Sepuluh Pembatal Keislaman

December 28th 2008 by Abu Muawiah |

Sepuluh Pembatal Keislaman

Ini adalah terjemahan dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Adillah At-Tauhid Bab: Nawaqidh Al-Islam ‘Asyarah, karya: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-Yamani -hafizhahullah-, salah seorang murid dari Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -rahimahullah-.

Pertama: Kesyirikan (beribadah kepada selain Allah).
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni semua dosa di bawah dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh di telah mengadakan dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’:48)
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan tempatnya adalah di neraka, tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 72)

Kedua: Berpaling dari Islam dengan lebih memilih agama Yahudi, Nashrani, Majusi, Komunis, Sekularis, atau selainnya dari keyakinan yang membawa kekufuran jika dia menyakininya.
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada kaum mukminin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kalian dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus amalan-amalan mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau kami kehendaki, niscaya kami tunjukkan mereka kepada kalian sehingga kalian benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kalian benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian.” (QS. Muhammad: 25-30)

Ketiga: Orang yang tidak mengkafirkan orang kafir baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi, orang-orang musyrik, atau orang yang mulhid (Atheis) atau selain itu dari berbagai macam kekufuran. Atau dia meragukan kekafiran mereka atau dia membenarkan mazhab/ajaran mereka, maka dia telah kafir.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya kekafiran. Kami Telah menyediakan siksaan yang menghinakan untuk orang-orang yang kafir itu.” (QS. An-Nisa’: 150-151)

Keempat: Orang yang meyakini bahwasanya petunjuk selain petunjuk Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wassallam- lebih sempurna atau meyakini bahwa hukum selain hukum yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- lebih baik (daripada petunjuk dan hukum beliau). Seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum thagut daripada hukum yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu’alaihi wasallam-.
Allah Ta’ala berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Kelima: Orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam-, walaupun dia mengamalkannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghilangkan amalan-amalan mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan maka Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

Keenam: Orang yang mengolok-olok (menghina) Allah, Rasul, Al-Qur’an, agama Islam, malaikat, atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syiar dari syiar-syiar Islam seperti, shalat, zakat, puasa, haji, tawaf di Ka’bah,wukuf di ‘Arafah, atau menghina Masjid, azan, jenggot, atau sunnah-sunnah Rasulullah -shollallahu’alaihi wasallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah, dan tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta yang terdapat keberkahan padanya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman. Jika kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Ketujuh: Sihir, termasuk ash-shorfu (merubah seseorang dari sesuatu yang dicintainya menjadi yang dibencinya) dan al-athfu (mendorong seseorang dari sesuatu yg dibencinya menjadi dicintainya/pelet dan semacamnya, pent.)
Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi justru setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (kepada kamu) sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberikan mudharat kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka. Sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Kedelapan: Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari ahli kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman. Bagaimanakah kalian (bisa sampai) kafir padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imron: 100-101)

Kesembilan: Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang diberi keleluasaan untuk keluar dari syariat Rasulullah -shollallahu ’alaihi wasallam-, sebagaimana Nabi Khidir diperbolehkan keluar dari syariat yang dibawa Nabi Musa -‘alaihissalam-.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Kesepuluh: Berpaling dari agama Allah Ta’ala, tidak mempelajarinya, dan tidak beramal dengannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22)
Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran). Barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalamnya dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.” (QS. Thaha: 99)

Incoming search terms:

  • pembatal keislaman
  • 10 pembatal keislaman
  • Sepuluh Pembatal Keislaman
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, December 28th, 2008 at 4:35 am and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

32 responses about “Sepuluh Pembatal Keislaman”

  1. Ajah Indra said:

    As Salamu ‘alaikum.
    ana minta izin karena memuat tulisan ini di
    http://antimain.wordpress.com
    silakan kunjungi blognya.
    BarokaLLOHU fiikum.

    Waalaikumussalam warahmatullah. Tafadhdhal wafikum barakallah.

  2. Sepuluh Pembatal Keislaman « Just a Simple Writing said:

    […] http://al-atsariyyah.com/?p=548 -6.200000 […]

  3. Nope said:

    Bila ada yg melakukan salah satu dari pembatal keislaman tsb tanpa disadarinya/khilaf, bgmn cara utk kembali? Cukupkah dng bertaubat? Apakah Allah akan menerima taubatnya? Mohon penjelasannya..

    Ia, selama nafasnya masih belum sampai di tenggorokan lalu dia bertaubat dengan taubat yang ikhlas, maka pasti Allah akan menerima taubatnya dan mengampuni semua dosanya walaupun itu adalah kekafiran dan kesyirikan. Dan di antara dosa yang terbesar dan termasuk amalan orang kafir adalah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala.

  4. ihsan said:

    Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh

    apakah ada buku syarah untuk 10 kaidah ini, ana perlu pendalaman lebih lanjut, syukron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Alhamdulillah ada banyak, hanya saja yang kami ketahui telah diterjemah adalah: Syarh Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi yang diterbitkan oleh maktabah as-sunnah makassar.
    Adapun penjelasan 10 pembatal keislaman yang disyarh oleh Sulaiman bin Nashir Al-Ulwan, yang judul arabnya adalah At-Tibyah Syarh Nawaqidh Al-Islam, maka buku ini sepantasnya tidak dibaca. Karena di dalamnya penulis menyusupkan pemikiran yang condong kepada mazhab khawarij. Wallahu a’lam

  5. oom donny said:

    minta ijin post di catatan FB ane: facebook.com/gitaloversdotcom gan…
    jazakillah

    Silakan, jazakallahu khairan

  6. cinta Allah said:

    ustadz,,jika andai kata kita mempunyai kenalan orang kafir dan dia memiliki nama yg bila diartikan maka maknanya adalah kristen yg selamat,,dan kemudian saya memanggil org tsbt dgn nama dia, apakah perbuatan saya ini kekafiran? krn ketika saya memanggil namanya maka sama saja saya mengatakan ucapan kekafiran yg maknanya kristen yg selamat,,,ana butuh jawabannya ustadz,,jazakumullah khoir

    Siapa namanya?

  7. abu assalman said:

    izin copy ya ustadz. Barokallohu fiikum

  8. Willy said:

    Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh.
    Akh,
    Bagaimana hukumnya makan makanan yang dibeli dari KFC, McD, dan sejenisnya?
    Karena saya pernah mendengar bahwa produk-produk ini ikut menyumbangkan dana ke pemerintahan AS atau Israel, yang sebagian dananya digunakan untuk memerangi kaum muslimin.
    Mohon koreksi, jika ada yang keliru. Terima kasih

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Boleh saja, selama kandungannya halal. Kabar seperti itu tidak jelas dan juga bukan alasan yang tepat melarang untuk membeli produk tersebut. Karena kalau itu mau dijadikan alasan, maka akan sangat memberatkan, misalnya: Dilarang berbelanja di semua toko/supermarket/mall yang pemiliknya non muslim, karena uang kita akan mereka gunakan untuk kepentingan kesyirikan dan kekafiran mereka.

  9. puspa said:

    assalamualaikum. saya hari ini puasa. lalu saya sangat lapar, ayah saya bilang dikulkas ada ikan. Lalu saya makan ikan itu. Di pertengahan saya makan, saya kepikiran apakah ikan itu digoreng dengan minyak apa, karena beberapa hari yg lalu keluarga kami makan ayam yg diungkap, tinggal digoreng. Tp keluarga kami berhenti makan ayam itu karena kami curiga itu ayam tiren. Saya takut ikan itu digoreng dg minyak yg sama. Lalu saya meneruskan makan saya sampai selesai. Saya ingin menanyakan hal ini kpd ayah saya, tp takut pertanyaan saya menyakiti hatinya. Kalau memang benar ikan itu digoreng dgn minyak yg sama dgn menggoreng ikan, apakah hal ini dpt mengeluarkan saya dari islam?

    Disebutkan dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam_tiren:
    Ayam tiren adalah jargon pers untuk daging ayam kedaluwarsa yang dijual di pasar atau dijual ke pengusaha rumah makan/warung. “Tiren” adalah singkatan dari “mati kemaren”.
    Daging ayam yang tidak dibekukan segera setelah dipotong akan segera menurun kualitasnya, yang ditandai dengan warna kulit yang memucat serta berbau tidak segar. Pedagang mengakali hal ini dengan memberikan pewarna kuning untuk mengelabui pembeli. Proses degradasi sering kali diakali dengan memberikan formalin untuk mengawetkan daging. Pemberian formalin pada produk pangan dilarang oleh POM.

    Jika melihat definisi ayam tiren di atas, dia adalah ayam yang disembelih, hanya saja kualitasnya sudah menurun karena lamanya disimpan.
    Maka hukumnya sekarang tinggal dilihat dari sisi kesehatan. Jika memang membahayakan maka tidak boleh dimakan. Tapi jika tidak membahayakan maka tidak mengapa memakannya. Wallahu a’lam

  10. puspa said:

    apakah dosa-dosa seperti berbohong dan mencotek, mencuri dsb dapat mengeluarkan seorang muslim dari keislamannya?

    Tidak, itu semua adalah dosa-dosa besar yang belum mengeluarkan seorang muslim dari agamanya.

  11. puspa said:

    pak ustad, mohon wawasannya. saya selalu merasa melakukan pembatalan keislaman, padahal biasanya saya melakukannya dengan ketidaksengajaan, dan setelah melakukan hal itu, pasti saya minta ampun kepada Allah. Contohnya: akhir2 ini saya selalu merasa gundah, lalu saya cerita sama Allah apa yg saya gundahkan, saya menangis tersedusedu, sampai pada puncaknya saya tahu saya menangisi yg salah dan menyadari bahwa saya tidak perlu menangis karena hal itu. Saya terbawa perasaan dan saya takut hal ini dpt membatalkan islam saya. Apakah hukumnya pak ustad? Haruskah saya mandi junub untuk mengucap syahadat lg? Hampir 3x setiap hari saya mandi junub untuk membaca syahadat lagi.

    Semua itu hanya was-was dan gangguan setan. Menangis kepada Allah dan menyesali kesalahan adalah hal yang baik dan menunjukkan baiknya hati insya Allah. Maka semua hal-hal yang merepotkan itu sama sekali tidak perlu anda lakukan.

  12. puspa said:

    pak tolong jwb pertanyaan ini karena saya sangat bingung

    Assalamualaikum pak
    Ayah saya tidak menjalankan ibadah solat, tp saya selalu mendoakan agar ayah saya diberi pintu hidayah oleh Allah SWT, tp kadang2 saya sering keceplosan, saya meminta agar ayah saya diberi Rahmat (kasih sayang) Nya, tetapi saya sehabis itu menyadari bahwa hal itu dilarang, lalu saya menarik kata2 saya yg terlarang tersebut. Adakah hal ini dpt membatalkan keislaman saya pak? karena saya sering sekali keceplosan

    Waalaikumussalam.
    Apanya yang salah? Mendoakan ayah mendapatkan hidayah dan rahmat justru merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, asalkan jangan diniatkan karena ayah sudah kafir saja, karena itu jelas perbuatan dosa.

  13. delila said:

    assalamualaikum

    Saya pernah dgr, kalo org yg meninggalkan solat adalah kafir. Yg menjadi pertanyaan, haruskah dia mengulang syahadatnya dgn mandi junub sebelumnya?

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca penjelasannya dalam artikel ‘Meninggalkan shalat, kafir besar atau kafir kecil’ dalam situs ini.

  14. Rani said:

    terima kasih pak, atas wawasannya yg telah dishare. saya mau tanya pak pada artikel ini, tertera disini bahwa tdk boleh mengolok2 ulama atas ilmunya, saya pernah melihat suatu gambar yg bertuliskan islami, tp karena designnya tidak sesuai dgn selera saya, di hati kecil saya bilang “yg ini norak” spontan saja hal ini tercetus pada hati saya. apakah hal ini mengancam keislaman saya pak? Dan bagaimana cara mengontrol lintas hati yg tidak jrang diganggu setan?

    Anda bukan mencela ulama akan tetapi mengkritisi designya. Caranya hanya dengan meminta perlindungan kepada Allah dan jangan dihiraukan.

  15. hamba Allah said:

    Assalamualaikum

    pak ustad, selalu saja ada lintas hati dan lintas pikiran yg sangat mengganggu, setan2 membisikan keburukan. saya tidak tau apa yg terjadi. Selalu saja bisikan itu membisikan hal2 yg dpt membatalkan keislaman saya. Seperti selalu ada pertanyaan “kamu lebih beriman kepada siapa, Allah atau Rasul-Nya?” atau ada jika saya melihat org kafir “apa benar dia kafir?” padahal saya tidak pernah mempertanyakan hal itu. Ustad, nasihatkanlah aku di jalan Allah… aku takut hal itu membatalkan ke Islaman saya… Saya merasa kebingungan.

    Waalaikumussalam.
    Selama itu tidaklah diyakini, tidak diucapkan, atau diamalkan, maka insya Allah itu masih bersifat was-was dan godaan setan. Semua itu harus ditolak dari dalam hati dan senantiasa meminta perlindungan kepada Allah.

  16. Hamba Allah said:

    assalamualaikum

    Pak ustad, saya pernah mendengar ahli kitab, dan setelah itu saya mempertanyakan apakah ahli kitab itu kafir atau tidak, lalu dalam benak saya kadang ada perkataan “mungkin iya, atau mungkin tidak” tp pertanyaan saya sekarang sudah terjawab bahwa ahli kitab adalah org2 kafir. Apakah hal ini termasuk meragukan kekafiran mereka dan saya harus syahadat ulang pak?

    Waalaikumussalam.
    Jika apa yang muncul di benak itu timbul karena kebodohan dan kejahilan, maka insya Allah itu tidaklah mengkafirkan. Wallahu a’lam.

  17. hamba Allah said:

    pak ustad, sesungguhnya saya takut kalau dulu saya sudah mempercayai bahwa ahli kitab itu bukan kafir, tp sekarang saya tau bahwa mereka adalah kafir. Saya sekarang sdg haid, saya ingin mengucap 2 kalimat syahadat lg karena takut saya telah melakukan yg membatalkan syahadat saya, tp bukankah membaca syahadat harus mandi junub dulu? Bolehkah org yg sdg haid membaca 2 kalimat syahadat?

    Di sini saya hanya akan menjawab pertanyaannya, yaitu dibolehkan wanita haid untuk masuk Islam dan boleh bagi dia untuk membaca kalimat syahadat.

  18. hamba Allah said:

    apakah wanita haid yg mau membaca syahadat wajib mandi junub dahulu pak?

    Tidak wajib. Tapi kalo yang dimaksud di sini syahadat masuk Islam, maka dia wajib mandi dahulu berdasarkan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Karena mandi sebelum syahadat ini berbeda hukumnya dengan mandi bersih dari haid.

  19. Dea said:

    assalamualaikum

    Hari ini saya diinterogasi dgn teman2 saya, karena akhir2 ini saya memiliki masalah. Lalu saya ceritakan masalah saya ke teman2 saya, bahwa saya memiliki penyakit was2 takut murtad. lalu saya mengutarakan bisikan apa yg sebenarnya ada di kepala saya. Saya bercerita bahwa.. Mahasuci Allaah dari perkataan seperti ini “selalu ada bisikan bahwa Allah memiliki sekutu” (Astagfirullahalazim) lalu perasaan takut itu muncul lg. Saya takut apa yg baru saja saya ceritakan membuat saya murtad. Padahal, saya tidak ada maksud apa2, tp hati ini brgejolak sehingga saya takut hati saya telah mempercayainya. Saya lelah hidup dirundungi rasa was-was…

    Waalaikumussalam.
    Selalu mohon perlindungan kepada Allah.
    Adapun was-was itu, selama tidak dituruti, selalu ditolak, dan tidak diucapkan, maka insya Allah tidak memberikan bahaya apa-apa.

  20. Dea said:

    tp saya kemarin menceritakan bisikan itu kepada teman saya, otomatis saya bicara bisikan apa yg sering terjadi. adakah hal itu berbahaya pak ustad?

    Sebaiknya jangan diceritakan lagi.

  21. xx said:

    Assalamualaikum pak. Saya hilaf, td saat shalat subuh saya sudah berniat shalat karena Allah Subhanahu wata’ala, tp dipertengahan shalat saya berpikir untuk mengerjakan shalat dgn khusyuk, agar ayah saya melihat dan mendapatkan hidayah untuk shalat. Saya hilaf waktu itu. Saya baru menyadarinya setelah shalat. Apakah hal ini dpt membatalkan islam saya pak?

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tidak. Jika niat shalatnya pada dasarnya untuk Allah, namun sekaligus diperlihatkan kepada orang agar ditiru shalat atau cara shalatnya -seperti kasus di atas- maka insya Allah itu tidak mengapa dan diperbolehkan.

  22. xx said:

    pak ustad, ada seseorang bilang bahwa shalat dhuha dpt membuka pintu rejeki, lalu saya berdesik (seperti mengeluarkan angin dari hidung karena ketidak setujuan/meremehkan) dan berpikir bahwa shalat-lah karena untuk mendapat ridha Allah Subhanahuwata’ala, gapapa sih kalo shalat dhuha niatnya untuk meminta dibukakan pintu rezeki kepada Allah Subhanahuwata’ala, tp bukannya lebih baik shalat karena meminta ke-ridho-an Allah semata?

    Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan saya berdesik seperti itu dpt membatalkan Keislaman saya?

    Jujur pak, setelah membaca artikel ini saya lebih berhati-hati, tp entah kenapa saya sering merasa takut tentang apa2 yg telah saya lakukan, takutnya membatalkan keislaman.

    Sebaiknya anda tidak mengulangi amalan tersebut dan bertaubat kepada Allah. Insya Allah hal itu tidak akan memudharatkan anda.

  23. xx said:

    saya pernah berdesik ketika saya membaca salah satu artikel di web ini bahwa buaya itu halal. setelah membacanya baru saya mengerti. Apakah berdesik seperti itu termasuk mengolok2? Sungguh gak ada niat mengolok2, cuma perasaan spontanitas sebagai tanda bingung/tidak setuju/meremehkan, mohon dibukakan pintu maaf buat ustad yg menjawab pertanyaan.

    Kalau memang tidak ada maksud mengolok2 maka insya Allah tidak mengapa. Tidak ada yang perlu dimaafkan, dalam masalah yang terjadi perbedaan pendapat di dalamnya, setiap orang bebas menyikapi pendapat orang lain selama tidak sampai dalam taraf menzhalimi.

  24. bee said:

    Assalamu’alaikum.

    ust, mau tanya, klo ternyata seseorang merasa batal keislamannya, apa dg bersyahadat sendiri saja cukup..?? krn dulu saja (masa Rasulullah SAW) jika kita hendak bersyahadat harus disaksikan Rasulullah. Itu sekedar formalitas saja..? atau mmg ada syarat-syarat dan ketentuan tertentu untuk bersyahadat, baik pertama kali maupun u/ yg pernah bersyahadat di muka saksi (cth:mualaf)). syukrn sebelumnya..

    Waalaikumussalam.
    Tidak bisa seenaknya seseorang menghukumi keislaman dirinya sudah batal, dia seharusnya bertanya kepada orang yang berilmu untuk mengetahui kepastiannya.
    Masuk Islam itu cukup dengan besyahadat. Namun jika dia ingin diterima di masyarakat kaum muslimin maka harus ada yang menyaksikan ucapannya itu.

  25. dea said:

    sungguh ana tidak bermaksud apa2 dalam menulis ini, hanya untuk brtanya kpd org yg lebih berilmu dibanding ana, karena Alloh subhanahu wata’ala, memerintahkan untuk bertanya kpd org yg berilmu

    Bismillahirahmanirahim

    Ustad, sudah lama saya memiliki penyakit was2 takut murtad. Saya kemarin shalat, lalu ada bisikan atau lintas hati “sehabis ini saya mau lgsg shalat isya, agar setelah shalat isya saya bisa mendengarkan musik” lalu di hati saya timbul perasaan takut murtad,apakah maksud perkataan hati saya tadi berniat untuk (astagfirullah) murt*d , lalu saya berpikir, bahwa mendengar musik itu dosa, dan saya tidak boleh melakukannya. Lalu saya lanjutkan shalat saya. Setelah saya shalat saya tidak mendengarkan musik. Bahkan menghindarinya.
    Demi Alloh, tidak ada niatan sekecil apa pun unt meninggalkan agama ini. Tetapi ada saja yg muncul di hati. Apakah hal ini membatalkan keislaman saya? Bagaimana jika saya menceritakan hal ini kepada guru agama saya?

    Tidak insya Allah. Selama itu tidak diucapkan maka itu tidaklah memudharatkan insya Allah. Boleh saja anda ceritakan untuk mendapatkan solusi. Namun jika sekedar bercerita tanpa bermaksud mendapatkan solusi maka sebaiknya dihindari.

  26. dea said:

    Asalamualaikum ustad,

    Semakin hari persoalan ana semakin pelik ttg was2 keluar islam ini. Di dada ini serasa ada sesuatu yg mengganjal, takut unt diceritakan karena takut memudaratkan. Setiap waktu ana membaca syahadat, setiap ana mau mandi ana membaca syahdat, serasa diri ini dirundungi gelisah yg teramat sangat. Kadang… Persoalan sepele seperti ketika ana menyeka rambut ana, ada terpintas di hati “apakah apa yg kamu lakukan barusan hanya unt Alloh? Atau untuk yg lain?” lalu hati ini menjadi panas seperti mendidih, lalu badan ini seperti panas dingin tdk menentu. Lalu ana menyalahkan diri ana ttg apa yg ana perbuat padahal tak sedetik pun hatì ini ingin berpaling.

    Setan ini serasa menghalangi ana unt mengingat Alloh, ketika ana sdg terdiam dan mengingat Alloh ada saja yg mengganggu. Hati serasa tak tentram dibuat oleh setan.

    Kadang, ana tdk menghiraukannya. Ttp dibenak muncul pertanyaan, apakah ana mengikuti setan atau mengikuti yg benar?

    Ana jd sering bingung, murung, terdiam, rasanya sesuatu yg ana lakukan selalu berujung pada hal yg sama… Ana ingin lepas dari belenggu ini. Ana ingin mengingat Alloh dgn tenang lagi.

    Tolong nasihatnya ustad…

    Waalaikumussalam.
    Kami sudah sering sekali membahas masalah was-was. Silakan baca komentar2 yang ada pada artikel ‘Mandi Junub’ dan artikel ‘Perbedaan mani, madzi dan wadi’. Semoga anda menemukan solusi di sana.

  27. Rifa'i said:

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..
    Sepertinya sering sekali orang2 bertanya tentang was2 atau yang laennya yang hanya akan menambah was2 atau keraguan dalam beribadah kepada penanya. Saya pernah dengar hadist yang mengatakan bahwa terlalu banyak bertanya (yang ga’ penting) akan menambah beban bagi penanya’y. Apakah benar ada hadist trsebut? Trus bgaimana derajatnya? Barokallohu fiik ustadz..

    Waalaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.
    Wallahu A’lam, kami belum pernah mendengar hadits yang bunyinya seperti itu.

  28. Sepuluh Pembatal Keislaman « Pustaka Abi Aqila said:

    […] : http://al-atsariyyah.com/ Like this:LikeBe the first to like this […]

  29. muslimah was was said:

    ustadz, wkt shalat berjamaah, seorang akhwat mengajak utk merapatkan mata kaki, tp entah knp pada saat itu sy merasa kesal dan terganggu (padahal biasanya jg tidak spt itu), dan saya tau saling merapatkan mata kaki dlm slt berjamaah adalah disunnahkan (mohon koreksi bila salah). Apakah ini bs termasuk dlm point kelima diatas? semenjak itu sy was was bhw perkara tsb bisa membatalkan keislaman saya. Apakah ini membatalkan keislaman saya ustadz? saya takut sekali dan menyesal,dan sy sudah memohon ampun pada Allah dan bertaubat. sy hrs bagaimana ustadz? Apakah mengucapkan 2 kalimat syahadat dlm setiap shalat fardhu sudah mencukupi utk mengembalikan kita kembali ke dalam islam?

    Tidak termasuk insya Allah. Yang jelas itu salah dan anda sudah bertaubat. Lupakan sudah kejadian itu dan jangan jadikan itu sebagai bahan dalam was-was, karena itu bisa menjadi jalan masuknya setan.

  30. nop said:

    ijin share ya akhi…..

  31. ali said:

    Assalamualaikum, ustadz bagaimana dengan muslimah yang menolak poligamy, bahkan marah besar ketika suaminya hendak berpolygami. Apakah itu termasuk membatalkan ke-Islamannya karena ia membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
    Sebenarnya sebelum hendak berpolygami, suami sudah bertanya kpd isteri apakah ia ridho bila suami menikah lagi dengan wanita lain (katakanlah si S). Belakangan ketika suami sudah melamar ke keluarga S, justru isteri pertama ketika esoknya diberi tahu lantas marah besar. Lantaran isteri marah dan guna mencegah madhorot maka suami membatalkan niat berpolygami tersebut. Apakah suami tersebut berdosa karena membatalkan khitbahnya kepada keluarga S? Suami tersebut sampai sekarang masih sering merasa berdosa kepada S karena tidak dapat memenuhi janjinya.
    Atas jawaban ustadz, saya ucapkan jazaakumullah khoiron.

    Waalaikumussalam.
    Belum tentu kemarahan dia dikarenakan membenci syariat, jadi jangan langsung dilazimkan seperti itu pertanyaannya.
    Tidak berdosa membatalkan khitbah karena alasan syar’i seperti ini.

  32. kitty said:

    assalamu’alaykum, alhamdulillaah nemu artikel ini.ustadz ada beberapa yang ingin ana tanyakan.
    1. apakah orang yang menyanyi atau menari sambil tanpa sadar melantunkan ayat al qur’an yang biasa ia hafalkan menyebabkan ia jatuh pada kekufuran ? sampai ia ditegur oleh orang lain kemudian ia beristigfar.
    2. Jika iya,apakah cukup dengan hanya mengucap syahadat tanpa mandi terlebih dahulu ?
    3. Jika orang tua memberi istilah yang terdengar lucu tentang jilbab syar’i (dimana semua serba hitam) walau mereka tdk melarang memakai dan kita ikut tertawa, apakah termasuk kekufuran ?

    ana sangat gelisah dengan masalah ini. tolong di jawab ustadz. baarakallaahu fiik.

    Waalaikumussalam.
    1. Itu bukan kekufuran, tapi jelas merupakan kesalahan dan tidak beradab terhadap Al-Qur`an.
    3. Istilah itu buatan manusia, jika yang ditertawakan istilahnya, insya Allah tidak mengapa tapi tetap lebih utama dijauhi. Namun jika yang dia maksudkan adalah syariatnya maka itu perbuatan yang bisa mengkafirkan pelakunya.