Archive for January, 2012

Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid

January 31st, 2012 by Abu Muawiah

Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah:
Boleh Berbaring dengan posisi terlentang di dalam masjid. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini:
أنه رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ مُسْتَلْقِيًا وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى
“Bahwa dia pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur terlentang di dalam masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/446) (10/328) (11/68) dan dalam Al-Adab Al-Mufrad (172), Muslim (6/154), Malik (1/186) serta Abu Daud (2/297) dan An-Nasai (1/118) dari jalannya, Muhammad dalam kitabnya Muwaththa` (398), At-Tirmizi (2/127 -cet. Bulaq), Ad-Darimi (2/282), Ath-Thayalisi (hal. 148 no. 1101), dan Ahmad (4/38, 39, 40) dari beberapa jalan dari Az-Zuhri dia berkata: Abbad bin Tamim mengabarkan kepadaku dari pamannya (Abdullah bin Zaid, pent.) dengan lafazh di atas.
At-Tirmizi berkata, “Hadits hasan shahih.”
Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abu Hurairah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Fath (11/68)

Hadits ini adalah dalil dari apa yang kami sebutkan berupa bolehnya tidur terlentang di dalam masjid. Dan dengan inilah, Al-Bukhari dan An-Nasai memberikan judul bab terhadap hadits ini, dan ini pula yang dijelaskan oleh para ulama yang mensyarah Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan selain keduanya.
Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath, “Kelihatannya, perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah untuk menunjukkan bolehnya hal tersebut. Dan hal itu beliau lakukan pada waktu beliau beristirahat sendirian, bukan di hadapan banyak orang, karena sudah menjadi kebiasaan yang diketahui dari beliau bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam selalu duduk-duduk bersama mereka dengan sikap rendah hati yang sempurna. Al-Khaththabi berkata, “Dalam hadits ini terdapat pembolehan bersandar, berbaring, dan posisi istirahat lainnya di dalam masjid.” Ad-Daudi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala yang disebutkan bahwa orang yang tinggal di dalam masjid itu tidak terkhusus bagi orang yang duduk saja, akan tetapi juga didapatkan oleh orang yang tidur terlentang.” Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 4 Comments »

TAFSIR SURAH AL-INFITHAR

January 29th, 2012 by Abu Muawiah

TAFSIR SURAH AL-INFITHAR

Makiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ. يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ. كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ. وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Allah Ta’ala berfirman: “Apabila langit terbelah.” Yakni: Terpecah. “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” Yakni: Berjatuhan. “Dan apabila lautan meluap.” Sejumlah para ulama berkata: Allah Ta’ala pancarkan sebahagiannya kepada sebahagian yang lain. Dan Qatadah berkata: Air tawar dan asinnya bercampur. “Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” Ibnu Abbas berkata: Dihilangkan. Dan As-Suddi berkata: Digerakan sehingga siapa saja yang ada didalamnya keluar.

Dan firman-Nya: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” Yakni: Jika hal tersebut diatas terjadi, maka terjadilah hal ini.

Dan firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Ini adalah ancaman. Dan makna ayat ini adalah: Apa yang membuat engkau terpedaya wahai anak Adam terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia. Yakni: Maha Agung. Sampai engkau mendahulukan kemaksiatan dan engkau datangi apa-apa yang tidak pantas?

Sejumlah ulama berkata: “Terpedayanya dia adalah -demi Allah- kebodohannya.” Dan Qatadah berkata: “Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Sesuatu yang menipu (memperdaya) anak Adam ini adalah musuh yaitu: Syaithan. Dan Fudhail bin Iyadh berkata: Seandainya ada yang berkata kepadaku apa yang membuat kamu terpedaya padaku??? Dan Abu Bakr Al-Warraq berkata: Seandainya ada yang berkata kepadaku, “Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Maka pasti aku menjawab: Kemuliannya Allah Yang Mahamulia telah membuat saya terperdaya.” Al-Baghawy berkata: Sebagian pakar tentang isyarat berkata: Allah Ta’ala hanya berfirman: “Terhadap Rabbmu Yang Mahamulia.” Tanpa menyebutkan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang lain, seakan-akan Allah telah memberitahukan jawaban dari pertanyaan ini.” Akan tetapi apa yang dikhayalkan oleh pembicaranya ini tidak teranggap sama sekali, sebab Allah hanya mendatangkan satu nama-Nya “Yang Mahamulia,” untuk memberikan peringatan bahwa tidak pantas kemuliaan dibalas dengan perbuatan-perbuatan yang kotor dan amalan-amalan yang jelek.

Dan firman-Nya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” Yakni: Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Mahamulia, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” Yakni: Menjadikanmu seimbang, selaras tegak dalam berdiri yang penyandarannya kepada sebaik-baik keadaan dan permisalan.

Dari Busr bin Jihasy Al-Qurasyi berkata, bahwa Rasulullah r suatu hari meludah ke telapak tangannya, lalu beliau meletakkan sebuah jarinya di atasnya. Kemudian beliau bersabda, “Allah U berfirman, “Wahai anak Adam, bagaimana mungkin kamu membuat Saya lemah sementara Saya yang telah menciptakan kamu dari air yang semisal ini. Sampai ketika Saya sudah menyempurnakan dan memperbaiki penciptaanmu, kamu pun berjalan di antara dua pakaian dan bumi merasa berat memikulmu. Maka kamu pun mengumpulkan harta dan menahan dari bersedekah, sampai ketika ruh sudah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Saya akan bersedekah,” padahal bukan lagi saatnya bersedekah.?[1]

Dan firman-Nya: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” Mujahid berkata: Pada segala penyerupaan dari ayah atau ibu atau paman dari pihak ayah atau paman dari pihak ibu. Dalam Ash-Shahihain[2] dari Abu Hurairah: Bahwasannya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: Sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak laki-laki hitam. Beliau bersabda: apakah kamu mempunyai unta? Laki-laki itu menjawab: Ya. Beliau bersabda: Apa warnanya? Dia menjawab: merah. Beliau bersabda: apakah padanya ada yang berwarna putih? Dia menjawab: Iya. Beliau bersabda: bagaimana dia bisa melahirkan yang berwarna hitam?! Dia berkata: Mungkin itu factor keturunan,” maka beliau bersabda, “Kalau begitu, ini pun mungkin factor keturunan.”

Ikrimah berkata pada firman Allah Ta’ala: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu.” Jika Dia kehendaki pada bentuk monyet, maka engkau akan berbentuk pada bentuk monyet. Dia jika kehendaki pada bentuk babi, maka engkau akan dalam bentuk babi juga. Demikian pula dikatakan oleh Abu Shalih: Dalam bentuk anjing jika Dia kehendaki, dalam bentuk keledai dan jika Dia kehendaki, dalam bentuk babi. Dan Qatadah berkata: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” Beliau berkata: Allah Rabb kita Mahamampu atas hal yang demikian.

Dan makna perkataan ini disisi mereka: Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahamampu pada pembentukan yang jelek dari hewan-hewan yang tergabung kedalam hewan-hewan yang asing, akan tetapi karena keMahamampun-Nya dan kelembutan-Nya, Dia menciptamu diatas bentuk yang paling baik yang tegak dan sempurna, paling baik dipandang dan paling baik keadaannya.

Dan firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” Yakni: Tidak ada yang membuat kalian menghadapi dan membalas Yang Mahamulia dengan kemaksiatan kecuali pendustaan terhadap hari kebangkitan, pembalasan, dan hisab yang bercokol di dalam hati-hati kalia.

Dan firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Yakni: Sesungguhnya pada kalian ada malaikat penjaga yang mulia lagi mencatat. Maka jangan kalian hadapkan mereka dengan kekejian sehingga mereka menulis seluruh amalan-amalan kalian. Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | 1 Comment »

Mengenal Narkoba, Jenis-Jenisnya dan Dampaknya

January 27th, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal Narkoba, Jenis-Jenisnya dan Dampaknya

Mengenal Macam-Macam Narkoba dan Bahayanya – Narkoba, akhir-akhir ini kita sering mendengar berita di televisi maupun internet tentang akibat dari Narkoba. Lalu Narkoba itu apa sih?

Dalam postingan saya kali ini, akan sedikit membahas tentang Apa itu Narkoba, Macam-macam Narkoba dan Dampak dari penggunaan Narkoba itu sendiri.

Apa Itu Narkoba ?

Menurut id.wikipedia.org/wiki,

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.”

Jika di dalam ahli kesehatan, narkoba itu merupakan senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu.

Sudah dari dahulu kala masyarakat mengenal istilah madat sebagai sebutan untuk candu atau opium, yang merupakan suatu golongan narkotika yang berasal dari getah kuncup bunga tanaman Poppy yang banyak tumbuh di sekitar Negara Thailand, Myanmar dan Laos (The Golden Triangle) maupun di Pakistan dan Afganistan.

Buah Opium

Serbuk Sari Opium

Apa saja Jenis Narkoba ? Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • Bahaya Narkoba dan pisitropika dan jenis-jenisnya
  • dampak narkoba dan jenisnya
  • jenis narkoba dan reaksinya

Category: Artikel Umum | 1 Comment »

Ucapan ‘Malaikat Kecilku’ Kepada Anak Wanita

January 25th, 2012 by Abu Muawiah

Ucapan ‘Malaikat Kecilku’ Kepada Anak Wanita

Kita biasa mendengarkan seorang ayah atau ibu berkata tentang anak wanitanya dengan mengatakan ‘malaikat kecilku’. Dan tidak jarang kita mendengarkan ucapan ini dari seorang yang beragama Islam.
Akan tetapi tahukah anda bagaimana sebenarnya Islam memandang ucapan seperti di atas?

Berikut penjelasannya secara ringkas:
Menyebut atau memanggil anak wanita dengan ucapan ‘malaikat kecilku’ bukanlah termasuk dari kebiasaan kaum muslimin dari zaman dahulu sampai belakangan, dan sama sekali bukan termasuk dari adab Islam terkhusus dalam perkara memuliakan para malaikat. Karenanya ucapan ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang muslim.

Dalam artikel ‘Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat’ telah kami sebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menamakan atau menyebut seseorang dengan nama malaikat. Dan di sana kita sebutkan bahwa yang lebih utama adalah menggunakan nama yang lain selain nama malaikat. Maka kalau bernama dengan nama para malaikat saja itu lebih utama ditinggalkan, maka bagaimana lagi jika langsung menyebut seseorang atau anak itu dengan penyebutan ‘malaikat’, maka ini lebih utama untuk dijauhi.

Ditambah lagi, kelihatannya ucapan ‘malaikat kecil’ ini  -wallahu a’lam- berasal dari kebiasaan kaum musyrikin, dimana kebiasaan ini lahir dari aqidah mereka yang rusak terhadap para malaikat. Mereka meyakini bahwasanya para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Ta’ala -Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan-. Karenanya mungkin dari akidah kafir ini pulalah, mereka menyifati anak-anak wanita mereka dengan sifat ‘malaikat’, wallahu A’lam. Dan memang jika demikian kenyataannya dan asal-muasalnya, maka mengucapkan ucapan ‘malaikat kecil’ kepada anak, bukan lagi menyangkut masalah adab dan kebiasaan, akan tetapi itu sudah merambah sisi aqidah, yang hukum minimal dari hal tersebut adalah syirik lafzhi. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • arti malaikat kecil dalam al quran
  • panggilan malaikat kecil

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 3 Comments »

Hukum memakan Al-Jallalah.

January 23rd, 2012 by Abu Muawiah

Hukum memakan Al-Jallalah.

Al-jallalah (الجلالة), dengan jim difathah dan lam ditasydid, berasal dari bangunan kata yang menunjukkan makna berlebihan. Dia adalah hewan pemakan tinja, baik dia adalah sapi atau kambing atau onta atau dari jenis unggas seperti ayam, angsa dan selainnya[1].

Ada dua pendapat di kalangan tentang hukum memakannya:

Pendapat pertama: Haram memakannya. Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad[2] dan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Asy-Syafi’iyah[3]. Mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu Umar -radhiallahu anhuma- dia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الْجَلَّالَةِ وَأَلْبَانِهَا

Rasulullah r melarang dari memakan jallalah dan meminum susunya.[4]

Hadits ini jelas menunjukkan pengharaman makan daging jallalah karena asal dalam hukum larangan adalah haram.

Pendapat kedua: Dimakruhkan memakan dagingnya. Ini adalah riwayat kedua dari Ahmad, yang paling shahih dalam mazhab Asy-Syafi’iyah[5] dan merupakan mazhab Al-Hanafiah[6]. Karena pelarangnya tidak berkaitan dengan zat hewan tersebut akan tetapi berkaitan dengan sebab lain (makanan) yang masuk kepadanya dan itu tidak melazimkan hukum apa-apa kecuali jika dagingnya berubah, hanya saja itu tetap tidak menjadikan dia haram untuk dimakan.

Mereka berselisih menjadi beberapa pendapat mengenai kadar najis yang jika kadar ini dimakan oleh seekor hewan maka dia dianggap jallalah dan berlaku padanya hukum ini:

Pendapat pertama: Jika dia lebih banyak memakan yang najis daripada memakan makanan lainnya (maka dia jallallah). Tapi jika tidak, maka itu tidak berpengaruh (baca: tidak dihukumi jallalah). Ini adalah salah satu pendapat dalam mazhab Al-Hanabilah[7], Al-Hanafiah[8] dan Asy-Syafi’iyah[9]. Karena jika kebanyakan makanannya adalah najis maka itu akan merubah dagingnya, sehingga dia diharamkan untuk memakannya sebagaimana makanan yang busuk[10].

Pendapat kedua: Dia banyak memakan najis, kalau sedikit maka tidak mengapa (baca: tidak dihukumi jallalah). Ini adalah pendapat lain dalam mazhab Al-Hanabilah[11]. Perbedaan antara ‘lebih banyak’ dengan ‘banyak’ saya kira jelas.

Pendapat ketiga: Yang menjadi patokan bukan masalah banyak tidaknya, tapi yang menjadi patokan adalah baunya. Jika tercium dari keringatnya dan selainnya bau najis maka dia asalah jallalah, dan jika tidak maka tidak. Ini adalah pendapat yang paling benar dalam mazhab Asy-Syafi’iyah[12]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 3 Comments »

Kumpulan Fatawa Audio 3

January 21st, 2012 by Abu Muawiah

Kumpulan Fatawa Audio 3

Berikut udate terbaru fatawa audio yang ada dalam blog taklimonline.com. Dan insya Allah akan terus kami upload fatawa yang baru setiap pekannya:

Hukum Lupa Ayat yang Sudah Dihafal

Kubur di Dalam Masjid, Mana yang Dibongkar?

Dimana Letak Surga dan Neraka?

Apakah Ada Manusia yang Bisa Melihat Jin?

Antara Menuntut Ilmu Agama Dengan Izin Orang Tua

Menjawab Bersin Tidak Sama Dengan Menjawab Salam

Sembelihan Saat Ada yang Meninggal Lalu Dagingnya Dibagikan

Bolehkah Merubah Fungsi Tanah Wakaf?

Onani Saat Puasa Wajib Bayar Kaffarat?

Hukum Qashar Shalat Bagi yang Punya 2 Rumah

Hukum Menyogok Untuk Dapatkan Hak

Taubat Pelaku Homoseksual

Untuk langsung mendownload, silakan menuju ke halaman berikut: http://taklimonline.com/download-fatawa-audio

Category: Daftar Fatawa Audio | 1 Comment »

Antara Silsilah Durus, Kita dan Fitnah

January 19th, 2012 by Abu Muawiah

Antara Silsilah Durus, Kita dan Fitnah
Oleh: Wira Mandiri Bachrun

Di awal-awal saya tiba di Yaman, seorang teman Yamani meminjamkan sebuah kitab yang berjudul Minhaj Thalibil Ilmi. Kitab yang ditulis oleh salah seorang murid Asy Syaikh Muqbil ini berisi silsilah durus, daftar kitab yang dipakai oleh para ulama dan harus dipelajari oleh seorang penuntut ilmu agar bisa mapan dalam ilmu. Begitu membaca satu persatu judul kitab-kitab tersebut saya baru sadar bahwa perjalanan ini akan sangat panjang. Seingat saya, di antara judul kitab-kitab tersebut:

Dalam bidang tauhid:

– Al Qawaidul Arba’

– Al Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid

– Al Waajibat Al Mutahattimaat

– Al Ushul Ats Tsalatsah

– Kitaabut Tauhid

– Kasyfu Asy Syubuhaat

– Tathiirul I’tiqaad

– Fathul Majid

– Taisir Azizil Hamid

Dalam bidang Aqidah – Asma was Sifaat:

– Lum’atul I’tiqaad

– Al Qowaaidul Mutsla

– Al Aqidah Al Wasithiyah

– Al Aqidah At Thawiyyah

– Syarh At Thahwiyyah

– Risalah At Tadmuriyyah

– Syarhus Sunnah Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | 5 Comments »

Penerimaan Santri Baru Program Mustawa Diiniyah Al-Madrasah Al-Atsariyah

January 17th, 2012 by Abu Muawiah

Penerimaan Santri Baru
Program Mustawa Diiniyah  Al-Madrasah Al-Atsariyah

1. Pendahuluan
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam tercurah bagi junjungan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.  Wa ba’du,
Setelah menginjak 3 (tiga) tahun pembelajaran, al-Madrasah al-Atsariyah – BEKASI kembali membuka kesempatan bagi para thalib al-ilmi untuk mengkaji penguasaan dasar-dasar ilmu Islam, baik itu yang bersifat teoritis (ilmu-ilmu alat) maupun terapan. Terutama dalam pemantapan dan pengenalan ilmu-ilmu Islam lebih lanjut pada Program Mustawa II (Mustawa Diiniyah).
Pada program Mustawa Diiniyah  (Mustawa II): Program Pembelajaran lebih terfokus pada penguasaan ilmu-ilmu alat, semisal Ushul Fiqh, Ulumul Hadits, Qawa’id Fiqhiyah dan pemantapan ilmu-ilmu terapan, semisal Aqidah Islamiyah dan Fiqh Islam.

Syarat Pendaftaran
Muslim, mandiri dan berakhlak mulia
Dapat membaca dan menulis al-Qur’an al-Karim.
Dapat membaca dan menulis arab dan latin.
Memiliki pengetahuan dasar-dasar Ilmu-ilmu Alat (Nahwu, Sharaf, Mushthalah Hadits, dan Ushul Fiqh)
Memiliki pengetahuan dasar-dasar Aqidah Islamiyah.
Berusia 17 tahun ke atas
Menyertakan surat izin dari orang tua/wali
Menyertakan surat rekomendasi dari pesantren sebelumnya atau dari ustadz di daerah asalnya (bila ada)
Membawa ijazah terakhir dan atau Kartu Tanda Penduduk (KTP)
Sanggup mengikuti setiap jenjang pendidikan selama pendidikan berlangsung hingga selesai.
Mengikuti tes wawancara.

2. Metode Pembelajaran Mustawa II adalah pemaduan konsep Mulazamah dan Klasikal
Waktu pembelajaran berlangsung pagi antara jam 06.00-11.00
Dan sore/malam hari jam 16.00 – 21.30.
Download Materikulasi  Pembelajaran Mustawa II

3. Pengajar di al-Madrasah al-Atsariyah:
Al-Ustadz Imam Arif Lc.
Al-Ustadz Ja’far Salih.
Al-Ustadz Abu Zakariya al-Makassari.
Al-Ustadz Ali Masaid Lc.
Al-Ustadz Abu Mu’awiyah. Read the rest of this entry »

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

January 13th, 2012 by Abu Muawiah

Sejarah Hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Di antara para mujaddid (pembaru) tersebut adalah Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Al-Khadhir bin Muhammad bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani Ad-Dimasyqi Al-Hanbali. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya yang luas dan menempatkan beliau di dalam surga-Nya.

Nasab dan Kelahiran
Beliau adalah Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Al-Khadhir bin Muhammad bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani. Nasab beliau berujung pada kabilah ‘Arab Qaisiyah dari Bani Numair bin ‘Amir bin Sha’sha’ah dari Qais ‘Ailan bin Mudhar. Adapula yang mengatakan dari Bani Sulaim bin Manshur dari Qais ‘Ailan bin Mudhar.1
Ulama besar, penghancur bid’ah, mujaddid dan mujahid yang agung ini -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau- dilahirkan pada hari Senin, tanggal 10 Rabi’ul Awwal tahun 661 H di desa Harran, sebuah desa yang terletak di antara Syam (mencakup Palestina, Suriah, Jordania, dan Lebanon) dan Irak, sebelah tenggara Turki sekarang. Beliau lahir di saat mulai meletusnya gelombang ekspansi bangsa Mongol (Tartar) ke beberapa wilayah sekitarnya termasuk Timur Tengah. Bangsa ini, yang disatukan kembali oleh Jenghis Khan tidak hanya menjarah daratan Cina, tapi juga menyerang Timur Tengah bahkan sampai ke seberang lautan (sampai ke Indonesia).
Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul menguji umat ini dengan memunculkan bangsa ini. Mereka adalah para penyembah berhala. Ibnul Atsir rahimahullahu mengatakan: ‘Mereka sujud kepada matahari ketika dia terbit, tidak mengharamkan apapun. Mereka melahap semua binatang termasuk anjing dan babi serta yang lainnya. Tidak mengenal nikah… dan seterusnya.’ Tetapi belakangan, banyak dari mereka yang masuk Islam.
Di masa itu juga, perang salib masih berlangsung. Sehingga berbagai kejadian ini menimbulkan pengaruh dan menumbuhkan kecemburuan luar biasa pada diri beliau. Betapa menyedihkan melihat bekas-bekas kehancuran akibat serangan Tartar.
Syaikhul Islam lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga mulia yang diberkahi. Keluarga yang sarat dengan ilmu dan keutamaan. Kakek beliau Abul Barakat Majduddin adalah seorang tokoh terkemuka di kalangan mazhab Hanbali. Ayahandanya, Syihabuddin ‘Abdul Halim termasuk tokoh ulama pembawa petunjuk. Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan kemuliaan beliau di dunia dan akhirat.
Pada usia enam tahun, di saat agresi Bangsa Tartar mulai terasa di wilayah Timur Tengah, bahkan sudah mendekati wilayah Harran, beliau dibawa oleh keluarganya pindah ke wilayah Syam bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka berangkat di malam hari sambil membawa buku-buku yang diletakkan di atas gerobak karena tidak mempunyai kendaraan lain.
Dalam kondisi demikian, mereka hampir tersusul oleh musuh. Gerobakpun berhenti. Mereka ber-ibtihal (berdoa), meminta pertolongan (istighatsah) kepada Allah Yang Maha Perkasa hingga merekapun selamat dan lolos dari kejaran musuh. Pada pertengahan tahun 667 H, tibalah mereka di Damaskus.
Mengapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyah’
Suatu ketika, kakek beliau berangkat menunaikan ibadah haji dalam keadaan istrinya yang ditinggal sedang mengandung. Setibanya di Taima’, sang kakek melihat seorang bocah perempuan keluar dari sebuah tenda. Begitu tiba di Harran, sepulangnya dari ibadah haji, beliau mendapati istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan. Ketika melihat bayi tersebut, beliau berkata: ‘Wahai Taimiyah, wahai Taimiyah.’ Akhirnya keluarga ini dikenal dengan nama tersebut. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | 6 Comments »

Hukum Lelaki dan Wanita Bersuci Bersama

January 11th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Lelaki dan Wanita Bersuci Bersama

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama akan bolehnya sekumpulan lelaki berwudhu bersama dari satu bejana, bolehnya sekumpulan wanita berwudhu bersama dari satu bejana, dan bolehnya lelaki dan wanita berwudhu bersama jika mereka merupakan mahram. Ijma’ pada ketiga masalah ini telah dinukil oleh sejumlah ulama. Di antaranya:
Ath-Thahawi rahimahullah berkata dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (1/26), “Suatu hukum yang sudah disepakati adalah bahwa jika lelaki dan wanita keduanya bersamaan mengambil air dengan tangan mereka masing-masing dari satu bejana, maka hal itu tidaklah membuat air itu menjadi najis.”
Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Maratib Al-Ijma’ (1/18), “Para ulama sepakat akan bolehnya dua lelaki atau dua wanita berwudhu bersama.”
Ijma’ juga dinukil oleh Imam Al-Qurthubi dalam Al-Mufhim (1/583) dan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah dalam Majmu’ Al-Fatawa (21/51)

Adapun landasan dari ijma’ ini adalah sebagai berikut:
1. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَاحِدٍ فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُولَ دَعْ لِي دَعْ لِي. قَالَتْ: وَهُمَا جُنُبَانِ
“Saya pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana yang terletak di antara aku dengan beliau. Lalu beliau mendahuluiku menciduk air, hingga aku berkata, “Sisakan untukku, sisakan untukku.” Amrah (perawi dari Aisyah) berkata, “Sedangkan keduanya dalam keadaan junub.” (HR. Muslim no. 321)
2. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَيْمُونَةَ كَانَا يَغْتَسِلَانِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Maimunah pernah mandi bersama dari satu bejana.” (HR. Al-Bukhari no. 253)
3. Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمَرْأَةُ مِنْ نِسَائِهِ يَغْتَسِلَانِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan salah seorang dari isteri beliau pernah mandi (junub) dalam satu bejana.” (HR. Al-Bukhari no. 264)

Category: Fiqh | Comments Off on Hukum Lelaki dan Wanita Bersuci Bersama