Archive for May, 2011

Perkataan Para Ulama Tentang Keberadaan Allah

May 30th, 2011 by Abu Muawiah

Perkataan Para Ulama Tentang Keberadaan Allah

Berikut ini nukilan beberapa Imam Ahlus Sunnah dalam masalah ini :

a.   Dari sahabat:

Berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Wahai manusia jika Muhammad adalah Ilah (sembahan) yang kalian sembah maka sungguh Muhammad telah meninggal. Akan tetapi jika Ilah kalian adalah Allah Yang di langit maka Ilah kalian tidak mati kemudian beliau membaca ayat :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran : 144)

Lihat : Ar-Rodd ‘Alal Jamhiah hal. 44-45 no. 78 dan berkata Az-Dzahaby di kitab Al-‘Uluw hal. 62 ini hadits shohih.

Perkataan para sahabat seluruhnya : Berkata Adi bin ‘Umairoh radhiyallahu ‘anhu : “Saya keluar hijrah kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian ia menyebutkan kisah yang panjang kemudian dalam kisahnya itu dia mengatakan : “Maka tiba-tiba beliau dan yang bersamanya (para shahabat), mereka bersujud di atas wajah-wajah mereka, dan mereka yakin bahwa Ilah mareka di atas langit maka sayapun masuk Islam dan mengikuti beliau”. (Ijtimaul Juyusy : 90) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pendapat ulama tentang keberadaan allah

Category: Aqidah, Fatawa | 3 Comments »

Dimana Allah?

May 27th, 2011 by Abu Muawiah

Dimana Allah?

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ustadz setelah membaca di beberapa tulisan tentang dimana Allah,tolong jelaskan kepada kami tentang itu berdasarkan dalil yang jelas agar umat ini kembali kepada aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah..

jazakallah khoiron

Agus [bustomi.agus@yahoo.co.id]

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Berikut potongan tulisan dari ust. Luqman Jamal hafizhahullah dalam majalah An-Nashihah edisi I, dengan judul ‘Dimana Allah’:

Allah Jalla fii ‘Ulahu yang menciptakan kita mewajibkan kepada kita untuk mengenal dan mengetahui di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berada sehingga hati-hati kita menghadap/mengarah kepada-Nya, demikian pula ketika berdo’a dan beribadah khususnya ketika sholat. Siapa yang tidak mengenal Rabbnya maka dia berada dalam keadaan tersesat, karena tidak tahu dimana beradanya yang dia sembah, dan dia juga tidak akan bisa menegakkan ibadah dengan sebaik-baiknya, bahkan dia tidak tahu siapa Ilah yang dia sembah. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Jawaban Pertanyaan | 4 Comments »

Biografi Abul Hasan Al-Asy’ari

May 23rd, 2011 by Abu Muawiah

Biografi Abul Hasan Al-Asy’ari?

Tanya:
Apakah Abul Hasan Al-Atsariy  mengikuti Imam Syafi’i secara keseluruhan?
Mustafa Mura [mustafamura@yahoo.com]

Jawab:

Untuk lebih jelasnya, berikut kami bawakan biografi beliau rahimahullah:

Biografi Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260-324 H)

Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang masyhur.

Beliau -Abul Hasan Al-Asy’ari- Rahimahullah dilahirkan pada ta­hun 260 H di Bashrah, Irak.

Beliau Rahimahullah dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demi­kian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya. Read the rest of this entry »

Category: Jawaban Pertanyaan, Siapakah Dia? | 2 Comments »

Bolehkah Memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)?

May 20th, 2011 by Abu Muawiah

Bolehkah Memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah?

Tanya:
Bismillah
Ana mau tanya, Ana adalah kepala sekolah.  Sekolah ana mendapatkan bantuan BOS (bantuan operasional sekolah) dari pemerintah setiap tahunnya.
Dari dana tsb, kami gunakan utk biaya operasional sbagaimana yg tlah ditentukan di buku panduan penggunaan BOS.
Dan di antara poinnya adalah bolehnya digunakan untuk biaya konsumsi sehari2 bagi guru ketika mengajar.
Di awal penggunaannya kami memang membelanjakan utk konsumsi guru, sampai kmdian ada ikhwah yang menyampaikan kepada ana menyarankan agar jangan memakai dana BOS utk konsumsi karena DANA BOS TSB SYUBHAT.
Alasan dia, dana BOS tsb didapatkan oleh pemerintah dari pinjaman luar negeri dari Bank Dunia atau semacamnya (sumbernya dr yg berhubungan dg riba).
Ambillah misal apa yang dia katakan benar, bahwa BOS tsb berasal dr pinjaman bank oleh pemerintah.
Yang mau ana tanyakan, bagaimana hukum memakan dana BOS tsb untuk konsumsi sehari2 guru ketika mengajar yang mana alokasi pembelanjaan tsb tdk menyimpang dr poin2 yg telah ditentukan oleh pemerintah dlm hal penggunaan dana BOS?
[Abu Ubaidah (hudzaifah_99@yahoo.com)]

Jawab:
Insya Allah tidak mengapa memanfaatkan dana BOS tersebut sesuai dengan aturan penggunaannya termasuk untuk makan para guru karena itu murni merupakan pemberian dan bantuan dari pemerintah.

KALAUPUN MEMANG BETUL itu adalah pinjaman bank, maka dosa itu ditanggung oleh yang melakukannya secara langsung yakni pemerintah. Jadi tidak betul kalau itu adalah dana syubhat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam memakan makanan pemberian orang Yahudi yang hendak meracuni beliau, padahal mereka sudah terkenal bermuamalah dengan riba.

Category: Jawaban Pertanyaan | Comments Off on Bolehkah Memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)?

Hukum Jual Beli Pulsa

May 16th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Jual Beli Pulsa

Tanya:
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Ana mau tanya ustadz Apa hukumnya jual  pulsa?Saya mau usaha jualan pulsa tapi ana ragu akan hukumnya karena jual beli ini adalah jual beli sesuatu yang tidak kelihatan wujudnya..mohon bimbingannya,. jazakallah khoir..
abu miftah [bustomi.agus@yahoo.co.id]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Jual beli pulsa dibolehkan berdasarkan dalil umum bolehnya jual beli, karena jual beli pulsa ini bisa dikategorikan ke dalam jual beli jasa, dimana jasa ini biasanya tidak berwujud benda. Maka dengan membeli pulsa, kita sama saja membeli jasa dari profider (telkomsel, indosat, dan selainnya) yang jasanya berupa mengantarkan sms atau menyambungkan kita kepada nomor lain yang hendak kita tuju. Dan jumlah jasa yang bisa kita gunakan sesuai dengan nominal pulsa yang kita miliki, dimana tarif dari setiap jasa yang disediakan sudah diketahui dan disepakati bersama sebelum seseorang membeli pulsa. Wallahu a’lam

Category: Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan | 4 Comments »

Mengeluarkan Zakat Melalui Badan Amil Zakat

May 13th, 2011 by Abu Muawiah

Mengeluarkan Zakat Melalui Badan Amil Zakat

Tanya:
Assalaamu’alaikum Ustadz
Saya diamanahkan oleh paman untuk membayarkan zakat hartanya. Beliau sudah mentransfer sejumlah uang. Seorang sahabat saya yg cukup berilmu mengatakan bahwa saya tidak boleh langsung membagikan zakat tsb karena saya bukan amil zakat. Maka saya sebaiknya menyerahkan zakat tsb ke badan amil zakat. Hanya saja jika ini saya lakukan maka amanah paman saya tidak bisa direalisasikan. Apakah memang harus diserahkan ke BAZ, bagaimana syari’at menjelaskan hal ini ? apakah saya boleh membagikan zakat tsb langsung ke mustahiqnya ?
Syukron wa jazakallaahu khairan
Abu Raihan [aburaihan32@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Anda boleh saja langsung menyalurkan zakat itu sendiri kepada yang berhak berdasarkan amanah dari paman. Hal itu dikarenakan, selain karena amanah itu wajib ditunaikan, menyerahkan zakat secara langsung kepada yang berhak itu lebih utama daripada melalui badan tertentu. Wallahu a’lam.

Allahumma kecuali jika pemerintah menetapkan bahwa seluruh rakyat harus menyetorkan zakat-zakat mereka kepada BAZ (Badan Amil Zakat) yang resmi ditunjuk oleh pemerintah, untuk selanjutkan akan dibagikan kepada yang berhak, maka dalam keadaan seperti ini anda wajib menyerahkan zakat tersebut kepada BAZ sebagai bentuk ketaatan kepada penguasa. Dan perbuatan itu insya Allah tidak teranggap melalaikan amanah, karena intinya harta itu akan sampai kepada yang berhak. Wallahu a’lam

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Shalatnya Para Pelaut

May 9th, 2011 by Abu Muawiah

Shalatnya Para Pelaut

Tanya:
Assalamu’alaikum. Hayyakumullah ya ustadz. Ana mau tanya. Saudara ana ada yg bekerja (dan tinggal) di kapal pesiar. Sekali berangkat biasanya 8-10 bulan lalu libur 1-2 bulan di indonesia kemudian berangkat lagi. Kapal tsb senantiasa berlayar dr satu tempat ke tempat yg lain di luar negeri. Apakah yg demikian termasuk safar? Apakah sholatnya di-qoshor atau tidak? Lalu bagaimana sholatnya ketika sedang libur di indonesia? Ana mohon jawabannya dikarenakan sholat merupakan hal yg sangat penting dlm agama ini. Jazakumullah khoiron wa baroka fikum
arif [arifdpras@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah wahayyakumullah.
Ya, dalam keadaan seperti itu dia dianggap sebagai musafir, sehingga berlaku baginya hukum-hukum musafir, seperti: Boleh menjama’ shalat dan wajib mengqashar shalat, itu kalau dia sedang shalat sendirian. Adapun jika dia shalat sebagai makmum maka dia wajib mengikuti imamnya dalam jumlah rakaatnya.

Demikian pula kewajiban shalat jumat gugur darinya, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah tinggal di Makkah selama 19 hari (2 pekan lebih) dan tidak ada riwayat yang menyatakan beliau shalat jumat. Karenanya shalat jumat tidak diwajibkan bagi musafir.

Adapun shalatnya ketika di Indonesia maka kembali seperti semula karena dia sudah tidak dalam keadaan safar. Tidak boleh menjama’, tidak boleh mengqashar, dan wajib menghadiri shalat jumat.

Dia juga boleh tidak berpuasa di bulan ramadhan sebagai keringanan dari syariat, akan tapi dia wajib menggantinya di bulan lain yang dia sanggupi.
Wallahu a’lam bishshawab.

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 2 Comments »

Hukum Membeli Emas Secara Kredit

May 6th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Membeli Emas Secara Kredit

Tanya:
Bagaimana hukum membeli emas secara diangsur?
titi [titi.podbyline@gmail.com]

Jawab:
Tidak boleh karena ini termasuk dalam transaksi riba nasi`ah. Riba nasi`ah adalah jual beli dua jenis barang ribawiah yang sama dalam ‘illat dengan tidak secara kontan (kredit). Sementara uang dan emas termasuk barang ribawiah dengan illat yang sama yaitu sama-sama mempunyai nilai tukar.
Dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ, وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ, وَالْبرُ ُّبِالْبرُ,ِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ, وَالتَّمَرُ بِالتَّمَرِ, وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ, مِثْلاً بِمِثْلٍ, سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ, يَدًا بِيَدٍ, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيْعُوْا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.
“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, korma dengan korma, dan garam dengan garam. Harus sama besar, sama takarannya, dan harus kontan. Kalau jenis-jenis ini berbeda maka juallah sesuka kalian dengan syarat harus kontan.” (HR. Muslim)
Maka dalam hadits ini Nabi shallallahu alaihi wasallam menyatakan, jika ada dua barang ribawi yang mempunyai illat yang sama tapi jenisnya berbeda maka boleh diadakan pertukaran dengan catatan harus kontan. Dan walaupun uang dan emas adalah dua jenis yang berbeda, akan tetapi keduanya mempunyai illat yang sama yaitu mempunyai nilai tukar. Karenanya keduanya boleh ditukarkan dengan syarat harus kontan.
Solusinya, hendaknya dia mengumpulkan uang sampai mencukupi harga emas yang akan dia beli, lalu dia membeli emas secara tunai. Wallahu a’lam.

Category: Ekonomi Islam, Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 25 Comments »

Jual Beli Emas dan Tas Bermerk

May 2nd, 2011 by Abu Muawiah

Jual Beli Emas dan Tas Bermerk

Tanya:
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..
Ustadz, adik ana memiliki bisnis jual beli tas untuk wanita, seperti model tas dengan desain terkenal seperti Gucci, LV, Dorce & Gabana ataupun merk lain tetapi dengan desain yang hampir sama. Sebagaimana fungsinya digunakan untuk membawa barang keperluan tapi tidak dapat kita nafikan bahwa pemakainya akan lebih percaya diri karena umumnya memiliki desain yang cantik(ini bila kita tidak ingin mengatakan bahwasanya penggunaan tas tersebut untuk mempercantik diri)? Bagaimana pula dengan orang yang menjual perhiasan emas, dimana sebagian besar pembeli yang umumnya masih awam akan memakainya untuk berhias baik untuk ke pasar, walimahan sebagaimana banyak yang kita lihat? Jazakallah khair atas jawabannya
Dian Hidayat [ibnunashir@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Maka semua jual beli asalnya adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang melarang. Jual beli tas termasuk di dalamnya dan tidak ada satupun dalil yang melarangnya. Demikian pula jual beli emas, selama tidak ada riba di dalamnya maka asalnya adalah mubah.

Adapun pemanfaatan tas dan emas itu pada hal yang haram, maka itu tidak menjadikan jual beli tas dan emas menjadi haram. Karena kedua benda ini adalah benda yang mubah dan setiap yang mubah hukumnya bisa menjadi halal atau haram tergantung penggunaannya. Karenanya dalam hal ini, jika pembeli menggunakan tas dan emas ini dalam perkara maksiat, maka dosa ditanggung sendiri oleh yang memanfaatkannya (pembeli), sementara penjual dalam hal ini insya Allah tidak menanggung dosa apa-apa.
Wallahu a’lam bishshawab.

Category: Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »