Ijma’ Seputar Pakaian Dalam Shalat

September 30th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Al Libas (Pakaian)

1. Para ulama sepakat bahwa di antara bagian tubuh yang wajib ditutup oleh lelaki di dalam shalat adalah qubul dan dubur.

2. Mereka sepakat bahwa wanita merdeka yang telah balig, wajib untuk menutupi kepalanya jika dia mengerjakan shalat. Dan jika wanita itu mengerjakan shalat dalam keadaan kepalanya terbuka, maka dia wajib mengulangi shalatnya.

3. Mereka sepakat bahwa budak wanita tidak harus menutup kepalanya (di dalam shalat, penj.).
Al Hasan bersendirian dengan mewajibkan hal itu kepada budak wanita.

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Serba-Serbi Hafalan Perawi

September 27th 2014 by Abu Muawiah |

Telah berlalu penjelasan mengenai jenis-jenis adh dhabthu beserta contohnya. Kemudian, juga perlu diingat oleh setiap orang yang membahas perawi, bahwa ada beberapa permasalahan lain yang juga berkenaan dengan adh dhabthu, yaitu permasalahan yang khusus berkenaan dengan keadaan para perawi yang kuat hafalannya.

Berikut kami bawakan secara ringkas, karena penjabaran permasalahan ini sebenarnya lebih tepat di dalam buku-buku yang lebih lengkap.

Di antaranya:

A. Ada sebagian perawi yang dhabith di satu waktu, namun tidak demikian di waktu yang lain.

Perawi seperti ini diistilahkan dengan nama mukhtalith (yang rusak hafalannya).

Contohnya:
1. Abdurrahman bin Abdillah al Mas’ùdi.
Seorang perawi yang tsiqah. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Dia hanya mukhtalith di Bagdad. Karenanya, siapa saja yang mendengar hadits darinya di Kufah dan Basrah, maka haditsnya bagus.” (al ‘Ilal wa Ma’rifah ar Rijàl: 1/325)

2. ‘Àrim Abu an Nu’màn.
al Hafizh Abu Hatim berkata, “Secara umum, siapa saja yang mendengar hadits darinya sebelum tahun 220 H, maka haditsnya bagus.” (al Jarh wa at Ta’dìl: 8/58)
B. Di antara mereka ada yang dhàbith di satu daerah, namun tidak di daerah lainnya.
Contohnya:
Yazìd bin Hàrùn, al Hàfizh yang terkenal.
Saleh bin Ahmad membawakan ucapan ayahnya, Imam Ahmad, “Yazìd bin Hàrùn. Siapa saja yang mendengar hadits darinya di daerah Wàsith, maka itu lebih sahih daripada yang mendengar hadits darinya di Bagdad. Karena ketika di Wàsith, setiap kali ada yang memperbaiki kekeliruan beliau, beliau selalu merujuk ke bukunya.” (Masàil al Imam Ahmad: 3/ no. 1605/181) Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off

Riya dan Sum’ah

September 24th 2014 by Abu Muawiah |

Bentuk Kedua: Syirik Ashghar yang Khafi (tersembunyi).

Bentuk ini ada 2 jenis:

Pertama: Riya.

Riya ada 2 hukumnya:
1. Syirik Akbar.
Yaitu riya yang dilakukan oleh kaum munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa': 142)

2. Syirik Kecil.
Seperti beribadah karena mengharapkan pujian orang lain, sehingga tujuan dia dalam beribadah adalah selain Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أخوفُ ما أخافُ عليكم الشركُ الأصغرُ. فسئل عنه فقال: الرياءُ

“Perkara yang paling saya takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Beliau ditanya tentang itu, maka beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad: 5/428 dengan sanad yang shahih) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Shalat

September 21st 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Shalat

1. Para ulama sepakat bahwa awal waktu zuhur adalah tergelincirnya matahari (ke arah barat, penj.)

2. Mereka sepakat bahwa shalat magrib wajib dikerjakan (baca: masuk waktunya) jika matahari telah terbenam.

3. Mereka sepakat bahwa awal waktu subuh adalah terbitnya fajar (kedua, penj.)

4. Mereka sepakat bahwa siapa yang shalat subuh antara terbitnya fajar sampai sebelum terbitnya matahari, maka dia telah shalat subuh pada waktunya.

5. Mereka sepakat akan disyariatkannya menjamak shalat zuhur dan ashar di Arafah, dan menjamak antara magrib dan isya di malam an Nahr (10 Dzulhijjah, penj.).

6. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Menghadap kiblat ketika mengumandangkan azan.

7. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Muazzin mengumandangkan azan dalam keadaan berdiri.
Abu Tsaur bersendirian dengan mengatakan: Boleh azan sambil duduk walaupun tidak dalam keadaan sakit.

8. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Azan dikumandangkan untuk shalat setelah masuk waktunya, kecuali shalat subuh (karena adanya azan pertama sebelum terbitnya fajar kedua, penj.).

9. Mereka sepakat bahwa shalat tidak syah kecuali dengan niat.

10. Mereka sepakat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengangkat kedua tangan beliau ketika memulai shalat (saat takbiratul ihram, penj.) Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Syarat Hadits Shahih: Perawi yg Kuat Hafalannya

September 18th 2014 by Abu Muawiah |

Syarat Ketiga: adh Dhabthu

adh Dhabthu menurut ahli hadits ada 2 macam:
1. Dhabthu shadrin (hafalan yang kuat, penj.)
2. Dhabthu kitàbin (catatan yang bagus, penj.)

Al Imam al Hafizh Yahya bin Ma’in berkata, “Dia ada 2 macam: Tsabtu hifzhin (kekuatan hafalan, penj.) dan tsabtu kitàbin (bagusnya catatan, penj.). Sementara Abu Saleh juru tulis al Laits adalah perawi yang bagus catatannya.” (Tahdzib at Tahdzib: 5/260)

Al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah (340-341) meriwayatkan bahwa Marwàn bin Muhammad ath Thàthiri berkata, “Ada 3 hal yang seorang ahli hadits harus memiliki minimal 2 di antaranya: Hafalan yg kuat, kejujuran, dan catatan yang bagus. Jika dia tidak memiliki salah satu di antaranya namun dia masih memiliki 2 yang lainnya, maka itu tidak ada masalah. Jika dia tidak punya hafalan yang kuat namun dia punya kejujuran dan catatan yang bagus, maka itu tidak ada masalah.”
Beliau juga berkata, “Sanad sudah sangat panjang, dan akhirnya orang-orang nantinya akan kembali (mengandalkan) buku-buku.”

Yang Pertama: Dhabthu Shadrin (ضبط صدر)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menghafal dengan baik hadits yang pernah dia dengar, hingga dia mampu melafalkan hadits itu (dari hafalannya, penj.) kapan saja dia mau.” (Nuzhah an Nazhar hal. 29)

Yang Kedua: Dhabthu Kitàbin (ضبط كتاب)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menjaganya (buku catatan haditsnya, penj.) mulai sejak dia mendengar (baca: mencatat) di dalamnya dan dia mentash-hih (mengecek kembali kebenaran, penj.) hadits-hadits yang dia tulis kepada guru yang dia mencatat hadits-hadits itu drnya.” (Idem) Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off

Syirik Kecil

September 15th 2014 by Abu Muawiah |

Jenis Kedua: Syirik Ashghar (Kecil)

Syirik ini ada 2 bentuk:

Bentuk Pertama: Syirik Ashghar yang Zahir (Nampak)

Ini terjadi pada 3 perkara:

Hal Pertama: Syirik Dalam Rububiah

Syirik ini mencakup 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti meyakini sesuatu sebagai sebab dalam menolak mudarat atau dalam meraih manfaat, padahal sebenarnya sesuatu itu bukanlah sebab.
Ibnu Utsaimin berkata, “Barangsiapa yang meyakini sesuatu sebagai sebab (padahal bukan, penj.) -walaupun dia meyakini bukan sesuatu itu yang mewujudkan keinginan- maka dia telah berbuat syirik kecil. Hal itu karena tatkala dia meyakini sesuatu sebagai sebab padahal sebenarnya dia bukanlah sebab, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah Ta’ala dalam menghukumi sesuatu itu sebagai sebab, karena Allah Ta’ala tidak pernah menetapkan sesuatu itu sebagai sebab.” (al Qaul al Mufid: 1/208)

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti orang yang mengenakan jimat atau mengenakan gelang atau benang atau yang semacamnya guna mengangkat atau mencegah bala bencana. Hal itu karena siapa saja yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab, baik menurut syar’i maupun menurut kauni, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah.

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Semisal menyandarkan turunnya hujan kepada (rotasi) bintang-bintang, walaupun dia masih meyakini bahwa yang menurunkan hujan sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla. Seperti mengatakan: Jika bintang ini sudah terbenam, maka hujan akan turun. Jika bintang ini sudah terbit, maka hujan akan turun. Sehingga mereka menisbatkan turunnya hujan kepada bintang sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menetapkannya sebagai sebab. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Lain Seputar Thaharah

September 12th 2014 by Abu Muawiah |

Bab: Tempat-Tempat yang Boleh Shalat di Situ

1. Para ulama sepakat bahwa shalat di kandang kambing adalah boleh.
Asy Syafi’i bersendirian dengan mengatakan: Boleh jika tidak ada kencing kambing di situ.

2. Mereka sepakat akan gugurnya kewajiban shalat dari wanita yang haid.

3. Mereka sepakat bahwa wanita tidak wajib untuk mengqadha’ shalat yang mereka tinggalkan di masa haid.

4. Mereka sepakat bahwa wanita wajib mengqadha puasa yang mereka tinggalkan di masa haid.

5. Mereka sepakat bahwa wanita yang nifas wajib mandi ketika dia suci.

6. Mereka sepakat bahwa: Jika ada anggota tubuh kambing, onta, dan sapi yang terpotong dalam kondisi hewan itu masih hidup, maka potongan tubuh itu adalah najis (karena itu bangkai, penj.).

7. Mereka bersepakat akan bolehnya memanfaatkan bulu dan kulit dari hewan-hewan di atas, jika itu diambil dari hewan itu ketika hewan itu masih hidup.

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Syarat Hadits Shahih: Perawi yang adil

September 9th 2014 by Abu Muawiah |

Syarat Kedua: ‘Adalah perawi.

‘Adalah (عدالة).
Sebagian ulama mendefinisikan ‘adalah dengan: Pembawaan yang membuat pemiliknya senantiasa di atas ketakwaan dan menjauhi semua hal yang merusak kehormatannya.
Karenanya, mereka mendefinisikan adil (عدل) dengan: Muslim, balig, berakal, yang terbebas dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang merusak kehormatannya.

Sebagian lainnya mendefinisikan ‘adalah dengan: Istiqamah dalam perjalanan hidup dan perjalanan keagamaannya, dimana keistiqamahan ini akan mencegah dia untuk mengamalkan dosa-dosa besar dan untuk terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil, serta mengantarkan dia untuk konsisten di atas ketakwaan dan menjaga kehormatannya.
Karenanya, adil (menurut pendapat ini, penj.) adalah: Orang yang kebanyakan keadaannya di atas ketaatan kepada Allah dan keistiqamahan, serta terbebas dari semua sebab yang bisa menjadikannya sebagai orang yang fasik.
Ini adalah pendapat banyak ulama, di antaranya: Said bin al Musayyab, Ibrahim an Nakhai, Abdullah bin al Mubarak, asy Syafii, Ibnu Hibban, dan adz Dzahabi.

Ash Shan’ani berkata dalam Taudhih al Afkar (2/284), “Inilah pendapat yang paling tepat.”

Karenanya, sifat ‘adalah adalah sifat yang lebih dari sekedar muslim, dimana untuk mengetahuinya, dibutuhkan pengetahuan tentang keadaan perawi dan penelusuran terhadap semua riwayatnya. Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off

Syirik Akbar

September 6th 2014 by Abu Muawiah |

Pembagian Syirik Kepada Allah:

Nash-nash al Kitab dan as Sunnah menunjukkan bahwa syirik kepada Allah ada 2 jenis:

Jenis Pertama: Syirik Akbar

Syirik ini ada 3 bentuk:

Bentuk Pertama: Syirik Dalam Rububiah.

Syirik dalam rububiah terjadi pada 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti keyakinan bahwa ada selain Allah yang mampu mencipta atau menghidupkan atau mematikan atau menguasai atau mengatur alam semesta. Keyakinan ini dihukumi syirik akbar karena semua hal di atas adalah perbuatan yang hanya Allah yang bisa melakukannya, dan karenanya semua perbuatan itu tidak boleh disematkan kepada selainNya.

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti menggantung jimat, mengenakan gelang (perlindungan, penj.) dan semacamnya. Dimana seseorg meyakini bahwa benda itu lah dengan sendirinya yang mewujudkan apa yg dia inginkan.
Ibnu al Utsaimin berkata, “Jika orang yang mengenakannya meyakini bahwa benda itu dengan sendirinya yang memberikan pengaruh tanpa bantuan Allah maka dia musyrik dengan kesyirikan akbar dalam tauhid rububiah. Hal itu karena dia meyakini adanya pencipta lain bersama Allah.” (Al Qaul al Mufid:1/207)

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti ucapan bahwa alam ini tidak ada awalnya. Hal itu karena ucapan seperti ini mengandung penolakan terhadap eksistensi Rabb Subhanahu wa Ta’ala dan pengingkaran terhadap al Khaliq Azza wa Jalla. Juga seperti ucapan bahwa semua yang ada adalah satu wujud yg sama, dimana mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah makhluk itu sendiri.

Termasuk syirik bentuk ini adalah kesyirikan sekte al Qadariah yang mengatakan bahwa manusia sendiri lah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada kehendak, kemampuan, dan keinginan dari Allah. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Dalam Thaharah

September 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Bab: Mendahulukan Sebagian Anggota Wudhu, Mengusap, dan Mencuci Dalam Wudhu.

 

1. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang mencuci anggota wudhu yang kiri lebih dahulu sebelum yang kanan, maka dia tidak perlu mengulangi wudhu.

2. Mereka sepakat bahwa setiap orang yang sudah menyempurnakan thaharah kemudian mengenakan khuf (sepatu) lalu dia berhadats, maka dia boleh mengusap kedua khufnya (sebagai pengganti dari mencuci kaki dalam berwudhu, penj.)

3. Mereka sepakat bahwa jika seseorg berwudhu secara lengkap kecuali dia belum mencuci kedua kakinya, lalu dia mencuci salah satu kakinya dan memasukkannya ke dalam khuf, lalu dia mencuci kakinya yang lain dan memasukkannya ke dalam khuf, maka dia sudah dinyatakan suci.

4. Mereka sepakat bahwa jika seorang musafir membawa air, namun dia khawatir akan kehausan (jika menggunakan airnya untuk bersuci, penj.), maka dia boleh menyimpan airnya untuk diminum, dan dia boleh bertayammum.

5. Mereka sepakat bahwa bertayammum dengan menggunakan tanah yang berdebu adalah syah.

6. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang bersuci dengan air sebelum masuknya waktu shalat, maka thaharahnya dinyatakan sempurna.

7. Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang bertayammum lalu mengerjakan shalat, kemudian dia mendapat air setelah habisnya waktu shalat, maka dia tidak perlu mengulangi shalatnya. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off