Kajian Islamy Via WhatsApp Seri II

September 2nd 2016 by Abu Muawiah |

IMG-20160817-WA0003 Read the rest of this entry »

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Kajian Islamy Via WhatsApp Seri II

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

August 19th 2015 by Abu Muawiah |

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

A. Tanggung Jawab Kepada Nabinya.

Seorang muslimah wajib mengimani bahwa Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul Allah, serta penutup para nabi. Dia meyakini bahwa beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat, dan Allah telah menghapuskan kegelapan dengan menutus beliau. Meyakini bahwa beliau telah meninggalkan umat ini di atas syariat yang terag benderang, malamnya sama seperti siang. Karenanya tiada yang tersesat darinya kecuali orang yang binasa.

Seorang muslimah harus mengetahui bahwa cintanya kepada Nabi Muhammad saw. merupakan bagian dari tauhid dan keimanan, dimana keimanannya tidak dinyatakan syah kecuali dengannya. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya. Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintaiku melebihi cintanya kepada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaqun alaih)

Sebagaimana meneladani beliau juga merupakan tanda cinta Allah dan Rasul-Nya kepada dirinya. Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.” (QS. Ali Imran/3: 31)

Seorang muslimah juga meyakini bahwa Nabi saw. telah menjelaskan syariat ini dengan penjelasan yang sempurna. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan menasehati umat dengan nasehat yang mendalam. Hingga Allah mewafatkan beliau dalam keadaan Dia ridha kepadanya. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

August 12th 2015 by Abu Muawiah |

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

A. Tanggung Jawab Kepada Tuhannya.

Seorang muslimah wajib mengakui Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Pemberi rezki, Pengatur seluruh urusannya, dan hanya kepada-Nya berpulang semua urusan. Hal ini nampak jelas dari ucapan Hajar alaihassalam ketika beliau beserta putranya ditinggalkan oleh Ibrahim alaihissalam di Mekkah, kemudian Ibrahim beranjak pergi. Hajar bertanya kepadanya, “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Maka Hajar berkata, “Kalau begitu Dia tidak akan menelantarkan kami.” (HR. al-Bukhari)

Seorang wanita muslimah mengakui bahwa hanya Allah Ta’ala semata yang berhak untuk diibadahi, karenanya ia hanya menyembah kepada-Nya. Dia bertakwa kepada-Nya dalam keadaan sendirian maupun ketika bersama dengan orang lain dan rasa takut kepada Allah Ta’ala telah tertanam kuat di dalam hatinya. Pada masa Khalifah Umar radhiallahu anhu, ada seorang wanita penjual susu yang tidak menuruti kemauan ibunya untuk mencampur susu dengan air. Itu dia lakukan karena taat kepada Allah kemudian taat kepada Umar, padahal ketika itu Umar tidak melihatnya. Dia tidak mau hanya taat kepada Allah ketika berada di depan publik, namun dia bermaksiat kepada-Nya ketika dia sendirian. Rasa takut ini merupakan penjaga nyata yang ditanamkan di dalam hatinya oleh keimanan. Karenanya Allah Ta’ala memberi taufik kepada wanita tersebut untuk menjadi nenek dari Umar bin Abdil Aziz, sang gubernur yang adil.

Secara umum, akidah wanita muslimah adalah akidah para ulama terdahulu, yaitu: Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadha dan qadar Allah. Dia menetapkan untuk Allah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, disertai pemahaman terhadap makna-maknanya. Ia juga meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang hakiki, yang maha sempurna lagi mulia, dan tidak serupa sedikit pun dengan sifat makhluk. Ia meyakini seluruhnya tanpa melakukan takwil (menyelewengkan maknanya), tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk), atau ta’thil (menegasikannya), sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-Syura/42: 11, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

Kedudukan Wanita dalam Islam

August 5th 2015 by Abu Muawiah |

Kedudukan Wanita dalam Islam

 

Islam adalah agama yang abadi dan penutup seluruh agama. Dan di antara karakteristiknya adalah universal dan adil, dimana Islam memberikan kepada setiap orang apa yang telah ditetapkan menjadi haknya, termasuk kaum wanita. Islam sangat memuliakan kaum wanita, baik dia sebagai ibu, atau sebagai istri, atau sebagai putri (anak perempuan), maupun sebagai individu masyarakat. Dan kaum wanita tidak mendapatkan perlindungan yang sepantasnya sejak dari usia dini hingga dia meninggal kecuali dalam naungan Islam. Hal ini nampak jelas melalui uraian poin-poin berikut ini:

  1. Islam mengutuk perbuatan kaum jahiliah yang mengubur hidup-hidup putri-putri mereka, dengan mengancam akan mempermalukan pelakunya di hadapan seluruh makhluk. “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (Q.S. al-Takwir/81: 8-9)

Wanita diciptakan karena suatu hikmah, dimana kaum lelaki tidak bisa hidup tanpa mereka, demikian pula sebaliknya mereka tidak bisa hidup tanpa kaum lelaki. Setiap dari lelaki dan wanita telah Allah jamin rezkinya.

  1. Islam memotivasi pemeluknya agar memelihara anak perempuan, dan menjadikan surga sebagai tempat kembali bagi yang memelihara anak perempuan. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang diuji dengan memiliki anak-anak perempuan, namun dia memperbaiki pengasuhannya terhadap mereka, maka anak-anak itu akan menjadi tirai bagi mereka dari api neraka.” (Muttafaqun alaih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Barangsiapa yang merawat dua anak perempuan sampai keduanya balig, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan saya dan dirinya dekat seperti kedua jari ini.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau. (HR. Muslim)

Ini adalah motivasi dari Allah yang Maha Pemurah agar mereka memuliakan anak perempuan, merawat mereka, dan memperhatikan pendidikan mereka sampai mereka diserahkan kepada suami-suami mereka kelak. Agar dia bersama suaminya bisa melaksanakan tanggung jawab kehidupan yang telah dibebankan di pundak keduanya. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Kedudukan Wanita dalam Islam

Definisi Syirik

July 29th 2015 by Abu Muawiah |

Definisi Syirik

            Syirik secara bahasa, dikatakan شَارَكْتُ فُلانا maknanya: Saya menjadi sekutunya. Syirik juga bisa bermakna asy-syarik (sekutu) dan juga bisa bermakna an-nashib (bagian). Bentuk jamaknya adalah asyraak. Kalimat شَرَكَهُ فِي الأَمْرِ yakni dia bersekutu dengannya dan terjun bersama ke dalamnya. Dikatakan أَشْرَكَهُ مَعَهُ فِيْهِ dan أَشْرَكَ فُلانًا فِي الْبَيْعِ , jika dia memasukkan orang tersebut bersama dirinya ke dalam urusan tersebut (jual beli)[1].

Secara istilah: Menjadikan untuk Allah sekutu dalam uluhiah-Nya, rububiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya.

Tidak diragukan bahwa kesyirikan merupakan asal dan pengumpul semua kejelekan. Dia merupakan dosa yang terbesar secara mutlak, karena dialah satu-satunya dosa yang Allah nafikan pengampunannya. Sebagaimana kesyirikan ini juga menghapuskan semua amal saleh seseorang, dan mengharuskan pelakunya mendapatkan kekekalan dalan api neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa di bawah daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah maka sungguh dia telah mengada-adakan suatu dosa yang sangat besar” (QS. An-Nisa`: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga atasnya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72) Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | Comments Off on Definisi Syirik

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

July 22nd 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Keempat

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

            Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقاعِدَةُ الرّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمانِنا أَغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ. لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ فِي الرَّخاءِ وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْ زَمانِنا شِرْكُهُمْ دائِمٌ؛ فِي الرَّخاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

[Terjemah]

Kaidah keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita lebih besar kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin zaman dahulu. Hal itu karena kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan ketika mereka dalam keadaan lapang, adapun ketika dalam keadaan susah maka mereka mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Sementara kaum musyrikin pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan susah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

July 15th 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Ketiga

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

          اَلْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنّ النَّبِيَّ r ظَهَرَ عَلَى أُناسٍ مُتَفَرِّقِيْنِ فَي عِباداتِهِمْ: مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَنْبِياءَ وَالصّالِحِيْنَ، ومنهم من يعبد الْأَحْجارَ وَالْأَشْجارَ، ومنهم مَن يعبد الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقاتَلَهُمْ رَسُوْلُ الله r وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾

          وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ والْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾

          ودليل الملائكةِ قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾

          ودليل الأنبياءِ قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

          ودليل الصَّالِحِيْنَ قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآيةَ

          ودليل الأحجارِ والأشجارِ قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾

وَحَدِيْثُ أَبِي واقِدٍ اللَّيْثِي t قالَ: خَرَجْنا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍ, وَنَحْنُ حُدَثاءِ عَهْدٍ بِكُفْرٍ. وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ, يَعْكُفُوْنَ عِنْدَها وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ, يُقالُ لَها: ذاتُ أَنْواطٍ. فَمَرَرْنا بِسِدْرَةٍ, فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِجْعَلْ لَنا ذَاتَ أَنْواطٍ كَما لَهُمْ ذَاتُ أَنْواطٍ… اَلْحَدِيْثَ

[Terjemah]

Kaidah Ketiga: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus kepada umat manusia yang beraneka ragam dalam ibadahnya: Di anatar mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, di antara mereka ada yang menyembah bebatuan dan pepohonan, dan di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

memerangi mereka seluruhnya tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dan Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan), dan semua amalan (ibadah) itu hanya milik Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Dalil adanya penyembahan kepada matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan.[1] (QS. Fushilat : 37).

Dalil adanya penyembahan kepada para malaikat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan dia (Muhammad) tidaklah pernah memerintah kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan.[2] (QS. Ali Imran: 80)

Dalil adanya penyembahan kepada para Nabi adalah firman Allah Ta’ala, “Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).

Dalil akan adanya penyembahan kepada orang-orang saleh adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka yang mereka menyembah kepada mereka, sembahan mereka tersebut senantiasa mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat, mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan khawatir akan siksaan-Nya.[3]” (QS. Al-Isra`: 57) sampai akhir ayat.

Dalil akan adanya penyembahan kepada pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala, “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Uzza, serta Manat (sebagai sembahan) yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Dan juga hadits Abi Waqid Al-Laitsi radhiallahu anhu dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kesyirikan. Sementara itu, kaum musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka biasa berdiam di sisinya dan mereka menggantungkan pedang-pedang mereka di situ. Pohon tersebut bernama Dzatu Anwath (yang mempunyai gantungan-gantungan). Lalu kami melalui pohon bidara tersebut dan sebagian kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki ….” sampai akhir hadits. Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

July 8th 2015 by Abu Muawiah |

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.

فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18].

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ وَشفاعة مُثْبَتَةٌ.

فَالشفاعة الْمنفيّة مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاّ اللهُ. وَالدَّلِيْلُ قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

وَالشفاعة الْمُثبَتة هِيَ: اَلَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ. وَالشّاَفِعُ مُكْرَمٌ بِالشفاعة، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الْإِذْنِ كَمَا قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]

[Terjemah]

Kaidah Kedua: Mereka (kaum musyrikin) berkata: Kami tidak berdoa dan menghadap (baca: berharap) kepada mereka (orang-orang saleh) kecuali karena kami ingin meminta syafaat dan mengharapkan kedekatan dengan mereka.

Dalil (bahwa tujuan mereka untuk) mengharapkan kedekatan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3) Dan dalil (bahwa mereka mengharapkan) syafaat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

Syafaat itu ada dua bentuk: Syafaat yang dinafikan (keberadaannya) dan syafaat yang ditetapkan (keberadaannya).

Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah, pada perkara yang tidak ada yang sanggup melakukannya selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah. Dimana hamba yang memberikan syafaat itu dimuliakan oleh Allah dengan (kemampuan memberikan) syafaat. Sementara hamba yang diberikan syafaat adalah hamba yang Allah ridhai ucapan dan amalannya, itupun setelah ada izin (Allah). Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

July 1st 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Pertama

Kaum Musyrikin Mengimani Rububiah (Ketuhanan) Allah

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata:

 Al-Imam Al-Mujaddid Al-Mushlih Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الأُوْلىَ: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رسولُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ هُوَ الْخَالِقُ الْمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ فِي الإِسْلاَمِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ[يونس:31]

[Terjemah]

“Kaidah Pertama: Kamu meyakini bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur (alam semesta). Akan tetapi ternyata pengakuan mereka tersebut belumlah cukup untuk memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

Ibadah dan Kesyirikan

June 24th 2015 by Abu Muawiah |

Ibadah dan Kesyirikan

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطاعَتِهِ: أَنَّ الْحَنِيْفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْراهِيْمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصـًا لَهُ الدِّيْنَ كَما قالَ تَعالىَ ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ[الذاريات:56].

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبادَتِهِ فَاعْلَمْ: أَنَّ الْعِبادَةَ لاَ تُسَمَّى عِبادَةً إِلاَّ مَعَ التَّوْحِيْدِ، كَما أَنَّ الصَّلاَةَ لاَ تُسَمَّى صَلاَةً إِلاَّ مَعَ الطَّهارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبادَةِ فَسَدَتْ كالْحَدَثِ إِذا دَخَلَ فِي الطَّهارَةِ.

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذا خالَطَ الْعِبادَةَ أَفْسَدَها وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ وَصارَ صاحِبُهُ مِنَ الْخالِدِيْنَ فِي النَّارِ, عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ ما عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ. لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ الَّذِي قالَ اللهُ فِيْهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ[النساء:116].

وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَواعِدَ ذَكَرَها اللهُ تَعالَى فِي كِتابِهِ.

[Terjemah]

“Ketahuilah -semoga Allah memberikan hidayah kepada anda untuk taat kepada-Nya-: Bahwa al-hanifiah yang merupakan agama Ibrahim adalah anda beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jika anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali dengan adanya tauhid. Sebagaimana shalat tidak dinamakan shalat kecuali dengan adanya thaharah[1]. Karenanya, kapan kesyirikan masuk ke dalam ibadah maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats (pembatal wudhu) membatalkan shalat jika dia muncul setelah thaharah.

Jika anda telah mengetahui bahwa jika kesyirikan bercampur dengan ibadah maka kesyirikan itu akan merusak ibadah tersebut, menghapuskan amalan (pelakunya), dan pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam neraka. Jika anda telah mengetahui hal tersebut maka berarti anda telah mengetahui bahwa perkara yang terpenting bagi anda adalah mengetahui kesyirikan tersebut. Semoga Allah berkenan untuk membebaskan anda dari kejelekan ini yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah telah berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni dosa di bawah dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 116).

Cara mengetahui kesyirikan adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya.” Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Ibadah dan Kesyirikan