’lam.

Kedua: Lafazh hadits itu dlm bahasa arab sbb:
يا علي، سيكون في أمتي قوم ينتحلون حبنا أهل البيت. ولهم نبز يسمون الرافضة. فاقتلوهم فإنهم مشركون

Ketiga: Status hadits ini: Dhaifun Jiddan (sangat lemah).
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (12998) dan Ibnu Al Jauzi (257)
Ibnu Al Jauzi berkata setelah meriwayatkannya, “Hadits ini tdk shahih, kami sdh sebutkan sebelumnya bahwa tdk ada seorg pun yg mendukung Al Hajjaj dalam haditsnya.”
Kami katakan:
Al Hajjaj yg dimaksud di sini adalah Al Hajjaj bin Tamim, yg menjadi sebab lemahnya hadits ini.
An-Nasai berkata, “Tidak tsiqah.”
Al Uqaili berkata, “Tidak ada yg mengikutinya dlm periwayatan.”
Dari ucapan kedua imam ini, Adz Dzahabi menarik kesimpulan beliau ttg Al Hajjaj, “Sangat lemah.” Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Status Hadits ‘Bunuhlah Rafidhah’

Antara Al Haitami, Ibnu Hajar Al Asqalani, dan Ibnu Hajar Al Haitami

November 11th, 2013 by Abu Muawiah

Perbedaan Antara Al Haitsami (الهيثمي), Ibnu Hajar Al Asqalani (ابن حجر العسقلاني), dan Ibnu Hajar Al Haitami (ابن حجر الهيتمي).

Al Haitsami (الهيثمي) bernama Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman. Beliau lahir pd tahun 735 H dan wafat tahun 807 H. Beliau adl rekan sekaligus murid dan menantu dr Al Hafizh Al Iraqi. Di antara murid beliau yg terkenal adalah Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani.

Ibnu Hajar Al Asqalani (ابن حجر العسقﻻني) nama beliau: Abu Al Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar. Beliau lahir pd tahun 773 H dan wafat pd tahun 852 H. Beliau adl murid dr Adz Dzahabi, Al Hafizh Al Iraqi, dan Al Haitsami yg tersebut di atas. Dan di antara murid beliau adl Al Hafizh As Sakhawi. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Siapakah Dia?, Tahukah Anda? | Comments Off on Antara Al Haitami, Ibnu Hajar Al Asqalani, dan Ibnu Hajar Al Haitami

Hukum Khitan bagi Wanita

November 7th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukum khitan bagi wanita?

Jawab:
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan bagi wanita:
1. Khitan dianjurkan bagi mereka. Namun hal itu bukanlah sunnah apalagi wajib. Jika seorg wanita tdk berkhitan, maka dia tdk boleh dipaksa.
Ini adl mazhab Al Hanafiah dan Al Malikiah.
2. Khitan bagi wanita hukumnya adl sunnah.
Ini adl pendapat dr sebagian ulama Al Hanafiah, Al Malikiah, dan Asy Syafiiyah, dan ini merupakan salah satu riwayat dr Imam Ahmad.
3. Khitan bagi wanita adl wajib.
Ini adl pendapat yg masyhur dlm mazhab Asy Syafiiah dan Al Hanabilah. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Muslimah, Seputar Anak | Comments Off on Hukum Khitan bagi Wanita

Meniatkan Dunia dalam Ibadah

November 3rd, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Bismillah.. Ustadz nau tanya. Bisakah seseorang melakukan suatu amalan dengan niat keutamaan suatu amalan. Meskipun keutamaannya untuk dunia?

Jawab:
Jika itu adl ibadah mahdhah yg murni penghambaan diri kpd Allah, seperti shalat atau puasa, mk meniatkan dunia atau apa saja selain Allah adl kesyirikan.
Adapun jika ibadah itu ada dalil khusus bahwa dia mempunyai pahala duniawiah -semisal menyambung silaturahmi (diluaskan rezki) dan jihad (mendapatkan ghanimah)- maka tetap yg jauh lebih utama, meniatkan ibadah itu hanya tuk Allah semata.
Namun jika dia mengikutkan pdnya niat2 duniawiah -hanya mengikutkan dan bkn menjadi niat asal dan utamanya- maka ibadahnya tetap syah insya Allah. Hanya saja pahalanya berkurang.
Dalil akan hal ini adl hadits riwayat Muslim dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إن الغزاة إذا غنموا غنيمة، تعجلوا ثلثي أجرهم. فإن لم يغنموا شيئا، تم لهم أجرهم
“Sesungguhnya pejuang jihad, jika mereka mengambil ghanimah, maka 2/3 pahala mereka sdh disegerakan di dunia. Dan jika mereka tdk mengambil ghanimah, maka pahala mereka sempurna.” Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA | Comments Off on Meniatkan Dunia dalam Ibadah