Program Takhashshush Ramadhan on WA

May 22nd 2016 by Abu Muawiah |

IMG-20160520-WA0000

Read the rest of this entry »

Category: Info Kegiatan | No Comments »

Definisi Syirik

July 29th 2015 by Abu Muawiah |

Definisi Syirik

            Syirik secara bahasa, dikatakan شَارَكْتُ فُلانا maknanya: Saya menjadi sekutunya. Syirik juga bisa bermakna asy-syarik (sekutu) dan juga bisa bermakna an-nashib (bagian). Bentuk jamaknya adalah asyraak. Kalimat شَرَكَهُ فِي الأَمْرِ yakni dia bersekutu dengannya dan terjun bersama ke dalamnya. Dikatakan أَشْرَكَهُ مَعَهُ فِيْهِ dan أَشْرَكَ فُلانًا فِي الْبَيْعِ , jika dia memasukkan orang tersebut bersama dirinya ke dalam urusan tersebut (jual beli)[1].

Secara istilah: Menjadikan untuk Allah sekutu dalam uluhiah-Nya, rububiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya.

Tidak diragukan bahwa kesyirikan merupakan asal dan pengumpul semua kejelekan. Dia merupakan dosa yang terbesar secara mutlak, karena dialah satu-satunya dosa yang Allah nafikan pengampunannya. Sebagaimana kesyirikan ini juga menghapuskan semua amal saleh seseorang, dan mengharuskan pelakunya mendapatkan kekekalan dalan api neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa di bawah daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah maka sungguh dia telah mengada-adakan suatu dosa yang sangat besar” (QS. An-Nisa`: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga atasnya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak pernah berbuat kesyirikan kepada-Nya maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan berbuat kesyirikan kepada-Nya maka dia akan masuk neraka.[2]

Ibnu Al-Qayyim berkata dalam menjelaskan tentang jelek dan buruknya kesyirikan, “Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia telah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitabNya, agar manusia mengamalkannya dengan al-qisthi yaitu keadilan. Dan di antara keadilan yang terbesar adalah tauhid. Tauhid adalah puncak dan tiangnya keadilan. Karenanya kesyirikan adalah kezhaliman, sebagaimana pada firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13)

Maka kesyirikan adalah kezhaliman yang paling zhalim, sementara tauhid adalah keadilan yang paling adil. Dan amalan apa saja yang paling bertentangan dengan tujuan (tauhid) ini maka itu merupakan dosa besar yang paling besar, dimana tingkatan-tingkatan dosa besar ini disesuaikan dengan besar kecilnya penentangan dosa tersebut terhadap tujuan ini. Demikian halnya amalan apa saja yang bersesuaian dengan tujuan ini maka itu adalah kewajiban yang paling wajib dan ketaatan yang paling fardhu. Karenanya, perhatikanlah kaidah ini dengan seksama, petiklah pelajaran dari penjabarannya, niscaya anda akan mengenal (Allah) Yang paling bijaksana dari semua yang bijaksana dan Yang paling berilmu dari semua yang berilmu, pada apa-apa yang Dia wajibkan atas hamba-Nya, apa yang Dia haramkan atas mereka, dan berjenjangnya tingkatan-tingkatan ketaatan dan maksiat.

Tatkala kesyirikan kepada Allah menafikan tujuan (tauhid) ini, maka jadilah dia sebagai dosa yang paling besar secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga dari setiap pelaku kesyirikan, dan Allah menghalalkan bagi orang yang bertauhid untuk menumpahkan darah, merampas harta, dan keluarga mereka untuk dijadikan sebagai budak. Hal itu dikarenakan mereka telah meninggalkan penyembahan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala enggan untuk menerima satu pun amalan dari seorang musyrik, enggan untuk menerima syafaat padanya, enggan menjawab doanya di akhirat, dan enggan untuk menerima harapannya di akhirat. Karena orang yang berbuat kesyirikan adalah orang yang paling bodoh tentang Allah, ketika dia menjadikan sebagian makhluk-Nya sebagai tandingan untuk-Nya. Dan itu merupakan puncak kebodohan.[3]

Ibnu Baaz berkata dalam menjelaskan masalah ini, “Kesyirikan adalah mengikut sertakan selain Allah bersama Allah dalam ibadah. Misalnya dia berdoa kepada berhala-berhala atau selainnya, atau beristighatsah kepadanya, atau bernadzar, mengerjakan shalat, berpuasa, dan menyembelih untuknya. Semisal dia menyembelih untuk Al-Badawi atau untuk Idrus, atau dia mengerjakan shalat untuk si fulan, atau dia meminta kelapangan dari Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam atau dari Abdul Qadir atau dari Idrus atau selainnya dari orang-orang yang telah meninggal lagi tidak hadir di situ. Semua amalan ini dinamakan kesyirikan. Demikian halnya jika dia berdoa kepada bintang-bintang atau jin, atau beristighatsah kepada mereka, atau meminta kelapangan dan semacamnya kepada mereka. Jika seseorang mengerjakan salah satu dari ibadah-ibadah ini untuk benda-benda mati atau untuk orang-orang yang telah meninggal atau untuk orang-orang yang ghaib (tidak hadir di situ), maka jadilah semua ibadah tersebut menjadi kesyirikan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah semua amalan yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 88)

Dan Allah Subhanahu berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para nabi sebelum kamu (yaitu), “Jika kamu berbuat kesyirikan maka semua amalanmu akan terhapus dan kamu betul-betul akan tergolong ke dalam orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Di antara bentuk kesyirikan adalah menyembah selain Allah dengan ibadah yang sempurna, karena amalan ini dinamakan kesyirikan dan dinamakan juga kekafiran. Karenanya, siapa saja yang berpaling dari Allah secara menyeluruh dan menjadikan seluruh ibadahnya untuk selain Allah -seperti kepada pepohonan atau bebatuan atau berhala-berhala atau jinatau orang-orang yang telah meninggal yang mereka namakan sebagai wali-wali-, dimana dia menyembah mereka atau mengerjakan shalat dan berpuasa untuk mereka, dan dia melupakan Allah secara menyeluruh, maka ini merupakan kekafiran yang paling besar dan kesyirikan yang paling parah. Demikian halnya dengan orang yang mengingkari keberadaan Allah dengan mengatakan, “Tidak ada sembahan di dunia ini dan kehidupan ini adalah sebuah materi,” seperti yang dikatakan oleh para komunis dan ateis yang mengingkari keberadaan Allah. Mereka ini adalah manusia yang paling kafir dan paling sesat, dan yang paling besar kesyirikannya.

Intinya, penganut semua keyakinan di atas dan semacamnya, seluruhnya dinamakan musyrik dan dinamakan kafir kepada Allah Azza wa Jalla.[4]

_____________

[1]Lihat Tahdzib Al-Lughah (10/16), Lisan Al-Arab (10/448), dan Taaj Al-Urus (7/148)

[2]HR. Muslim dalam Al-Iman (1/94)

[3]Al-Jawab Al-Kafi hal. 191 karya Ibnu Al-Qayyim

[4]Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah li Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (4/32)

 

[Dialihbahasakan dari Syarh Sa’ad bin Muhammad al-Qahthany terhadap risalah Nawaqidh al-Islam]

Category: Aqidah | Comments Off on Definisi Syirik

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

July 22nd 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Keempat

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

            Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقاعِدَةُ الرّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمانِنا أَغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ. لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ فِي الرَّخاءِ وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْ زَمانِنا شِرْكُهُمْ دائِمٌ؛ فِي الرَّخاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

[Terjemah]

Kaidah keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita lebih besar kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin zaman dahulu. Hal itu karena kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan ketika mereka dalam keadaan lapang, adapun ketika dalam keadaan susah maka mereka mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Sementara kaum musyrikin pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan susah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

July 15th 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Ketiga

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

          اَلْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنّ النَّبِيَّ r ظَهَرَ عَلَى أُناسٍ مُتَفَرِّقِيْنِ فَي عِباداتِهِمْ: مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَنْبِياءَ وَالصّالِحِيْنَ، ومنهم من يعبد الْأَحْجارَ وَالْأَشْجارَ، ومنهم مَن يعبد الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقاتَلَهُمْ رَسُوْلُ الله r وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾

          وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ والْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾

          ودليل الملائكةِ قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾

          ودليل الأنبياءِ قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

          ودليل الصَّالِحِيْنَ قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآيةَ

          ودليل الأحجارِ والأشجارِ قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾

وَحَدِيْثُ أَبِي واقِدٍ اللَّيْثِي t قالَ: خَرَجْنا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍ, وَنَحْنُ حُدَثاءِ عَهْدٍ بِكُفْرٍ. وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ, يَعْكُفُوْنَ عِنْدَها وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ, يُقالُ لَها: ذاتُ أَنْواطٍ. فَمَرَرْنا بِسِدْرَةٍ, فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِجْعَلْ لَنا ذَاتَ أَنْواطٍ كَما لَهُمْ ذَاتُ أَنْواطٍ… اَلْحَدِيْثَ

[Terjemah]

Kaidah Ketiga: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus kepada umat manusia yang beraneka ragam dalam ibadahnya: Di anatar mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, di antara mereka ada yang menyembah bebatuan dan pepohonan, dan di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

memerangi mereka seluruhnya tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dan Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan), dan semua amalan (ibadah) itu hanya milik Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Dalil adanya penyembahan kepada matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan.[1] (QS. Fushilat : 37).

Dalil adanya penyembahan kepada para malaikat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan dia (Muhammad) tidaklah pernah memerintah kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan.[2] (QS. Ali Imran: 80)

Dalil adanya penyembahan kepada para Nabi adalah firman Allah Ta’ala, “Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).

Dalil akan adanya penyembahan kepada orang-orang saleh adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka yang mereka menyembah kepada mereka, sembahan mereka tersebut senantiasa mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat, mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan khawatir akan siksaan-Nya.[3]” (QS. Al-Isra`: 57) sampai akhir ayat.

Dalil akan adanya penyembahan kepada pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala, “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Uzza, serta Manat (sebagai sembahan) yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Dan juga hadits Abi Waqid Al-Laitsi radhiallahu anhu dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kesyirikan. Sementara itu, kaum musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka biasa berdiam di sisinya dan mereka menggantungkan pedang-pedang mereka di situ. Pohon tersebut bernama Dzatu Anwath (yang mempunyai gantungan-gantungan). Lalu kami melalui pohon bidara tersebut dan sebagian kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki ….” sampai akhir hadits. Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

July 8th 2015 by Abu Muawiah |

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.

فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18].

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ وَشفاعة مُثْبَتَةٌ.

فَالشفاعة الْمنفيّة مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاّ اللهُ. وَالدَّلِيْلُ قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

وَالشفاعة الْمُثبَتة هِيَ: اَلَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ. وَالشّاَفِعُ مُكْرَمٌ بِالشفاعة، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الْإِذْنِ كَمَا قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]

[Terjemah]

Kaidah Kedua: Mereka (kaum musyrikin) berkata: Kami tidak berdoa dan menghadap (baca: berharap) kepada mereka (orang-orang saleh) kecuali karena kami ingin meminta syafaat dan mengharapkan kedekatan dengan mereka.

Dalil (bahwa tujuan mereka untuk) mengharapkan kedekatan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3) Dan dalil (bahwa mereka mengharapkan) syafaat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

Syafaat itu ada dua bentuk: Syafaat yang dinafikan (keberadaannya) dan syafaat yang ditetapkan (keberadaannya).

Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah, pada perkara yang tidak ada yang sanggup melakukannya selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah. Dimana hamba yang memberikan syafaat itu dimuliakan oleh Allah dengan (kemampuan memberikan) syafaat. Sementara hamba yang diberikan syafaat adalah hamba yang Allah ridhai ucapan dan amalannya, itupun setelah ada izin (Allah). Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

July 1st 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Pertama

Kaum Musyrikin Mengimani Rububiah (Ketuhanan) Allah

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata:

 Al-Imam Al-Mujaddid Al-Mushlih Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الأُوْلىَ: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رسولُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ هُوَ الْخَالِقُ الْمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ فِي الإِسْلاَمِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ[يونس:31]

[Terjemah]

“Kaidah Pertama: Kamu meyakini bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur (alam semesta). Akan tetapi ternyata pengakuan mereka tersebut belumlah cukup untuk memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

Ibadah dan Kesyirikan

June 24th 2015 by Abu Muawiah |

Ibadah dan Kesyirikan

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطاعَتِهِ: أَنَّ الْحَنِيْفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْراهِيْمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصـًا لَهُ الدِّيْنَ كَما قالَ تَعالىَ ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ[الذاريات:56].

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبادَتِهِ فَاعْلَمْ: أَنَّ الْعِبادَةَ لاَ تُسَمَّى عِبادَةً إِلاَّ مَعَ التَّوْحِيْدِ، كَما أَنَّ الصَّلاَةَ لاَ تُسَمَّى صَلاَةً إِلاَّ مَعَ الطَّهارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبادَةِ فَسَدَتْ كالْحَدَثِ إِذا دَخَلَ فِي الطَّهارَةِ.

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذا خالَطَ الْعِبادَةَ أَفْسَدَها وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ وَصارَ صاحِبُهُ مِنَ الْخالِدِيْنَ فِي النَّارِ, عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ ما عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ. لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ الَّذِي قالَ اللهُ فِيْهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ[النساء:116].

وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَواعِدَ ذَكَرَها اللهُ تَعالَى فِي كِتابِهِ.

[Terjemah]

“Ketahuilah -semoga Allah memberikan hidayah kepada anda untuk taat kepada-Nya-: Bahwa al-hanifiah yang merupakan agama Ibrahim adalah anda beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jika anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali dengan adanya tauhid. Sebagaimana shalat tidak dinamakan shalat kecuali dengan adanya thaharah[1]. Karenanya, kapan kesyirikan masuk ke dalam ibadah maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats (pembatal wudhu) membatalkan shalat jika dia muncul setelah thaharah.

Jika anda telah mengetahui bahwa jika kesyirikan bercampur dengan ibadah maka kesyirikan itu akan merusak ibadah tersebut, menghapuskan amalan (pelakunya), dan pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam neraka. Jika anda telah mengetahui hal tersebut maka berarti anda telah mengetahui bahwa perkara yang terpenting bagi anda adalah mengetahui kesyirikan tersebut. Semoga Allah berkenan untuk membebaskan anda dari kejelekan ini yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah telah berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni dosa di bawah dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 116).

Cara mengetahui kesyirikan adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya.” Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Ibadah dan Kesyirikan

Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

June 17th 2015 by Abu Muawiah |

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. amma ba’du:

 

Pengantar:

Berikut ini adalah syarah Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah. Sebuah risalah yang ditulis oleh Imam dakwah ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Kami mulai dengan risalah ini karena selain dia ringkas, dia juga termasuk risalah dasar dalam tauhid uluhiah dan sanggahan kepada pelaku kesyirikan. Dan kami memilih syarah dari Asy-Syaikh Saleh karena menurut pengamatan kami -wallahu A’lam- syarah beliau adalah syarah yang terbaik dari semua syarah yang pernah kami baca.

Perlu diketahui bahwa syarah Asy-Syaikh hafizhahullah asalnya adalah transkrip dari kaset rekaman sehingga bahasanya adalah bahasa kaset (bukan bahasa buku). Terkadang beliau mengulangi kalimat yang sudah diucapkan sebelumnya. Karenanya untuk mempersingkat, kalimat-kalimat yang diulangi itu tidak lagi kami terjemahkan. Dan juga perlu diketahui bahwa semua catatan kaki dalam syarah ini adalah dari kami, bukan dari transkrip aslinya.

Saya rasa hanya ini yang butuh kami sampaikan sebagai pengantar, selamat membaca:

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

أَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ ربَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَتَوَلاّكَ في الدُّنْيا وَالآخِرَةِ، وَأنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكـًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعلك مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإذا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإذا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعادَةِ

[Terjemahan]

“Saya meminta kepada Allah yang Maha Pemurah Rabbnya arsy yang besar, agar Dia berkenan menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat, menjadikanmu berberkah dimanapun kamu berada[1], serta menjadikanmu termasuk orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.”

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

Rukun Jual Beli

June 10th 2015 by Abu Muawiah |

Rukun Jual Beli

D.    Rukun Jual Beli
Jual beli mempunyai 3 rukun:
1.    Pelaku transaksi, yaitu penjual dan pembeli.
2.    Obyek transaksi, yaitu uang dan barang.
3.    Akad transaksi, yaitu segala tindakan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, yang menunjukkan mereka sedang melakukan transaksi, baik tindakan tersebut berbentuk ucapan maupun perbuatan.

Akad transaksi ada dua bentuk:
1.    Akad dengan ucapan, yang dinamakan juga ijab-kabul.
Ijab artinya ucapan yang diucapkan terlebih dahulu.
Contoh:
Penjual berkata: “Baju ini saya jual dengan harga Rp. 10.000,-“.
Kabul artinya ucapan yang diucapkan kemudian.
Contoh:
Pembeli mengatakan: “Barang saya terima”.

2.     Akad dengan perbuatan, yang dinamakan juga dengan mu’athah.
Contoh:
Pembeli memberikan uang Rp. 10.000,- kepada penjual, kemudian dia mengambil barang yang senilai dengan itu tanpa adanya ucapan ijab kabul dari kedua belah pihak.

Category: Ekonomi Islam | Comments Off on Rukun Jual Beli

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

June 3rd 2015 by Abu Muawiah |

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Seorang muslim haruslah berfikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah Shallalluhu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alahissalam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu ‘unhu atau Ali radhiyallahu ’anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan Cara membaca sepintas?
Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu