Archive for December, 2011

Download Fatawa Audio

December 30th, 2011 by Abu Muawiah

Download Fatawa Audio

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Pada hari ini, kembali al-atsariyyah.com memunculkan satu program yang menjadi sarana bagi kaum muslimin untuk menambah wawasan keagamaan mereka.

Program yang dimaksud adalah Download Fatawa Audio. Program ini kami munculkan karena beberapa alasan, di antaranya:
1. Terkadang kami mendapatkan pelajaran penting dari sela-sela fatwa atau ucapan para ulama yang kami baca. Akan tetapi karena terkadang kami malas mengetiknya, sehingga kamipun tidak bisa menampilkan terjemahannya di al-atsariyyah. Akan tetapi dengan langsung merekam terjemahannya, maka semuanya menjadi mudah dan kamipun tidak perlu bersusah payah mengetiknya.
2. Tidak sedikit kaum muslimin yang terkadang jenuh mendengarkan file audio selama satu jam penuh, apalagi lebih dari itu. Karenanya, dengan fatwa-fatwa yang mengandung jawaban ringkas beserta dalil yang cukup, kami berharap kaum muslimin bisa langsung mendapatkan jawaban dari masalah yang dia ingin ketahui tanpa harus mendengarkan satu kajian penuh dari awal sampai akhir.

Sebenarnya, download audio seperti ini sudah banyak di blog-blog ahlussunnah lainnya. Hanya saja kelebihan yang mungkin kami miliki di sini adalah:
1. Jawaban pertanyaan tersebut dijawab oleh para ulama ahlussunnah yang sudah diakui keilmuannya di seluruh dunia.
2. Itupun kami berusaha semaksimal mungkin untuk hanya menerjemahkan fatwa-fatwa mereka yang disertai dengan dalil. Walaupun kami meyakini bahwa setiap fatawa mereka tentu berlandaskan dalil, akan tetapi kami hanya akan menerjemahkan yang dalilnya tersebut, sebagai pelajaran kepada kaum muslimin secara umum.
3. Untuk menjaga amanat ilmiah, kami sertakan sumber asli fatwa tersebut dari kitab-kitab mereka, berupa judul kitab dan nomor fatwanya.

Awalnya kami ingin menjadikan kegiatan ini ke dalam blog dengan domain tersendiri. Akan tetapi karena keadaan yang belum memungkinkan dan juga kebetulan sudah ada blog kami yang juga sifatnya audio, yaitu: taklimonline.com. Maka kami akhirnya memutuskan untuk menggabungkan kegiatan ini ke dalam domain tersebut. Dan bagi yang langsung mau mendownload fatawa audionya, silakan menuju ke: Download Fatawa Audio.

Terakhir, kami mengharap adanya peran serta aktif dari kaum muslimin yang mampu dan mempunyai kesempatan untuk mentranskrip isi dari file audio tersebut, agar hasil transkripnya bisa disebarkan dan bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin lain yang tidak bisa mendownload file auidonya.

Demikian yang bisa kami gambarkan mengenai kegiatan ini, semoga Allah Ta’ala menjadikan kegiatan ini sebagai amal jariah bagi kita bersama dan menjadikannya bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin. Allahumma amin.

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Download Fatawa Audio

Apakah Membaca Al-Asmaul Husna Bisa Mendatangkan Jin (Khodam)?

December 28th, 2011 by Abu Muawiah

Apakah Membaca Al-Asmaul Husna
Bisa Mendatangkan Jin (Khodam)?

Tanya: Benarkah asmaul husna dapat mendatangkan jin (khodam), lalu bagaimana pendapat yang jelas?

Jawab: Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillah, wa ‘alaa aalihii wa shahbihi ajma’iin.
Seorang muslim tidak diperkenankan berbicara, mengamalkan atau meyakini sesuatu yang berkaitan dengan nama-nama Allah kecuali dengan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang shahihah.
Dan tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa Al-Asmaaul Husnaa digunakan untuk mendatangkan jin atau khodam. Bahkan ini termasuk penyelewengan dalam menggunakan nama-nama Allah ta’aalaa. Allah ta’aalaa berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف/180]
Artinya: “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 7:180)
Adapun keberhasilan sebagian orang dalam mendatangkan jin dengan membaca Al-Asmaaul Husnaa maka ini tidak bisa dijadikan dalil, karena kedatangan jin tersebut bukan karena Al-Asmaul Husnanya, akan tetapi ada faktor lain, seperti membaca Al-Asmaaul Husnaa dicampur dengan nama jin, atau mantra-mantra yang mengandung kesyirikan.
Berkata Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah:
وقد يغلو بعض الناس في هذا الباب فيزعمون أن لكل اسم من أسماء الله الحسنى خواص وأسرارا تتعلق به، وأن لكل اسم خادما روحانيا يخدم من يواظب على الذكر به….وهذا فتح لباب الخرافة على مصراعيه، بل إن كثيرا من السحرة والمشعوذين دخلوا من هذا الباب كيدا للناس وتحصيلا للمطامع ونشرا للشر
“Dan sebagian manusia berlebih-lebihan dalam bab ini (al-asmaul husna), mereka menyangka bahwa setiap nama dari nama-nama Allah yang baik memiliki kekhususan dan rahasia-rahasia yang berkaitan dengannya, dan bahwasanya setiap nama tersebut memiliki khadam yang membantu orang yang senantiasa membacanya…, dan keyakinan seperti ini membuka lebar pintu khurafat, bahkan sesungguhnya kebanyakan tukang sihir dan dukun-dukun menggunakan cara ini untuk menipu manusia, menghasilkan apa yang mereka inginkan, dan menyebarkan kejahatan” (Fiqh Al-Asmaaul Husnaa hal:68) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • al jin asmaul husna
  • cara mengamalkan asmaul husna yang benar
  • kenapah berzikir bisa mendatangkan hodam

Category: Aqidah | 11 Comments »

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

December 26th, 2011 by Abu Muawiah

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

Soal:
assalamu’alaikum.
Afwan y ustd,apakah benar imam Syafi’i tdk pernah berpendapat bhw bid’ah itu dibagi dua? Karena yg saya tahu dari kitab2 klasik banyak yg menerangkan tentang itu. Tapi setelah saya dengar dari ustadz bhw itu hanya kesalahfahaman maka saya pun kaget. Benarkah itu hanya mengada ada atau bgmana? Tolong sampaikan amanat ilmiah yg sejujurnya.
wassalamu’alaikum wr wb.
sofiudin
khaeruljafar@yahoo.com

Jawaban:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Memang betul, pembagian bid’ah menjadi dua ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Hanya saja seperti yang kami katakan bahwa itu merupakan kesalahahpahaman. Berikut penjelasan ringkasnya yang kami kutip dari buku kami yang berjudul ‘Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam’ hal. 63-65, ketika kami membawakan dalil-dalil mereka yang berpendapat adanya bid’ah hasanah. Kami berkata pada dalil mereka yang kelima:

Mereka berdalilkan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah-:
اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ, فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ
“Bid’ah itu ada dua: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Semua yang sesuai dengan sunnah, maka itu adalah terpuji, dan semua yang menyelisihi sunnah, maka itu adalah tercela.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/113))
Semakna dengannya, apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469) bahwa beliau berkata:
اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ, وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
“Perkara yang baru ada dua bentuk: (Pertama) Apa yang diada-adakan dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’, inilah bid’ah yang sesat. Dan (yang kedua) apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut, maka inilah perkara baru yang tidak tercela”.

Ini dijawab dari tiga sisi:
1.    Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullah- dalam ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 121 mengomentari kedua perkataan Asy-Syafi’i di atas, “Di dalam sanad-sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul (tidak diketahui)”.
Hal ini karena di dalam sanad Abu Nu’aim terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Muhammad Al-Athasi. Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad dan As-Sam’ani dalam Al-Ansab menyebutkan biografi orang ini dan keduanya tidak menyebutkan adanya pujian ataupun kritikan terhadapnya sehingga dia dihukumi sebagai rawi yang majhul. Adapun dalam sanad Al-Baihaqi, ada Muhammad bin Musa bin Al-Fadhl yang tidak didapati biografinya. Ini disebutkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Al-Bida’ wa Atsaruhas Sayyi` alal Ummah hal. 63.

2.    Andaikan ucapan di atas shahih (benar) datangnya dari Imam Asy-Syafi’i, maka maksud dari perkataan beliau -rahimahullah- [“bid’ah yang terpuji”] adalah bid’ah secara bahasa bukan menurut syar’i. Karena beliau memberikan definisi bid’ah yang terpuji dengan perkataan beliau [“semua yang sesuai dengan sunnah”] dan [“apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut”] sedangkan semua bid’ah dalam syari’at adalah menyelisihi sunnah. Ini disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam (hal. 233). Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bid\ah menurut imam syafi\i
  • madzhab syafii bidah hasana

Category: Jawaban Pertanyaan, Syubhat & Jawabannya | 13 Comments »

Zikir-Zikir Pagi Dan Petang (Lengkap)

December 24th, 2011 by Abu Muawiah

Zikir-Zikir Pagi Dan Petang

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“Barang siapa, ketika pagi dan sore, membaca doa: SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dan itu.[1]” (HR. Muslim)

            Dan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ

“Apabila sore hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan do’a yang berbunyi: “AMSAYNA WA AMSAL MULKU LILLAHI WALHAMDU LILLAH. LAA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR. RABBI AS`ALUKA KHAYRA MAA FII HADZIHIL LAILAH, WA KHAYRA MAA BA’DAHA. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HADZIHIL LAILAH, WA SYARRI MAA BA’DAHA. RABBI A’UDZU BIKA MINAL KASALI WA SUU`IL KIBARI. RABBI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIN FIN NAARI WA ‘ADZABIN FIL QABRI (Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada sembahan yang haq selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah semua kekuasaan dan pujian, dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada pada malam ini dan kejahatan sesudahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kesengsaraan di masa tua. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan azab di dalam kubur).”

Apabila pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengucapkan doa tersebut dengan diganti bagian pertamanya menjadi: ASHBAHNA ASHBAHAL MULKU LILLAHI (Kami memasuki pagi hari dan pada pagi hari ini jagad raya dan seisinya adalah milik Allah).[2]” (HR. Muslim)

            Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

قَالَ: وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sayyid al-istighfar (pimpinan doa istighfar) adalah kamu mengucapkan: ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU. ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU`U LAKA BIDZANBI FAGHFIRLI. FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ-DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu).”

Beliau bersabda: “Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.[3]” (HR. Al-Bukhari) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • ZIKIR PAGI

Category: Fadha`il Al-A'mal, Zikir & Doa | 10 Comments »

PANDUAN PRAKTIS BEKAM UNTUK PEMULA

December 22nd, 2011 by Abu Muawiah

PANDUAN PRAKTIS BEKAM UNTUK PEMULA
Oleh : dr.Abu Hana El-Firdan

Pengantar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah besabda :
الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ
“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari)
Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ
“Sesungguhnya cara pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah alhijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim)

Persiapan Bekam
Sebenarnya tidak ada persiapan khusus jika akan melakukan bekam. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli bekam, beberapa ahli menganjurkan agar berpuasa terlebih dahulu, adapun ahli bekam yang lain justeru menyarankan makan terkebih dahulu 2 jam sebelum dilakukan bekam untuk menghindari syok/pingsan.
Adapun langkah persiapannya sebagai berikut :
1.    Lakukan pemeriksaan umum, meliputi : tekanan darah, nadi, temperatur  tubuh, pernafasan, lidah iris (iridology), telapak tangan (palmistry) dan lain-lain. Yang terpenting adalah bisa mengetahui penyakitnya, boleh dengan cara diagnosis medis maupun secara tradisional atau gabungan keduanya. Pasien dengan kondisi fisik yang sangat lemah sebaiknya ditunda untuk dilakukan bekam.

2.    Cari dan Diagnosa penyakitnya,  Jika diperlukan lakukan pemeriksaan laboratorium, rekam jantung/EKG, CT-Scan, dan lain-lain untuk memudahkan diganosa penyakit.

3.    Tentukan Titik bekamnya, Dalam menentukan titik bekam terdapat beberapa versi (madzhab) ada yang berdasarkan titik nabawi saja, berdasarkan lokasi keluhan, berdasarkan titik akupuntur dan ada yang mendasarkan pada anatomi dan patofisiologi organ yang bermasalah. Sampai sekarang belum ditemukan kata sepakat diantara beberapa madzhab tersebut, penulis sendiri bermadzhab pada titik bekam yang didasarkan pada titik nabawi dan anatomi dan patofisiologi organ yang bermasalah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • berapa lama terapi untuk bekam
  • minyak yang dipakai bekam

Category: Artikel Umum | 2 Comments »

Zakat Kontrakan Rumah Atau Ruko

December 20th, 2011 by Abu Muawiah

Zakat Kontrakan Rumah Atau Ruko

Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullahu Ta’ala ditanya:
Jika seseorang mempunyai rumah atau toko yang dia kontrakkan. Apakah perhitungan haul untuk untuk zakat hasil sewanya ini dimulai sejak akad ataukah dimulai setelah dia menerima pembayaran sewanya?
Maka beliau rahimahullah menjawab:
Perhitungan haul zakatnya dimulai sejak akad, karena pembayaran sewa itu sudah menjadi miliknya sejak akad -walaupun belum dianggap tetap kecuali setelah penyewa memanfaatkannya-. Karenanya, jika kontrakannya sudah digunakan, dan dia sudah menerima uang sewanya, dan telah berlalu setahun

sejak akad, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.
Adapun jika dia menerima uang sewanya di pertengahan tahun (baca: 6 bulan setelah akad) lalu dia membelanjakan uang tersebut sebelum genap setahun, maka dia tidak mempunyai kewajiban zakat pada uang ini.

Jika diperumpamakan dia menyewakan tokonya senilai 10.000 real, dan setelah berlalu 6 bulan, dia menerima menarik 5000 real lalu membelanjakannya. Maka 5.000 real yang dia ambil ini tidak wajib dizakati karena belum genap setahun sejak akad. Adapun 5.000 real lainnya yang dia tarik setelah genap setahun, maka itu wajib dikeluarkan zakatnya, karena dia telah melalui setahun sejak akad.

[Diterjemahkan dari Fatawa wa Rasa`il Ibni Utsaimin jilid 18 soal no. 7]

Incoming search terms:

  • menghitung zakat rumah kontrakan

Category: Fatawa, Fiqh | 5 Comments »

Syahnya Shalat Jika Kuburan di Luar Masjid

December 18th, 2011 by Abu Muawiah

Syahnya Shalat Jika Kuburan di Luar Masjid

Soal:
Apa hukum shalat di dalam masjid yang di depannya ada pekuburan?

Jawab:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Amma ba’du:
Shalat di masjid yang di depannya ada pekuburan di luar dinding masjid adalah syah, karena yang dilarang hanyalah shalat di dalam masjid yang kuburan terdapat di dalamnya. Sebagaimana yang datang dalam hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa beliau bersabda:
اَلْأَرْضُ كُلُّها مَسْجِدٌ، إِلاّ الْمَقْبَرةَ وَالْحَمّامَ
“Bumi semuanya adalah tempat shalat kecuali pekuburan dan wc.”
Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Jundub dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam beliau bersabda:
أَلآ وَإِنَّ مَنْ كانَ قَبْلَكُمْ كانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيائِهِمْ وَصالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلآ فَلاَ تَتّخِذُوْا الْقُبُوْرَ مَساجِدَ، إنّي أَنْهاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ketahuilah, maka janganlah kalian menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.”
Dan juga dalam sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersabda:
لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ، وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْها
“Janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan dan jangan pula kalian duduk di atasnya.”
Ini jika shalat menghadap kuburan tanpa ada tembok atau dinding. Adapun jika di depan ada dinding atau tembok sementara pekuburannya di luar masjid, maka shalatnya syah insya Allah.

[Diterjemah dari Tuhfah Al-Mujib soal no. 65, karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah]

Category: Fatawa, Fiqh | 6 Comments »

Blog Resmi dan Perubahan Nama Ezine Islami

December 16th, 2011 by Abu Muawiah

Blog Resmi dan Perubahan Nama Ezine Islami

Alhamdulillah, berkat keluasan dan kemudahan yang Allah Ta’ala berikan, maka blog Ezine Islami Al-Atsariyyah yang tadinya merupakan sub domain dari Al-Atsariyyah.com, sekarang sudah mempunyai domain sendiri dengan nama: http://penuntutilmu.com

Dan bersamaan dengan ini pula kami sampaikan kepada seluruh pelanggan Ezine Islami Al-Atsariyyah, bahwa mulai edisi ke 6 berikutnya insya Allah, nama dari Ezine kita berubah menjadi: Majalah Islami Penuntut Ilmu.

Kemudian mengenai blog resmi yang baru, kami sudah menginput semua preview materi-materi edisi sebelumnya. Dan bukan hanya itu, setiap preview materi rubrik yang kami sebutkan dalam blog ini mempunyai kelebihan dibandingkan preview yang yang biasa kami sebutkan pada blog ezine.al-atsariyyah.com sebelumnya. Yaitu:
1. Preview yang kami tampilkan lebih banyak dan lebih panjang dari sebelumnya, sehingga orang yang hanya membaca previewnya saja insya Allah akan tetap mendapatkan manfaat ilmu darinya.
2. Kami sertakan point-point pembahasan yang pembahasannya terdapat dalam majalah aslinya secara lengkap dan tidak tersebut dalam previewnya. Hal ini kami lakukan agar orang yang hanya membaca previewnya tetap bisa mengetahui point-point apa saja yang dibahas lengkap dalam majalah versi lengkapnya.

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan. Semoga perubahan ini juga bisa merubah Majalah Islami Penuntut Ilmu ini menjadi lebih baik lagi. Dan semoga semakin banyak para penuntut ilmu yang bergabung bersama kami dalam membahas dan mempelajari ilmu-ilmu alat Islam dan yang berkenaan dengannya, Allahumma amin.

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Blog Resmi dan Perubahan Nama Ezine Islami

Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat

December 14th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum memberi nama anak dengan nama malaikat adalah makruh.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu ketika menjelaskan beberapa nama yang makruh:
ومنها كأسماء الملائكة كجبرائيل وميكائيل وإسرافيل فإنه يكره تسمية الآدميين بها، قال أشهب: سئل مالك عن التسمي بجبريل، فكره ذلك ولم يعجبه.
“Diantaranya adalah nama-nama malaikat seperti Jibraa’iil, Miikaa’iil, dan Israafiil, maka memberi anak Adam dengan nama-nama tersebut adalah makruh.
Berkata Asyhab: Malik ditanya tentang seseorang yang memiliki nama Jibriil? Maka beliau membencinya dan tidak beliau senangi”. (Tuhfatul Mauduud hal:119)
Pendapat ini dirajihkan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, beliau berkata:
أما أسماء الملائكة: فمن العلماء من قال: التسمي بأسمائهم حرام. ومنهم من قال: إنه مكروه. ومنهم من قال: مباح. والأقرب الكراهية مثل جبريل، وميكائيل، وإسرافيل، فلا نسمي بهذه الأسماء؛ لأنها أسماء ملائكة.
“Adapun nama-nama malaikat, maka diantara ulama ada yang mengatakan bahwa memberi nama dengan nama-nama mereka adalah haram. Dan ada yang mengatakan makruh, dan ada pula yang mengatakan boleh. Dan pendapat yang lebih dekat adalah makruh, seperti Jibril, Mikail, Israfil, maka kita tidak memberi nama dengan nama-nama ini karena nama-nama ini adalah nama-nama malaikat”. (Asy-Syarhul Mumti’ 7/497-498)
Adapun mayoritas ulama maka mereka mengatakan boleh dan tidak mengapa.
Ma’mar bin Rasyid Al-Azdy (wafat th. 154 H) rahimahullah berkata:
قلت لحماد بن أبي سليمان كيف تقول في رجل يسمى بجبريل وميكائيل؟ فقال: لا بأس به
“Aku berkata kepada Hammaad bin Abi Sulaiman: Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang diberi nama Jibriil dan Mikaaiil? Beliau menjawab: Tidak mengapa. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf 11/40 no: 19850)
Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah:
مذهبنا ومذهب الجمهور جواز التسمية باسماء الانبياء والملائكة
“Madzhab kami dan madzhab jumhur adalah bolehnya memberi nama dengan nama para nabi dan malaikat”. (Al-Majmu’ 8/436) Read the rest of this entry »

Category: Seputar Anak | Comments Off on Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat

Siapakah Ahli Bait?

December 12th, 2011 by Abu Muawiah

Siapakah Ahli Bait?

1. Yang paling pertama masuk ke dalam kategori ahli bait Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah jelas istri-istri beliau, baik istri yang meninggalnya sebelum beliau maupun sebelum beliau radhiallahu anhunna. Istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah:
a. Khadijah bintu Khuwailid.
b. Aisyah bintu Abi Bakar.
c. Saudah bintu Zam’ah.
d. Hafshah bintu Umar.
e. Zainab bintu Khuzaimah.
f. Ummu Salamah Hindun bintu Abi Umayyah.
g. Zainab bintu Jahsy.
h. Juwairiah bintu Al-Harits.
i. Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan.
j. Shafiyah bintu Huyay.
k. Maimunah bintu Al-Harits.
Semoga Allah Ta’ala meridhai mereka seluruhnya.
Dalil bahwa para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk ahli bait adalah ayat ke-33 dari surah Al-Ahzab. Allah Ta’ala berfirman tentang para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

”Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahli bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

2. Termasuk dalam ahli bait beliau adalah seluruh anak-anak keturunan beliau, baik yang meninggal setelah beliau maupun yang meninggal sebelum beliau shallallahu alaihi wasallam. Seperti: Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: { فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ }. دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي

“Tatkala turun ayat: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain lalu bersabda: “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.” (HR. Muslim no. 4420)

3. Termasuk ahli bait yang disebutkan oleh para ulama adalah kerabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Bani Hasyim, yaitu: Keluarga Ali bin Abi Thalib,  keluarga Al-Abbas bin Abdil Muththalib, keluarga Ja’far bin Abi Thalib, keluarga Uqail bin Abi Thalib, dan keluarga Al-Harits bin Hisyam bin Abdil Muththalib. Hal ini sebagaimana yang Ini disebutkan oleh sahabat Zaid bin Arqam dalam hadits riwayat Muslim no. 4425

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 1 Comment »