Ijma’ Seputar Qurban dan Sembelihan

November 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Qurban dan Sembelihan

1. Para ulama sepakat bahwa udhhiah (sembelihan qurban) tidak boleh disembelih sebelum terbitnya fajar pada hari an nahr (idul adhha).

2. Mereka sepakat akan bolehnya memberi daging udhhiah sebagai makanan kepada orang-orang fakir kaum muslimin.

3. Mereka sepakat bahwa jika seseorang menyembelih hewan yang halal disembelih, lalu dia menyebut nama Allah dan memotong urat pernafasan dan urat makanan dari hewan itu, dan darahnya mengalir keluar, maka hewan itu boleh dimakan.

4. Mereka sepakat akan bolehnya memakan sembelihan orang yang bisu.

5. Mereka sepakat bahwa janin hewan yang keluar dari induk yang disembelih, dan keluarnya dalam keadaan hidup, maka sembelihannya sudah diwakili oleh sembelihan induknya.

6. Mereka sepakat akan bolehnya memakan sembelihan anak kecil dan wanita, jika keduanya mampu menyembelih dan melakukan semua yang wajib dilakukan dalam penyembelihan. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

October 30th 2014 by Abu Muawiah |

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | Comments Off

Pembatal Islam Kedua: Beribadah Kepada Perantara

October 27th 2014 by Abu Muawiah |

asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

Pembatal Islam Kedua:
Siapa saja yg mengangkat perantara antara dirinya dgn Allah, dimana dia berdoa kpd perantara itu, memohon syafaat kpd mereka, dan bertawakal kpd mereka, maka dia telah kafir berdasarkan ijma’.

 

Syarh asy Syaikh Sa’ad al Qahthani:

Pembatal Islam (kedua) ini sebenarnya sudah termasuk dalam kategori pembatal Islam yang pertama, karena pembatal Islam kedua ini juga merupakan kesyirikan.
Namun penulis rahimahullah menjadikannya pembatal Islam yang berdiri sendiri karena urgennya hal ini dan karena sangat seringnya pembatal ini terjadi di tengah-tengah kaum muslimin.

Ucapan penulis:
Siapa saja yang mengangkat perantara antara dirinya dengan Allah.

Perantara dalam hal ini ada 2 macam:

Yang Pertama: Bermakna penyampaian risalah.
Yaitu anda mengangkat seorang perantara antara anda dengan Allah dalam penyampaian risalah. Perantara yang dimaksud di sini adalah para rasul dan para nabi yang menjadi perantara antara manusia dengan Rabb mereka.
Perantara seperti ini adalah benar adanya, dan ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah. Hal itu karena kita tidak akan bisa mengetahui apa yang datang dari Allah kecuali dengan perantaraan para rasul. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.” (QS. al Hajj: 75)
Mereka yang Allah pilih ini adalah para perantara antara kita dengan-Nya dalam penyampaian risalah.

Ibnu Taimiah berkata, “Di antara perkara yang disepakati oleh semua penganut agama; kaum muslimin, Yahudi, dan Nashrani adalah: Penetapan adanya para perantara antara antara Allah dengan para hamba-Nya. Mereka adalah para rasul yang menyampaikan perintah dan kabar dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.” (QS. al Hajj: 75)
Karenanya siapa saja yang mengingkari perantara semacam ini, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan semua penganut agama.”
(Majmù’ al Fatàwa: 1/122 dengan sedikit perubahan) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Haji

October 24th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Haji

1. Para ulama sepakat bahwa seorang suami berhak untuk melarang istrinya menunaikan haji yang hukumnya sunnah.

2. Mereka sepakat bahwa seseorang hanya diwajibkan haji satu kali untuk seumur hidupnya, yaitu haji (yang menjadi rukun) Islam. Kecuali jika seseorang bernazar untuk haji, maka dia wajib memenuhinya.

3. Mereka sepakat menerima tempat-tempat miqat yang tersebut dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

4. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang memulai ihram sebelum memasuki miqat, maka dia telah dinyatakan muhrim (syah ihramnya, penj.).

5. Mereka sepakat bahwa ihram syah walaupun tidak mandi sebelumnya.

6. Mereka sepakat bahwa mandi sebelum ihram bukanlah kewajiban.
Al Hasan al Bashri dan Atha’, keduanya berpendapat sebaliknya.

7. Para ulama sepakat bahwa jika seseorang ingin melakukan haji namun dia melakukan talbiah umrah, atau dia ingin melakukan umrah namun dia melakukan talbiah haji, maka yang harus dia jalankan adalah apa yang dia niatkan secara pasti di dalam hatinya, bukan apa yang dia ucapkan dengan lisannya.

8. Mereka sepakat bahwa siapa saja yang melakukan talbiah untuk haji di bulan-bulan haji dan dia meniatkan itu sebagai haji Islam, maka hajinya syah dan sudah menggugurkan kewajiban haji Islam darinya.

9. Mereka sepakat bahwa orang yang muhrim (sudah ihram) dilarang untuk: Jimak, membunuh hewan buruan, memakai wewangian, mengenakan beberapa jenis pakaian tertentu, memotong rambut/bulu, dan memotong kuku.

10. Mereka sepakat bahwa orang muhrim dilarang melakukan semua itu dalam keadaan dia ihram, kecuali berbekam. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Nazar dan Menyembelih Adalah Ibadah

October 21st 2014 by Abu Muawiah |

Ucapan penulis: Bernazar untuk mereka.

Maksudnya: Termasuk kesyirikan adalah bernazar untuk selain Allah. Hal itu karena nazar adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Nazar adalah ibadah karena Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memenuhi nazar. Allah Subhanah berfirman:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. al Insan: 7)

Asy Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas:
“Allah memuji mereka yang memenuhi nadzar, sementara Allah tidaklah memuji suatu amalan kecuali amalan itu adalah amalan yang wajib atau sunnah atau berupa perbuatan meninggalkan yang haram. Dan Allah tidaklah memuji suatu amalan jika itu adalah amalan yang mubah. Pujian ini menunjukkan bahwa amalan itu adalah ibadah. Karenanya siapa saja yang mempersembahkan amalan itu untuk selain Allah dalam rangka bertaqarrub kepadanya, maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.”
(Taysìr al azìz al hamìd hal. 203)

Ibnu Utsaimin berkata tentang ayat ini:
“Allah Ta’ala memuji mereka karena hal itu (memenuhi nazar, penj.) dan menjadikan itu sebagai sebab masuknya mereka ke dalam surga. Sementara tidak ada amalan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam msurga kecuali amalan itu adalah ibadah. Sehingga ini menunjukkan bahwa mempersembahkan nazar untuk selain Allah adalah kesyirikan.”
(al Qaul al Mufid: 1/317) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Puasa dan I’tikaf

October 18th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Puasa dan I’tikaf

1. Para ulama bersepakat bahwa siapa saja yang berniat puasa tiap malam di dalam bulan ramadhan lalu dia berpuasa, maka puasanya syah.

2. Mereka bersepakat bahwa sahur adalah amalan yang dianjurkan (baca: mustahab)

3. Mereka bersepakat bahwa tidak ada kewajiban apa-apa bagi orang yang berpuasa jika dia tidak sengaja muntah.
al Hasan al Bashri bersendirian dengan mengatakan: Wajib atasnya (mengqadha’ puasa itu, penj.)
Dan dalam riwayat lain, al Hasan sependapat dengan para ulama lainnya.

4. Mereka bersepakat akan batalnya puasa orang yang muntah dengan sengaja.

5. Mereka bersepakat bahwa tidak mengapa bagi orang yang berpuasa untuk menelan apa saja yang berada di sela-sela giginya, yang ikut tertelan bersama liurnya, jika dia tdk mampu untuk mencegahnya tertelan.

6. Mereka bersepakat bahwa jika seorang wanita punya kewajiban (kaffarat) berupa berpuasa 2 bulan berturut-turut, lalu dia sudah mengerjakan sebagian di antaranya kemudian dia haid, maka dia tinggal melanjutkan (hitungan kaffarat, penj.) puasanya jika dia telah suci.

7. Para ulama bersepakat bahwa lelaki dan wanita tua yang sudah tidak kuat untuk berpuasa, maka keduanya boleh untuk tidak berpuasa. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Tipuan Setan: Batu dan Kubur yang Berbicara

October 15th 2014 by Abu Muawiah |

Ucapan penulis: Beristighatsah kepada mereka.

Maksudnya: Termasuk syirik adalah seseorang beristighatsah kepada selain Allah.

Istighatsah adalah memohon bantuan dalam meraih suatu kebaikan atau mencegah terjadinya suatu keburukan. Dan istighatsah ini adalah ibadah yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.

Namun harus dibatasi bahwa istighatsah nanti menjadi kesyirikan jika permohonannya adalah sesuatu yang selain Allah itu tidak mampu untuk memenuhinya, baik karena selain Allah itu sudah wafat atau karena dia tidak berada di dekat orang yang beristighatsah atau memang pertolongan yang diharapkan tidak ada yang bisa mewujudkannya selain Allah.

Ibnu Taimiah berkata:
“Setelah kita mengetahui agama yang dibawa oleh ar Rasul, kita tentu mengetahui secara pasti bahwa ar Rasul tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka berdoa kepada orang yang telah wafat atau kepada para nabi atau kepada orang-orang saleh atau selainnya. Beliau tdak pernah mensyariatkan kepada mereka untuk berdoa, baik dengan lafazh istighatsah atau selainnya, maupun dengan lafazh isti’adzah atau selainnya. Demikian halnya beliau tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk sujud kepada orang yang telah wafat maupun kepada orang yang masih hidup, dan amalan kesyirikian semacamnya. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Zakat

October 12th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Zakat

1. Para ulama sepakat akan wajibnya zakat (hewan) pada onta, sapi, dan kambing.

2. Mereka sepakat akan tidak adanya zakat pada onta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor.

3. Mereka sepakat bahwa pada 5 ekor onta, dikeluarkan zakatnya berupa 1 ekor kambing.

4. Mereka sepakat bahwa tidak ada zakat pada kambing yang jumlahnya kurang dari 40 ekor.

5. Mereka sepakat bahwa kambing yang berjumlah 40 – 120 ekor, zakatnya adalah 1 ekor kambing. Jika jumlahnya 121-200 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor kambing.

6. Mereka sepakat bahwa kerbau sama hukumnya dengan sapi.

7. Mereka sepakat bahwa domba dan kambing digabung perhitungan nishabnya dalam zakat.

8. Para ulama sepakat bahwa zakat tanaman wajib pada: Gandum halus, gandum kasar, korma, dan kismis (anggur kering).

9. Mereka sepakat bahwa onta tidak digabungkan dengan kambing atau sapi dalam penghitungan nishab. Demikian halnya sapi tidak digabungkan dengan onta atau sapi. Dan bahwa zakat gugur dari ketiga jenis hewan ternak ini sampai setiap dari jenis ini mencapai nishabnya masing-masing. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Dalam Penyelenggaraan Jenazah

October 9th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Jenazah

1. Para ulama sepakat bahwa seorang istri lah yang memandikan jenazah suaminya jika dia wafat.

2. Mereka sepakat bahwa wanita boleh memandikan jenazah anak kecil.

3. Mereka sepakat bahwa jenazah dimandikan dengan tata cara mandi junub.

4. Mereka sepakat bahwa jenazah tidak boleh dikafani dengan kain sutra.

5. Mereka sepakat bahwa jika janin sudah dinyatakan bernyawa lalu keguguran, maka janin itu harus dishalati.

6. Mereka sepakat bahwa jika jenazah orang yang merdeka dan budak dishalati bersamaan, maka yang diposisikan lebih dekat dengan imam adalah yang merdeka.

7. Mereka sepakat bahwa orang yang shalat jenazah mengangkat kedua tangannya di takbir pertama shalat jenazah.

8. Mereka sepakat bahwa menguburkan jenazah adalah suatu keharusan. Wajib dilakukan oleh masyarakat dan tidak boleh mereka tinggalkan, selama masih memungkinkan. Jika sudah ada sebagian di antara mereka yang melakukannya, maka gugurlah kewajiban tersebut dari seluruh kaum muslimin.

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Catatan Penting Seputar Hadits Shahih

October 6th 2014 by Abu Muawiah |

Dua Catatan Penting

Pertama: Semua syarat hadits shahih li dzatihi di atas merupakan kesepakatan di kalangan ulama. Hanya saja, terkadang mereka berbeda pandangan dalam menghukumi sebagian hadits; dimana sebagian di antara mereka menyatakannya sebagai hadits yang shahih, dan sebagian lainnya tidak memandang demikian. Sebab perbedaan ini muncul bukan karena perbedaan mereka dalam penetapan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam suatu hadits shahih, melainkan dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam suatu hadits. Karenanya, siapa yang memandang semua syarat ini ada pada hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits yang shahih. Dan siapa yang memandang semua atau sebagian dari syarat-syarat ini tidak terdapat dalam hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits dha’if atau akan menolaknya.

Dalam hal inilah, al Hafizh Ibnu ash Shalah berkata, setelah beliau menyebutkan syarat-syarat hadits shahih, “Beginilah kriteria hadits yang dihukumi shahih, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun terkadang mereka berbeda pendapat dalam keshahihan sebagian hadits, dimana hal itu dikarenakan perbedaan pendapat mereka dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam hadits yang bersangkutan, atau karena perbedaan pendapat mereka dalam mensyaratkan sebagian dari syarat-syarat ini, sebagaimana yang terjadi dalam kasus hadits mursal.” (Ma’rifah ‘Ulum al Hadits hal. 13)
Maksudnya: Bagi ulama yang memandang hadits mursal bisa dijadikan sandaran argumen. Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off