Archive for December, 2011

Telah Terbit Ezine Islami Edisi 5

December 10th, 2011 by Arvan

Telah Terbit Ezine Islami Edisi 5

Alhamdulillah, di akhir tahun masehi sekaligus di awal tahun hijriah ini, Ezine Islami Al-Atsariyyah, kembali terbit dengan berbagai materi dan pembahasan ilmiah yang semakin menarik dan insya Allah memberikan banyak tambahan wawasan keagamaan kepada kita bersama, amin.

Adapun materi-materi yang kami bahas dalam edisi ke 5 ini adalah sebagai berikut:
1. Dalam Rubrik Al-Qawa’id Al-Arba’, kita sudah memasuki kaidah ketiga, yaitu: Semua kesyirikan itu mempunyai hukum yang sama.
Karena ini sudah kaidah ketiga, maka itu berarti satu edisi lagi -insya Allah- kita akan menyelesaikan risalah Al-Qawa’id Al-Arba’ ini.

2. Dalam rubrik Nahwu Dasar, kita berbicara mengenai al-jumlah (kalimat) beserta beberapa pembagiannya. Serta ada pembahasan amil-amil yang sangat penting dalam kemampuan membaca tulisan arab yang tidak berharakat.
Setelah memahami amil-amil yang kami sebutkan, maka insya Allah sedikit-sedikit anda akan bisa memberikan harakat pada kata-kata bahasa Arab yang mudah dan biasa anda temukan sehari-hari. Untuk itu kami berikan Pekerjaan Rumah untuk menguji pemahaman anda tentang amil-amil ini.

3. Rubrik Musthalah Al-Hadits sekarang sudah sampai pada pembagian hadits menjadi 4: Hadits qudsi, marfu’, mauquf, dan maqthu’. Dan pada edisi ini yang baru dibahas adalah hadits marfu’ dan maqthu’.

4. Dalam fiqhi, kita sudah sampai pada hadits kelima dari bab air. Pembahasan edisi berpusat pada dua masalah penting dan luas di kalangan ulama, yaitu: Hukum air yang tidak mengalir dan hukum air musta’mal.

5. Mengetahui dan memahami betul dalil-dalil yang syah dipakai berdalil dalam fiqhi adalah perkara yang sangat penting diketahui untuk bisa sampai kepada pendapat yang paling benar dalam setiap permasalahan. Dan betapa banyak seseorang salah dalam memilih pendapat dikarenakan dalil yang mereka gunakan tidak tepat. Karenanya, dalam rubrik Ushul Fiqhi ini, kami membahas mengenai Dalil-Dalil Syar’i Dalam Bab Fiqhi.

6. Sementara dalam Al-Qawa’id Al-Fiqhiah, kaidah Maslahat dan Mafsadat baru selesai penjabarannya dalam edisi kelima ini. Hal ini wajar mengingat ini kaidah ini merupakan kaidah yang terbesar dan terluas dari semua kaidah fiqhiah yang ada.

7. Dan dalam pelajaran manhajiah, kami mensyarah aqidah ahlissunnah berkenaan dengan sahabat dan ahli bait Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang terdapat dalam risalah Ashlu As-Sunnah.

Demikian gambaran secara global. Untuk membaca preview setiap rubrik, silakan mengklik setiap link di atas atau silakan kunjungi: http://ezine.al-atsariyyah.com untuk langsung berlangganan.

Category: Info Kegiatan | No Comments »

Awal Waktu Shalat Jumat

December 8th, 2011 by Arvan

Awal Waktu Shalat Jumat

Para ulama berbeda pendapat mengenai awal waktu shalat jumat:
1. Awal waktunya sama seperti awal waktu shalat zuhur, yaitu ketika zawal (tergelincirnya matahari).
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Berikut dalil-dalil mereka:
Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Jum’at ketika matahari sudah tergelincir.” (HR. Al-Bukhari no. 853)
Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu anhu dia berkata:
كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ
“Kami shalat Jum’at bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika matahari tergelincir. Setelah itu kami pulang sambil menyusuri al-fay (bayangan matahari).” (HR. Muslim no. 1423)

2. Awal waktu shalat jumat adalah sebelum zawal.
Ini adalah pendapat Ahmad. Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu Abbas, Atha`, dan Ishaq. Berikut dalil-dalil mereka:
Dari Jabir radhiallahu anhu bahwa beliau pernah ditanya: “Kapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat Jum’at?” Maka beliau menjawab:
كَانَ يُصَلِّي ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَاحِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ
“Biasanya beliau shalat Jum’at, kemudian setelah itu kami pulang ke ternak unta kami, dan mengistirahatkannya di saat matahari tergelincir.” (HR. Muslim no. 1421)
Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallahu anhu dia berkata:
كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجُمُعَةَ ثُمَّ نَنْصَرِفُ وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ فِيهِ
“Kami pernah shalat Jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seusai shalat kami kemudian beranjak pergi, sementara belum ada bayangan dinding yang dapat kami jadikan untuk tempat berteduh.” (HR. Al-Bukhari no. 3850) Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 6 Comments »

Air Musta’mal dan Hukumnya

December 6th, 2011 by Arvan

Air Musta’mal dan Hukumnya

Definisi Air Musta’mal
Apa itu air musta’mal (اَلْمُسْتَعْمَلُ)?
Air musta’mal secara bahasa maknanya: Air yang sudah digunakan. Sementara menurut istilah, air musta’mal di kalangan ulama diperuntukkan untuk dua keadaan:
1. Air yang menetes dari tubuh ketika seseorang berwudhu atau mandi junub(1).
2. Air yang telah telah digunakan untuk bersuci (mandi atau wudhu), sementara airnya sedikit(2).
Karenanya, jika seseorang berwudhu atau mandi, lalu air dari kulitnya masuk lagi ke dalam bejananya maka air dalam bejana itu sudah dihukumi musta’mal. Atau seseorang berwudhu melalui kran dan di bawahnya ditadah dengan bejana, maka air dalam bejana itu adalah musta’mal. Atau seseorang berwudhu atau mandi dari bejana, dengan cara dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana ketika dia menciduk air, maka air dalam bejana itu juga sudah musta’mal.

Hukum Air Musta’mal
Pendapat yang paling benar dalam hukumnya adalah bahwa air musta’mal itu suci dan menyucikan atau bisa dipakai bersuci. Adapun dalil bahwa air musta’mal adalah suci:
Dari Al-Miswar bin Makhramah radhiallahu anhu dia berkata:
وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, hampir-hampir saja mereka berkelahi memperebutkan air bekas wudhu beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 516)
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ
“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, dan tangan kami saling bersentuhan.” (HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 484)
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Sisi pendalilannya jelas: Seandainya air musta’mal najis, niscaya para sahabat dan Aisyah radhiallahu anhum tidak akan menggunakannya untuk bersuci. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 8 Comments »

Ayo Persiapkan Diri!

December 4th, 2011 by Arvan

Ayo Persiapkan Diri!

Alhamdulillah, insya Allah mulain senin tanggal 05 Desember 2011, radio streaming Taklim Online akan mulai memutar pelajaran-pelajaran ilmu alat, ilmu aqidah, dan fiqhi secara bersambung setiap hari.

Bagi anda yang ingin takhashshus atau privat ilmu-ilmu Islam tapi tidak punya waktu luang atau tidak punya kesempatan untuk belajar di ponpes, maka kesempatan ini insya Allah sangat baik anda manfaatkan.

Karenanya, ayo persiapkan diri. Ikuti pelajaran dari awal, agar bisa mendapatkan pemahaman yang sempurna. Untuk membantu, kami telah menyediakan kitab-kitab yang akan dibahas untuk didownload.

Dan untuk hasil yang lebih maksimal, kami anjurkan anda berlangganan Ezine Islami Al-Atsariyyah (sekalian promosi ya). Karena di dalam Ezine ini juga dibahas ilmu-ilmu alat Islam, serta ilmi aqidah dan fiqhi. Hanya saja tentunya dalam bentuk tulisan sehingga memudahkan untuk kembali membacanya, plus adanya layanan tanya jawab bagi pelanggan Ezine.

Info selengkapnya tentang Kajian Online, silakan kunjungi situs resminya: http://taklimonline.com/.

Info selengkapnya tentang Ezine Islami, silakan kunjungi situs resminya: http://ezine.al-atsariyyah.com/.

http://ezine.al-atsariyyah.com/

Category: Info Kegiatan | No Comments »

Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran

December 2nd, 2011 by Arvan

Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.

Kun-yah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Baghdadi.
Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya. Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia.

Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu
Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semacam TPA di zaman sekarang).
Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.
Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:
1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.
2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.
3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.
4. Abdurrahman bin Mahdi.
5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.
Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin ‘Uyainah di Qullah, sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.
Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”
Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya, tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun. Beliau pun akhirnya bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku dapatkan dari Abdurrazaq.”
Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.
Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah kembali ke Baghdad.
Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | 1 Comment »