Archive for September, 2011

Euthanasia Dalam Perspektif Islam

September 29th, 2011 by Abu Muawiah

Euthanasia Dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, euthanasia berasal dari bahasa Yunani, eu yang berarti “baik”, dan thanatos, yang berarti “kematian”. Sementara dalam fiqh Islam, euthanasia ini diistilahkan dengan qatl ar-rahmah (membunuh karena kasihan) atau taisir al-maut (mempermudah kematian).
Adapun secara istilah, maka euthanasia adalah praktik memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit -karena kasih sayang-, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif (aktif) maupun negatif (pasif).
Euthanasia biasa dilakukan dengan alasan bahwa pengobatan yang diberikan kepada pasien hanya akan memperpanjang penderitaannya. Ditambah bahwa pengobatan itu sendiri tidak akan mengurangi penyakit yang diderita yang memang sudah parah. Atau menurut perhitungan medis, penyakit itu sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau si pasien sudah tidak akan bertahan lama. Atau bisa juga dengan alasan bahwa pihak keluarga pasien tidak mempunyai kemampuan finansial untuk membayar pengobatannya sementara walaupun pengobatan dilanjutkan juga tidak akan membawa hasil positif.
[http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia#cite_note-25] Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 5 Comments »

Hukum Berobat

September 27th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Berobat

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam hukum berobat: Apakah dia mubah tapi lebih utama meninggalkannya, ataukah sunnah ataukah wajib?
Yang masyhur dari Ahmad adalah pendapat pertama (mubah tapi meninggalkannya lebih utama) berdasarkan hadits ini (hadits 70.000 orang masuk surga tanpa hisab, pent.) dan hadits lain yang semakna dengannya. Hanya saja kritikan yang telah lalu (pada hadits tersebut, pent.) menjadikan hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk masalah itu.
Yang masyhur dari Asy-Syafi’i adalah pendapat kedua (sunnah). Sampai-sampai An-Nawawi menyebutkan dalam Syarh Muslim (14/191) bahwa ini adalah mazhab mereka (Asy-Syafi’iyah) dan mazhab mayoritas ulama terdahulu dan semua ulama belakangan. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Al-Wazir Abu Al-Muzhaffar. (Al-Ifshah: 1/184)
Sementara mazhab Abu Hanifah menyatakan bahwa berobat adalah sunnah muakkadah yang mendekati wajib.
Sementara mazhab Malik bahwa berobat itu setara antara mengerjakan atau meninggalkannya. Karena Malik berkata, “Tidak mengapa berobat dan tidak mengapa meninggalkannya.” Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fiqh | 4 Comments »

Hukum Jamaah Kedua Dalam Satu Masjid (final)

September 25th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Jamaah Kedua Dalam Satu Masjid (final)

Berikut kelanjutan pembahasan hukum jamaah kedua dalam satu masjid.

Kembali kami ingatkan bahwa yang kita bahas dalam lanjutan artikel ini adalah hukum jamaah kedua yang didirikan di dalam masjid yang mempunyai imam rawatib setelah selesainya jamaah kedua.

Berikut uraian pendapat para ulama dalam masalah ini.

Pendapat Pertama: Bolehnya jamaah kedua dengan bentuk di atas.

Ini adalah pendapat: Imam Ibnu Hazm, Ibnu Qudamah, Ibnu Al-Mundzir, Daud Azh-Zhahiri, Asyhab, At-Tirmidzi, Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahawaih, Ibnu Abi Syaibah, Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ‘Atha, Ibrahim An-Nakha’i, Mak-hul, Ayyub As-Sikhtiyani, Tsabit Al-Bunani, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, Anas bin Malik, dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhum.

Imam At-Tirmizi berkata, “Dan ini adalah pendapat lebih dari seorang ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in. Mereka berkata, “Tidak mengapa sekelompok orang untuk shalat berjamaah di sebuah mesjid yang di dalamnya sudah diadakan shalat jamaah. Ini adalah pendapat Ahmad dan Ishaq.” Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 3 Comments »

Hukum Jamaah Kedua Dalam Satu Masjid

September 23rd, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Jamaah Kedua Dalam Satu Masjid

 Sudah masyhur di kalangan ulama -sejak dari zaman sahabat hingga para ulama di zaman ini- akan adanya perbedaan pendapat mengenai hukum mendirikan jamaah kedua di dalam satu masjid. Hanya saja sebelum kita melihat perbedaan pendapat tersebut beserta dalilnya masing-masing, maka di sini kita harus mengetahui terlebih dahulu: Jamaah kedua yang bagaimana yang diperdebatkan oleh para ulama mengenai hukumnya? Hal itu karena para ulama menyebutkan adanya beberapa bentuk jamaah kedua, dimana sebagiannya ada yang telah disepakati akan hukumnya. Karenanya sangat penting bagi kita untuk mengetahui bentuk-bentuk itu, agar jangan sampai kita berselisih pada masalah yang sudah disepakati atau kita mengklaim (tanpa dalil) adanya ijma’ pada masalah yang sebenarnya masih diperselisihkan.

Karenanya, berikut beberapa bentuk pelaksanaan jamaah kedua yang disebutkan oleh para ulama:

  1. Jamaah kedua yang dilakukan di masjid-masjid atau mushalla-mushalla di pinggir jalan atau di tempat-tempat umum, seperti pasar dan semacamnya.

Hukumnya: Diperbolehkan karena masjid-masjid seperti ini sangat sulit untuk diatur silih bergantinya jamaah. Dan melarang jamaah kedua dalam keadaan seperti ini akan menyebabkan banyak orang akan kehilangan kesempatan untuk shalat berjamaah.

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiah Al-Kuwaitiah (22/47), “Adapun jika masjid berada di pasar, atau tempat lalu lalang manusia, atau tidak memiliki imam rawatib, atau punya imam rawatib, tetapi dia memberikan izin kepada jamaah kedua, maka tidak dimakruhkan adanya shalat jamaah yang kedua, ketiga, dan seterusnya, menurut ijma.” Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 4 Comments »

Boleh Suami Memanggil Istri Dengan ‘Ummi’

September 21st, 2011 by Abu Muawiah

Boleh Suami Memanggil Istri Dengan ‘Ummi’

Bismillaah… walhamdulillah… was sholaatu was salaamu alaa rosuulillaah… wa alaa aalihii wa shohbihii wa maw waalaah…

Berikut ini adalah, fatwa Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin tentang masalah di atas, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis  dan pembacanya:

السؤال: هل يجوز للرجل أن يقول لزوجته يا أختي بقصد المحبة فقط , أو يا أمي بقصد المحبة فقط

فأجاب: نعم , يجوز له أن يقول لها يا أختي, أو يا أمي, وما أشبه ذلك من الكلمات التي توجب المودة والمحبة, وإن كان بعض أهل العلم كره أن يخاطب الرجل زوجته بمثل هذه العبارات, ولكن لا وجه للكراهة, وذلك لأن الأعمال بالنيات, وهذا الرجل لم ينو بهذه الكلمات أنها أخته بالتحريم والمحرمية, وإنما أراد أن يتودد إليها ويتحبب إليها, وكل شيء يكون سبباً للمودة بين الزوجين, سواء كان من الزوج أو الزوجة فإنه أمر مطلوب

Pertanyaan: Bolehkan suami memanggil isterinya “Ya Ukhti” (wahai saudariku) atau “Ya Ummi” (wahai ibuku) karena dorongan kecintaan saja?.

Beliau menjawab: Ya, dibolehkan bagi suami untuk memanggil isterinya dg panggilan “Ya Ukhti”, atau “Ya Ummi“, atau panggilan-panggilan lain yg dapat mendatangkan rasa sayang dan cinta.

Walaupun sebagian ulama me-makruh-kan bila seorang suami memanggil istrinya dg panggilan-panggilan yg seperti ini, namun hukum makruh ini tidaklah tepat, karena setiap amalan itu tergantung niatnya, dan orang ini tidaklah meniatkan dg panggilan-panggilan itu, bahwa istrinya adalah saudarinya yg diharamkan atau mahrom-nya. Tidak lain ia hanya bermaksud menampakkan rasa sayang dan cintanya, dan setiap sesuatu yg menjadikan/mendatangkan rasa sayang antara dua mempelai, baik dilakukan oleh suami atau istri, maka hal itu adalah sesuatu yg dianjurkan. (Sumber: Fatawa Nurun Alad Darb hal: 19) Read the rest of this entry »

Category: Uncategorized | 1 Comment »

Hukum Program Keluarga Berencana

September 19th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Program Keluarga Berencana

Tanya:
Assalamualaikum, ana mau tanya ustadz,bgm hukum berKB (keluarga berencana) dalam islam,jazakallah khairan ksira..
Ummu fatih asyra [Julianiwidyastuti@ymail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Berikut beberapa fatwa para ulama sunnah berkenaan dengan masalah ini: Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 7 Comments »

Seputar Shalat

September 16th, 2011 by Abu Muawiah

Seputar Shalat

Tanya:
Assalamualaikum Ustad,
saya ingin menanyakan seputar shalat,
1. Jika kita masuk mesjid muazin sedang azan kita boleh shalat attahiyatul mesjid langsung atau mesti menunggu sampai muazin selesai azan kemudian shalat attahiyatul mesjid?

2. apakah di mushalla ada shalat attahiyatul mesjid juga atau tidak ada?

3. Jika kita berwudu di mesjid kemudian ingin melaksanakan shalat, shalat mana yang di dahulukan shalat attahiyatul mesjid atau shalat wudhu?

4. Shalat mana yang kita lakukan, jika waktu Qamat sudah hampir tiba (waktu nya sempit cuma bisa untuk satu shalat sunat saja), kita lakukan shalat sunat qabliatan rawatib atau shalat attahiyatul mesjid,?

5. Jika kita terlambat dalam shalat berjamaah kemudian imam salam, apakah kita mundur menjadi makmum terhadap orang yang disamping kita?

6. Jika kita melakukan shalat sunat badiyah rawatib Magrib atau isya kemudian orang datang dan menjadi makmum, apakah bacaan kita kita keraskan atau tetap di sirkan saja?

mohon maaf banyak pertanyaan saya, karena tidak tau untuk bertanya yang tepat sesuai dengan manhaj salaf.
Wassalam
Deni Rinaldi [dr0611@gmail.com] Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 16 Comments »

Lafazh Adzan Saat Hujan

September 14th, 2011 by Abu Muawiah

Lafazh Adzan Saat Hujan

Tanya:
Bismilah,
Afwan mohon di kitab mana ana bisa dapatkan Dalil Bab tentang Adzan diwaktu hujan sangat lebat, yang ada tambahan lafad : “sHOLLU BUYUTIKU” dan tata caranya??
ferry abdullah [ferry_abdullah@ymail.com]

Jawab:
Ada beberapa riwayat yang berkenaan dengan ini, di antaranya:
Riwayat Pertama
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ فَقَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ ذَاتُ مَطَرٍ يَقُولُ « أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ ».
“Nafi’ berkata bahwa Ibnu Umar pernah beradzan ketika shalat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian beliau mengatakan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian shalat di rumah kalian]. Kemudian beliau mengatakan,”Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mu’adzin ketika keadaan malam itu dingin dan berhujan, untuk mengucapkan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian shalat di rumah kalian].”(HR. Muslim no. 1632)

Riwayat Kedua
حَدَّثَنِى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.
Dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya dia pernah beradzan untuk shalat di malam yang dingin, berangin kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan, ’Alaa shollu fi rihaalikum, alaa shollu fir rihaal’ [Hendaklah shalat di rumah kalian, hendaklah shalat di rumah kalian]’. Kemudian beliau mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau bersafar (perjalanan jauh) untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ [Hendaklah shalat di kendaraan kalian masing-masing]’. (HR. Muslim no. 1633) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • adzan waktu hujan hadits tentang apakah ada beda

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 6 Comments »

Hukum Dua Masjid Untuk Shalat Jumat Dalam Satu Daerah

September 12th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Dua Masjid Untuk Shalat Jumat Dalam Satu Daerah

Tanya:
Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ustadz ana mau nanya, kebetulan di RW ana ada sekitar 3 mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat dan ketiga-tiganya tidak penuh (tapi mencapai jumlah minimal 40 jamaah lebih sesuai pendapat imam asy-syafi’i) , ada ustadz yang bilang bahwa jika kondisinya seperti itu (mesjid tidak sampai penuh meskipun mencapai jumlah minimal 40 jamaah) maka jumatan yang dianggap sah adalah jumatan yang paling dahulu takbiratul ihram untuk shalat jumat, maka dengan demikian 2 masjid lainnya yang kedahuluan takbiratul ihramnya dianggap tidak sah shalat jumatnya dan diharuskan menggantinya dengan shalat dhuhur, betulkah demikian? syukran atas jawabannya
Anas Nasrudin [anasnasrudin75@yahoo.co.id]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah
[Memperhatikan pelaksanaan jum’at di masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sholat jum’at hanya dilakukan di masjid Nabawy padahal ada mesjid-mesjid lain yang di lingkungan para shohabat untuk sholat lima waktu, juga memcermati makna syari’at dalam penegakan jum’at dan makna pelaksanaannya, yaitu untuk menyatukan kaum muslimin dan mendekat hubungan antara sesama mereka, dimana telah ada mesjid ditegakkan jum’at di sekitar kantor, serta memperhatikan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya tidak pernah melakukan jum’at di dalam perjalanan, bahkan hanya beliau lakukan di mesjid yang telah ditetapkan, maka seharusnya apa yang disebutkan dalam pertanyaan tidaklah terjadi dan seharusnya mereka menegakkan jum’at bersama kaum muslimin yang lainnya di mesjid yang telah ada.] (Dinukil dari milis an-nasihah: 8 jan 2009) Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 10 Comments »

Hukum Hipnoterapi

September 9th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Hipnoterapi

Tanya:
Assalamualaikum pak/Bu ustadz,
Hipnoterapi yg pernah dilakukan romy rafael pada saat ada pasien yg ingin cabut gigi,dia memberi sugesti positif ke alam bwah sadar dan lalu saat pasien itu giginya dicabut dia rasa sakitnya berkurang hingga 80 %.Dan ada juga hipnoterapi agar meningkatkan konsentrasi belajar dan juga prestasi belajar.dan satu lagi mengurangi rasa sakit saat melahirkan.gimana pendapat pak ustadz tentang hal ini?apakah haram?apakah berhubungan dgn bantuan jin?Kirim jawabannya ke-email ini ya pak.Terima kasih
Rasyid Verdianto [gibsonlespaul.paul53@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Berikut kami nukilkan artikel tentang ini:
Apakah Hipnotis Itu Ada Kaitannya Dengan Jin, Dan Apa Hukumnya?

Tidak kita pungkiri bahwa pertanyaan ini terkadang selalu muncul pada benak kita. Dan tidak kita pungkiri banyak orang menganggap bahwa penggunaan cara hipnotis itu banyak. Dan kenyataannya memang demikian, namun di suatu negara dan tempat penggunaannya ternyat berbeda. Kalau di jazirah arab banyak digunakan untuk menyembuhkan, menguatkan persiapan ujian, dan lainnya yang kelihatannya baik. Berbeda di negara yang lain digunakan untuk sarana merampok, mencuri dan menipu. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fatawa, Jawaban Pertanyaan | 4 Comments »