Archive for April, 2012

Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak

April 12th, 2012 by Abu Muawiah

Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak

Tahukah anda nama-nama sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits? Dan tahukah anda berapa jumlah hadits yang telah mereka riwayatkan?

Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Al-Muntaqa min Fara`id Al-Fawa`id hal. 157-158:

Para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits:
1. Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 5374 hadits.
2. Aisyah radhiallahu anha, beliau meriwayatkan 2210 hadits.
3. Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 2286 hadits.
4. Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 6160 hadits[1].
5. Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 2630 hadits.
6. Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 1540 hadits.
7. Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 1170 hadits.
8. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 848 hadits.
9. Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 700 hadits. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • sebutkan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits

Category: Tahukah Anda? | 1 Comment »

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

April 10th, 2012 by Abu Muawiah

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

1.    Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib.
Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah.

2.    Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib.
Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 “Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | 13 Comments »

Keutamaan Al-Fatihah

April 8th, 2012 by Abu Muawiah

Keutamaan Al-Fatihah

Al-Bukhari berkata di dalam Ash-Shahih (3/342): Ali bin Abdillah menceritakan kepada kami (dia berkata), Yahya bin Said menceritakan kepada kami (dia berkata), Syu’bah menceritakan kepada kami (dia berkata), Khubaib bin Abdirrahman menceritakan kepadaku dari Hafsh bin Ashim dari Abu Said bin Al-Mu’alla dia berkata:

كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ: { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ }

ثُمَّ قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Saya pernah shalat, lalu Nabi r memanggilku tapi saya tidak menjawabnya. Kemudian saya berkata, “Wahai Rasulullah tadi saya sedang shalat,” beliau bersabda, “Bukankah Allah telah berfirman, “Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu?!” kemudian beliau bersabda, “Inginkah kamu saya ajari surah yang paling agung dalam Al-Qur`an sebelum engkau keluar dari masjid ini?” kemudian beliau memegang tanganku. Tatkala kami akan keluar, aku berkata, “Wahai Rasulullah, tadi engkau berkata, “Saya benar-benar akan mengajari  kamu sebuah surah yang paling agung dalam Al-Qur’an.” Baliau bersabda, “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin,” dia adalah tujuh ayat yang sering berulang-ulang dan merupakan Al-Qur’an yang agung, yang diberikan kepadaku.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (1458), Nasa`i (2/139) dan Ibnu Majah (3785) dari beberapa jalan dari Syu’bah dengannya hadits ini.

Imam Ahmad berkata dalam Al-Musnad (4/177): Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami (dia berkata), Hasyim -yakni Ibnu Al-Buraid- menceritakan kepada kami (dia berkata), Abdullah bin Muhammad bin Aqil menceritakan kepada kami dari Ibnu Jabir dia berkata:

انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَهْرَاقَ الْمَاءَ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي وَأَنَا خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى رَحْلِهِ وَدَخَلْتُ أَنَا الْمَسْجِدَ فَجَلَسْتُ كَئِيبًا حَزِينًا فَخَرَجَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَطَهَّرَ فَقَالَ عَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اقْرَأْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَتَّى تَخْتِمَهَا

“Saya sampai kepada Rasulullah r dalam keadaan beliau baru saja buang air kecil,” lalu saya berkata, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” tapi beliau tidak menjawab salamku. Saya berkata lagi, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” maka beliau tapi menjawab salamku. Saya berkata lagi, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,” tapi beliau tidak menjawab salamku. Kemudian Rasulullah r berjalan dan saya ikut di belakang beliau sampai beliau masuk di rumahnya dan saya masuk ke dalam masjid lalu duduk dalam keadaan sedih dan berduka cita. Kemudian Rasulullah r keluar mendatangiku dalam keadaan beliau sudah bersuci, lalu beliau berkata, “Alaikas salam warahmatullah, waalaikas salam warahmatullah, waalaikas salam warahmatullah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kukabarkan kepadamu wahai Abdullah bin Jabir sebuah surat yang terbaik di dalam Al-Qur’an?” saya menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bacalah ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ sampai kamu menyelesaikannya.” Sanadnya hasan karena kedudukan Ibnu Aqil, dan hadits ini telah ditakhrij[1] dalam  I’laus Sunan (28). Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Ilmu al-Qur`an | 2 Comments »

Seputar Perawatan Medis dan Penyakit Kronis

April 6th, 2012 by Abu Muawiah

Fatwa Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami
Seputar Perawatan Medis dan Penyakit Kronis

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi Rabbil alamin, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sayyid kita Muhammad sebagai penutup para nabi, juga kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Keputusan No. 69/5/7
Mengenai Perawatan Medis

Pertemuan Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami yang diadakan pada sesi konferensi ketujuh di Jeddah Kerajaan Saudi Arabiah, dari tanggal 7 – 12 Dzul Qa’dah 1412 H atau yang bertepatan dengan tanggal 9 – 14 Mei 1992 M. Setelah majelis meneliti pembahasan-pembahasan yang ditujukan kepada Al-Majma’, terkhusus pada masalah perawatan medis. Dan setelah majelis mendengarkan diskusi yang berlangsung seputar itu, maka majelis menetapkan:

Pertama: Pengobatan
Hukum asal dari berobat adalah disyariatkan, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu dalam Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah baik berupa sunnah qauliah (ucapan) maupun fi’liah (perbuatan). Dan karena berobat merupakan penjagaan terhadap nyawa, dimana nyawa ini merupakan salah satu dari tujuan-tujuan yang tertinggi dalam syariat. Kemudian, hukum berobat itu berbeda-beda tergantung dengan keadaan dan orangnya:
•    Berobat diwajibkan atas seseorang dalam keadaan jika dia tidak berobat maka itu akan menyebabkan dia kehilangan nyawanya atau kehilangan salah satu anggota tubuhnya atau melemahnya fungsi dari salah satu anggota tubuhnya. Atau jika penyakitnya merupakan penyakit yang bahayanya bisa berpindah kepada selainnya, seperti pada penyakit-penyakit menular.
•    Berobat disunnahkan dalam keadaan jika dia tidak berobat maka akan menyebabkan tubuhnya melemah, tapi tidak menyebabkan bahaya yang tersebut di atas pada keadaan yang pertama.
•    Berobat dibolehkan jika keadaannya tidak termasuk dalam kedua keadaan di atas.
•    Berobat dimakruhkan jika metode pengobatannya dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit yang lebih besar daripada penyakit yang akan disembuhkan. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | 6 Comments »

Mengenal Hakikat Ijma’

April 4th, 2012 by Abu Muawiah

AL-IJMA’ (KONSENSUS ULAMA ISLAM)

Definisi al-Ijma’ (Konsensus Ulama)

al-Ijma’ dalam makna etimologi berarti keinginan kuat dan kemauan keras akan sesuatu.

Sebagaimana makna ini tercakup dalam firman Allah ta’ala,

فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ

“Maka karena itu bulatkanlah keputusan kalian. “ (Yunus: 71)

Dan Nabi r bersabda,

لاَ صِياَمَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّياَمَ مِنْ اللَّيْلِ

“Tidak sah puasa bagi seseorang yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya.”[1]

Juga al-Ijma’ dalam tinjauan etimologi bermakna kesepakatan[2].

Adapun definisi al-ijma’ dalam termis para pakar fiqh Islam, yaitu:

اِتِّفاَقُ فُقَهاَءِ العَصْرِ عَلىَ حُكْمِ الحاَدِثَةِ مِنْ الأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ وَلَمْ يَتَقَدَّمْ فِيْهاَ خِلاَفٌ

“Kesepakatan para fuqaha pada sebuah zaman terhadap suatu hukum di antara hukum-hukum syara’ yang terjadi, tanpa di dahului adanya silang pendapat sebelumnya.”[3]

 

Dasar Acuan al-Ijma’

Dasar acuan (mustanad) al-Ijma’ adalah dalil yang mendasar adanya kesepakatan para ulama mujtahidin. Dan dalil tersebut dapat berupa nash dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan juga dapat berupa qiyas (analogi hukum), ‘urf dan selainnya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Tidaklah saya mengatakan dan tidak juga seorangpun di kalangan ulama : ‘perkara ini perkara yang disepakati’, kecuali pada persoalan anda tidak mendapati seorang alim kecuali dia mengatakan hal tersebut kepada anda dan dia menhikayatkannya dari alim sebelumnya, semisal –tentang- shalat dhuhur empat raka`at, pengharaman khamar dan yang serupa dengan perkara ini …”[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Tidaklah didapati suatu permasalahan yang disepakati, kecuali terdapat penjelasan dari Rasulullah. Hanya saja terkadang penjelasan tersebut tersembunyi bagi sebagian kaum manusia (yaitu sebagian ulama), dan dia mengetahui adanya ijma’ lantas berargumen dengan al-ijma’. Sebagaimana seseorang yang tidak mengetahui inferensi dalil syara’ lalu berdalil dengan nash syara’.

al-Ijma’ adalah dalil kedua setelah nash syara’, sebagaiman beberapa contoh di dalam al-Qur`an. Demikian pula al-Ijma’ adalah dalil yang lain, seperti dikatakan: Hal itu telah ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah dan al-Ijma’.”

Lalu beliau rahimahullah melanjutkan, “Karena segala persoalan yang ditunjukkan oleh al-ijma’, juga al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan hal tersebut. Dan segala hukum yang ditunjukkan oleh al-Qur`an, maka Rasulullah r akan menyadur darinya … dan tidaklah di dapat suatu permasalahan yang terdapat ijma’, kecuali pada permasalahan tersebut terdapat nash …”

“Ibnu Jarir dan selain beliau mengatakan: Tidaklah ijma’ menjadi valid kecuali di dasari oleh nash yang mereka –para ulama- kutip dari Rasulullah r seiring dengan pengakuan mereka akan validitas al-qiyas. Dan kami tidak mensyaratkan agar semua ulama mengetahui keberadaan nash syara’. Lalu mereka mengutip nash tersebut secara makna sebagaimana hadits-hadits diriwayatkan, akan tetapi kami telah menelusuri dengan metode al-istiqraa` setiap tempat yang terdapat –klaim- ijma’, hingga kami mendapati seluruhnya terdapat keterangan nash. Dan sebagian besar ulama tidaklah mengetahui keberadaan nash syara’ …”[5] Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | 2 Comments »

Mengenal As-Sunnah

April 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal As-Sunnah

Definis as-Sunnah

Secara etimologi:

الطَّرِيْقَةُ المُعْتاَدَةُ الَّتِيْ يَتَكَرَّرُ العَمَلُ بِمُقْتَضاَهاَ

“Jalan yang telah dikenali/baku karena konsukuensi jalan tersebut telah sering kali di amalkan.”

Makna ini sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Qur`an,

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

 “Sunnah Allah pada orang-orang yang telah ada sebelumnya. Dan engkau tidak akan mendapati pengganti pada sunnah Allah tersebut.”  (al-Ahzab: 62)

Dan pemakaian kata `sunnah’ yang berarti jalan/titian berlaku mutlak, yang baik maupun yang buruk[1].

Adapun as-sunnah dalam termis para fuqaha Islam,

ماَ صَدُرَ عَنْ النبي غَيْرِ القُرْآنِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ المُخْتَصُّ بِالأَحْكاَمِ الشَّرِيْعَةِ

“Segala sesuatu yang disadur dari Rasulullah selain al-Qur`an baik berupa ujaran, perbuatan atau pengakuan/taqrir beliau yang khusus seputar al-Ahkam asy-Syariah.”[2]

As-Sunnah sebagai dasar Hukum

Al-Qur`an telah menunjukkan eksistensi as-Sunnah sebagai salah satu dasar hukum syariat. Di antaranya di sebutkan dalam beberapa ayat,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. “ (al-Ahzab: 34)

Dan firman Allah ta’ala,

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

asy-Syafi’i, Yahya bin Katsir, Qatadah dan selainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah tiada lain adalah as-Sunnah. Karena yang dilantunkan di rumah-rumah Rasulullah r adalah al-Qur`an atau as-Sunnah[3].

Firman Allah ta’ala

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia mengucapkan sesuatu dari hawa nafsu, melainkan tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan –kepadanya-.” (an-Najm: 3-4)

Dan firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadi engkau sebagai penentu keputusan atas segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan di dalam diri-diri mereka atas keputusanmu, dan menerimanya dengan sebenar-benar penerimaan.” (an-Nisaa`: 65)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa yang mentaati Rasulullah maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa`: 80)

Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, lalu mereka memiliki pilihan –lain- dari perkara mereka. Dan barang siapa yang berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya –yaitu Rasulullah- berhati-hati, karena akan ditimpakan kepada mereka fitnah atau akan ditimpakan bagi mereka adzab yang pedih.” (an-Nuur: 63) Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Mengenal As-Sunnah