Tipuan Setan: Batu dan Kubur yang Berbicara

October 15th 2014 by Abu Muawiah |

Ucapan penulis: Beristighatsah kepada mereka.

Maksudnya: Termasuk syirik adalah seseorang beristighatsah kepada selain Allah.

Istighatsah adalah memohon bantuan dalam meraih suatu kebaikan atau mencegah terjadinya suatu keburukan. Dan istighatsah ini adalah ibadah yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.

Namun harus dibatasi bahwa istighatsah nanti menjadi kesyirikan jika permohonannya adalah sesuatu yang selain Allah itu tidak mampu untuk memenuhinya, baik karena selain Allah itu sudah wafat atau karena dia tidak berada di dekat orang yang beristighatsah atau memang pertolongan yang diharapkan tidak ada yang bisa mewujudkannya selain Allah.

Ibnu Taimiah berkata:
“Setelah kita mengetahui agama yang dibawa oleh ar Rasul, kita tentu mengetahui secara pasti bahwa ar Rasul tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka berdoa kepada orang yang telah wafat atau kepada para nabi atau kepada orang-orang saleh atau selainnya. Beliau tdak pernah mensyariatkan kepada mereka untuk berdoa, baik dengan lafazh istighatsah atau selainnya, maupun dengan lafazh isti’adzah atau selainnya. Demikian halnya beliau tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk sujud kepada orang yang telah wafat maupun kepada orang yang masih hidup, dan amalan kesyirikian semacamnya. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Zakat

October 12th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Zakat

1. Para ulama sepakat akan wajibnya zakat (hewan) pada onta, sapi, dan kambing.

2. Mereka sepakat akan tidak adanya zakat pada onta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor.

3. Mereka sepakat bahwa pada 5 ekor onta, dikeluarkan zakatnya berupa 1 ekor kambing.

4. Mereka sepakat bahwa tidak ada zakat pada kambing yang jumlahnya kurang dari 40 ekor.

5. Mereka sepakat bahwa kambing yang berjumlah 40 – 120 ekor, zakatnya adalah 1 ekor kambing. Jika jumlahnya 121-200 ekor, maka zakatnya adalah 2 ekor kambing.

6. Mereka sepakat bahwa kerbau sama hukumnya dengan sapi.

7. Mereka sepakat bahwa domba dan kambing digabung perhitungan nishabnya dalam zakat.

8. Para ulama sepakat bahwa zakat tanaman wajib pada: Gandum halus, gandum kasar, korma, dan kismis (anggur kering).

9. Mereka sepakat bahwa onta tidak digabungkan dengan kambing atau sapi dalam penghitungan nishab. Demikian halnya sapi tidak digabungkan dengan onta atau sapi. Dan bahwa zakat gugur dari ketiga jenis hewan ternak ini sampai setiap dari jenis ini mencapai nishabnya masing-masing. Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Dalam Penyelenggaraan Jenazah

October 9th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Jenazah

1. Para ulama sepakat bahwa seorang istri lah yang memandikan jenazah suaminya jika dia wafat.

2. Mereka sepakat bahwa wanita boleh memandikan jenazah anak kecil.

3. Mereka sepakat bahwa jenazah dimandikan dengan tata cara mandi junub.

4. Mereka sepakat bahwa jenazah tidak boleh dikafani dengan kain sutra.

5. Mereka sepakat bahwa jika janin sudah dinyatakan bernyawa lalu keguguran, maka janin itu harus dishalati.

6. Mereka sepakat bahwa jika jenazah orang yang merdeka dan budak dishalati bersamaan, maka yang diposisikan lebih dekat dengan imam adalah yang merdeka.

7. Mereka sepakat bahwa orang yang shalat jenazah mengangkat kedua tangannya di takbir pertama shalat jenazah.

8. Mereka sepakat bahwa menguburkan jenazah adalah suatu keharusan. Wajib dilakukan oleh masyarakat dan tidak boleh mereka tinggalkan, selama masih memungkinkan. Jika sudah ada sebagian di antara mereka yang melakukannya, maka gugurlah kewajiban tersebut dari seluruh kaum muslimin.

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Catatan Penting Seputar Hadits Shahih

October 6th 2014 by Abu Muawiah |

Dua Catatan Penting

Pertama: Semua syarat hadits shahih li dzatihi di atas merupakan kesepakatan di kalangan ulama. Hanya saja, terkadang mereka berbeda pandangan dalam menghukumi sebagian hadits; dimana sebagian di antara mereka menyatakannya sebagai hadits yang shahih, dan sebagian lainnya tidak memandang demikian. Sebab perbedaan ini muncul bukan karena perbedaan mereka dalam penetapan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam suatu hadits shahih, melainkan dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam suatu hadits. Karenanya, siapa yang memandang semua syarat ini ada pada hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits yang shahih. Dan siapa yang memandang semua atau sebagian dari syarat-syarat ini tidak terdapat dalam hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits dha’if atau akan menolaknya.

Dalam hal inilah, al Hafizh Ibnu ash Shalah berkata, setelah beliau menyebutkan syarat-syarat hadits shahih, “Beginilah kriteria hadits yang dihukumi shahih, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun terkadang mereka berbeda pendapat dalam keshahihan sebagian hadits, dimana hal itu dikarenakan perbedaan pendapat mereka dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam hadits yang bersangkutan, atau karena perbedaan pendapat mereka dalam mensyaratkan sebagian dari syarat-syarat ini, sebagaimana yang terjadi dalam kasus hadits mursal.” (Ma’rifah ‘Ulum al Hadits hal. 13)
Maksudnya: Bagi ulama yang memandang hadits mursal bisa dijadikan sandaran argumen. Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off

Doa Adalah Ibadah

October 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Contoh-Contoh Syirik yang Tersebar:

Ucapan penulis: Di antara bentuk kesyirikan dalam ibadah adalah berdoa kepada orangorang yang telah wafat.

Maksudnya: Di antara bentuk kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah. Hal itu karena doa adalah ibadah, yang tidak mungkin dilakukan kecuali disertai dengan perasaan cinta, pengagungan, perasaan butuh, perendahan diri, dan keyakinan bahwa tempat kita berdoa mampu mengabulkan doa.
Dan maksud doa di sini adalah: Permintaan

Ibnu Taimiah berkata, “Maka siapa saja yang berlebihan dalam mengkultuskan orang yang masih hidup atau seorang yang saleh, dengan menyematkan kepada mereka sifat-sifat uluhiah (sembahan, penj.), misalnya dia mengatakan: Wahai sayyid fulan ampunilah aku, atau rahmatilah aku, atau tolonglah aku, atau berilah rezki kepadaku, atau bantulah aku, atau lindungilah aku, atau aku bertawakal kepadamu, atau engkaulah pemberi kecukupan kepadaku, atau aku dalam kecukupan darimu, atau ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan semacamnya yang merupakan hak-hak eksklusif rububiah (ketuhanan, penj.), yang tidak pantas disematkan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Semua amalan di atas adalah kesyirikan dan kesesatan, yang pelakunya wajib disuruh bertaubat. Jika dia bertaubat maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak maka dia harus dijatuhi hukuman mati. Hal itu karena tidaklah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci kecuali agar kita menyembah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan agar kita tidak mengangkat sembahan lain selain Allah.” (Majmu’ al Fatawa: 3/395) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Pakaian Dalam Shalat dan Shalat Witir

September 30th 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Al Libas (Pakaian)

1. Para ulama sepakat bahwa di antara bagian tubuh yang wajib ditutup oleh lelaki di dalam shalat adalah qubul dan dubur.

2. Mereka sepakat bahwa wanita merdeka yang telah balig, wajib untuk menutupi kepalanya jika dia mengerjakan shalat. Dan jika wanita itu mengerjakan shalat dalam keadaan kepalanya terbuka, maka dia wajib mengulangi shalatnya.

3. Mereka sepakat bahwa budak wanita tidak harus menutup kepalanya (di dalam shalat, penj.).
Al Hasan bersendirian dengan mewajibkan hal itu kepada budak wanita.

 

Kitab Witir

1. Para ulama sepakat bahwa waktu pelaksanaan shalat witir adalah antara setelah shalat isya sampai terbitnya fajar (kedua, penj.)

2. Mereka sepakat bahwa sujud (tilawah, penj.) di sujud pertama (ayat 18, penj.) dari surah al Hajj adalah shahih.

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Serba-Serbi Hafalan Perawi

September 27th 2014 by Abu Muawiah |

Telah berlalu penjelasan mengenai jenis-jenis adh dhabthu beserta contohnya. Kemudian, juga perlu diingat oleh setiap orang yang membahas perawi, bahwa ada beberapa permasalahan lain yang juga berkenaan dengan adh dhabthu, yaitu permasalahan yang khusus berkenaan dengan keadaan para perawi yang kuat hafalannya.

Berikut kami bawakan secara ringkas, karena penjabaran permasalahan ini sebenarnya lebih tepat di dalam buku-buku yang lebih lengkap.

Di antaranya:

A. Ada sebagian perawi yang dhabith di satu waktu, namun tidak demikian di waktu yang lain.

Perawi seperti ini diistilahkan dengan nama mukhtalith (yang rusak hafalannya).

Contohnya:
1. Abdurrahman bin Abdillah al Mas’ùdi.
Seorang perawi yang tsiqah. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Dia hanya mukhtalith di Bagdad. Karenanya, siapa saja yang mendengar hadits darinya di Kufah dan Basrah, maka haditsnya bagus.” (al ‘Ilal wa Ma’rifah ar Rijàl: 1/325)

2. ‘Àrim Abu an Nu’màn.
al Hafizh Abu Hatim berkata, “Secara umum, siapa saja yang mendengar hadits darinya sebelum tahun 220 H, maka haditsnya bagus.” (al Jarh wa at Ta’dìl: 8/58)
B. Di antara mereka ada yang dhàbith di satu daerah, namun tidak di daerah lainnya.
Contohnya:
Yazìd bin Hàrùn, al Hàfizh yang terkenal.
Saleh bin Ahmad membawakan ucapan ayahnya, Imam Ahmad, “Yazìd bin Hàrùn. Siapa saja yang mendengar hadits darinya di daerah Wàsith, maka itu lebih sahih daripada yang mendengar hadits darinya di Bagdad. Karena ketika di Wàsith, setiap kali ada yang memperbaiki kekeliruan beliau, beliau selalu merujuk ke bukunya.” (Masàil al Imam Ahmad: 3/ no. 1605/181) Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off

Riya dan Sum’ah

September 24th 2014 by Abu Muawiah |

Bentuk Kedua: Syirik Ashghar yang Khafi (tersembunyi).

Bentuk ini ada 2 jenis:

Pertama: Riya.

Riya ada 2 hukumnya:
1. Syirik Akbar.
Yaitu riya yang dilakukan oleh kaum munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa': 142)

2. Syirik Kecil.
Seperti beribadah karena mengharapkan pujian orang lain, sehingga tujuan dia dalam beribadah adalah selain Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أخوفُ ما أخافُ عليكم الشركُ الأصغرُ. فسئل عنه فقال: الرياءُ

“Perkara yang paling saya takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Beliau ditanya tentang itu, maka beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad: 5/428 dengan sanad yang shahih) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off

Ijma’ Seputar Shalat

September 21st 2014 by Abu Muawiah |

Kitab Shalat

1. Para ulama sepakat bahwa awal waktu zuhur adalah tergelincirnya matahari (ke arah barat, penj.)

2. Mereka sepakat bahwa shalat magrib wajib dikerjakan (baca: masuk waktunya) jika matahari telah terbenam.

3. Mereka sepakat bahwa awal waktu subuh adalah terbitnya fajar (kedua, penj.)

4. Mereka sepakat bahwa siapa yang shalat subuh antara terbitnya fajar sampai sebelum terbitnya matahari, maka dia telah shalat subuh pada waktunya.

5. Mereka sepakat akan disyariatkannya menjamak shalat zuhur dan ashar di Arafah, dan menjamak antara magrib dan isya di malam an Nahr (10 Dzulhijjah, penj.).

6. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Menghadap kiblat ketika mengumandangkan azan.

7. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Muazzin mengumandangkan azan dalam keadaan berdiri.
Abu Tsaur bersendirian dengan mengatakan: Boleh azan sambil duduk walaupun tidak dalam keadaan sakit.

8. Mereka sepakat bahwa termasuk sunnah: Azan dikumandangkan untuk shalat setelah masuk waktunya, kecuali shalat subuh (karena adanya azan pertama sebelum terbitnya fajar kedua, penj.).

9. Mereka sepakat bahwa shalat tidak syah kecuali dengan niat.

10. Mereka sepakat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengangkat kedua tangan beliau ketika memulai shalat (saat takbiratul ihram, penj.) Read the rest of this entry »

Category: al Ijma', Terjemah Kitab | Comments Off

Syarat Hadits Shahih: Perawi yg Kuat Hafalannya

September 18th 2014 by Abu Muawiah |

Syarat Ketiga: adh Dhabthu

adh Dhabthu menurut ahli hadits ada 2 macam:
1. Dhabthu shadrin (hafalan yang kuat, penj.)
2. Dhabthu kitàbin (catatan yang bagus, penj.)

Al Imam al Hafizh Yahya bin Ma’in berkata, “Dia ada 2 macam: Tsabtu hifzhin (kekuatan hafalan, penj.) dan tsabtu kitàbin (bagusnya catatan, penj.). Sementara Abu Saleh juru tulis al Laits adalah perawi yang bagus catatannya.” (Tahdzib at Tahdzib: 5/260)

Al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah (340-341) meriwayatkan bahwa Marwàn bin Muhammad ath Thàthiri berkata, “Ada 3 hal yang seorang ahli hadits harus memiliki minimal 2 di antaranya: Hafalan yg kuat, kejujuran, dan catatan yang bagus. Jika dia tidak memiliki salah satu di antaranya namun dia masih memiliki 2 yang lainnya, maka itu tidak ada masalah. Jika dia tidak punya hafalan yang kuat namun dia punya kejujuran dan catatan yang bagus, maka itu tidak ada masalah.”
Beliau juga berkata, “Sanad sudah sangat panjang, dan akhirnya orang-orang nantinya akan kembali (mengandalkan) buku-buku.”

Yang Pertama: Dhabthu Shadrin (ضبط صدر)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menghafal dengan baik hadits yang pernah dia dengar, hingga dia mampu melafalkan hadits itu (dari hafalannya, penj.) kapan saja dia mau.” (Nuzhah an Nazhar hal. 29)

Yang Kedua: Dhabthu Kitàbin (ضبط كتاب)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menjaganya (buku catatan haditsnya, penj.) mulai sejak dia mendengar (baca: mencatat) di dalamnya dan dia mentash-hih (mengecek kembali kebenaran, penj.) hadits-hadits yang dia tulis kepada guru yang dia mencatat hadits-hadits itu drnya.” (Idem) Read the rest of this entry »

Category: al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab | Comments Off