Archive for October, 2008

Berapa Jumlah Nama Allah?

October 31st, 2008 by Abu Muawiah

Berapa Jumlah Nama Allah?

Tahukah anda berapa jumlah nama-nama Allah? Apakah ismullahil a’zham (nama Allah yang terbesar) yang kalau seseorang berdoa dengannya pasti akan dikabulkan?
Berikut jawabannya dari Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan, yang kami nukil dari fatawa beliau Al-Muntaqa jilid I:
Allah Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu”. (QS. Al-A’raf : 180)
Dan (Allah) Ta’ala berfirman :
لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thoha: 8 )
Asma`ullah al-husna tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Tidak ada dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah pembatasannya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • jumlah nama Allah
  • ada berapa nama allah dalam al quran

Category: Aqidah, Fatawa, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Penjelasan tentang Al-Hakimiah

October 30th, 2008 by Abu Muawiah

PENJELASAN TENTANG HAKIMIYAH

Sebelum kami mulai memaparkan hakikat hakimiyah, maka perlu kami tegaskan bahwa kata ‘Hakimiyah’ asalnya adalah kata yang bid’ah dan tidak pernah dikenal di kalangan para ulama salaf terdahulu. Kata ini tidaklah dimunculkan kecuali oleh orang-orang yang mempunyai aqidah Khawarij dan bermanhaj takfiry semacam Sayyid Quthb dan orang-orang bodoh yang mengikutinya (Quthbiyun).
Kemudian, kata ‘hakimiyah’ ini di sisi orang-orang yang mengucapkannya mempunyai dua pengitlakan:
Pertama : Tauhid Hakimiyah, mereka menjadikannya sebagai bagian yang keempat dari pembagian tauhid. Yang telah menjadi ketetapan di kalangan Ahlis Sunnah bahwa tauhid itu hanya ada tiga macam; Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma` wa Ash-Shifat.
Bantahan :
Tauhid Hakimiyah bukanlah pembagian tersendiri yang keluar dari ketiga jenis tauhid di atas, akan tetapi hakimiyah bisa termasuk ke dalam tauhid rububiyah atau tauhid uluhiyah.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Siapa yang membagi tauhid dengan pembagian seperti ini maka dia adalah mubtadi (ahli bid’ah)”.
Dan beliau juga berkata dalam Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 158, “Berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalah bagian dari tauhid rububiyah, karena hal itu berarti menerapkan hukum Allah yang mana hukum Allah merupakan konsokuensi rububiyahNya”.
Dan Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah juga pernah berkata dalam sebuah kaset terekam, “Al-Hakimiyah itu adalah salah satu bagian dari bagian-bagian Tauhid Uluhiyah, dan orang-orang yang mendengung-dengungkan kalimat bid’ah (Tauhid Hakimiyah-pent.) ini di zaman ini, mereka menjadikannya (Tauhid Hakimiyah) sebagai senjata bukan dalam rangka mengajari kaum muslimin tentang tauhid yang dibawa oleh para Rasul seluruhnya akan tetapi mereka menjadikannya hanya sebagai senjata siasat (untuk mengkafirkan pemerintah–pent.)”. Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | 6 Comments »

Warisan bagi yang menikah sebelum cerai

October 30th, 2008 by Abu Muawiah

Adakah warisan bagi wanita yang menikah sebelum cerai?

Tanya:
Bagaimana hak warisan anak/istri atas harta suami yang sudah meninggal. Sedangkan sebelum meninggal istri sudah menikah. Dan bagaimana setatus istri yang sudah menikah katanya belum dicerai?

Imam (081520?????)

Jawab:
Yang nampak, dia punya hak warisan, sedangkan pernikahannya yang kedua adalah pernikahan yang batil (tidak syah) lagi haram. Allah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman setelah menyebutkan ayat:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ …
“Diharamkan bagi kalian (untuk menikahi) ibu-ibu kalian”. Sampai akhir ayat.
Kemudian Allah -Ta’ala- berfirman setelahnya:
وَالْمُحْصَنَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diri mereka”.
Maka dia (wanita ini) tidak boleh menikah sedangkan dia masih diharamkan untuk (dinikahi oleh) selainnya. Kecuali jika dia (wanita ini) melakukan khulu’ (gugatan cerai) kepada suaminya, maka tidak apa-apa (ketika itu) dia menikah setelah selesainya satu kali haid.
[Dijawab oleh Asy-Syaikh Jamil Ash-Shilwi -hafizhahullah-]

Category: Fatawa, Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 15 Comments »

Fatwa Para Ulama Tentang Nasyid

October 29th, 2008 by Abu Muawiah

Fatwa Para Ulama Tentang Nasyid

Berikut adalah kumpulan fatawa para ulama islam dan kaum muslimin mengenai haramnya nasyid, mengingat kesesatan yang satu ini sangat tersebar luas dan telah memakan banyak korban dari kalangan masyarakat kaum muslimin yang awam, bahkan yang dianggap ‘lebih berkecimpung’ dalam dunia islam, baik melalui jalur politik maupun hiburan, wallahul musta’an.

Berikut nama para ulama yang kami bawakan fatwanya: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum mendengarkan musik islami

Category: Fatawa | 7 Comments »

Masih seputar al-ajn

October 29th, 2008 by Abu Muawiah

Masih Seputar Al-Ajn

Pertanyaan:
Bagaimana sebenarnya keadaan kedua telapak tangan ketika bangkit dari sujud dan ingin berdiri ke rakaat selanjutnya? Karena saya pernah ditegur oleh salah seorang teman ketika menghamparkan kedua telapak tangan untuk berdiri dalam sholat dan dia mengatakan bahwa yang sunnah adalah dengan mengepalkan kedua tangan (al-ajn). Mana yang benar dalam masalah ini? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan.

Abu Sa’id

Jawab:
Berikut kami terjemahkan ucapan Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya yang berjudul ‘Laa Jadida fi Ahkam Ash-Shalah’ hal. 47-48:
Al-ajn adalah cara seorang yang shalat untuk berdiri dari satu rakaat ke rakaat lainnya, yaitu seperti al-ajin (orang yang membuat ajn/adonan roti), yaitu dia mengepalkan kedua tangannya lalu bertumpu di atas punggung kedua telapak tangannya ketika akan berdiri dalam shalat. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan.
Ini adalah kaifiat ajam (baru), bukanlah sunnah yang disyariatkan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ucapan Ibnu Ash-Shalah -rahimahullahu Ta’ala-.
Ini adalah kaifiat yang hanya dikerjakan oleh orang yang sudah tua dalam keadaan terpaksa -bukan dengan kesengajaan- karena kaifiat ini bisa membantunya untuk bangkit (ke rakaat selanjutnya). Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Untung rugi persalinan caesar

October 28th, 2008 by Abu Muawiah

UNTUNG-RUGI PERSALINAN CAESAR

Ada beda pendapat di antara para ibu dan bapak soal pilihan cara melahirkan melalui operasi caesar. Di antara kaum bapak ada yang merasa “diuntungkan” dengan operasi itu. Sebaliknya, banyak ibu yang merasa belum sempurna bila tidak pernah merasakan pengalaman melahirkan anak secara alami. Tapi sebenarnya, untung-rugi operasi caesar tak cuma itu.
Ibu Lisa telah memiliki dua orang anak yang manis-manis. Mereka lahir dengan cara normal. Namun, menjelang melahirkan anak ketiga, dia disarankan dokter untuk melahirkan dengan cara operasi caesar. Pertimbangannya, keluarga ini berencana langsung melakukan operasi sterilisasi usai melahirkan. Saran dokter ini diterima dan operasinya berlangsung baik. Ibu dan anaknya pun dalam keadaan baik.
Sayang, keesokan harinya cateter urine yang terpasang pada ibu agak macet. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • persalinan caesar
  • proses melahirkan caesar
  • proses persalinan caesar
  • pasca melahirkan caesar
  • persalinan cesar

Category: Artikel Umum | 8 Comments »

Hukum obat dan parfum beralkohol

October 26th, 2008 by Abu Muawiah

Hukum Obat dan Parfum Beralkohol

Pertanyaan:
Apa hukum menggunakan obat-obatan dan wangi-wangian yang mengandung alkohol?

Abu Abdil Aziz (0815209????)

Jawab:
Adapun hukum alkoholal dijadikan campuran obat atau wangi-wangian, maka berikut jawaban dari Syaikh Yahya Al-Hajuri dan Syaikh Abdurrahman Al-Mar’i:
Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajury -hafizhohullah- menjawab dengan nash sebagai berikut:
“Apabila alkohol tersebut sedikit dan larut di dalamnya sehingga tidak meninggalkan bekas sama sekali apalagi memberikan efek atau pengaruh maka itu tidaklah mengapa. Adapun apabila alcohol tersebut terdapat di dalam obat sehingga memberikan pengaruh terhadap pemakai apakah karena dosisnya di dalam obat tersebut 50% atau kurang maka hukumnya tidak boleh”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum parfum beralkohol
  • parfum beralkohol
  • hukum parfum alkohol

Category: Jawaban Pertanyaan | 6 Comments »

Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah

October 25th, 2008 by Abu Muawiah

Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah

“Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah,” “apa semua yang ada sekarang itu bid’ah?!” “kalau memang maulidan bid’ah, kenapa kamu naik motor, itukan juga bid’ah.” Kira-kira kalimat seperti inilah yang akan terlontar dari mulut sebagian kaum muslimin ketika mereka diingatkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bid’ah yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ucapan ini dan yang senada dengannya lahir, mungkin karena hawa nafsu mereka dan mungkin juga karena kejahilan mereka tentang definisi bid’ah, batasannya dan nasib jelek yang akan menimpa pelakunya.
Karenanya berikut uraian tentang difinisi bid’ah dan bahayanya dari hadits Aisyah yang masyhur, semoga bisa meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang bid’ah sehingga mereka mau meninggalkannya di atas ilmu, Allahumma amin. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • tentang bidah

Category: Hadits, Manhaj | 22 Comments »

Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?

October 25th, 2008 by Abu Muawiah

Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?

Muazzin memiliki keutamaan (tersendiri) dan imam juga memiliki keutamaan (tersendiri). Termasuk dalil yang menerangkan tentang keutamaan muazzin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al-Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al-Maziny :
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ. فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ, فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”. Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Fatawa, Tahukah Anda? | 1 Comment »

Siapa Yang Azan Maka Dia Yang Iqamah

October 25th, 2008 by Abu Muawiah

Siapa Yang Azan Maka Dia Yang Iqamah

Ada beberapa hadits lemah yang menyebutkan tentang hal ini:
1.    Hadits Ziyad ibnul Harits Ash-Shoda`iy radhiallahu ‘anhu.
Dikeluarkan oleh Abu Daud (1/142/514), At-Tirmidzy (1/383-384/199), Ibnu Majah (1/237/717), Ahmad (4/169), dan lain-lainnya.
Dan juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqy (1/381), Ath-Thobarony (5/262/5285) dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal (9/445-446). Semuanya dari jalan ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqy dari Ziyad bin Nu’aim Al-Hadhromy dari Ziyad ibnul Harits secara marfu’  dengan lafadz :
مَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيْمُ
“Barangsiapa yang (mengumandangkan) adzan maka dia (pula) yang (mengumandangkan) iqomah”.
Berkata At-Tirmidzy setelah meriwayatkan haditsnya: “Kami tidak mengenalnya kecuali dari hadits Al-Ifriqy dan dia adalah rowi yang lemah, dilemahkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qoththon dan selainnya”.
Kami berkata: Al-Ifriqy telah didukung oleh Al-Mubarak bin Fudholah, dia meriwayatkan hadits ini dari ‘Abdul Ghoffar bin Maisarah dari Ash-Shoda`iy radhiallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah (2/481). Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | 2 Comments »