Archive for January, 2009

Biografi Ringkas Faqih Az-Zaman

January 29th, 2009 by Abu Muawiah

Biografi Ringkas Faqih Az-Zaman

Nasab dan kelahirannya
Beliau adalah, yang mulia, syaikh, ulama, peneliti, ahli fiqhi dan mufassir yang wara’ lagi zuhud. Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdurrahman (dari) keluarga Utsaimin. berasal dari Wahbah dari keluarga Bani Tamim.
Dilahirkan pada malam kedua puluh tujuh dari bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun 1327 H. di Unaizah. Salah satu kota (propinsi) Al-Qashim, di Kerajaan Saudi Arabia.

Perkembangan Keilmuannya
Ayahnya, -rahimahullahu Ta’ala-, mengikutkannya untuk belajar Al-Qur’anul Karim pada neneknya. Seorang guru dari jihat ibunya; Abdurrahman bin Sulaiman Ad-Daamigh, semoga Allah merahmatinya. Kemudian, beliau belajar menulis, matematika dan teks-teks kesusatraan pada sekolah Ustadz Abdul Aziz bin Shaleh Ad-Damigh hafidzahullah. Hal itu, sebelum beliau ikut serta di sekolah Ali bin Abdullah As-Syahtan, semoga Allah merahmatinya. Dimana beliau menghapal Al-Qur’an di luar kepala, sementara umurnya belumlah melewati sebelas tahun. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | Comments Off on Biografi Ringkas Faqih Az-Zaman

Pembatal-Pembatal Wudhu

January 27th, 2009 by Abu Muawiah

Pembatal-Pembatal Wudhu

Telah kita ketahui bersama bahwa hadats adalah suatu keadaan yang mengharuskan seseorang untuk bersuci, baik itu hadats besar maupun hadats kecil. Dan telah dijelaskan bahwa hadats besar adalah hadats yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub dan yang semacamnya, sementara hadats kecil adalah yang bisa dihilangkan cukup dengan wudhu, walaupun bisa juga dihilangkan dengan mandi. Edisi kali ini kami akan membahas mengenai pembatal wudhu atau hadats kecil dan sedikit menyinggung tentang hadats besar.
Sebelum kami mulai, maka di sini ada satu kaidah yang perlu diperhatikan, yaitu: Asal seseorang yang telah berwudhu adalah wudhunya tetap syah sampai ada dalil shahih yang menyatakan wudhunya batal. Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa pembatal wudhu secara umum terbagi menjadi dua jenis: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pembatal wudhu
  • apabila kentut tapi tidak berbau dan tak berbunyi apakah wudhu hilang?

Category: Fiqh | 37 Comments »

Keutamaan Mendatangi Masjid

January 19th, 2009 by Abu Muawiah

Keutamaan Mendatangi Masjid

Mendatangi dan berangkat menuju masjid adalah banyak keutamaan yang disebutkan oleh hadits-hadits nabawiah. Kami mencukupkan dengan hanya menyebutkan sebagian di antaranya:
A. ”Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya dan memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi masjid, maka dia adalah orang yang berziarah kepada Allah, dan sudah kewajiban bagi yang diziarahi untuk memuliakan orang yang berziarah.”
Al-Mundziri berkata tentang hadits ini (1/130), ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Salman t dengan dua sanad, salah satunya jayyid. Al-Baihaqi meriwayatkan yang semakna dengannya secara mauquf dari sebagian sahabat Rasulullah r dengan sanad yang shahih.”
Al-Haitsami berkata (2/31), ”Ath-Thabarani meriwayatkannya dalam Al-Kabir dan perawi salah satu dari kedua sanadnya adalah perawi Ash-Shahih.”
Saya berkata: Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abdullah bin Mas’ud secara marfu’ dengan lafazh, ”Sesungguhnya rumah-rumah Allah di bumi adalah masjid-masjid, dan sesungguhnya wajib atas Allah untuk memuliakan orang yang berziarah.” Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Hadits | 4 Comments »

Definisi Iman

January 19th, 2009 by Abu Muawiah

Definisi Iman

Iman secara etimologi bermakna pembenaran yang bersifat khusus, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Dan tidaklah engkau akan beriman (membenarkan) kami walaupun kami adalah orang-orang yang jujur.” (QS. Yusuf: 17)
Ucapan kami ‘yang bersifat khusus’ maknanya adalah pembenaran yang sempurna dengan hati, yang melazimkan lahirnya amalan-amalan hati dan anggota tubuh. Hal ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arbaun dan Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi dalam Syarh Ath-Thahawiah.
Adapun secara terminologi, maka iman adalah: (1)Pengucapan dengan lisan, (2)keyakinan dengan hati, (3)pengamalan dengan anggota tubuh, (4)bertambah dengan melaksanaan ketaatan dan (5)berkurang dengan melaksanakan kemaksiatan. Inilah definisi iman di sisi para ulama kaum muslimin. Inilah kelima syarat atau rukun keimanan. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pengertian iman
  • definisi iman
  • apa itu iman
  • pengertian keimanan
  • pengertian iman dan dalilnya

Category: Aqidah | 3 Comments »

Selang Waktu Pembangunan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha

January 12th, 2009 by Abu Muawiah

Selang Waktu Pembangunan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha

Abu Dzar pernah bertanya, ”Wahai Rasulullah, masjid apakah yang paling pertama kali dibangun di bumi?” beliau menjawab, ”Al-Masjid Al-Haram.” Saya bertanya lagi, ”Kemudian apa?” beliau menjawab, ”Al-Masjid Al-Aqsha.” Saya bertanya, ”Berapa lama selang waktu di antara keduanya?” beliau menjawab, ”40 tahun. Dimana saja shalat menjumpai kamu maka shalatlah karena itu adalah masjid.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/315-317,359), Muslim (2/63), An-Nasai (1/112), Ibnu Majah (1/254), Al-Baihaqi (2/434), Ath-Thayalisi (hal. 62 no. 462) dan Ahmad (5/150,156,157,160,166) dari beberapa jalan dari Al-A’masy dari Ibrahim At-Taimi dari ayahnya darinya.
Sabda beliau dalam hadits ini, ”Sesungguhnya selang waktu antara Al-Masjid Al-Haram dengan Al-Aqsha adalah 40 tahun,” sedikit ganjal, karena yang membangun Al-Aqsha adalah Sulaiman -alaihissalam- sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abdullah bin Amr yang akan datang sebentar lagi insya Allah. Sedangkan jarak antara dia dengan Ibrahim -alaihissalam- adalah lebih dari 1000 tahun menurut apa yang dikatakan oleh para pakar sejarah. Kemudian, dalam nash Al-Qur`an -sebagaimana yang Al-Hafizh katakan- disebutkan bahwa kisah Daud yang membunuh Jalut adalah jauh setelah zaman Musa.
Keganjilan ini telah dijawab dengan beberapa jawaban, dan mungkin jawaban yang lebih dekat kepada kebenaran adalah ucapan Al-Khaththabi, ”Kelihatannya yang pertama kali memulai pembangunan Al-Masjid Al-Aqsha adalah sebagian wali-wali Allah sebelum Daud dan Sulaiman. Kemudian Daud dan Sulaiman menambahinya dan memperluasnya, karenanya pembangunannya disandarkan kepada keduanya.”
Lihat kelanjutan pembahasan dan jawaban-jawaban lainnya dari keganjilan ini dalam Al-Fath (6/316) dan Al-Mirqah (1/478).
Al-Hafizh Ibnu Katsir telah memastikan dalam Al-Bidayah (1/196)(2/26) ”bahwa Israil -dan dia adalah Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim- adalah orang yang pertama kali membangun Al-Masjid Al-Aqsha, dan bahwa Sulaiman -alaihissalam- yang memperbaharuinya setelah itu.”
Kalau ini benar maka itu dekat dengan apa yang ditunjukkan oleh hadits tentang selang waktu antara pembangunan kedua masjid ini, wallahu a’lam.

[Diringkas dari Ats-Tsamar Al-Mustathab karya Al-Albani: 1/511-513]

Category: Tahukah Anda? | 2 Comments »

Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

January 12th, 2009 by Abu Muawiah

Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Pertanyaan:
Melihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dengan dalilnya?.

Jawab:
Permasalahan-permasalahan seperti ini, yang berkembang ditengah masyarakat merupakan salah satu permasalahan yang perlu dibahas secara ilmiah. Dalam kondisi mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka menyaksikan masalah-masalah sepertinya sering terjadi debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya yang kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan fenomena yang sangat menyedihkan tatkala akibat yang terjadi hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu’, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy. Kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Qudamah, kitab Al-Ausath karya Ibnu Mundzir, Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan menemukan para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ibadah, muamalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidak menimbulkan perpecahan maupun permusuhan dikalangan para ulama. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • menggerakkan telunjuk saat tasyahud

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Fiqh, Hadits | 18 Comments »

Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Undian

January 10th, 2009 by Abu Muawiah

Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Undian

Dalam menguraikan tentang hukum undian diharuskan untuk kembali mengingat beberapa kaidah syari’at Islam yang telah dijelaskan dalam tulisan bagian pertama dalam pembahasan ini. Kaidah-kaidah tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama : Kaidah yang tersebut dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari jual beli (dengan cara) gharor”.
Gharor adalah apa yang belum diketahui diperoleh tidaknya atau apa yang tidak diketahui hakikat dan kadarnya.

Kedua : Kaidah syari’at yang terkandung dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maisir, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (QS. Al-Ma`idah : 90-91)
Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersada :
“Siapa yang berkata kapada temannya : “Kemarilah saya berqimar denganmu”, maka hendaknya ia bershodaqah.” Yaitu hendaknya ia membayar kaffarah (denda) menebus dosa ucapannya.
Ayat dan hadits di atas menunjukkan haramnya perbuatan maisir dan qimar dalam mu’amalat. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum undian
  • Hukum undian berhadiah
  • hukum undian dalam islam
  • hukum undian berhadiah dalam islam
  • judikah kirim undian

Category: Ekonomi Islam | 24 Comments »

Keharusan Merujuk Kepada Para Ulama

January 10th, 2009 by Abu Muawiah

Keharusan Merujuk Kepada Para Ulama

Para ulama rabbani, merekalah yang menjadi rujukan pada masalah-masalah yang penting, terutama pada masalah-masalah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat Islam.
Dan sekiranya kamu melihat keadaan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Salaf Sholih, niscaya engkau akan mendapati mereka sangat antusias untuk merujuk kepada para ulama besar di masa mereka, terlebih lagi pada hukum-hukum yang berkaitan dengan pembid’ahan dan pengkafiran. (1)
Contohnya Yahyä bin Ya’mar Al-Bashry dan Humaid bin ‘Abdirrahmän A1-Himyary Al-Bashry, tatkala munculnya kelompok Qadariyah pada masa mereka, dimana telah terdapat pada mereka berbagai penyelisihan terhadap prinsip-prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamä’ah yang mengharuskan mereka untuk dikafirkan atau dianggap ahlul bid’ah dan dikeluarkan dari lingkup Ahlus Sunnah wal Jamä’ah. Keduanya tidak bersegera memberikan hukum terhadap keduanya, bahkan keduanya pergi  menemui orang yang merupakan rujukan ilmiyah dari kalangan ahli ilmu dan ahli fatwa, yaitu ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththäb radhiyallähu ‘anhuma. Maka keduanya mengabarkan kepada beliau apa yang terjadi pada mereka (di negeri mereka). Akhirnya (‘Abdullah bin ‘Umar) mengeluarkan Fatwa tentang kesesatan dan penyimpangan kelompok Qadariyah. Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off on Keharusan Merujuk Kepada Para Ulama

Adab Ketika Bersafar

January 8th, 2009 by Abu Muawiah

Adab Ketika Bersafar

Dari Abu Hurairah -Radhiallahu ‘anhu- dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Safar itu merupakan penggalan dari adzab, (karena safar) niscaya akan membuat salah seorang dari kalian terhalang untuk makan, minum dan tidur. Maka jika seseorang telah selesai urusannya maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.”
Di antara adab-adabnya : Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | 2 Comments »

Fatwa Para Ulama Besar Tentang Demonstrasi

January 8th, 2009 by Abu Muawiah

Fatwa Para Ulama Besar Tentang Demonstrasi

Berkata Al-‘Allamah Ibnu Khuldun -rahimahullah- : “Dan dari bab ini keadaan para pelaku resolusi/pemberontak yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran dari kalangan orang umum dan para fuqaha, karena kebanyakan dari orang-orang yang di atas nihlah (agama panutan) untuk beribadah dan menempuh jalan agama mereka bermazhab akan bolehnya menentang orang-orang yang melampaui batas dari kalangan para umaro` (pemimpin), dengan menyeru kepada merubah kemungkaran dan melarang darinya dan memerintah terhadap pemerintah dengan ma’ruf dengan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hal tersebut. Maka menjadi banyaklah para pengikut mereka dan orang-orang yang berpegang bersama mereka dari kalangan rakyat jelata dan orang-orang banyak dan mereka memampangkan diri-diri mereka dengan hal tersebut kepada tempat-tempat kehancuran dan kebanyakan dari mereka hancur pada jalan itu dalam keadaan berdosa tidak mendapatkan pahala, karena Allah Subhanahu tidak mewajibkan atas mereka Dan sesungguhnya yang (Allah) perintahkan dengannya hanyalah ketika ada kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Berkata (Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia rubah dengan tangannya kemudian siapa yang tidak mampu maka dengan lisannya, siapa yang tidak mampu maka dengan hatinya”. (HR. Muslim dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudry).
{Muqaddimah Ibnu Khuldun jilid 1 hal 199} Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum demonstrasi
  • hukum demonstrasi menurut salaf

Category: Fatawa | 7 Comments »