Archive for March, 2013

Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

March 27th, 2013 by Abu Muawiah

Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

وعن النواس بن سمعان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة – أو قال رعدة – شديدة خوفا من الله (؛ فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا، وخروا لله سجدا. فيكون أول من يرفع رأسه جبريل، فيكلمه الله من وحيه بما أراد. ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها: ماذا قال ربنا يا جبريل؟ فيقول جبريل قال الحق وهو العلي الكبير فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل فينتهي جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله)

Dari Nawwaas bin Sam’aan radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Apabila Allah ta’ala hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena rasa takut kepada Allah. Lalu apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya : ’Apakah yang telah difirmankan Tuhan kita wahai Jibril ?’. Jibril menjawab : ’Dia firmankan yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan oleh Jibril tersebut. Demikianlah, sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (no. 206), Ibnu Abi ’Aashim dalam As-Sunnah (no. 515), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (5/152), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini adalah dla’if karena :

1.    Nu’aim bin Hammaad, ia seorang perawi yang jelek hafalannya. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqriib : ”Shaduuq, yukhthi’ katsiiran (jujur, namun banyak salahnya”.

2.    Al-Waliid bin Muslim. Ia seorang mudallis yang melakukan tadlis taswiyah dengan periwayatan secara ’an’anah.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul-Jannah (hal. 226-227 no. 515) dan Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 359-360 no. 527).

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

March 20th, 2013 by Abu Muawiah

Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

وعن أبي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “قال موسى: يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال: قل يا موسى: لا إله إلا الله ; قال: يا رب كل عبادك يقولون هذا. قال: يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله”. رواه ابن حبان والحاكم وصححه

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Musa berkata : “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman : “Katakanlah wahai Musa : Laa ilaaha illallaah”. Musa berkata : Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini”. Allah pun berfirman : ”Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang ’Laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain; maka ’Laa ilaaha illallaah’ niscaya lebih berat timbangannya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Haakim, dan ia menshahihkannya.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6218) dan Al-Mawaarid (no. 2324), serta Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/528). Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/327-328), An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 834, 1141), Al-Baihaqi dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat (102-103), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Darraaj bin Sam’aan. Al-Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudriy adalah lemah”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (9/54-55 no. 6185), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/718 no. 1988), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban (no. 6218).

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?

March 13th, 2013 by Abu Muawiah

Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ عِيسَى، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ، عَنِ الْمُهَاجِرِ الشَّامِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ فِي حَدِيثِ شَرِيكٍ يَرْفَعُهُ، قَالَ: ” مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ زَادَ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ “،

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، قَالَ: ثَوْبَ مَذَلَّةٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa[1] : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah[2] (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa, dar Syariik[3], dari ‘Utsmaan bin Abi Zur’ah[4], dari Al-Muhaajir Asy-Syaamiy[5], dari Ibnu ‘Umar, ia berkata (secara mauquuf) – dan dalam hadits Syariik ia memarfu’kannya – beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” – dan dalam riwayat Abu ‘Awaanah terdapat tambahan : “kemudian akan dibakar padanya di dalam neraka”.

 

Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami, ia berkata : “Yaitu pakaian kehinaan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4029].

Abu Haatim Ar-Raaziy mentarjih bahwa riwayat mauquuf lebih shahih.[6] ‘Utsmaan bin Abi Zur’ah  dalam periwayatan marfuu’ telah diselisihi oleh Al-Laits bin Abi Sulaim, sedangkan ia seorang yang dla’iif. Oleh karena itu, riwayat marfuu’ ini mahfuudh. Wallaahu a’lam.

Mengomentari hadits di atas, As-Sindiy rahimahullah berkata :

مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا يَقْصِد بِهِ الِاشْتِهَار بَيْن النَّاس ، سَوَاء كَانَ الثَّوْب نَفِيسًا يَلْبَسهُ تَفَاخُرًا بِالدُّنْيَا وَزِينَتهَا ، أَوْ خَسِيسًا يَلْبَسهُ إِظْهَارًا لِلزُّهْدِ وَالرِّيَاء

“Yaitu : Orang yang memakai pakaian dengan tujuan kemasyhuran/kepopuleran di antara manusia. Sama saja, apakah pakaian itu bagus yang dipakai untuk berbangga-bangga dengan dunia dan perhiasannya, atau pakaian itu hina/jelek yang dipakai untuk menampakkan kezuhudan dan riyaa’ (di hadapan manusia)” [Hasyiyyah As-Sindiy ‘alaa Sunan Ibni Maajah, sumber : http://www.yanabi.com/Hadith.aspx?HadithID=30403].

Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :

قال ابن الأثير : الشهرة ظهور الشيء والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم بالعجب والتكبر

“Ibnul-Atsiir berkata : ‘Asy-Syuhrah adalah tampaknya sesuatu. Maksudnya bahwa pakaiannya populer di antara manusia karena warnanya yang berbeda sehingga orang-orang mengangkat pandangan mereka (kepadanya). Dan ia menjadi sombong terhadap mereka karena bangga dan takabur” [Nailul-Authaar, 2/111 – via Syamilah]. Read the rest of this entry »

Category: Syubhat & Jawabannya, Tanpa Kategori | 1 Comment »

Bermain Catur – Playing Chess !!

March 6th, 2013 by Abu Muawiah

Bermain Catur – Playing Chess !!

Tanya : Apa hukum bermain catur ?
Jawab :
Pada asalnya, semua permainan adalah mubah (boleh) selama tidak melalaikan. Fenomena orang yang bermain catur pada umumnya akan tergambar hal-hal sebagai berikut :
1. Menghabiskan waktu dengan sia-sia (dan ini yang utama).
2. Mengundur-undur waktu shalat
3. Mengeluarkan perkataan-perkataan yang kurang terpuji (terutama ketika mengalami kekalahan).
4. (Kadang) disertai dengan judi.

Dari gambaran tersebut, maka dapat diketahui bahwa sebenarnya catur bukanlah merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi jiwa ataupun badan. Atas dasar itu, banyak ulama terdahulu yang sangat membenci permainan catur. Diantaranya adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
وإذا قدر خلوها من ذلك كله ‏(‏يريد الشغل عن الواجبات وفعل المحرمات‏)‏ فالمنقول عن الصحابة المنع من ذلك وصح عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه مر بقوم يلعبون بالشطرنج فقال‏:‏ ‏(‏ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون‏)‏ شبههم بالعاكفين على الأصنام كما في المسند عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال‏:‏ ‏(‏شارب الخمر كعابد وثن‏)‏ والخمر والميسر قرينان في كتاب الله تعالى وكذلك النهي عنها معروف عن ابن عمر وغيره من الصحابة‏.‏ والمنقول عن أبي حنيفة وأصحابه وأحمد وأصحابه تحريمها‏.‏ وأما الشافعي فإنه قال‏:‏ أكره اللعب بها للخبر واللعب بالشطرنج والحمام بغير قمار وإن كرهناه أخف حالا من النرد ‏……
“Misalnya kita tetapkan bahwa permainan catur itu bebas dari itu semua – maksudnya tidak melalaikan kewajiban dan tidak akan melakukan hal yang haram – maka larangan perbuatan itu ditetapkan oleh shahabat. Sebagaimana yang shahih dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu, bahwa beliau pernah menjumpai kaum yang sedang bermain catur. Lalu beliau mengatakan : “Mengapa kamu beri’tikaf berdiam merenungi patung-patung ini?”. Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu menyamakan mereka itu seperti orang yang ber-i’tikaf kepada patung, sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Syaaribul-khamru ka-‘aabidi watsan” (= Peminum khamr itu seperti penyembah patung). Padahal khamr dan judi itu selalu bergandengan disebut di dalam Al-Qur’an. Demikian itu juga larangan itu dinyatakan oleh Ibnu ‘Umar dan yang lain. Begitu pula yang ternukil dari Abu Hanifah serta shahabatnya, dan Imam Ahmad bersama shahabatnya yang mengharamkan permainan catur. Adapun Asy-Syafi’i beliau pernah berkata : “Permainan yang paling kubenci yaitu obrolan, permainan catur, dan permainan burung dara sekalipun tanpa perjudian. Sekalipun kebencian kami kepada permainan itu lebih ringan daripada permainan dadu….”

Selanjutnya beliau mengatakan :
‏والبيهقي أعلم أصحاب الشافعي بالحديث ذكر إجماع الصحابة على المنع منه – أي الشطرنج – ولم يحك عن الصحابة في ذلك نزاعا ومن نقل عن أحد من الصحابة أنه رخص فيه فهو غالط‏)‏‏.‏‏
“Dan Al-Baihaqi adalah orang yang paling tahu tentang hadits di antara para pengikut Asy-Syafi’iy. Beliau menyebutkan bahwa para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah sepakat mengharamkan permainan catur ini. Tidak ada seorang pun yang menentang pendapatnya dalam hal ini. Siapa yang mengatakan bahwa ada salah seorang shahabat membolehkan permainan ini, maka itu adalah salah” [Lihat selengkapnya dalam Majmu’ Fatawaa Ibni Taimiyyah 32/216–245]. Read the rest of this entry »

Category: Tahukah Anda? | Comments Off on Bermain Catur – Playing Chess !!