Archive for November, 2011

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

November 30th, 2011 by Abu Muawiah

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

Pertanyaan:
Bolehkan orang yang dikubur disifati dengan kalimat: ‘Memasuki tempat peristirahatan terakhirnya’ atau kalimat-kalimat semacamnya?

Jawab:
Kita baru saja mendengar kabar-kabar orang yang meninggal yang disiarkan oleh sebagian radio-radio Arab, yaitu dengan menyebutkan nama-nama orang yang meninggal tersebut. Misalnya dalam hal ini dikatakan: Telah meninggal fulan bin fulan dan seterusnya, dan dia akan dibaringkan di tempat peristirahatan terakhirnya pada jam sekian pada hari sekian.
Sudah dari dahulu saya sudah memberikan catatan terhadap ucapan ini dan terkadang saya mengingatkan bahwa ungkapan semacam ini ‘peristirahatan terakhir’ bukanlah termasuk dari ungkapan-ungkapan syar’iyah. Hal itu karena ungkapan seperti ini bisa keluar dari mulut seorang mukmin yang beriman akan adanya kebangkitan dan bisa juga keluar dari mulut seorang mulhid (kafir) yang tidak mengimani adanya kebangkitan.

Hanya saja jika ungkapan seperti ini diucapkan oleh seorang mukmin, maka ungkapan ini sangat kurang. Berbeda halnya jika diucapkan oleh seorang mulhid, maka dia sebenarnya tengah mengungkapkan sendiri penyimpangannya, karena dia tidak mengimani bahwa setelah tempat peristirahatan atau tempat kembali terakhir ini masih ada kehidupan yang lain. Tatkala sudah dipahami bersama bahwa seorang muslim itu harus berbeda dalam seluruh ucapan dan amalannya dari orang-orang yang bertentangan dengannya dalam hal pemikiran dan akidah, maka sudah sepantasnya juga dia wajib untuk menjauhi ungkapan-ungkapan semacam ini, yang mana ungkapan ini mengesankan pengingkaran kepada kebangkitan. Maka sepatutnya dikatakan -misalnya-: ‘Tempat peristirahatan terakhirnya di dalam kubur’ atau ‘di alam barzakh’ atau ungkapan-ungkapan semacamnya, yang jelas harus diberikan pembatasan. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Nadzar Muqayyad Diharamkan?

November 28th, 2011 by Abu Muawiah

Nadzar Muqayyad Diharamkan?

Nadzar muqayyad adalah seorang hamba mengharuskan dirinya untuk mengerjakan suatu ibadah sebagai balasan dari kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Misalnya dia mengatakan: Jika Allah menyembuhkanku maka aku akan bersedekah atau jika saya lulus maka saya akan shalat semalaman atau ucapan semacamnya.
Bernadzar dengan nadzar seperti ini dilarang dalam syariat Islam, dan kepada nadzar jenis inilah diarahkan semua dalil yang melarang dan mencela nadzar. Di antara dalil-dalil yang melarang dan mencela bentuk nadzar muqayyad ini adalah:
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Bahwa beliau melarang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Sesungguhnya (nadzar) tidak akan mendatangkan suatu kebaikan, dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3095)
Larangan dalam hadits ini tentu saja tidak ditujukan kepada nadzar ibadah yang sudah disebutkan di atas, akan tetapi larangan ini ditujukan kepada nadzar muqayyad. Yang menguatkan hal ini adalah adanya beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa nadzar yang dilarang ini adalah nadzar yang dilakukan dan dikaitkan dengan adanya suatu kejadian yang Allah Ta’ala takdirkan, dan inilah hakikat dari nadzar muqayyad. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah:
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nadzar dan bersabda, “Sesungguhnya nadzar tidak bisa mencegah apa-apa, dan dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6118 dan Muslim no. 3093)
Beliau radhiallahu ‘anhuma juga berkata: Bukankah mereka dilarang dari nadzar? Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَا يُؤَخِّرُ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Sesungguhnya nadzar tidak bisa menyegerakan sesuatu dan tidak pula bisa menangguhkannya. Nadzar ini hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6198)
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ مِنْ الْقَدَرِ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Bahwa beliau melarang seseorang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Hal itu tidak bisa mengubah takdir, dan nadzar itu hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3097) Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | 15 Comments »

Doa Kepada Allah Ada Dua Jenis

November 26th, 2011 by Abu Muawiah

Doa Kepada Allah Ada Dua Jenis

Doa kepada Allah terbagi menjadi 2[1]:

Jenis pertama: Doa ibadah.

Yaitu meminta pahala dengan menggunakan (baca: bertawassul) amalan-amalan saleh seperti: Pengucapan dua kalimat syahadat dan pengamalan konsekuensi keduanya, shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih untuk Allah, dan bernazar untuk-Nya. Sebagian ibadah di atas ada yang mengandung doa dengan lisan (lisanul maqal) disertai doa dengan keadaan (lisanul hal) misalnya shalat. Barangsiapa yang mengerjakan ibadah-ibadah ini dan ibadah fi’liyah (yang berupa perbuatan) lainnya maka berarti dia telah berdoa dan meminta kepada Rabbnya -dengan keadaannya ketika itu (sedang beribadah)- agar Dia mengampuni dirinya.

Kesimpulannya, doa ibadah adalah seorang beribadah kepada Allah untuk meminta pahala-Nya dan karena takut terhadap siksaan-Nya. Jenis doa (ibadah) ini tidak boleh diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala, dan barangsiapa yang memalingkan sedikit pun darinya kepada selain Allah maka sungguh dia telah kafir dengan kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama[2]. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | 3 Comments »

Penjelasan Lemahnya Kisah Tsa’labah bin Hathib

November 24th, 2011 by Abu Muawiah

Penjelasan Lemahnya Kisah
Tsa’labah bin Hathib

Di antara keyakinan pokok ahlissunnah wal jama’ah yang tertera dalam kitab-kitab aqidah mereka adalah: Wajibnya menghormati dan memuliakan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam serta wajibnya menjaga lisan dari ucapan yang merendahkan mereka. Insya Allah keyakinan ini akan kami bahas pada tempat yang lain.
Hanya saja di sini kami akan menyebutkan sebuah kisah yang ramai dan tersebar di kalangan kaum muslimin, dimana kisah tersebut bercerita tentang kejelekan salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang bernama Tsa’labah bin Hathib radhiallahu anhu. Padahal mereka tidak mengetahui kalau kisah tersebut sebenarnya merupakan kisah yang mungkar dan tidak berdasar, baik dari sisi sanadnya maupun dari sisi matan (isi)nya.
Untuk lebih jelasnya, berikut penjelesannya secara lebih lengkap:

Penjelasan Lemahnya Kisah Ini Dari Sisi Sanad.
Dari Abu Umamah Al-Bahiliy -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Tsa’labah bin Hathib Al-Anshory telah datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta. Maka beliau bersabda, “Celaka engkau, hai Tsa’labah. Harta yang sedikit tapi engkau syukuri lebih baik dibandingkan harta yang banyak tapi engkau tak mampu (syukuri)”.
Lalu ia mendatangi beliau lagi setelah itu seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta”. Maka beliau bersabda, “Bukankah pada diriku ada contoh yang baik bagimu. Demi (Allah) Yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan aku ingin gunung-gunung itu berubah jadi emas dan perak untukku, niscaya akan berubah”.
Lalu iapun datang lagi setelah itu seraya berkata,”Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta. Demi (Allah) Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, andaikan Allah memberikan aku harta, niscaya aku akan memberikan haknya orang yang berhaka\”. Maka beliau bersabda (berdo’a), “Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah. Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah”.
Tsa’labah pun mengambil (baca: memelihara) kambing. Kambing-kambing ini lalu berkembang laksana berkembangnya ulat. Maka ia pun akhirnya hanya bisa melaksanakan sholat zhuhur dan Ashar bersama Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sedangkan sholat-sholat lainnya dia kerjakan di tengah-tengah kambingnya. Kemudian kambingnya semakin banyak dan berkembang. Maka iapun tinggal diam (sibuk) sehingga ia tidak lagi menghadiri sholat jama’ah, kecuali sholat jum’at.
Kambingnya semakin banyak dan berkembang. Ia pun semakin sibuk, sehingga ia tak lagi menghadiri sholat jum’at dan sholat jama’ah. Apabila di hari Jum’at, ia pun menemui manusia untuk bertanya tentang berita-berita.
Pada suatu hari ia disebut-sebut oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Apa yang dilakukan Tsa’labah?”. Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, Tsa’labah telah memelihara kambing yang tidak dimuat oleh satu lembah”. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Oh, celakanya Tsa’labah. Oh, celakanya Tsa’labah. Oh, celakanya Tsa’labah”. Allah pun menurunkan ayat sedakah (baca: zakat).
Kemudian Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengutus seorang dari Bani Sulaim dan seorang lagi dari Bani Juhainah. Beliau menetapkan batasan-batasan umur sedekah (baca: zakat) kepada keduanya dan bagaimana caranya mereka menarik (zakat), seraya bersabda kepada keduanya: “Datangilah Tsa’labah bin Hathib dan seorang dari Bani Sulaim, lalu ambillah zakat dari keduanya”. Maka merekapun keluar sehingga keduanya mendatangi Tsa’labah seraya bertanya tentang zakatnya. Keduanya membacakan surat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada Tsa’labah. Tsa’labah kemudian berkata, “Ini tiada lain, kecuali jizyah (upeti), ini tiada lain, kecuali semacam jizyah. Pergilah kalian sampai kalian telah selesai (bertugas), lalu kembalilah kepadaku”. Keduanya pun pergi, sedangkan As-Sulamy mendengar tentang keduanya. Dia kemudian melihat kepada umur ontanya yang terbaik dan memisahkannya untuk zakat. Lalu ia mendatangi keduanya dengan membawa (onta-onta) tersebut. Tatkala keduanya melihat onta-onta zakat itu, maka keduanya berkata, “Bukanlah ini yang diwajibkan atas dirimu”. Dia berkata, “Ambillah, karena hatiku merelakan hal itu”. Keduanya pun mendatangi orang-orang dan menarik zakat. Kemudia keduanya kembali kepada Tsa’labah. Tsa’labah lalu berkata, “Perlihatkan surat kalian kepadaku”. Dia pun berkata, “Ini tiada lain, kecuali jizyah. Ini tiada lain, kecuali semacam jizyah. Pergilah sampai aku melihat pendapatku”. Keduanya pun pulang menghadap. Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melihat keduanya, sebelum mengajak mereka berbicara, maka beliau bersabda: “Oh, celakanya Tsa’labah”. Kemudian beliau mendo’akan kebaikan bagi As-Sulamy, dan keduanya mengabarkan tentang sesuatu yang dilakukan Tsa’labah. Maka Allah -Azza wa Jalla- menurunkan (ayat):
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami…”.  sampai kepada firman-Nya:
وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“…dan juga karena mereka selalu berdusta”. (QS. At-Taubah : 75-77)
Di sisi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ada seorang laki-laki dari kalangan keluarga Tsa’labah telah mendengarkan hal itu. Lalu ia keluar mendatangi Tsa’labah seraya berkata, “Celaka engkau, wahai Tsa’labah. Sungguh Allah -Azza wa Jalla- telah menurunkan demikian dan demikian tentang dirimu. Maka keluarlah Tsa’labah sampai ia datang kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Dia meminta beliau agar menerima zakatnya. Maka beliau bersabda, “Sesunnguhnya Allah -Tabaraka wa Ta’ala- mencegah untuk menerima zakatmu”. Diapun mulai menaburkan tanah di atas kepalanya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Inilah (hasil) perbuatanmu. Aku telah memerintahkanmu, akan tetapi engkau tidak mentaatiku”.
Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi- enggan mengambil zakatnya, maka ia kembali ke rumahnya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- meninggal, sedang beliau tidak mengambil (zakat) sedikitpun darinya.
Kemudian Tsa’labah mendatangi Abu Bakar -radhiyallahu anhu- ketika ia menjadi kholifah seraya berkata, “Sungguh engkau telah mengetahui kedudukanku di depan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan posisiku di mata orang-orang Anshor, maka terimalah zakatku”. Abu Bakar berkata, “Rasulullah tidak (mau) menerimanya darimu, lantas aku mau menerimanya?”. Abu Bakar pun meninggal sedang beliau tidak mau menerimanya.”
Tatkala Umar berkuasa, Tsa’labah datang kepadanya seraya berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku”. Maka Umar berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya, dan tidak pula Abu Bakar, lantas aku mau terima?”. Umar pun meninggal dalam keadaan ia tak mau menerimanya.”
Kemudian Utsman -radhiyallahu anhu- memerintah. Maka Tsa’labah datang kepadanya memintanya untuk menerima zakatnya. Maka Utsman berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya, dan tidak pula Abu Bakar dan Umar, lantas aku mau menerimanya?”. Tsa’labah mati di zaman khilafah Utsman”. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | 6 Comments »

Kapan Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram?

November 22nd, 2011 by Abu Muawiah

Kapan Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram?

Hukum asal bagi seorang wanita adalah tidak boleh bersafar atau tinggal di suatu tempat yang jaraknya jarak safar, kecuali harus bersama mahramnya. Dan mahram yang dimaksud di sini adalah lelaki dewasa yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya. Hanya saja, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, bahwa tidak ada satu hukum atau kaidahpun kecuali pasti ada pengecualian padanya. Dan masalah ini di antaranya.

Nah, tahukah anda, kapan saja seorang wanita boleh melakukan safar tanpa mahram? Berikut kami bawakan ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

“Semua safar walaupun jaraknya dekat, maka seorang wanita wajib ditemani oleh mahramnya. Kecuali pada empat keadaan:
Pertama: Jika mahramnya meninggal di tengah perjalanan, sementara dia telah jauh meninggalkan tempat asalnya.

Kedua: Jika wanita itu wajib berhijrah.

Ketiga: Jika dia berzina sehingga dia dihukum dengan pengasingan (pengusiran), sementara dia tidak mempunyai mahram.

Keempat: Jika hakim mengharuskan untuk mendatangkan dia setelah tuduhan dijatuhkan kepadanya, sementara dia tidak berada di situ ketika itu.”

[Diterjemahkan dari Al-Muntaqa Min Fara`id Al-Fawa`id hal. 44-45]

Sekedar sebagai tambahan penjelasan:
Keadaan kedua dimana ketika dia wajib berhijrah adalah semisal ada wanita yang masuk Islam di negeri kafir, dan terpenuhi padanya kemampuan untuk berhijrah sehingga dia wajib berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam. Hanya saja ketika itu dia tidak mempunyai mahram. Maka dia tetap diwajibkan berhijrah walaupun tanpa disertai mahram.

Keadaan ketiga maksudnya jika wanita itu belum menikah. Karena jika dia telah menikah maka hukum had baginya adalah rajam dan bukan pengasingan.

Category: Muslimah, Tahukah Anda? | 11 Comments »

Istri Yang Ditalak Masih Berhak Mendapat Nafkah?

November 20th, 2011 by Abu Muawiah

Istri Yang Ditalak Masih Berhak Mendapat Nafkah?

Soal:

Asy-Syaikh yang mulia, apakah suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya yang telah ditalak? Semoga Allah memberikan pahala kepada anda.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد :

Nafkah tetap wajib diberikan kepada istri yang sudah ditalak tapi dengan talak raj’i[1], karena dia masih merupakan istrinya, sehingga dia masih tercakup dalam nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ

“Maka suami-suami mereka lebih berhak mengembalikan mereka dalam hal itu.”

Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala masih menamakan lelaki yang mentalaknya sebagai suaminya.

Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.umat ini bahwa wanita-wanita (ditalak) yang masih bisa dirujuk oleh suami-suami mereka, mereka masih berhak mendapatkan pemenuhan nafkah dan kebutuhan dari suami-suami mereka, baik mereka dalam keadaan hamil maupun tidak. Karena para wanita ini masih mempunyai hukum sebagai istri dalam hal nafkah, tempat tinggal, dan warisan selama mereka masih berada dalam masa iddah.” (Al-Istidzkar: 18/69)

Nafkan juga tetap wajib diberikan kepada wanita yang diputuskan secara al-ba`in[2], baik dengan fasakh (pembatalan nikah) maupun dengan talak, jika wanita itu diceraikan dalam keadaan hamil. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَإِن كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Jika mereka (wanita-wanita yang ditalak) itu dalam keadaan hamil maka berikanlah nafkah kepada mereka sampai mereka melahirkan kandungan mereka.”

Ibnu Abdil Al-Barr berkata, “Jika wanita yang al-mabtutah[3] itu dalam keadaan hamil, maka dia masih berhak mendapatkan nafkah berdasarkan ijma’ ulama.” (Al-Istidzkar: 18/69) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • di talak suami saat menyusui
  • nafkah iddah kewajiban siapa

Category: Muslimah | 3 Comments »

Membaca Ta’awudz Ketika Melintasi Kuburan

November 18th, 2011 by Abu Muawiah

Membaca Ta’awudz Ketika Melintasi Kuburan

Membaca ta’awudz atau meminta perlindungan kepada Allah ketika melintasi kuburan atau tempat-tempat yang dianggap keramat dan membahayakan, sekilas terkesan merupakan amalan yang disyariatkan bahkan mungkin ada sebagian yang menganggapnya sebagai ibadah. Karenanya ketika seorang muslim -bahkan sebagian penuntut ilmu- mendengar amalan ini maka mereka serta merta akan membenarkannya. Atau bahkan mereka sendiri mungkin mengamalkannya.

Akan tetapi tahukah anda bahwa di dalam amalan ini -yakni membaca ta’awudz ketika lewat atau berada di tempat-tempat menyeramkan- terdapat ‘sesuatu’?

Sebagai catatan pertama terhadap amalan ini kami katakan: Yang menjadi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika melewati kuburan atau berada di kuburan adalah mengucapkan salam, bukannya membaca ta’awudz. Di antara lafazh salam yang disyariatkan adalah:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian keselamatan.” (HR. Muslim no. 1620 dari Buraidah radhiallahu anhu)
Maka berta’awudz ketika melalui atau berada di kuburan adalah menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Radio Streaming Taklim Online

November 16th, 2011 by Abu Muawiah

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد:

Alhamdulillah, pada tanggal 14 November 2011 kemarin, Al-Atsariyyah. com kembali melahirkan satu lagi sarana belajar mengajar secara online, yaitu radio streaming ahlussunnah dengan nama Radio Taklim Online. Sebagaimana radio streaming ahlussunnah lainnya, insya Allah Radio Taklim Online akan senantiasa membawakan taushiah dan nasehat dari para asatidz ahlussunnah di Indonesia, baik secara live maupun yang berupa rekaman. Tidak lupa murattal dari para qurra` untuk menyejukkan hati-hati kita dan mengingatkannya kepada Allah di tengah berbagai aktifitas yang melalaikan.

Hanya saja, mungkin insya Allah yang akan menjadi kelebihan Radio Taklim Online dibandingkan radio streaming ahlussunnah lainnya adalah pemutaran pelajaran-pelajaran ilmu alat seperti bahasa arab, musthalah, ushul fiqhi, dan semacamnya. Hal itu agar manfaat radio ini tidak hanya bisa diambil oleh kaum muslimin secara umum, akan tetapi insya Allah juga bisa bermanfaat bagi sebagian kaum muslimin yang sedang mempelajari ilmu-ilmu alat Islam. Atau bagi mereka yang ingin mempelajari agama Islam lebih dalam lagi namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mondok atau takhashshush di pondok pesantren. Sehingga dengan mendengarnya, seakan-akan mereka ikut mondok dan mengikuti pelajaran yang sama secara bersambung setiap harinya.

Demikian harapan kami, semoga Allah Yang Maha Mendengar mengabulkannya dan berkenan memberikan Radio Taklim Online bermanfaat bagi siapa saja yang mendengarnya, serta membalas dengan kebaikan kepada siapa saja yang berpartisipasi di dalamnya. Allahumma Amin.

والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Kunjungi Radio Streaming Taklim Online.

Category: Info Kegiatan | 3 Comments »

Kufurnya Teori Evolusi Darwin

November 14th, 2011 by Abu Muawiah

Kufurnya Teori Evolusi Darwin

Soal:
Pada tahun lalu, saya mempelajari -di dalam buku sejarah, dan buku ini membenarkannya- bahwa asal muasal manusia adalah dari monyet. Lalu monyet ini berubah (menjadi manusia) seiring dengan berlalunya waktu.
Apakah hal benar ataukah dia bertentangan dengan keterangan yang datang dalam Al-Qur`an Al-Karim tentang asal monyet?
Berikanlah penjelasan kepada kami -semoga Allah memberi taufiq kepada anda- agar kami bisa meyakininya. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.

Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:
“Ucapan ini tidak benar, maksud saya ucapan bahwa asal muasal manusia adalah monyet. Bahkan orang yang mengucapkan ucapan ini, sebenarnya dialah yang monyet, terhapus akal an terhapus bashirahnya. Karenanya lebih pantas jika kita katakan dia sebagai monyet, bukannya manusia walaupun tubuhnya tubuh manusia.”
Kemudian beliau berkata selanjutnya:
“Ucapan ini tidak benar, bahwa asal muasal manusia adalah monyet. Dan meyakininya adalah kekafiran karena merupakan tindakan mendustakan Al-Qur`an. Hal itu karena Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa asal penciptaan manusia adalah dari tanah, dengan diciptakannya Adam alaihissalam sebagai nenek moyangnya manusia. Kemudian Allah Ta’ala menjadikan (baca: menciptakan) anak keturunannya (Adam) dari air yang hina (sperma).
Sementara monyet yang kita kenal adalah jenis lain dari makhluk (Allah). Dia adalah makhluk yang diciptakan sudah demikian asalnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakannya dengan sifat seperti itu. Sama seperti keledai, anjing, baghal, kuda, onta, sapi, kambing, rusa, ayam, dan selainnya.
Karenanya tidak boleh ada seorangpun, bahkan tidak boleh bagi negara Islam yang menyandarkan dirinya kepada Islam untuk menjadikan hal ini sebagai kurikulum dalam sekolah-sekolah mereka. Bahkan wajib atas (pemerintah) negara tersebut untuk menghilangkan ilmu ini dari sekolah-sekolah mereka. Karena jika siswa tumbuh dengan keyakinan seperti ini sejak kecilnya, maka dia akan sulit untuk terlepas darinya. Bahkan saya menilai tidak bolehnya untuk mengajarkan hal ini di sekolah-sekolah walaupun itu dalam rangka untuk membantah dan menyanggahnya. Akan tetapi ilmu ini dibantah tanpa harus diajarkan di sekolah-sekolah. Karena meletakkan sesuatu lalu berusaha untuk mencabutnya akan menimbulkan mafsadat. Akan tetapi tidak meletakkannya (baca: mengajarkannya) dari awal sama sekali itu lebih baik daripada meletakkannya kemudian baru dicabut (baca: dibantah) dan disanggah.”
[Selesai diterjemahkan dari kaset Nur Ala Ad-Darb no. 55]

Category: Aqidah | 2 Comments »

Posisi Makmum Jika Shalat Berdua

November 12th, 2011 by Abu Muawiah

Posisi Makmum Jika Shalat Berdua

Tanya:
assalamualaikum ustadz.
mau nanya ni masalah posisi makmum kalau hanya satu orang apakah sejajar dg imam atau lebih mundur.dan kalau datang lagi satu orang makmum masbuk dimana posisinya ,apakah disebelah kiri imam atau di belakang
lendi
salamselamat27@yahoo.co.id

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Jika yang shalat hanya berdua, maka makmum berdiri tepat di sebelah kanan imam, tidak perlu mundur sedikit. Ini tentunya berlaku jika keduanya adalah lelaki atau keduanya adalah wanita. Adapun jika si makmum adalah wanita, maka wanita harus berdiri di belakang imam.

Dalil bahwa makmum harus berdiri tepat di sebelah kanan imam jika mereka hanya shalat berdua adalah:

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh).” (HR. Al-Bukhari no. 656)

Imam Al-Bukhari rahimahullah memberikan judul bab terhadap hadits di atas:

بَابُ: يَقُوْمُ عَنْ يَمِيْنِ الإمامِ بِحِذائِهِ سَواء إِذا كانا اثْنَيْنِ

“Bab: Makmum berdiri tepat di samping kanan imam jika mereka hanya shalat berdua.”

Incoming search terms:

  • posisi makmum wanita
  • posisi shalat berdua yang benar

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 21 Comments »