Berargumen Dengan Ungkapan: ‘Dalam Permasalahan Ini Ada Perbedaan Pendapat’

December 6th 2014 by Abu Muawiah |

Allah Ta’ala berfirman:
(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
“Dan bahwa ini adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah jalan itu. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya karena semua jalan itu akan memecah belah kalian dari jalanNya. Itulah wasiatNya kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al An’am: 153)
Dan Allah Ta’ala berkata:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah ar Rasul, dan pemerintah di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat dalam satu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya, jika kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (QS. an Nisa`)
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافًا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي تمسكوا بها وعضو عليه بالنواجذ”
“Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perbedaan pendapat yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Berkomitmenlah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan geraham kalian.” Sampai akhir hadits. Read the rest of this entry »

Category: Syubhat & Jawabannya | Comments Off

Perwujudan Kegembiraan

December 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Kita sering mendengar dan membaca pada momen dua hari raya yang diberkahi -idul fitri dan idul adha-, orang yang menyeru untuk menampakkan kegembiraan dalam menyambut kedua hari raya ini. Dia menyebut bahwa kemungkaran yang bertentangan dengan syariat yang dilakukan oleh sebagian orang awam pada hari raya merupakan perwujuduan kegembiraan yang dibenarkan dan tidak boleh dilarang. Maka kami katakan: Tidak boleh melakukan dan menyetujui kemungkaran, kapan pun terjadinya. Karena mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban, dan meninggalkannya akan mengundang azab dan kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Yang saya ingin katakan adalah: Apa yang terjadi pada kedua hari raya ini berupa adanya para penyanyi serta pagelaran sandiwara dan teater, semua ini tidak sejalan dengan kemuliaan bulan ini. Demikian halnya dengan pertunjukan sulap dari para penyulap, berkumpulnya kaum lelaki dan wanita, begadang di malam hari, dan menelantarkan pelaksanaan shalat dari waktunya bersama jamaah di masjid. Karenanya, jika ada pihak berwenang yang berusaha untuk melarang semua kegiatan ini, maka itu sudah menjadi kewajiban mereka dan itu memang sudah merupakan tugas mereka. Kita wajib membantu dan bekerjasama dengan mereka, bukan justru mengkritisi dan menghina mereka melalui makalah-makalah di surat kabar, atau pada obrolan sehari-hari, serta menyifati mereka sebagai ekstrimis. Karena mereka melarang perwujudan kegembiraan semacam ini yang hakikatnya mengotori kesucian hari raya yang Mubarak dan bertolak belakang dengan tujuan syariat dari pelaksanaan hari raya. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off

Peran Wanita dan Peran Lelaki

November 30th 2014 by Abu Muawiah |

Allah Subhanahu telah menciptakan jenis lelaki dan wanita dari anak keturunan Adam dan dari semua jenis makhluk hidup. Allah juga menuntun setiap dari mereka menuju peran yang sesuai dengan postur fisik dan perilakunya, agar perannya bisa mendatangkan manfaaat dan mencapai target. Sebagaimana firman Allah Ta’ala melalui lisan Musa dan Harun alaihimassalam, tatkala Fir’aun bertanya kepada mereka berdua:
(قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى* قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى)
“Dia bertanya, “Maka siapakah Rabb kalian berdua wahai Musa?” Beliau menjawab, “Rabb kami adalah Yang telah menciptakan segala sesuatu kemudian menuntun mereka.” (QS. Thaha: 49-50)
Maksudnya: Rabb kami adalah Yang menciptakan semua makhluk dan memberikan setiap makhluk postur tubuh yang sesuai. “Kemudian menuntun mereka.” semua makhluk menuju tujuan penciptaannya.
Setiap makhluk berusaha untuk memenuhi tujuan penciptaan mereka, berupa meraih manfaat untuk dirinya dan mencegah terjadinya mudharat dari dirinya. Dan di antara makhluk-makhluk itu adalah manusia. Kaum lelaki mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kejantanan tersendiri, dan kaum wanita juga mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kewanitaan tersendiri. Kapan setiap dari kedua jenis ini mengingkari peran dan perilaku yang khusus baginya, maka keteraturan alam semesta akan terlantar dan berbagai maslahat akan terbengkalai. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، ولعن الله المتشبهات من النساء بالرجال”
“Allah melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan Allah melaknat kaum wanita yang menyerupai lelaki.”
Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off

Kebodohan dan Berdalih Dengannya

November 27th 2014 by Abu Muawiah |

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.
Wa ba’du:

Saat ini tengah ramai diperbincangkan mengenai tema kebodohan dan berdalih dengannya. Dan Ramainya perbincangan seputar ini merupakan salah satu sebab merebaknya sikap meremehkan agama di tengah-tengah manusia. Telah banyak orang yang terjun membahas serta membuat karya tulis dalam tema ini, sehingga memunculkan perdebatan bahkan pelanggaran hak dari sebagian orang atas yang lainnya.
Seandainya mereka mengembalikan permasalahan kepada kitab Allah, sunnah RasulNya, dan para ulama, niscaya semua ketidakjelasan akan sirna dan kebenaran akan Nampak. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
(وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ)
“Seandainya mereka mengembalikannya kepada ar Rasul dan kepada ulil amri (pemerintah dan ulama) di antara mereka, niscaya solusinya akan diketahui oleh orang-orang yang bisa memetik kesimpulan hukum di antara mereka.” (QS. an Nisa`: 83)
Dan jika itu mereka lakukan, maka kita juga tidak akan dibuat bingung dengan banyaknya karya tulis dan pembahasan yang saling berbantahan, yang akhirnya melahirkan chaos ilmiah yang tidak kita butuhkan. Kebodohan adalah tidak adanya ilmu. Dan manusia sebelum terutusnya ar Rasul shallallahu alaihi wasallam berada dalam zaman jahiliah (kebodohan) dan kesesatan. Namun tatkala Allah mengutus rasul ini dan menurunkan kitab suci ini, maka jahiliah secara umum telah sirna, aAlhamdulillah. Allah Ta’ala berfirman:
(هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al Jumuah: 2) Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off

Sikap Moderat Dalam Islam

November 24th 2014 by Abu Muawiah |

Ceramah Disampaikan di Fakultas Syariah

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau seluruhnya.
Amma ba’du:
Saya datang ke sini bukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan ilmiah kalian, namun saya datang ke sini hanya untuk mengingatkan (apa yang kalian sudah ketahui, penj). Selain itu, saya juga datang sengaja untuk berjumpa dan melihat kalian, karena fakultas ini juga merupakan ibu kami dan rumah pertama bagi kami. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
(كم منزل في الأرض يألفه الفتى *** حنينه أبدا لأول منزلي)
“Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang telah ditinggali oleh pemuda ini, namun kerinduannya selamanya hanya untuk tempat tinggalnya yang pertama.”

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Judul ceramah kali ini -sebagaimana yang telah disampaikan- adalah: Sikap Moderat Dalam Islam.

Judul ceramah ini dipetik dari firman Allah Ta’ala:
(وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً)
“Demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang bersikap pertengahan, agar kalian bisa menjadi saksi atas manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.”
Para ulama tafsir berkata: Pertengahan maksudnya adalah adil lagi terbaik.
Umat ini -alhamdulillah- adalah umat yang adil lagi terbaik, sebagaimana yang Allah sendiri persaksikan. Hal itu karena umat ini kelak akan menjadi saksi atas semua umat pada hari kiamat, sementara yang namanya saksi dipersyaratkan memiliki sifat adil. Maka umat ini mengemban tugas persaksian karena Allah telah menganugerahkan kepada mereka pengutusan sang Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Rasul ini menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
(يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)
“Rasul ini membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”
Maka umat ini akan menjadi saksi atas seluruh uat pada hari kiamat. Jika Allah Jalla wa ‘Ala telah mendatangkan semua umat dan nabi-nabi mereka pada hari kiamat, Dia akan bertanya kepada semua nabi, “Apakah kalian telah menyampaikan (risalah)?” Mereka akan menjawab, “Wahai Rabb kami, kami telah menyampaikan apa yang Engkau utus kami dengannya kepada mereka.” Kemudian Allah bertanya kepada umat-umat, “Apakah para nabi ini telah menyampaikan kepada kalian?” Maka mereka semua menjawab, “Tidak.” Allah Ta’ala berfirman:
(فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ)
“Maka kami benar-benar akan bertanya kepada semua umat yang para rasul diutus kepada mereka dan kami benar-benar akan bertanya kepada para rasul.”
Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off

Fenomena Fatwa

November 21st 2014 by Abu Muawiah |

Kaum muslimin membutuhkan orang yang mampu menjelaskan kepada mereka urusan akidah, ibadah, muamalah, dan pernikahan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Inilah yang dimaksud dengan fatwa, yaitu penjelasan mengenai hukum syariat berdasarkan dalil dari al Kitab dan as Sunnah. Mereka juga membutuhkan orang yang mampu menjadi hakim di antara mereka dalam persengketaan dan perselisihan di antara mereka. Dan ini yang dimaksud dengan qadha` (vonis hukum). Dan tidak ada orang yang mampu mengemban kedua tugas yang besar ini kecuali orang yang memiliki kapabilitas ilmiah, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kondisinya ketika dia berdiri di hadapan Allah kelak. Karena, baik pemberi fatwa maupun hakim, keduanya adalah orang yang mengabarkan dari Allah bahwa Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, dan bahwa kebenaran hanya berpihak kepada salah satu pihak dari pihak-pihak yang berselisih. Karenanya, Allah memandang besar kedua tugas ini; memberi fatwa dan vonis dan Dia memperingatkan jangan sampai seseorang menceburkan diri ke dalamnya tanpa ilmu dan pengetahuan serta tanpa sifat adil dan obyektif.
(وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمْ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”
Dan Allah berfirman kepada NabiNya:
(وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ)
“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Dan wasapadalah jangan sampai mereka memalingkan kamu dari sebagian yang Allah turunkan kepadamu.”
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off

Para Pembaharu Islam Adalah Pewaris Para Nabi yang Sebenarnya

November 18th 2014 by Abu Muawiah |

Dahulu, Bani Israil senantiasa didampingi oleh para nabi, dimana setiap kali seorang nabi meninggal maka dia akan digantikan dengan seorang nabi yang lain. Namun tatkala derajat kenabian ditutup dengan Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam, Allah menjadikan para ulama sebagai pewaris para nabi, yang bertugas untuk memperbaharui ajaran agama umat ini setiap kali bid’ah dan perkara baru dalam agama tersebar luas. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda:
(إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها)
“Sungguh, setiap 100 tahun sekali, Allah mengutus untuk umat ini seseorang yang akan memperbaharui agama mereka.”

Dan di antara para pembaharu itu, yang beliau hidup pada abad XII adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullâh. Saya tidak menyatakan ini hanya berdasarkan perasaan atau sungkan, namun saya katakan: Inilah kenyataan yang ditunjukkan dalam sejarah hidup dan jasa beliau yang terpuji, yang kaum muslimin mempersaksikan pembaharuan beliau yang istimewa dalam bidang akidah. Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off

Kewajiban Menjaga Amanah

November 15th 2014 by Abu Muawiah |

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah atas keutamaan dan kebaikanNya. Aku bersyukur kepadaNya atas taufik dan nikmatNya, Dia telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan melarang perbuatan khianat. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, yang jujur dalam penyampaian dan penjelasan. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau yang senantiasa berpegang teguh kepada kejujuran dan agama yang benar.
Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa setiap hamba itu memikul amanah antara dia dengan Allah, antara dia dengan pemerintahnya, dan antara dia dengan manusia yang lain. Karena itu hendaknya dia menjadi orang yang terpercaya dan senantiasa menjaga amanahnya.
(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا)
“Sungguh Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah kepada para pemiliknya.”
Amanah itu sangat banyak lagi berat, dan akan dihisab di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat. Karenanya siapa saja yang menelantarkan amanahnya di dunia lalu dia lolos dari hukuman, maka dia tidak akan lolos dari hukuman Allah di akhirat.
Maka jagalah amanah-amanah kalian dan tunaikanlah ia sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla telah perintahkan kepada kalian. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ* وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya dan mengkhianati amanah-amanah kalian sementara kalian mengetahui. Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian, dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”
Allah menguji hamba-hambaNya dengan amanah ini, agar nampak siapa yang bisa menjaganya dan siapa yang menelantarkan dan meremehkannya. Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off

Penjelasan Rukun Islam

November 12th 2014 by Abu Muawiah |

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah yang telah menyempurnakan agama kita, menggenapkan nikmatNya kepada kita, dan telah meridhai Islam sebagai agama kita. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad dalam hamba dan RasulNya, shalawat dan salam yang banyak dari Allah senantiasa tercurah untuk beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan bersyukurlah kepadaNya atas hidayah Islam yang telah Dia anugerahkan kepada kalian, dan telah menjadikan kalian sebagai umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk umat manusia. Sesungguhnya Islam dibangun di atas 5 rukun: Syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’, penegakan shalat, penunaian zakat, puasa ramadhan, dan haji ke rumah Allah yang mulia bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Di antara kelima rukun ini, ada salah satu di antaranya yang harus senantiasa ada bersama seorang muslim sepanjang hidupnya, seumur hidupnya. Rukun yang dimaksud adalah syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’. Rukun ini harus selalu ada bersama seorang muslim sepanjang umurnya, baik ketika dia sedang mukim maupun ketika sedang safar, baik ketika dia terjaga maupun ketika dia tidur, baik ketika dia sedang sehat maupun ketika dia sedang sakit. Seorang muslim dalam setiap keadaannya tidak boleh terlepas dari kedua syahadat ini, dia senantiasa harus mempersaksikan kedua hal ini secara lahir dan batin, untuk selama-lamanya.

Di antara kelima rukun ini ada yang pelaksanaannya berulang pada seorang muslim sebanyak 5 kali sehari, yaitu shalat yang diwajibkan atas setiap muslim yang berulang sebanyak 5 kali sehari semalam, yang didirikan secara berjamaah di masjid-masjid. Dengan shalat wajib ini, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menggugurkan dosa-dosa.
(وَأَقِمْ الصَّلاةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ* وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ)
“Dan dirikanlah shalat di kedua penghujung siang dan di permulaan malam, karena sungguh kebaikan itu bisa menghapuskan keburukan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau mengingat. Dan bersabarlah karena Allah tidak akan menelantarkan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Shalat lima waktu ini diserupakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bagaikan sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang di antara kita, dimana dia mandi di dalamnya sebanyak lima kali sehari semalam, maka pasti tidak akan tersisa kotoran atau daki di tubuhnya sedikit pun. Demikian halnya shalat-shalat lima waktu ini, jika seorang muslim menegakkannya, maka tidak akan ada dari dosa-dosa kecilnya yang tersisa karena Allah telah menghapuskannya dan menyucikan dirinya dengan shalat lima waktu ini. Itulah keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian, kelima shalat ini tidak memakan banyak waktu dalam pelaksanaannya dan tidak pula menghalangi seorang muslim dari pekerjaan dan tugasnya, bahkan sebaliknya, shalat ini akan membantu dirinya.
(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ)
“Dan minta bantuanlah dengan kesabaran dan shalat. Dan hal ini berat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang khusyu’.”
Maka shalat justru membantu seorang muslim, bukannya menjadi penghalang baginya dalam mencari rezki. Shalat tidak menghalanginya dari pekerjaan yang dia butuhkan, namun shalat justru menyucikannya dari dosa-dosa dan membantunya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam, jika beliau mengalami suatu kesusahan maka beliau bersegera untuk mendirikan shalat. Dan beliau juga pernah bersabda:
“يا بلال أقم الصلاة أرحنا بها، أرحنا بها”
“Wahai Bilal, tegakkanlah (iqamah untuk mendirikan) shalat. Buatlah kami beristirahat dengan shalat. Buatlah kami beristirahat dengannya.”
Beliau tidak mengatakan, “Istirahatkanlah kami darinya.”
Maka shalat adalah ketenangan bagi seorang muslim, bagi siapa saja yang menjaganya, mengetahui kedudukannya, dan senantiasa menegakkannya. Karena shalat akan memberinya kekuatan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off

Kaum Mukminin Itu Bersaudara

November 9th 2014 by Abu Muawiah |

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah yang telah menjadikan kaum muslimin sebagai saudara yang saling menyayangi. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, al Malik al Haq al Mubin. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang jujur lagi terpercaya. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan semua yang mengikuti beliau.
Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan kaum mukminin sebagai saudara yang saling menyayangi, mulai dari mukmin yang pertama hingga yang terakhir.
(رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)
“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman sebelum kami, dan jangan Engkau jadikan di dalam hati-hati kami perasaan dengki kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Dan Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan surah al Hujurat, yang di dalamnya Allah menjelaskan semua hal yang bisa merusak kasih sayang ini. Allah melarang semuanya dan memperingatkan darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang yang fasik dengan membawa berita, maka periksalah kebenarannya. (Jangan sampai) kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui, yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.”
“Jika datang kepada kalian seorang yang fasik.” Orang fasik adalah orang yang tidak diterima persaksian dan pengabarannya karena adanya cacat pada agamanya dengan dia melakukan dosa-dosa besar. Inilah orang yang fasik. Termasuk orang fasik adalah orang yang menyebarkan gosip dan kabar-kabar dusta, dan orang yang mengadu domba untuk merusak persatuan kaum muslimin dan memecah belah mereka. Inilah orang yang fasik. Orang fasik adalah orang yang melenceng dari ketaatan kepada Allah. Sehingga orang fasik adalah orang yang melenceng dari menaati Allah yang telah memerintahkan untuk saling menyayangi, menyambung silaturahmi, dan bersatu padu.
Firman Allah, “Maka periksalah kebenarannya,” maksudnya: Verifikasilah beritanya, apakah itu kabar yang benar atau dusta. Jika itu kabar dusta maka tolaklah dan jika kabar itu benar maka janganlah kalian menyebarkannya, namun sikapilah dengan cara yang lebih bijaksana. Sembunyikan kabar itu guna menjaga kasih sayang di antara kaum muslimin, menutup pintu fitnah, dan mencegah berhasilnya usaha para perusak itu.
Karenanya Allah berfirman, “Kalian menimpakan,” yakni: Jangan sampai “kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui.” Kalian tidak mengetahui kebenaran kabar itu lantas kalian membenarkannya, kaum itu tidak bersalah.
“Yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.” Kalian menyesali perbuatan kalian yang telah menimpakan keburukan kepada orang-orang yang tidak bersalah, hanya karena kabar dusta ini. Kalian akhirnya menyesali perbuatan kalian, namun ketika itu penyesalan sudah tidak bermanfaat. Karena jika hati-hati itu sudah saling menjauh dan membenci maka tidak mungkin untuk mengembalikannya seperti semua, tidak ada yang mampu melakukan hal itu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off