Hukum Berzikir Dalam WC

May 23rd 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Apa hukumnya menjawab salam dan berzikir di dalam wc?

Jawab:
Ada dua pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum berzikir di dalam wc:
1. Makruh.
Ini adalah mazhab al Hanafiah, asy Syafiiah, dan al Hanabilah. Dan pendapat ini dinisbatkan kpd Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.
2. Boleh.
Ini adl pendapat Malik, an Nakhai, Ibnu Sirin, dan asy Sya’bi. Pendapat ini dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Amr.

Maka dari sini kita bisa melihat, bahwa tidak ada seorang pun ulama yang menyatakan haramnya berzikir di dalam wc. Pendapat yg melarang di sini hanya berpendapat makruhnya. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off

Kekalnya Surga dan Neraka

May 19th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Bismillah. Ustadz hafizhakallah. Mau tanya: Apakah dalam surah Hud 107-108 Allah berfirman:
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيد- وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Apakah dalam kedua ayat diatas bisa dipahami bahwa akhirat itu tidak kekal?
Mohon penjelasannya tentang ayat ini. Baarokallahu fiykum.

Jawab:
Sama sekali tidak. Para ulama telah bersepakat bahwa akhirat beserta semua di dalamnya seperti surga dan neraka adalah kekal, tidak akan binasa selama-lamanya. Dan dalil-dalil akan hal ini sangat lah banyak dan masyhur.

Adapun ayat di atas dan yang semakna dengannya, maka hanya orang-orang Jahmiah atau yang mengikuti mazhab mereka yg menjadikannya sebagai dalil akan tidak kekalnya surga dan neraka. Hal itu karena mazhab mereka dalam hal ini memang seperti itu, yakni surga dan neraka tidak kekal.

Adapun penafsiran ayat di atas, maka para ulama ahlussunnah telah menjelaskannya dalam buku-buku tafsir mereka. Mereka menjelaskan bahwa ayat di atas tidaklah seperti yang disangka oleh Jahmiah. Di antara ulama yg menjelaskan maknanya adalah Imam Ibnu Jarir ath Thabari dan al Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsir keduanya, dan juga Imam Ibnu al Jauzi dlm Zàd al Masìr.

Berikut kesimpulan tafsir ayat di atas yang kami ringkas dari Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah: Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA, Ilmu Al-Qur`an, Syubhat & Jawabannya | Comments Off

Hukum Muslim Memasuki Gereja

May 15th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Bismillah, mau tanya, apakah seorang muslim boleh memasuki gereja?

Jawab:
Di antara konsekuensi dari penafian sembahan selain Allah pd kalimat tauhid ‘là ilàha illallàh’, adalah setiap muslim wajib berlepas diri, mengingkari, dan tidak punya hubungan dengan apa saja yang berbau kesyirikan dan kekafiran.
Karena itu, pada dasarnya seorang muslim tidak boleh memasuki gereja atau tempat ibadah non muslim lainnya, karena secara tidak langsung itu bertentangan dengan prinsip tauhid di atas.

Kalau masjid dhiràr saja, Nabi shallallahu alaihi wasallam dilarang masuk dan mengerjakan shalat di dalamnya, karena itu adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik sebagai tempat berkumpul mereka guna merencanakan makar terhadap kaum muslimin, maka tentunya memasuki gereja jauh lebih terlarang karena ada penyembahan kepada selain Allah di dalamnya.

Kemudian, memasuki gereja juga bertentangan dengan kewajiban nahi mungkar bagi setiap muslim muslim terhadap kekafiran. Belum lagi jika masuknya seorang muslim ke dalam gereja bertujuan untuk merayakan hari raya mereka, maka ini jauh lebih diharamkan lagi, bahkan bisa menjurus kepada kekafiran. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA | Comments Off

Warisan Untuk Ibu dan Saudara

May 11th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Bismillah. Ustadz ada pertanyaan: Bagaimana pembagian warisan dari seorang wanita yang meninggal dan dia memiliki ibu,3 saudara perempuan, 4 saudara laki?
Jazakumullah khairan.

Jawab:
Dalam kondisi seperti ini maka:
Ibu mendapat bagian 1/6 dari harta warisan. Krn wanita yang wafat ini tidak mempunyai ahli waris lain kecuali saudara dan saudarinya.
Sementara 5/6 sisa hartanya diberikan kepada seluruh saudaranya; yang lelaki maupun yg wanita, dimana semua saudaranya dalam kasus ini bertindak sebagai ashabah. Tentunya dengan ketentuan, saudara lelaki mendapatkan bagian 2 kali lipat dari saudara perempuan.
Sehingga ketiga orang saudarinya masing-masing mendapatkan 5/66 bagian, sementara keempat orang saudaranya masing-masing mendapatkan 10/66 bagian. Wallahu a’lam.

Category: Dari Grup WA, Warisan | Comments Off

Boikot Ini Bukan Manhaj Salaf

May 7th 2014 by Abu Muawiah |

Fatwa Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhahullah-

Penanya:
Syaikh kami –semoga Allah selalu menjaga Anda-, termasuk taufiq yang Allah berikan kepada kebanyakan para penuntut ilmu, yaitu menghadiri (kajian) Muqaddimah Shahih Muslim melalui penjelasan Anda. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaedah-kaedah yang disebutkan oleh Imam Muslim menjadi rancu atas sebagian (mereka). Diantara mereka, ada yang mengaplikasikannya terhadap sebagian saudaranya dari kalangan ahli sunnah.

Apabila ada seorang ulama berijtihad membid’ahkan seseorang, namun (ulama) yang lain menyelisihinya, maka mereka mengharuskan yang selain mereka untuk membid’ahkannya. Kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka, lantas mereka pun memboikotnya dan memperingatkan manusia agar menjauh darinya, dengan keyakinan bahwa inilah manhaj Salaf.

Padahal akidah kedua belah pihak adalah satu dan manhaj keduanya juga satu. Sementara di sebagian besar negeri mereka ini sudah tersebar kesyirikan, perbuatan sihir, dan tasawwuf. Apa nasehat (Syaikh) yang dapat menjelaskan kebenaran dan mempersatukan barisan? Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off

Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram

May 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Assalamu ‘alaikum. Afwan ana mau tanya ustadz, apa keterangan yg shahih kalau kita berbuat zalim di bulan haram dosanya dilipat gandakan? Jazakallah khoir

Jawab:
Waalaikumussalam.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25) Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Tahukah Anda? | Comments Off

Wajibkah Mencuci Anggota Wudhu 3 kali?

April 29th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Apakah jumlah membasuh ketika wudhu harus berjumlah 3x, atau bolehkah hanya mencukupkan sekali saja?

Jawab:
Ada silang pendapat di kalangan ulama dlm permasalahan ini:
1. Disunnahkan mencuci semua anggota wudhu sebanyak 3 kali kecuali kepala, krn kepala cukup diusap sekali.
Ini adl pendapat al Hanafiah, al Malikiah, dan al Hanabilah.
2. Semuanya disunnahkan dicuci 3 kali, termasuk kepala.
Ini adl pendapat asy Syafiiah.
Yg tepat adl pendapat yg pertama. Berdasarkan hadits Utsman bin Affan radhiallahu anhu riwayat al Bukhari dan Muslim, yg menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mencuci semua anggota wudhunya 3 kali kecuali kepala. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off

Biografi Ringkas al Baiquni

April 25th 2014 by Abu Muawiah |

Berikut biografi ringkas al Baiquni yang disebutkan oleh asy Syaikh Abdullah al Bukhari dalam syarah beliau terhadap al Manzhumah al Baiquniah:

Adapun penulis nazhim (bait-bait syair) ini, maka kebanyakan ulama yang mensyarah al Manzhumah ini tidak bisa menemukan biografi penulisnya. Karenanya, cukup sulit untuk menemukan biografi beliau yang dibahas secara panjang lebar, seperti: Siapa guru-guru beliau, murid-murid beliau, dan semacamnya.

Nama beliau:
Umar bin Muhammad bin Fatuh ad Dimasyqi asy Syafii. Hal ini sebagaimana yang ditemukan oleh al Ujhùri dalam hasyiahnya terhadap manuskrip al Manzhumah dengan tulisan asli penulis. Demikian pula nama ini dipastikan oleh an Nabhani dalam an Nukhbah an Nahbaniah.
Adapun Ridha Kahhalah, maka beliau menyatakan dalam Mu’jam al Buldan, bahwa nama penulis adalah Thaha bin Muhammad bin Fatuh al Baiquni.
Dan berdasarkan keterangan sebelumnya di atas, penetapan nama oleh Ridha Kahhalah di sini adalah keliru. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | Comments Off

Biografi asy Syaikh Dr. Abdullah al Bukhari

April 21st 2014 by Abu Muawiah |

Nama:
‘Abdullâh bin ‘Abdirrahîm bin Husain bin Mahmûd As-Sa’di kemudian Al-Bukhâri Al-Madîni.
As-Sa’di adalah nisbah kepada Bani Sa’d yang berasal dari Ath-Thâ`if. Beliau dilahirkan di Madinah di desa Bâbut Tamâr.

Ayahnya:
Adapun tentang ayah beliau, yaitu Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm bin Husain Al-Bukhâri rahimahullah, tumbuh dalam kondisi yatim. Telah hafal Al-Qur`an semenjak kecil. Belajar di Madrasah Al-’Ulûm Asy-Syar’iyyah. Beliau sangat berprestasi. Di tengah aktivitasnya, beliau juga sangat aktif dan bersemangat menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi dan mengambil ilmu dari para ‘ulama pada waktu itu. Kemudian beliau pindah ke kota Riyâdh, bekerja sebagai staff Al-Malik (Raja) ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah. Setelah itu beliau bekerja pada bidang lain, dan pada awal tahun 1374 H bergabung pada Hai`ât Al-Amri bil Ma’rûf. Pimpinan umumnya waktu itu adalah Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Umar bin Hasan âlu Asy-Syaikh. Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri mendapat ijazah dan rekomendasi yang ditandatangani oleh Asy-Syaikh ‘Umar bin Hasan âlu Asy-Syaikh atas kebaikan prilaku dan tugas beliau. Ijazah tersebut bernomor 2396/Kh/M tertanggal 25/9/1377 H. Read the rest of this entry »

Category: Siapakah Dia? | Comments Off

Jesus Bukan Nabi Isa

April 17th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Uztadz ada teman ana yg bertanya:
Apakah Jesus itu seorang rasul? Bolehkah meyakini hal tersebut? Ana cuma tahu Nabi Isa sebagai rasul. Mohon pencerahannya uztadz.

Jawab:
Jesus bukanlah nabi dan rasul Allah. Dan Jesus bukan pula Nabi Isa alaihissalam.
Jesus mati dibunuh oleh kaumnya, sementara Nabi Isa diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke langit, sebagaimana yang tersebut dalam al Quran. Dan di akhir zaman, Nabi Isa akan diturunkan ke bumi untuk berhukum dengan hukum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits yang shahih.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al Maidah: 157-158) Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA | Comments Off