Archive for March, 2012

Biografi Imam Ash Shan’ani rahimahullah

March 9th, 2012 by Abu Muawiah

Biografi Imam Ash Shan’ani rahimahullah
-Wafat 1182 H-

Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani. Ia dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian ia pindah bersama ayahnya ke Kota Shan’a ibukota Yaman.

Ia menimba ilmu dari ulama yang berada di kota Shan’a lalu kemudian beliau rihlah (melakukan perjalanan) ke Kota Makkah dan membaca hadits dihadapan para ulama besar yang ada di Makkah dan Madinah.

Ia menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga ia mengalahkan teman temannya seangkatannya. Ia menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan pendapat pendapat yang tidak ada dalilnya.

Ia mendapatkan ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan mendakwahkannya secara terang terangan pada masa masa penuh fitnah dari orang yang sezaman dengan beliau, Allah Subhananahu wata’ala tela menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi beliau dari kejelekan mereka.

Khalifah Al Manshur yang termasuk penguasa Yaman mempercayakan kepada beliau untuk memberikan khutbah di Masjid Jami’ Shan’a. Ia terus menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar, memberi fatwa, dan mengarang. Ia tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika ia berada dalam kebenaran dan ia tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian, sebagaimana telah menimpa orang orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah, ia lebih mendahulukan kerihaan Allah diatas keridhaan manusia.
Sangat banyak orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang khusus maupun masyarakat umum, mereka membaca dihadapan beliau berbagai kitab kitab hadits dan mereka mengamalkan ijtihad ijtihad beliau serta menampakkannya kepada orang orang. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | Comments Off on Biografi Imam Ash Shan’ani rahimahullah

Hukum Bagian-Bagian Tubuh Bangkai

March 7th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Bagian-Bagian Tubuh Bangkai

Karena banyaknya pertanyaan seputar ini, maka berikut kami bawakan artikel ringkas yang insya Allah bisa menjadi rujukan dan semacam kaidah dalam permasalahan ini. Maka kami katakan:
Bagian tubuh hewan darat, yang mengalir darahnya, dan mati dengan tidak disembelih secara syar’i secara umum bisa diklasifikasikan menjadi 3 bagian dari sisi hukumnya:
1.    Najis secara mutlak, dan tidak bisa disucikan sama sekali. Ini adalah darah dan daging dari bangkai.
Ini adalah pendapat seluruh ulama kecuali Asy-Syaukani rahimahullah yang berpendapat sucinya bangkai. Dan tidak ada seorang pun ulama yang mendahului beliau pada pendapat tersebut.
Dalil akan najisnya darah dan daging bangkai adalah dalil-dalil umum yang sudah masyhur tentang najisnya bangkai.

2.    Suci secara mutlak. Ini adalah rambut dan bulunya jika diperoleh dengan cara dicukur. Ini adalah pendapat Al-Hanafiah, Al-Malikiah, dan sebuah riwayat dari Ahmad.
Dalilnya adalah: Bangkai itu najis adalah karena adanya darah yang tertahan padanya. Karenanya, semua bagian bangkai yang tidak ada darah padanya maka dia suci.
Walaupun Al-Hanafiah mengecualikan dalam hal ini bulu babi. Namun yang benarnya adalah bulu babi sama seperti hukum bulu hewan bangkai lainnya.
Termasuk dalam kategori suci secara mutlak adalah tanduk dan tulangnya. Ini adalah pendapat Al-Hanafiah dan yang dirajihkan oleh Ibnu Taimiah.
Hal itu karena pada tanduk dan tulang tidak terdapat darah padanya, karenanya dia tidak dihukumi najis.

3.    Suci dengan syarat setelah disamak. Ini adalah kulitnya.
Ini adalah mazhab Azh-Zhahiriah. Berdasarkan keumuman hadits Abdullah bin Abbas secara marfu’:
إِذا دُبِغَ الإهابُ فَقَدْ طَهُرَ
“Jika kulit sudah disamak maka sungguh dia telah suci.” (HR. Muslim no. 366)
Dan dalam riwayat Ahmad (1/219), At-Tirmizi no. 1728, Ibnu Majah no. 3609, dan An-Nasai no. 4241 dengan lafazh, “Kulit mana saja yang telah disamak maka dia telah suci.”

Demikian kesimpulan hukum dalam permasalahan ini, semoga bisa bermanfaat. Wallahu A’lam bishshawab.

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 7 Comments »

Hukum Menyifati Seseorang Dengan ‘Al-Qur`an Berjalan di Bumi’

March 5th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Menyifati Seseorang Dengan ‘Al-Qur`an Berjalan di Bumi’

Soal:
Kami biasa mendengar sebagian khatib ada yang terbiasa mengatakan dalam menyifati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‘Beliau adalah Al-Qur`an yang berjalan di bumi’, dan yang dia maksudkan adalah: Nabi menerapkan semua hukum Al-Qur`an. Apa hukum ucapan ini?

Jawab:
Sepantasnya kita mengatakan, “Akhlak beliau adalah Al-Qur`an,” sebagaimana ucapan Aisyah radhiallahu anha. Al-Qur`an adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Sementara Muhammad alaihishshalatu wassalam adalah manusia biasa dan merupakan makhluk, oleh karena itu kita tidak boleh mengucapkan ucapan seperti itu. Kita memerangi Mu’tazilah dan selain mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur`an itu makhluk, maka bagaimana bisa kita mengatakan ucapan seperti itu?! Maka sepantasnya kita mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menerapkan Al-Qur`an, akhlak beliau bersumber dari Al-Qur`an, akhlak beliau adalah Al-Qur`an, dan beliau alaihishshalatu wassalam mengamalkan serta meyakini kandungannya. Ucapan seperti ini (Nabi adalah Al-Qur`an berjalan, pent.) -wallahu a’lam- adalah ungkapan kebarat-baratan, dimana mereka bertaqlid kepada orang-orang barat dalam ucapan ini.

[Diterjemah dari Fatawa di Al-Aqidah wa Al-Manhaj (majelis kedua) soal no. 14 oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah]

Category: Aqidah, Fatawa | 1 Comment »

Dimanakah Roh Para Nabi?

March 3rd, 2012 by Abu Muawiah

Dimanakah Roh Para Nabi?

Soal:
Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit?

Jawab:
Roh-roh mereka berada di dalam surga. Roh para syuhada`, roh para nabi, dan roh kaum mukminin, seluruhnya di dalam surga. Kalau kaum mukminin saja roh mereka bepergian di dalam surga kemanapun mereka inginkan, maka bagaimana lagi dengan roh para nabi alaihimushshalatu wassalam?! Maka roh-roh para nabi tidak terdapat di dalam kubur-kubur mereka sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi roh-roh mereka terdapat di dalam surga. Dan jasa tidak akan bersatu dengan roh kecuali pada hari kiamat.
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً
“Hari ditiupnya sangkakala lalu kalian datang dalam keadaan berbondong-bondong.” (QS. An-Naba`: 18)
Pada hari itulah Allah membangkitkan mereka. Manusia yang paling pertama kali terbuka kuburnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan beliau alaihishshalatu wassalam adalah manusia yang paling pertama dibangkitkan. Adapun hadits:
اَلْأَنْبِياءُ أَحْياءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
“Para nabi itu hidup di dalam kubur-kubur mereka, mereka mengerjakan shalat.”
Maka walaupun Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan shahihnya, akan tetapi yang benarnya haditsnya sangat lemah. Dan ini adalah hadits pertama yang saya kritisi kepada beliau rahimahullah.

[Diterjemahkan dari Fatawa fi Al-Aqidah wa Al-Manhaj (majelis pertama) soal no. 6 oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah]

Category: Aqidah, Ensiklopedia Hadits Lemah, Fatawa | 6 Comments »

Hukum Melanggar Peraturan Lalu Lintas

March 1st, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Melanggar Peraturan Lalu Lintas

Soal:
Bagaimana hukum Islam terhadap seseorang yang melanggar peraturan lalu lintas, semisal dia melanggar lampu lintas ketika berwarna merah?

Jawab:
Tidak bolah ada seorang muslim pun yang melanggar peraturan negara dalam hal lalu lintas, karena perbuatan itu akan menyebabkan timbulnya bahaya yang besar bagi dirinya dan pengguna jalan lainnya. Negara (baca: pemerintah) -semoga Allah memberikan taufiq kepadanya- tidaklah membuat aturan-aturan ini kecuali sebagai bentuk usaha dalam mewujudkan maslahat bersama bagi kaum muslimin dan untuk mencegah mudharat menimpa mereka.
Karenanya, tidak boleh ada seorang pun yang melanggar aturan-aturan tersebut. Pihak yang berwenang boleh menjatuhkan hukuman kepada orang yang melanggar, dengan hukuman yang bisa membuat orang itu dan semacamnya jera untuk mengulangi pelanggarannya. Karena Allah Subhanahu terkadang menertibkan melalui pemerintah dan hasilnya terkadang lebih baik daripada langsung dengan Al-Qur`an. Hal itu karena kebanyakan orang tidak takut melanggar aturan dari Al-Qur`an dan sunnah, akan tetapi mereka justru takut melanggar aturan pemerintah dikarenakan adanya beraneka ragam hukuman. Dan hal itu tidak lain kecuali dikarenakan minimnya keimanan mereka kepada Allah dan hari akhir atau bahkan keimanan itu tidak ada pada kebanyakan makhluk. Sebagaimana firman Allah Subhanahu:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf: 103)
Kita meminta kepada Allah hidayah dan taufik untuk kita seluruhnya.

(Fatawa Islamiah Ibnu Baaz: 4/536)

(Diterjemah dari Fatawa Asy-Syar’iyah hal. 579-580)

Category: Fatawa | 3 Comments »