Archive for April, 2011

Zikir Setelah Jima’

April 29th, 2011 by Abu Muawiah

Zikir Setelah Jima’

Tanya:
ASALLAMUALAIKUM UZTD saya mau bertanya:
1. Adakah bacaan/doa selesai berjima?
2. Bolehkah kita membaca hamdalalah atau bertasbih karena mendapat nikmat stlah melakukan hubungan? afwan ustad ana sangat perlu jawabannya assalamuallaikum
LAANE DAHLAN [anedahlan@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
1.    Wallahu a’lam, kami tidak pernah mendengar satupun dalil dalam masalah ini.
2.    Boleh saja insya Allah, karena tidak diragukan bahwa jima’ termasuk di antara nikmat yang harus disyukuri dan kita memuji Allah karenanya. Hanya saja yang perlu diingat adalah, jangan sampai meyakini hamdalah atau ucapan syukur itu sebagai zikir/doa khusus setelah jima’, karena pada dasarnya tidak ada doa/zikir di waktu itu.
Wallahu a’lam bishshawab.

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 2 Comments »

Mengundurkan Pembayaran Zakat ke Ramadhan

April 25th, 2011 by Abu Muawiah

Mengundurkan Pembayaran Zakat ke Ramadhan

Tanya:
Bismillah.assalamu’alaykum ustadz.
ustadz,Insya Alloh bulan ini saya memiliki harta yang mencapai nishob sehingga perlu dibayarkan zakatnya (harta berupa uang setelah dikurangi bunga bank). bolehkah saya menunda pembayarannya sampai saat bulan puasa masuk ? terima kasih.jazaakumullohu khoyron.
Abu Ahmad [banuhibrida@yahoo.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Mayoritas ushuliyin berpendapat bahwa suatu perintah itu disyariatkan dikerjakan sesegara mungkin, setelah semua syarat-syaratnya terpenuhi. Karenanya tidak diragukan bahwa menyegerakan amalan baik –apalagi yang wajib- itu jauh lebih utama daripada mengundurkannya, karena seorang tidak ada yang mengetahui apakah dia masih akan mempunyai waktu untuk mengerjakan amalan itu ataukah tidak. Dan secara umum Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Akan tetapi dari sisi hukum pastinya, apakah diperbolehkan untuk mengundurkan pelaksanaan suatu kewajiban? Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Hukum Mewarnai Rambut

April 22nd, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Mewarnai Rambut

Tanya:
asm wr wb.
mau tanya hukum mewarnai rambut apa ya? warna hitam boleh ngga? trus gman warna yg laen? brown dll?
trimkasih jawabnnya ya
wassalam.
indah [indah_meity@yahoo.com]

Jawab:
Jika rambutnya beruban maka disyariatkan untuk mewarnainya guna menyelisihi ahli kitab. Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
إِنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبِغُوْنَ, فَخَالِفُوْهُمْ
“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara tidak mewarnai (uban-uban mereka), maka selisihilah mereka”. (HR. Al-Bukhari no. 3275, 5559 dan Muslim no. 2103)

Hanya saja Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang menggunakan pewarna rambut yang berwarna hitam, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma riwayat An-Nasai no. 5075. Juga berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu dia berkata:
أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
“Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan rambut dan jenggotnya yang memutih seperti pohon tsaghamah (pohon yang daun dan buahnya putih). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rubahlah warna (uban) ini dengan sesuatu, tapi jauhilah yang berwarna hitam.” (HR. Muslim no. 3925) Read the rest of this entry »

Category: Jawaban Pertanyaan | 21 Comments »

Hukum Menikahi Ipar

April 18th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Menikahi Ipar

Tanya:
Apakah hukumnya menikahi adik kandung dari istri, sementara adik tersebut telah hamil? Apa solusinya?
anwar [awang_warna@yahoo.co.id]

Jawab:
Asalnya, saudari istri atau ipar bukanlah mahram, karenanya asalnya dia boleh dinikahi. Akan tetapi pembolehan ini hanya berlaku jika dia sudah berpisah dengan istrinya, baik dipisahkan oleh kematian maupun dipisahkan oleh talak atau khulu’.

Adapun jika dia belum berpisah dengan istrinya maka diharamkan atasnya untuk menikahi iparnya, karena Allah Ta’ala telah melarang untuk mengumpulkan dua saudari atau lebih dalam satu pernikahan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 23) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bolehkah menikah dengan abang ipar
  • hukum dalam agama menikah dengan kakak ipar

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Muslimah | 3 Comments »

Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun

April 15th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun

Tanya:
assalamualaikum.
afwan ustadz, ana mnt tolong dijelaskan tentang hukum mengucapkan “selamat ulang tahun” pd hari kelahiran, serta memberikan ucapan “selamat(met milad” kepada orang lain yang pada saat itu sedang ulang tahun. Karena setau ana merayakan ulang tahun itu haram, lantas bagaimana dengan mengucapkannya?
barokallohufiykum
abdillah [gonnabefine@rocketmail.com]
Masalah yang hampir sama juga ditanyakan oleh saudara muhammad [yogmatafalas@rocketmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Ulang tahun termasuk di antara hari-hari raya jahiliah dan tidak pernah dikenal di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan tatkala penentuan hari raya adalah tauqifiah (terbatas pada dalil yang ada), maka menentukan suatu hari sebagai hari raya tanpa dalil adalah perbuatan bid’ah dalam agama dan berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • dalil tentang ultah

Category: Jawaban Pertanyaan | 26 Comments »

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 11-18)

April 11th, 2011 by Abu Muawiah

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 11-18)

Sebelas : Meluruskan istilah-istilah syari’at yang kerap disalahpahami, seperti pengertian Imamah, ‘Imarah, Bai’at, negeri Islam, negeri kafir, ‘Uhud (perjanjian) dan yang semisalnya.

Istilah-istilah di atas termasuk istilah yang banyak digunakan oleh orang-orang yang terjerumus dalam garis ekstrim. Dan tidak diragukan bahwa menyelewengkan istilah-istilah tersebut dari hakikatnya akan melahirkan berbagai macam kerusakan dan kehancuran bagi umat.

Perhatikan kalimat “Imamah” yang bermakna kepemimpinan. Adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengetahui siapa yang dikatakan sebagai Imam (Pemimpin/penguasa) dalam suatu negara, bagaimana ketentuan syahnya sebagai penguasa, konsekwensi yang harus dijalankan oleh rakyat di belakang hal tersebut, dan lain-lainnya. Karena itu wajarlah bila kita menyaksikan sekelompok orang yang tidak mengakui keberadaan penguasa di negaranya, atau mengangkat pimpinan tersendiri dalam kelompok atau jama’ahnya dengan berbagai konsekwensi yang hanya dimiliki oleh seorang pemimpin yang syar’iy menurut timbangan Islam. Kesalahan-kesalahan tersebut muncul karena kurang atau tidak memahami prinsip-prinsip Islam dalam masalah ini.

Dan perhatikan kalimat “Bai’at” yang bermakna sumpah setia atau janji. Bai’at adalah suatu hal yang hanya diperuntukkan terhadap seorang penguasa yang syah dan dibangun dibelakang bai’at itu berbagai hukum. Termasuk kesalahan yang banyak terjadi pada kelompok-kelompok yang menganggap dirinya memperjuangkan Islam adanya bai’at-bai’at kepada para pemimpin mereka, di mana hal tersebut tergolong membentuk jama’ah dalam tubuh Jama’ah kaum muslimin dan hal tersebut terhitung memecah belah Jama’ah kaum muslimin dan siapa yang meninggal di atas hal tersebut maka ia dianggap mati jahiliyah. Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme | 7 Comments »

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 6-10)

April 8th, 2011 by Abu Muawiah

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 6-10)

Enam : Berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah.

Sudah merupakan tabiat dari kehidupan bahwa manusia sangatlah butuh kepada suatu aturan dalam kehidupan mereka agar terbentuk kehidupan yang seimbang dan sejahtera, tanpa ada kekurangan dan kejelekan yang membahayakan mereka. Maka dari hikmah dan rahmat Allah Jalla wa ‘Alaa, diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci guna mewujudkan kemashlahatan untuk manusia pada perkara dunia maupun akhirat mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadîd : 25)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah : 213)

Dan –Al-Hamdulillah– seluruh syari’at Allah Jalla Sya`nuhu penuh dengan keadilan,

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115) Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme | Comments Off on Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 6-10)

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 3-5)

April 4th, 2011 by Abu Muawiah

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 3-5)

Tiga : Komitment terhadap Jama’ah kaum muslimin dan Imam mereka.

Jama’ah kaum muslimin adalah kaum muslimin dibawah kepemimpinan seorang Imam (penguasa) muslim dalam sebuah negara.

Dan sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahwa letak kebahagiaan dan kesejahteraan manusia adalah bila mereka bersatu di bawah seorang pemimpin, yang tanpa hal tersebut pasti akan berlaku hukum rimba, dimana yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan,

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah : 251)

Berkata Ibnul Mubarak (w. 181 H) rahimahullah, “Sebagai rahmat dan kemurahan-Nya, Allah menolak masalah yang rumit dari agama kita dengan penguasa. Andaikata bukan karena penguasa niscaya tidak akan ada jalan yang aman bagi kita, dan yang lemah dari kita pasti menjadi mangsa bagi yang kuat.[1]

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menegaskan bahwa komitment terhadap Jama‘ah kaum muslimin dan Imam mereka adalah salah satu jalan keselamatan pada saat terjadi berbagai fitnah yang membahayakan kaum muslimin, sebagaimana diterangkan dalam hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme | Comments Off on Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 3-5)

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 1-2)

April 1st, 2011 by Abu Muawiah

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 1-2)

Berikut ini, kami akan mengetengahkan kepada para pembaca, beberapa solusi yang merupakan dasar-dasar penting dalam menanggulangi masalah terorisme dan bagaimana cara menjaga negara dan masyarakat dari bahaya terorisme tersebut.

Satu : Menyeru kaum muslimin untuk berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan kembali kepada keduanya dalam segala perkara.

Tidak diragukan bahwa kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kesejahteraan dan kemulian umat,

“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha : 123-124)

Dan berpegang teguh kepadanya adalah tonggak keselamatan dan benteng dari kehancuran,

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran : 103)

Dan segala masalah yang dihadapi oleh umat akan bisa terselesaikan dengan merujuk kepada Al-Qur‘an dan As-Sunnah,

“Tentang sesuatu apapun kalian berselisih maka putusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy-Syûra : 10) Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme | Comments Off on Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 1-2)