Archive for August, 2012

Tempat – Tempat Terjadinya Sujud Tilawah

August 30th, 2012 by Abu Muawiah

Tempat – Tempat Terjadinya Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sebuah sunnah yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabat -radhiyallahu anhum-. Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan saat membaca atau mendengarkan suatu ayat diantara ayat-ayat sajdah, yakni ayat-ayat yang menjelaskan tentang sujud di dalam Al-Qur’an dan jumlahnya ada lima belas ayat. [Lihat At-Tibyan (hal. 127-129) karya An-Nawawiy, cet. Maktabah Ibnu Abbas, 1416]

Sunnah ini banyak dilupakan dan ditinggalkan oleh kaum muslimin, karena banyak diantara mereka yang tidak mengetahui posisi sujud tilawah di dalam Al-Qur’an Al-Karim, sehingga perlu kiranya kita mengetahui tempat-tempat disunnahkan bagi kita untuk bersujud padanya saat membaca dan melewati tempat-tempat itu di dalam Al-Qur’an Al-Azhim.

Paraulama telah menerangkan bahwa ayat sajdah yang merupakan tempat-tempat sujud tilawah, ada yang disepakati sebagai ayat sajdah dan ada yang diperselisihkan, namun dalilnya shohih sebagai ayat sajdah yang dianjurkan padanya untuk bersujud. [Lihat Syarhu Ma’anil Atsar (1/359), At-Tamhid (19/131) dan Al-Muhalla (5/151)]

Diantara ayat-ayat yang disepakati sebagai ayat-ayat sajdah: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • baca surah apa saja yg di sunahkan untuk sujud

Category: Fiqh | Comments Off on Tempat – Tempat Terjadinya Sujud Tilawah

Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah? [part II]

August 27th, 2012 by Abu Muawiah

Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah? [part II]

Awal shalat adalah takbir, bukan melafazhkan niat
Takbir  merupakan awal gerakan dan perbuatan yang dilakukan dalam shalat, tapi tentunya didahului adanya niat, maksud dan keinginan untuk shalat, tanpa melafazhkan niat karena niat merupakan pekerjaan hati. Kalau niat dilafazhkan, maka tidak lagi disebut “niat”, tapi disebut “an-nuthq” atau “at-talaffuzh”, artinya “mengucapkan”. Semoga dipahami, ini penting !!

Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan takbir merupakan awal gerakan shalat, tanpa didahului melafazhkan dan mengeraskan niat. Diantara dalil-dalil tersebut:

Dari Ummul Mu’minin A’isyah Rodhiyallahu anha berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَلاَةَ بِالتَكْبِيْرِ

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- membuka shalatnya dengan takbir”. [HR. Muslim dalam Ash-Shahih (498)]

Hadits ini menunjukkan bahwa beliau membuka shalatnya dengan melafazhkan takbir, bukan melafazhkan niat atau sejenisnya yang biasa dilakukan oleh sebagian orang yang tidak paham agama, seperti melafazhkan ta’awwudz, basmalah atau dzikir yang berbunyi, “ilaika anta maqshudi waridhaka anta mathlubi” (artinya, “Tujuanku hanyalah kepada-Mu, dan ridha-Mu yang aku cari”). Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah? [part II]

Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah? [part I]

August 24th, 2012 by Abu Muawiah

Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah?

Ada sebuah fenomena yang jarang mendapatkan sorotan oleh kebanyakan orang, karena ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya, di antaranya adalah faktor taqlid, jahil terhadap agama, banyaknya orang yang melakukannya sehingga sudah menjadi sebuah adat yang mendarah-daging, sulit dihilangkan, kecuali jika Allah menghendakinya. Sehingga terkadang menjadi sebab perselisihan, perseteruan dan permusuhan di kalangan kaum muslimin sendiri. Di antara fenomena tersebut, tersebarnya kebiasaan “melafazhkan niat”  ketika  hendak melaksanakan ibadah, utamanya shalat.

    Definisi Niat

Kalau kita membuka kitab-kitab kamus berbahasa arab, maka kita akan jumpai ulama bahasa akan memberikan definisi tertentu bagi niat.

Ibnu Manzhur -rahimahullah-  berkata, “Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Sedang niat adalah arah yang dituju”. [Lihat dalam Lisan Al-Arab (15/347)]

Imam Ibnu Manzhur -rahimahullah- juga berkata, “Jadi niat itu merupakan amalan hati yang bisa berguna bagi orang yang berniat, sekalipun ia tidak mengerjakan amalan itu. Sedang penunaian amalan tidak berguna baginya tanpa adanya niat. Inilah makna ucapannya: Niat seseorang lebih baik daripada amalannya”. [Lihat Lisan Al-Arab (15/349)]

Dari ucapan ulama bahasa ini, bisa kita simpulkan bahwa niat adalah maksud dan keinginan seseorang untuk melakukan suatu amalan dan pekerjaan. Jadi niat itu merupakan amalan hati. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Melafazhkan Niat Mazhab Syafi’iyah? [part I]

Kaifiah Sholat Jamak Taqdim

August 21st, 2012 by Abu Muawiah

Kaifiah Sholat Jamak Taqdim
Oleh: Ustadz Abdul Qodir -Hafizhohulloh-

Salah satu sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin pada hari ini adalah sholat jamak taqdim di saat safar.

Jamak taqdim (جَمْعُ التَّقْدِيْمِ) artinya dua sholat di-jamak (digabung) dalam sebuah waktu, namun waktunya di-taqdim (dimajukan), misalnya saat hendak safar waktu sholat Zhuhur telah masuk. Jadi, anda sebaiknya sholat Zhuhur dulu. Setelah itu anda bangkit lagi untuk melaksanakan sholat Ashar di waktu Zhuhur. Sunnahnya, dua sholat yang digabung dalam satu waktu itu di antarai oleh iqomat. Demikian pula sholat Maghrib dikerjakan di waktu Maghrib, lalu diiringi oleh sholat Isya’ yang dikerjakan juga di waktu Maghrib. Adapun sholat Shubuh, maka ia tak dijamak.[1]

Dari Mu’adz bin Jabal -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيهِمَا جَمِيعًا وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ سَارَ وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلاَّهَا مَعَ الْمَغْرِبِ.

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dulu dalam Perang Tabuk, jika beliau berangkat sebelum tergelincirnya matahari[2], maka beliau mengakhirkan Sholat Zhuhur sampai beliau menjamaknya pada waktu Ashar. Kemudian beliau pun melaksanakan keduanya sekaligus. Jika beliau berangkat setelah tergelincirnya matahari, maka beliau sholat Zhuhur dan Ashar sekaligus. Setelah itu berjalan (berangkat). Bila beliau berangkat sebelum Maghrib, maka beliau akhirkan Sholat Maghrib sampai beliau melakukannya bersama Isya’. Jika berangkat usai Maghrib, maka beliau menyegerakan (memajukan) Sholat Isya’, sehingga beliau melakukannya bersama Sholat Maghrib”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 1220) dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (553). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa’ Al-Gholil (578)] Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • tertib Shalat jamak takhir sesuai sunnah

Category: Fiqh | Comments Off on Kaifiah Sholat Jamak Taqdim

Doa Penting Bagi Para Musafir

August 18th, 2012 by Abu Muawiah

Doa Penting Bagi Para Musafir

Salah satu adab safar yang sering dilupakan oleh para saudara kita, ucapan doa yang disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan diajarkan kepada para sahabat. Doa yang amat dibutuhkan oleh seorang dalam safar dan kehidupannya, baik di dunia, maupun di akhirat.

Seorang ulama tabi’in, Qoza’ah bin Yahya Al-Bashriy -rahimahullah- menuturkan,

قَالَ لِى ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

Ibnu Umar pernah berkata kepadaku, “Kemarilah!! Aku akan mengucapkan selamat kepadamu sebagaimana halnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengucapkan selamat kepadaku,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 2600), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (2/97/no. 2476), Ahmad dalam Al-Musnad (2/25/no. 4781) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/314-316)]

Hadits yang agung ini mengajarkan kepada kita doa yang amat bermanfaat dalam safar kita, doa perlindungan bagi seorang yang bersafar.

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Sabdanya, “Aku titipkan kepada Allah…”, ia merupakan permintaan penjagaan titipan. Di dalamnya terdapat semacam penitipan. Seseorang menjadikan agama dan amanahnya sebagai barang titipan. Karena, safar itu di dalamnya manusia akan tertimpa sesuatu berupa perkara yang memberatkan dan rasa takut, sehingga hal itu menjadi sebab bagi penelantaran sebagian urusan agama. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan pertolongan dan taufiq bagi orang yang safar”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/284)] Read the rest of this entry »

Category: Zikir & Doa | 1 Comment »

Saatnya Wanita Tinggal di Rumah

August 15th, 2012 by Abu Muawiah

Saatnya Wanita Tinggal di Rumah

Ketika kami dalam sebuah perjalanan, mata kami tertuju pada sebuah baliho yang besar dengan sebuah pesan yang aneh. Di baliho tersebut terpampang gambar seorang wanita yang tersenyum manis berslogan “saatnya wanita memimpin!!”. Hal ini membuat hati kami  merasa aneh dan khawatir. Sebab slogan ini mendorong para wanita untuk keluar dari rumahnya dan berikut bekerja, bahkan menjadi pemimpin!!! Ini akan mengantarkan kita kepada suatu kerugian dan menghilangkan keberuntungan dunia-akhirat!!!!

Nabi -Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam- bersabda saat mendengar berita bahwa bangsa Persia mengangkat pemimpin dari kalangan wanita,

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

“Tidak beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan)nya kepada seorang wanita” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (4425)]

Pembaca yang budiman, jika membaca hadits di atas, maka seolah-olah Islam  mengungkung hak wanita sebagaimana yang sering diteriakkan oleh para pejuang emansipasi!! Padahal Islam pada hakikatnya tidak pernah membelenggu kebebasan kaum wanita. Bahkan Islam telah memberikan hak-hak yang tidak diberikan oleh agama manapun. Perlu diketahui bahwa Islam sebenarnya telah memberikan kebebasan bagi wanita, bahkan manusia seluruhnya. Namun kebebasan tersebut tentunya diatur oleh syariat. Jadi, di dalam Islam tak ada kebebasan mutlak, tanpa aturan. Sebab, kebebasan mutlak tanpa aturan hanyalah berlaku dalam dunia hewan. Lantaran itu, tak boleh bagi kita meneriakkan slogan kebebasan hak asasi manusia, lalu kita menginginkan dengannya kebebasan mutlak, tanpa diikat oleh syariat. Kebebasan semacam ini hanya ada dalam dunia hewan yang tak berakal!!!

Islam memandang -baik laki-laki, maupun wanita- mempunyai kelebihan masing-masing, yang keduanya saling melengkapi. Lelaki diberi kekuatan pikiran, dan wanita diberi kepekaan rasa. Lelaki cenderung mempunyai kekuatan fisik yang lebih dibanding wanita, sedangkan wanita cenderung mempunyai kekuatan magnetis tubuh (aurat) yang lebih daripada lelaki. Kekuatan inilah yang biasa menjatuhkan kaum pria. Tapi dengan adanya kelebihan masing-masing, jangan dipahami bahwa keduanya sama derajat dan posisinya. Tentu jenis pria lebih utama atas jenis wanita secara umum.

Para pembaca yang budiman, fitnah (godaan) yang paling besar bagi manusia adalah wanita.  Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْث

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang”. (Q.S. Ali Imraan : 14). Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Saatnya Wanita Tinggal di Rumah

Keutamaan Memberi Makan

August 12th, 2012 by Abu Muawiah

Fadhilah Memberi Makan
Oleh: Ust. Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhohulloh-

Memberi Makan merupakan sebuah adab yang sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin di hari ini. Padahal di zaman ini banyak diantara kaum muslimin yang membutuhkan makan.

Memberi makan –selain memiliki pahala besar-, ia juga merupakan sebab kedekatan dan eratnya hubungan seorang muslimin dengan tetangga dan saudara serta kerabat-kerabatnya.

Memberi makan kepada manusia (apalagi kepada fakir-miskin) merupakan tanda pedulinya seseorang kepada sesama manusia dan tingginya solidaritas. Tak heran jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggelarinya sebagai “manusia terbaik”.

Silakan dengarkan kisah berikut ini. Kisah yang menunjukkan keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dari Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu anhu- bahwa ia berkata kepada Shuhaib,

إِنَّكَ لَرَجُلٌ لَوْلاَ خِصَالٌ ثَلاَثَةٌ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ ، وَانْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ ، وَفِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ . قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، أَمَّا قَوْلُكَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي أَبَا يَحْيَى ، وَأَمَّا قَوْلُكُ : انْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ فَإِنِّي رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ اسْتُبِيتُ مِنَ الْمَوْصِلِ بَعْدَ أَنْ كُنْتُ غُلاَمًا قَدْ عَرَفْتُ أَهْلِي وَنَسَبِي ، وَأَمَّا قَوْلُكَ : فِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang lelaki (yang hebat), andaikan bukan karena tiga perkara”. Shuhaib bertanya, “Apa tiga hal itu?” Umar berkata, “Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak. Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi dan pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | Comments Off on Keutamaan Memberi Makan

TAFSIR SURAH AN-NAS

August 9th, 2012 by Abu Muawiah

TAFSIR SURAH AN-NAS

Makkiyah

 Bismillahirrahmanirrahim

“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Sifat-sifat ini termasuk di antara sifat-sifat Rabb U: Rububiyah (keRabban), kekuasaan, dan ilahiyah (sembahan). Maka Allah adalah Rabb, penguasa, dan sembahan segala sesuatu, segala sesuatu adalah makhluk-Nya, dikuasai oleh-Nya, dan hamba-Nya. Allah memerintahkan orang yang memohon perlindungan untuk meminta perlindungan hanya kepada yang bersifat dengan sifat-sifat ini, dari kejelekan was-was dari Khannas, dia adalah setan yang menyertai manusia. Karena, tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali dia mempunyai qarin (yang mengikutinya dari kalangan setan) yang menghias-hiasi kekejian itu di hadapannya dan dia tidak perduli walau harus mengerahkan semua kemampuannya untuk memberikan khayalan-khayalan, dan yang selamat hanyalah siapa yang Allah selamatkan. Telah tsabit dalam Ash-Shahih bahwa beliau r bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ. قَالُوا: وَأنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah diikutkan padanya temannya dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Anda juga wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Iya, hanya saja Allah telah menolong saya untuk mengatasinya, sehingga dia pun masuk Islam, dan dia tidak memerintah saya kecuali dengan kebaikan.[1]

Juga telah tsabit dalam Ash-Shahih dari Anas, tentang kisah kunjungan Shafiyah kepada Nabi r ketika beliau sedang melakukan i’tikaf, lalu beliau keluar bersamanya (Shafiyah) pada malam hari untuk mengantarnya ke rumahnya. Tiba-tiba ada dua orang Anshar yang menjumpai beliau, tatkala keduanya melihat Nabi r, mereka mempercepat langkah. Maka Rasulullah r bersabda:

عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ. فَقَالَا: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ, وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا -أَوْ قَالَ شَرًّا-

“Pelan-pelanlah kalian, sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah bintu Huyaiy.” Keduanya lalu berkata, “Subhanallah wahai Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh anak Adam seperti mrngalirnya darah, dan saya khawatir kalau-kalau dia melemparkan sesuatu -atau beliau berkata: Kejelekan- ke dalam hati kalian berdua.[2]Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • penafsiran surah an nas pdf

Category: Ilmu al-Qur`an | Comments Off on TAFSIR SURAH AN-NAS

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

August 6th, 2012 by Abu Muawiah

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

Jangan meyebarluaskan penolakan imunisasi

Merupakan tindakan yang kurang bijak bagi mereka yang menolak imunisasi, menyebarkan keyakinan mereka secara luas di media-media, memprovokasi agar menolak keras imunisasi dan vaksin, bahkan menjelek-jelekkan pemerintah. Sehingga membuat keresahan dimasyarakat. Karena bertentangan dengan pemerintah yang membuat dan mendukung program imunisasi.

Hendaknya ia menerapkan penolakan secara sembunyi-sembunyi. Sebagaimana kasus jika seseorang melihat hilal Ramadhan dengan jelas dan sangat yakin, kemudian persaksiannya ditolak oleh pemerintah. Pemerintah belum mengumumkan besok puasa, maka hendaknya ia puasa sembunyi-sembunyi besok harinya dan jangan membuat keresahan di masyarakat dengan mengumumkan dan menyebarluaskan persaksiannya akan hilal, padahal sudah ditolak oleh pemerintah. Karena hal ini akan membuat perpecahan dan keresahan di masyarakat.

Islam mengajarkan kita agar tidak langsung menyebarluaskan setiap berita atau isu ke masyarakat secara umum. Hendaklah kita jangan mudah termakan berita yang kurang jelas atau isu murahan kemudian ikut-kutan menyebarkannya padahal ilmu kita terbatas mengenai hal tersebut. Hendaklah kita menyerahkan kepada kepada ahli dan tokoh yang berwenang untuk menindak lanjuti, meneliti, mengkaji, dan menelaah berita atau isu tersebut. Kemudian merekalah yang lebih mengetahui dan mempertimbangkan apakah berita ini perlu diekspos atau disembunyikan.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa: 83] Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah, Seputar Anak, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]

August 3rd, 2012 by Abu Muawiah

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]

Tuntas bagi kami pribadi, saat ini dan “mungkin” sementara karena bisa jadi suatu saat kami mendapat tambahan informasi baru. Kami hanya ingin membagi kelegaan ini setalah berlama-lama berada dalam kebingungan pro-kontra imunisasi. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at. Apalagi kami sering mendapat pertanyaan karena kami pribadi berlatar belakang pendidikan kedokteran. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at inilah yang mengetuk hati kami untuk menelitinya lebih dalam. Karena prinsip seorang muslim adalah apa yang agama syari’atkan mengenai hal ini dan hal itu.

Sebagai seorang muslim, semua jalan keluar telah diberikan oleh agama islam. Oleh karena itu kami berupaya kembali kepada Allah dan rasul-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” [An-Nisa-59]

Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa imunisasi dan vaksinasi adalah suatu hal yang berbeda dimana sering terjadi kerancuan.

-Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh] secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.

-Vaksinasi: pemberian vaksin [antigen dari virus/bakteri] yang dapat merangsang imunitas [antibodi] dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”.

[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes] Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah, Seputar Anak, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]